LOGIN"Aku harus segera melaporkan hal ini pada Tuanku," gumam di hati Tuan Tang.Ia berjalan cepat menuju halaman belakang istana yang sepi, tangan kanannya meremas selembar kertas kecil tersembunyi di balik lengan jubah. Matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan tak ada siapa pun yang melihat. Ia mengeluarkan seekor burung merpati dari keranjang anyaman yang dibawanya, lalu mengikat gulungan pesan di kaki salah satunya. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dadanya. Tangannya melepaskan burung itu langsung ditarik dan terhenti mendadak saat terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah semak belukar."Siapa di sana?"Tuan Tang tersentak hebat, burung merpati itu telah terlepas dari genggamannya, namun ternyata ada yang datang. Ia berbalik perlahan mencoba menetralkan sikap dan wajahnya. Di hadapannya berdiri dua prajurit yang mengenakan seragam patroli keamanan istana, A Chen dan A Xiong yang menyamar menjadi petugas patroli. Wajah mereka
"Ada apakah ini? Kenapa aku merasa ada yang berbeda? Semua menjadi tidak seperti biasanya?" Tuan Tang bergumam pelan, jemarinya meremas ujung lengan jubahnya yang halus. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia berjalan mendekati pintu, mengintai celah kecil ke arah lorong istana yang sepi namun terasa tegang.Di ruang sidang utama, ketegangan sudah memuncak sedari pagi. Suara bentakan terdengar hingga ke ambang pintu."Katakan padaku! Siapa yang berani menimbun beras hingga harga naik tiga kali lipat dalam seminggu!" Raja Wang Ming berdiri dari kursi takhtanya, telapak tangannya menghantam meja berat hingga piala di atasnya bergemerincing. "Rakyat di desa perbatasan mulai kelaparan! Pedagang dari Kerajaan Timur menolak masuk jalur perdagangan! Kerajaan tetangga mengancam akan memutus hubungan dagang sepenuhnya!""Ampun Yang Mulia. Kami tak tahu Yang Mulia!" Salah seorang pejabat daerah berlutut dengan wajah pucat. "Setiap pagi pasar kosong melompong. Barang-barang diangkut p
Di Kerajaan Langit saat sidang pagi akan dimulai seorang utusan berteriak lantang," Laporrr! Yang Mulia! Pesan rahasia dari Komandan Gun!" Raja Wang Ming menyambut burung merpati itu dengan tangan gemetar. Ia membuka gulungan kecil yang terikat di kaki burung itu seketika, membaca setiap baris tulisan di bawah cahaya pelita yang bergetar. Di sampingnya berdiri Ratu Li Jing, menatap wajah suaminya yang perlahan berubah serius seketika. "Ada kabar dari Kakakku?" tanya Li Jing pelan, napasnya tertahan. Raja Wang Ming mengangguk mantap namun matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Kakakku telah selamat. Ia telah diselamatkan dan kini disembunyikan di tempat aman yang tak diketahui siapa pun. Namun kabar yang dibawanya jauh lebih mengerikan dari apa pun yang kita duga selama ini." Raja Wang Ming menatap istrinya, suaranya rendah namun bergema penuh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. "Li Jing... mata-mata terbesar Kerajaan Angin bukan orang asing. Ia berdiri di samping k
Pasukan Kerajaan Angin pun segera berbalik arah, melesat meninggalkan perkemahan yang kini sepi dan sunyi. Debu yang terangkat akibat langkah kaki kuda dan prajurit perlahan turun kembali ke tanah, menyisakan kesunyian yang mencekam seakan tak pernah ada kehidupan di sana. Perdana Menteri Pong menoleh sekali lagi ke arah lembah tempat gudang kayu bakar itu berdiri, matanya menyala penuh janji balas dendam yang kelak akan datang berkali-kali lipat lebih dahsyat. Lalu ia melesat pergi bersama pasukannya, menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti puncak pegunungan.Di puncak bukit utara, Pangeran Wang Dong berdiri diam di atas batu tinggi menatap bayangan pasukan musuh yang perlahan lenyap dari pandangan. Napasnya masih terasa berat namun dadanya kini terasa jauh lebih lega. Ia selamat. Ia hidup dan yang paling penting, ia membawa pulang kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kedok kesopanan seorang pria yang berdiri tepat di samping takhta adiknya.Komandan Gun melangkah
"Siapa kalian?" Pangeran Wang Dong meloncat bangkit meski kakinya masih terbelenggu, matanya menyala tajam menatap tiga sosok yang tiba-tiba muncul dari kegelapan gudang. "Jangan mendekat! Katakan siapa yang menyuruh kalian datang!""Tenang Yang Mulia. Kami dikirim Komandan Gun atas perintah Jenderal Lie Kwang." Salah satu pengintai itu berlutut di lantai berdebu, suaranya berbisik namun tegas. "Kami datang untuk menyelamatkan Yang Mulia. Silakan ikut kami sekarang juga. Waktunya sangat mendesak."Pangeran Wang Dong menatap mereka lekat-lekat sejenak, lalu napasnya memburu menahan rasa sakit sekaligus harapan yang tiba-tiba melonjak tinggi. Namun seketika itu juga ia mengangkat tangan menahan langkah mereka yang hendak memutuskan rantai besi di pergelangan kakinya."Tunggu." Pangeran Wang Dong mundur selangkah, menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Aku akan ikut kalian, namun ada satu syarat mutlak."Pengintai itu tertegun sejenak. "Sebutkan Yang Mulia. Segala sesuatu
"Dia telah pergi. Tapi... Aku harus bagaimana sekarang?"Pangeran Wang Dong merosot kembali ke tanah berbatu yang dingin, napasnya memburu menahan rasa sakit sekaligus keputusasaan yang perlahan mulai merayap di dadanya. Ia menatap pintu kayu tebal itu dengan tatapan tajam namun penuh kegelisahan. Rantai besi di pergelangan tangan dan kakinya terasa begitu berat dan tak mungkin diputus hanya dengan tenaga yang tersisa di tubuhnya yang lemah. Namun di tengah kegelapan yang menyelimuti gudang itu, secercah harapan perlahan muncul kembali di benaknya. Jika ada orang yang telah mengikuti rombongan ini sejauh ini seperti yang dicurigai Tuan Tang tadi... mungkin saja orang itu masih berada di dekat sini. Mungkin saja pengintai Kerajaan Langit itu masih mengawasi dari balik tebing atau pepohonan gelap di sekitar perkemahan. "Ya, aku ingat. Saat itu ada kepanikan dari mereka, jika ada bayangan yang mencintai mereka hingga sampai tempat ini. Tandanya ada yang tahu aku disekap disini. Semoga di
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







