LOGIN"Pangeran Wei Yong, Yang Mulia." Suara prajurit itu pelan namun menghantam setiap orang yang berdiri di gua itu. Pangeran Wei Yuan melangkah mundur seketika, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar hebat."Itu tidak mungkin." Suaranya parau. "Kakakku sendiri... Pangeran Wei Yong?"Raja Wang Ming berdiri tegak namun dadanya terasa sesak. Ia menatap prajurit itu tajam. "Kau yakin nama itu tertulis di sana?""Ya Yang Mulia." Prajurit itu menunduk dalam, mengulurkan lembaran kertas yang terselip di antara catatan musuh. "Tertulis jelas di tanda tangan perintah tertinggi. Ada lambang keluarga kerajaan yang hanya dimiliki keturunan langsung."Pangeran Wang Dong melangkah mendekat, matanya tak lepas dari kertas itu. "Pangeran Wei Yong sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Bagaimana mungkin ia mengeluarkan perintah sekarang?""Itulah yang membuat kami gemetar Yang Mulia." Prajurit itu menelan ludah. "Tanda tangan itu cocok persis dengan arsip lama di istana. Catatan ini baru ditulis tiga hari
"Lepaskan dia. Atau kau tak akan melihat matahari terbit esok hari."Pria tua itu tertawa keras, suaranya bergema tajam di dinding batu gua yang sempit. Ia tak mundur sedikit pun, justru melangkah maju menempatkan dirinya tepat di depan Wu Chen."Kau mengancamku di wilayahku sendiri Raja Wang Ming? Lihat sekelilingmu. Pasukanmu terjebak di luar. Di sini aku yang memegang kendali.""Kendali apa?" Wu Chen melangkah maju di samping Raja Wang Ming, darah menetes dari lukaan di lengannya namun matanya tetap teguh. "Pasukan yang kau banggakan sudah berantakan. Suara pertempuran makin menjauh. Itu artinya pasukan Kerajaan Langit sudah mendesak mereka mundur."Pria tua itu terdengar, wajahnya berubah gelisah. Ia menoleh ke arah mulut gua, tempat suara bentakan dan bunyi senjata perlahan mereda digantikan sorak lantang pasukan Kerajaan Langit."Mustahil... mereka seharusnya menahan kalian berjam-jam...""Kau meremehkan semangat prajurit yang berjuang demi kebenaran." Raja Wang Ming melangkah m
"Terlambat untuk itu. Pasukan Kerajaan Angin sudah mengepung tempat ini. Kau adalah umpan yang paling berharga."Wu Chen melangkah mundur perlahan, punggungnya menyentuh dinding batu gua yang dingin. Suara langkah kaki berat dan denting senjata terdengar mendekat dari luar. Pria tua itu tersenyum dingin, melangkah maju selangkah."Kau pikir aku tak tahu rencanamu? Aku membesarkanmu. Aku tahu setiap gerak-gerikmu, setiap pikiranmu. Kau datang untuk menghentikanku? Justru kau yang masuk ke perangkapku sendiri.""Jadi selama ini kau tak pernah mempercayaiku?" Wu Chen mencengkeram gagang pedang erat, lukaan di bahunya terasa nyeri namun ia tak peduli. "Semua ajaran, semua perhatian... semuanya sandiwara?""Aku melatihmu untuk menjadi alat yang sempurna." Pria tua itu tertawa pelan. "Sekarang saatnya kau memenuhi tugas terakhirmu. Raja Wang Ming pasti datang menjemputmu. Saat ia masuk ke wilayah ini, pasukan kita akan memotong jalur mundurnya. Istana akan jatuh tanpa pertahanan."Wu Chen m
"Ia pergi ke arah perbatasan Kerajaan Angin sendirian."Kata-kata A Chen menghantam keheningan pagi yang baru saja menyingsing. Raja Wang Ming melangkah maju seketika, matanya membelalak tak percaya."Sendirian? Tubuhnya terluka. Tuan Chen Qi sudah ditangkap, mengapa ia tetap pergi?"A Chen menunduk, napasnya masih memburu. "Sebelum berpisah, ia menyerahkan tawanan kepadaku. Lalu ia berkata ia harus menyelesaikan sesuatu yang tak bisa ditunda. Ia tak menjelaskan lebih lanjut. Hanya berpesan agar Yang Mulia tidak menyusulnya.""Tak menyuruh menyusul?" Pangeran Wang Dong mengerutkan kening. "Itu gila. Perbatasan Kerajaan Angin dijaga ketat. Satu orang tak akan bisa masuk tanpa terlihat.""Wu Chen bukan sembarang orang." Pangeran Wei Yuan melangkah mendekat, wajahnya serius. "Ia dibesarkan di sana. Ia tahu jalan tersembunyi, tempat persembunyian, cara menyusup tanpa tertangkap. Itulah sebabnya ia tak mengizinkan siapa pun ikut.""Berisiko terlalu tinggi." Raja Wang Ming mengepalkan tanga
"Kau telah membunuh ayahku. Dan sekarang... kau akan membayarnya dengan nyawamu sendiri."Wu Chen melangkah maju, darah dari luka di bahunya menetes ke tanah di setiap langkahnya. Matanya menyala merah padam, tak lagi menyisakan keraguan atau ketakutan sedikit pun. Pemimpin pasukan Kerajaan Angin mundur terhuyung, belati masih digenggam erat di tangannya namun tangannya kini gemetar hebat."Jangan mendekat!" bentaknya berusaha tampak berani. "Kau sendirian! Pasukanku masih banyak!""Aku tidak sendirian." Wu Chen menoleh sekilas ke arah Raja Wang Ming, Pangeran Wang Dong, dan Pangeran Wei Yuan yang berdiri tegak di sampingnya. "Aku tidak takut mati lagi. Ayahku sudah menungguku di sana."Ia melesat maju secepat kilat. Pedang di tangannya berkilat tajam, menebas udara dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Pemimpin musuh berusaha menangkis namun serangan itu terlalu kuat. Pedangnya terpental jauh hingga berdentang nyaring di atas batu. Ia jatuh tersungkur di tanah, mendongak menatap mat
"Mereka tak boleh hidup. Keduanya."Suara prajurit itu nyaring dan dingin membelah udara. Pasukan Kerajaan Angin bergerak serentak maju, senjata berkilat tajam di bawah cahaya obor. Pengawal Wu Chen berdiri di depan ayahnya, pedang terhunus, darah dari lukaan di bahunya menetes deras ke lengan jubahnya. Wajahnya pucat namun matanya menyala teguh."Mundur!" bentaknya lantang. "Siapa pun yang melangkah maju, aku akan membinasakannya!""Kau sendirian Wu Chen." Pemimpin pasukan musuh tersenyum licik. "Serahkan Kasim Liang dan bergabunglah dengan kami. Atau mati bersamanya di sini sekarang.""Aku tak akan menyerahkan ayahku kepada kalian!" Wu Chen mengangkat pedangnya lebih tinggi. "Aku tak akan lagi melayani orang yang menyuruhku membunuh keluargaku sendiri!""Kalau begitu kau memang sudah mati bagi kami." Pemimpin itu memberi isyarat. "Serang!"Puluhan prajurit melesat maju serentak. Wu Chen berputar menangkis serangan pertama, lalu yang kedua, napasnya memburu namun kakinya tak bergeser
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







