LOGIN“Aku ingin nenek sadar… bahwa selama ini dia membela orang yang salah.”Suara Ruan Yin pelan, tapi jelas. Ia tidak lagi marah seperti sebelumnya. Yang tersisa hanya kelelahan dan sedikit kekecewaan yang belum sempat hilang.Li Mingzi meliriknya sekilas, lalu mengangguk santai.“Kalau begitu, biarkan dia melihat sendiri,” jawabnya ringan. “Orang seperti nenekmu nggak akan percaya hanya dengan kata-kata.”Ruan Yin menghela napas. Tatapannya jatuh ke jalan di depan mereka.“Dia keras kepala,” gumamnya. “Sejak kecil, aku nggak pernah bisa mengubah pendapatnya.”“Bagus,” balas Li Mingzi tanpa beban. “Berarti sekali dia sadar, dia juga nggak akan mudah berubah lagi.”Ruan Yin terdiam sejenak, lalu menoleh.“Kau selalu melihat sisi yang aneh dari sesuatu hal.”Li Mingzi tersenyum tipis. “Aku hanya nggak suka mempersulit hal sederhana.”Ucapan itu terdengar asal, tapi entah kenapa membuat hati Ruan Yin sedikit lebih ringan.Mobil berhenti di depan pusat perbelanjaan kelas atas.Ruan Yin turun
"Ayah, masalah ini biar aku yang tangani."Ruan Yin melirik sekilas ke arah pamannya. Ekspresi wajah Ruan An terlihat tidak sabar, seolah menunggu sesuatu yang sudah ia rencanakan sejak awal.Benar saja.Baru saja kalimat terakhir meluncur dari bibir Ruan Yin, Ruan An sudah melangkah maju dengan senyum munafik terpasang rapi di wajahnya."Keponakanku memang pintar," katanya dengan nada yang terlalu ramah. "Tapi jangan lupa janjimu, Kakak. Proyek Resort Sungai Bening harus diserahkan padaku hari ini."Ruan Tang mengepalkan tangannya. Raut wajahnya muram, seperti orang yang baru saja kehilangan harapan terakhirnya.Proyek itu… adalah satu-satunya peluang bagi perusahaan untuk bangkit.Tapi sekarang, ia harus melepaskannya. Lebih parah lagi, penerima proyek itu adalah Ruan An, seseorang yang jelas-jelas tidak punya kemampuan mengelola bisnis dengan baik.Ruan Tang membuka mulutnya, hampir ingin menarik kembali perkataannya. Namun, sebelum suaranya keluar, Li Mingzi sudah lebih dulu angka
“Bagus!”Suara tepukan tangan itu berhenti bersamaan dengan munculnya sosok yang berjalan santai dari belakang kerumunan. Sepatu kulitnya berkilau, langkahnya tenang, tapi aura angkuhnya begitu jelas terasa.Ruan An.Ia berdiri tidak jauh dari mereka, bibirnya melengkung tipis, seolah seluruh situasi ini hanyalah hiburan murahan.“Jadi beginikah cara kalian bekerja?” katanya ringan, namun setiap kata mengandung sindiran. “Langsung percaya pada sekelompok orang yang bahkan tidak bisa menunjukkan bukti jelas?”Kerumunan kembali berisik, namun kali ini bercampur keraguan.Ruan Yin menatapnya lurus. Ia sangat yakin, kehadiran pamannya akan membuat situasi semakin kacau.‘Dia datang… pasti bukan kebetulan. Meskipun jabatan sudah dikembalikan, nggak biasanya dia datang ke perusahaan sepagi ini.’Ruan Yin menarik napas perlahan, mencoba menjaga pikirannya tetap jernih.Di sampingnya, Ruan Tang juga diam. Ekspresinya sulit dibaca, namun jelas terlihat bahwa ia sedang menimbang sesuatu.“Kita
Di depan gedung Faz Media, suasana terasa begitu tegang. Sekelompok orang berdiri berdesakan di area lobi luar. Suara mereka saling tumpang tindih meluapkan emosi.“Kami ingin kejelasan!”“Panggil pimpinan kalian!”“Keluarga kami bukan robot tanpa perasaan!”Langkah Ruan Yin terhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu yang terasa janggal. Ia sudah memimpin Faz Media cukup lama, situasi seperti ini seharusnya tidak terjadi tanpa sepengetahuannya.“Ini…” gumamnya pelan, alisnya mengernyit.Li Mingzi berdiri di sampingnya, tangannya masuk ke saku, tapi ekspresinya tidak lagi santai seperti biasanya. Tatapannya menyapu kerumunan dengan tenang, seolah mencoba memahami situasi sebelum bertindak. “Sepertinya bukan masalah kecil,” ujarnya pelan.Ruan Yin melirik sekilas, lalu mengangguk tipis. Tanpa menunggu lagi, ia melangkah maju. Tumit sepatunya menghantam lantai marmer dengan ritme tegas, menarik perhatian beberapa orang di kerumunan.“A
Li Mingzi tiba-tiba berdiri dari kursinya, mengibaskan tangan seolah benar-benar terganggu.“Aduh… kenapa ya,” gumamnya sambil menggaruk telapak tangan. “Tanganku tiba-tiba gatal. Aneh banget.”Nada bicaranya santai, tapi sorot matanya jelas mengarah ke satu orang.Ruan An.Wajah pria itu langsung berubah pucat. Tubuhnya refleks mundur setengah langkah, lalu tanpa ragu berpindah ke belakang Song Hua seperti anak kecil yang mencari perlindungan.“I-Ibu…” suaranya sedikit gemetar, “dia… dia…”Li Mingzi memiringkan kepala, pura-pura bingung. “Ada apa? Aku cuma merasa gatal, kok. Masa nggak boleh?”Beberapa orang di ruangan itu menahan napas. Ketegangan semakin tinggi.Ruan Yin menutup wajahnya sebentar. “Kamu ini…” bisiknya lirih, setengah kesal.Namun Li Mingzi hanya tersenyum polos, menikmati reaksi semua orang.Ruan An tidak menjawab. Ia hanya menggenggam ujung pakaian ibunya, tubuhnya sedikit bergetar. Ingatan tentang pukulan sebelumnya jelas belum hilang dari benaknya.“Tanganmu gat
Suasana di ruangan makan berubah menjadi tegang. Tidak ada yang berani bergerak sembarangan.Semua orang akhirnya mengerti, kepulangan Song Hua bukan kebetulan, melainkan karena Ruan An.Ruan Tang menarik napas dalam, lalu perlahan bangkit dari kursinya. Wajahnya tenang, tetapi urat di pelipisnya terlihat menegang.“Ibu,” katanya hati-hati, “Ruan An bukan diusir tanpa alasan.”Song Hua mengangkat alis. “Lalu?”“Dia menyebabkan kerugian besar pada perusahaan,” lanjut Ruan Tang. “Selain itu… dia juga bekerja sama dengan organisasi asing yang ingin menghancurkan Faz Media.”Beberapa anggota keluarga saling bertukar pandang.Tiba-tiba tongkat kayu di tangan Song Hua menghentak lantai dengan keras.“Cukup!” bentaknya.Ruan Tang terdiam.“Kesalahan? Semua orang pernah melakukannya!” suara Song Hua meninggi, penuh emosi. “Tapi sebagai kakak, apa yang kau lakukan? Mengusir adikmu sendiri tanpa memberinya kesempatan?”Ruan Tang menunduk sedikit. “Ini bukan masalah kecil...”“Berani membantah?”







