Mag-log inSetelah kekacauan di villa mereda, rombongan bersiap kembali. Bai Yumeng berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir terpisah, dan Li Mingzi mengikutinya tanpa banyak bicara, langsung masuk ke kursi penumpang. Qin Luxi tetap naik ke mobil rombongan awal, kendaraan yang sama yang membawa mereka semua ke tempat Master Elang palsu tadi.Sebelum pintu mobil Qin Luxi tertutup, dia sempat menjulurkan kepala lewat jendela, memanggil Li Mingzi yang sudah duduk di mobil sebelah."Ngomong-ngomong," katanya, "Master Elang itu orangnya seperti apa? Kau kan sering lihat dia latihan.""Tampan," Li Mingzi menjawab cepat, tanpa berpikir panjang. "Anggun juga. Kalau dibandingkan Wen Lu, jauh banget."Qin Luxi mengangguk-angguk, membayangkan sosok misterius di kepalanya. Dia melirik ke arah Bai Yumeng yang sudah duduk tenang di kursi kemudi mobil sebelah."Kenapa Nona Bai nggak penasaran sama sekali soal ini?"Li Mingzi mengangkat bahu. "Oh."Jawaban sependek itu membuat Qin Luxi mengernyit, tapi d
Li Mingzi menerima kuas dari tangan si kakek palsu, jarinya menggenggam gagang bambu itu dengan santai. Tanpa banyak gerak-gerik dramatis, ujung kuas menyentuh kertas kosong yang tersisa di meja.Goresan pertama turun tegas, lalu melengkung lembut di ujungnya. Semua orang di halaman menahan napas."Itu..." Qin Luxi maju satu langkah, matanya tak lepas dari kertas. "Gaya tulisannya sama persis dengan yang di kota tadi."Bai Yumeng mengangguk pelan, wajahnya menegang. Huruf demi huruf yang muncul di bawah kuas Li Mingzi punya jiwa yang sama dengan karya yang sempat mereka perdebatkan siang tadi, tegas di pangkal, lentur di ujung, seolah tinta itu hidup.Master palsu melangkah mundur, wajahnya pucat pasi. "T-tidak mungkin... bocah ini..."Li Mingzi tidak peduli reaksi orang-orang di sekelilingnya. Dia menyelesaikan satu baris, lalu tanpa jeda mengambil dua lembar kertas kosong lagi. Kuas bergerak lebih cepat, tapi tetap rapi.Sebuah puisi pendek muncul di lembar pertama. Lalu satu lagi d
Perjalanan menuju villa pinggiran kota memakan waktu satu jam penuh. Sepanjang jalan, Wen Lu berulang kali mengingatkan agar tidak ada yang berbicara sembarangan di depan gurunya."Guru sangat sensitif soal tata krama," katanya sambil melirik tajam ke arah Li Mingzi. "Jangan sampai ada yang bikin malu.""Aku kan cuma pengawal," sahut Li Mingzi santai. "Diam saja di belakang juga nggak masalah."Qin Luxi langsung meraih lengan Wen Lu dan tersenyum manis. "Bukannya kita harus terlihat akrab? Santai saja, anggap aku benar-benar pacarmu hari ini."Wen Lu tersipu, tapi berusaha menjaga wibawa. Li Mingzi yang berjalan tak jauh dari mereka mengepalkan tangan diam-diam, rahangnya mengeras. Dadanya terasa panas melihat adegan pura-pura mesra itu, meski dia tahu semua cuma sandiwara.Villa tujuan mereka berdiri megah di antara pepohonan rindang, temboknya dilapis batu alam yang tertata rapi. Begitu memasuki halaman, mereka mendapati seorang lelaki tua berambut panjang tergerai duduk bersandar d
"Kalau tidak asli, bagaimana dong?" Wen Lu membalas dengan sinis, matanya menyipit muram ke arah Li Mingzi.Li Mingzi mengelus dagunya, wajahnya polos tanpa beban. "Kok aku lihat rasanya agak aneh ya? Kayak ikan lagi kram."Beberapa orang di sekitar menahan tawa. Wen Lu justru mendengus, menatap Li Mingzi dari atas ke bawah seolah melihat serangga aneh."Kamu pengawal, bisa ngerti apa soal kaligrafi? Jangan bicara soal karya asli Master Elang. Kamu bahkan mungkin tidak tahu cara memegang kuas dengan benar.""Lho, memangnya pengawal dilarang punya mata?" Li Mingzi mengangkat bahu. Dia menoleh ke belakang, menunjuk barisan pengawal yang berdiri diam di dekatnya. "Kalau memang pengawal itu diremehkan segitunya, buat apa kalian repot-repot membayar untuk menyewa kami?"Salah satu pengawal berdehem pelan, saling melirik dengan rekannya. Ada semacam rasa senasib yang muncul mendadak di antara mereka, seolah baru saja dibela oleh orang yang tidak mereka duga.Wen Lu buru-buru membela diri, s
Wen Lu masih berdiri kaku, rahangnya mengeras, seolah menelan kekalahan yang pahit. Dia tidak menjawab lagi, hanya membuang muka, mencoba menyusun kembali harga dirinya yang barusan runtuh di depan umum.Qin Luxi, yang sudah bosan dengan ketegangan sedari tadi, memutuskan mengalihkan pembicaraan. Dia menoleh ke arah Bai Yumeng, memperhatikan wanita itu sejenak sebelum bertanya."Nona Bai suka kaligrafi?""Aku ke sini karena ingin lihat karya Master Elang," jawab Bai Yumeng singkat, nadanya datar tapi jujur.Mendengar nama itu, mata Qin Luxi langsung berbinar. Dia mencondongkan tubuh sedikit dengan penuh antusias."Aku juga penggemar berat Master Elang! Sudah lama aku menunggu pameran ini dibuka."Kedua wanita itu saling bertukar pandang, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, suasana di antara mereka terasa lebih cair. Ternyata kekaguman pada satu orang bisa membuat dua orang asing mendadak akrab. Li Mingzi yang berdiri di samping, mendengar semua itu, entah kenapa merasa gatal untuk
Li Mingzi masih sibuk mendengarkan Qin Luxi mengoceh soal goresan tinta ketika sudut matanya menangkap dua sosok familiar berjalan mendekat dari arah pintu masuk. Jantungnya langsung mencelos.Wen Lu dan Bai Yumeng."Gawat," gumamnya pelan, refleks mundur setengah langkah seolah itu bisa menyembunyikan tubuhnya yang jangkung.Terlambat. Wen Lu sudah melihatnya lebih dulu. Mata pria itu menyipit tajam begitu menyadari siapa yang berdiri berdampingan dengan Qin Luxi, lalu berjalan cepat menghampiri dengan wajah mengeras."Kau!" Wen Lu menunjuk Li Mingzi, suaranya keras hingga beberapa pengunjung pameran menoleh. "Berani sekali kau muncul di sini bersama Nona Qin!"Li Mingzi tidak mau kalah gertak. Dia balas menatap tajam, lalu buru-buru mencari celah serangan. "Aku yang seharusnya bertanya! Kau sendiri ngapain deket-deket sama istriku barusan?!""Istrimu?" Wen Lu mengulang dengan nada tidak percaya, alisnya terangkat tinggi.Qin Luxi yang berdiri di antara keduanya mengamati Bai Yumeng
"Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya."Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik.Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya.Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Z
Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.
Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak
“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta







