Share

BAB 101

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-09-20 14:18:16
Mobil hitam itu melaju membelah jalanan yang lengang. Cane duduk di kursi belakang dengan satu siku bertumpu di sisi jendela, menatap lampu kota yang lewat tanpa benar-benar melihatnya. Di kursi depan, sopir dan seorang pengawal duduk tegak dan diam. Dua mobil pengawal lain mengekor di belakang.

Ponselnya bergetar. Nama Dante muncul di layar.

Cane mengangkatnya tanpa berkata apa-apa.

"Presiden," suara Dante terdengar dari seberang. "Nona Isabela sudah dipastikan sampai di rumah neneknya dengan s
RAJJA-M

Sekali lagi, terima kasih sudah menemani sampai 100 bab, readers!~

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Echa Iswara
please jgn dlu tamat dong novelnya.........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 105

    "Aku bisa mengurus diriku sendiri. Ibu jangan terlalu ikut campur urusanku."Enzo berdiri di balik meja kerjanya, kedua telapak tangan menekan kayu mahoni. Rahangnya mengeras. Di belakangnya, lampu-lampu kota sudah menyala penuh di balik kaca setinggi langit-langit.Ibunya duduk di sofa kulit dengan punggung tegak dan kaki bersilang, setenang orang yang menunggu teh dituang."Urusanmu adalah urusan ibu," ujarnya.Jam dinding berdetak. Enzo menegakkan tubuh."Paparazi itu suruhan Ibu, kan?" tanyanya.Cincin permata di jari ibunya mengetuk sandaran sofa. Sekali. Dua kali."Ibu sudah melakukan ini dari dulu," jawabnya. "Saat mantan-mantanmu yang lain ibu perlakukan seperti itu, kau tidak pernah protes. Kenapa sekarang?""Elena bukan mereka, Bu. Dia tidak akan nyaman dengan ini!"Suaranya memantul di dinding. Tidak ada yang bergerak.Ibunya menelengkan kepala, menatap putranya lekat-lekat. "Tidak nyaman? Jadi sekarang kau memikirkan kenyamanan seorang wanita? Apa kau mencintainya, Enzo?"

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 104

    Lantai eksekutif BRN Corp selalu terdengar sama setiap pagi. Bunyi sepatu di lantai marmer, ketikan keyboard yang bersahutan, dan aroma kopi dari pantry yang menyebar sampai ke lorong. Tidak ada yang bicara dengan suara keras di lantai itu, dan tidak ada yang berani terlambat.Pukul sembilan lewat beberapa menit, Cane duduk di balik mejanya dengan berkas laporan pagi terbuka di hadapannya. Ada satu hal yang belum tersaji di mejanya pagi ini, padahal biasanya sudah ada sejak Isabela tiba.Ia melirik cangkir kosong di sudut meja.Tangannya terulur ke telepon internal dan menekan satu tombol yang tersambung ke ruangan Isabela."Isabela, buatkan kopi."Nada sambung terdengar. Sekali, dua kali, tiga kali.Tidak ada yang menjawab.Cane menunggu sampai sambungan itu terputus sendiri, lalu mengulanginya sekali lagi. Hasilnya sama. Ia meletakkan gagang telepon perlahan, dan jemarinya mengetuk permukaan meja satu kali, lalu berhenti.Pintu diketuk dua kali, hati-hati."Masuk."Clara melangkah m

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 103

    Di balik kemudi, Elena menginjak pedal gas pelan-pelan. Setiap kali kaki kanannya menekan terlalu dalam, nyerinya menjalar sampai ke pinggang. Ia melirik pakaian yang melekat di tubuhnya, dan wajahnya makin cemberut."Pas," gumamnya. "Pas sekali. Kapan dia mengukurnya? Memangnya dia penjahit?"Ia menarik-narik ujung bajunya dengan satu tangan, seolah kain itu yang bersalah."Dan tadi itu apa? Bangun-bangun sudah ada wajah menyebalkan itu, duduk santai, tersenyum seperti baru memenangkan lotre. Aku bahkan belum sempat cuci muka." Ia melirik buku-buku jarinya. "Tinjuku juga kurang keras. Harusnya kutambah satu lagi di sisi yang satunya, biar seimbang."Lampu merah menyala. Elena mengerem, dan suaranya mengecil."Semalam aku mabuk. Orang mabuk tidak bisa dimintai pertanggungjawaban, itu ada di undang-undang, aku yakin ada." Ia berhenti sebentar. "Lagi pula, siapa suruh wajahnya seperti itu. Pria dengan wajah begitu tidak boleh dibiarkan berkeliaran di klub. Itu pelanggaran."Ia menarik n

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 102

    Isabela baru benar-benar terlelap ketika suara langkah pelan dan bunyi pintu kamar yang terbuka membuatnya mengerjap.Cahaya pagi sudah menembus tirai tipis. Di ambang pintu, neneknya berdiri dengan tas kecil tersampir di lengan dan kerudung yang sudah rapi."Nenek mau pergi dulu, ya," ujar sang nenek pelan. "Isabela, apa kau tidak bekerja hari ini?"Isabela membeku di balik selimut yang ditariknya sampai ke dagu. Jas hitam itu sudah ia selipkan ke dasar lemari sebelum tidur, dan kakinya yang masih perih ia sembunyikan dengan hati-hati di bawah selimut.Bekerja. Berarti kantor. Berarti bertemu Cane.Ia sama sekali tidak ingin bertemu iblis Barrone itu, tidak hari ini, bahkan mungkin tidak besok."Aku sedang libur, Nek," jawabnya akhirnya, berusaha terdengar biasa saja. "Nenek pergi saja, biar Bela yang jaga rumah."Neneknya tersenyum. "Baiklah. Nenek pergi dulu ke tempat Dona Marta. Nenek sudah masak, kalau kau ingin makan, makanannya ada di lemari. Kau bisa memanaskannya kalau mau."

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 101

    Mobil hitam itu melaju membelah jalanan yang lengang. Cane duduk di kursi belakang dengan satu siku bertumpu di sisi jendela, menatap lampu kota yang lewat tanpa benar-benar melihatnya. Di kursi depan, sopir dan seorang pengawal duduk tegak dan diam. Dua mobil pengawal lain mengekor di belakang.Ponselnya bergetar. Nama Dante muncul di layar.Cane mengangkatnya tanpa berkata apa-apa."Presiden," suara Dante terdengar dari seberang. "Nona Isabela sudah dipastikan sampai di rumah neneknya dengan selamat. Dari rekaman CCTV jalan, ia turun dari taksi di ujung gang dan masuk sendirian. Tidak ada yang mengikutinya."Cane tetap diam.Dante terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Hanya saja, ia berjalan agak pincang."Jemari Cane yang tadi mengetuk lutut berhenti.Pandangannya masih tertuju pada jendela. Ia tidak perlu bertanya kenapa. Rahangnya mengeras samar, tetapi wajahnya tetap tenang.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Cane mengakhiri panggilan tanpa satu kata pun, lalu meletakkan ponseln

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 100

    Tengah malam Isabela terbangun dengan napas tersentak.Kamar itu gelap. Hanya ada garis tipis cahaya kota yang menyelinap dari sela tirai, jatuh memanjang di atas seprai putih yang kusut. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan seluruh tubuhnya terasa asing, seperti milik orang lain yang baru saja ia pinjam.Ia mengerjap, menatap langit-langit yang tidak ia kenali. Lalu semuanya datang sekaligus.Lantai dansa yang berkilat. Tawanya sendiri yang terlalu keras. Tangan besar Cane yang menghapus eyeliner di sudut matanya, dan suaranya sendiri yang kemudian berkata dengan lantang bahwa ia mau tidur dengan pria itu.Isabela membeku. Wajahnya memanas sampai ke telinga."Tidak. Tidak, tidak, tidak," bisiknya pelan.Ia menoleh ke sisi ranjang. Sisi itu kosong, tetapi bantalnya masih menyisakan cekungan. Dari balik pintu di ujung kamar terdengar suara air yang mengucur, teratur dan tenang, dan justru itu yang membuat jantungnya berdegup makin liar.Ia bangun terlalu cepat, dan kepalanya

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 7

    Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 6

    Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 5

    Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 4

    Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status