공유

Bab 47

작가: Dinwa
last update 게시일: 2026-08-01 20:15:05

Sisa-sisa kata perusahaan dan karyawan yang kuucapkan dengan nada manja masih menggantung manis di udara dingin Paviliun Kekaisaran. Di bawah cengkeraman tanganku yang meremas rambut hitamnya, Vincent Valerius tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan.

​Sebaliknya, Penguasa Bayangan yang terkenal kejam dan tak tersentuh di seantero Kekaisaran Blackwood itu justru memejamkan mata, menikmati tekanan jemariku seolah itu adalah mahkota tak berwujud yang paling ia damb
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 54

    Gema pertempuran di Lembah Whitmore mungkin telah usai di dokumen resmi kekaisaran, namun suasana di dalam paviliun utama Istana Mawar masih menyisakan ketegangan taktis yang pekat. Udara di dalam kamar tidur utama terasa sangat hangat, dipenuhi sisa-sisa uap mana elemen api milik Adrian yang masih meletup-letup konstan di sudut ruangan, seolah-olah manifestasi dari emosinya yang membara ikut mengungkung seisi kamar. ​Aku duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra di kepala ranjang, baru saja selesai membasuh sisa-sisa energi pertempuran dari tubuhku. Jubah tidur beludru hitam berpotongan elegan kini membungkus tubuhku dengan rapi. Di sudut penglihatanku, untaian teks digital dari sistem yang telah diretas sepenuhnya kini berkedip dengan ritme yang tenang, memvalidasi stabilitas duniaku setelah badai melanda. ​Aku menatap tiga sosok pria raksasa yang saat ini mengelilingi ranjangku, masing-masing memancarkan aura dominasi yang sanggup me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 53

    Lembah Whitmore tidak lagi menyerupai lanskap bumi yang organik. Seluruh permukaannya telah meleleh di bawah suhu ekstrem yang dilepaskan oleh Adrian, sekaligus membeku dalam fraksi detik berikutnya oleh pasak kegelapan milik Vincent. Udara yang terperangkap di dalam lingkaran krisis ini begitu pekat oleh uap belerang, partikel mikro dari kode-kode sistem Project: Gaia yang terbakar, serta kepulan asap putih dari sisa-sisa penguapan kabut kelabu. Suara gemuruh perang tidak lagi terdengar seperti benturan pedang konvensional, melainkan dentuman konstan dari sirkulasi mana tingkat tinggi yang saling bergesekan, menciptakan tekanan atmosfer yang sanggup meremukkan paru-paru prajurit biasa. ​Di pusat barikade yang kini telah bersinar kembali dengan pendar emas-merah yang masif, Alaric berdiri dengan keagungan seorang malaikat pencabut nyawa yang baru saja mencicipi buah terlarang. Sisa-sisa air liurku masih mengkilap samar d

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 52

    ​Alaric mengerang rendah, sebuah lenguhan parau yang sarat akan getaran energi dan rasa nikmat yang luar biasa menggairahkan meluncur dari sela-sela bibir kami yang saling mengunci. Napasnya yang semula tersengal berat seketika berubah menjadi buruan napas yang panas dan menuntut. ​Sentuhanku perlahan semakin berani dibalut kedok transfer energi ini, aku mengirimkan sengatan listrik masif yang langsung merayap turun ke pusat tubuhnya. Arus sihir yang teramat padat dan panas itu memicu ketegangan pada pusatnya, mengalir deras melalui jalur sarafnya dan berpusat di balik baju zirah peraknya. Energi baru yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya terasa melegakan. ​Tubuh sang Kesatria Suci yang biasanya tegak dan kaku seperti pilar batu kini mendadak melunak, kehilangan seluruh kekuatan penolakannya. Ia gemetar hebat di bawah dominasi ciumanku yang sengaja mempermainkan sensitivitas bibirnya hingga basah dan merona kemerahan. Alaric yang selalu diagungk

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 51

    Lembah Whitmore yang dulunya hijau dan asri kini benar-benar berubah menjadi replika neraka yang sedang mengalami error sistem. Suasana di medan tempur begitu kacau, suara ledakan sihir api yang memekakkan telinga beradu dengan desis kabut kelabu yang merayap bagaikan predator lapar. Udara terasa berat, penuh dengan partikel debu sihir dan aroma hangus dari boneka-boneka kosong yang terbakar. ​Begitu perintah eksekusi kuberikan, Adrian benar-benar bertindak seperti meteor jatuh. Pangeran psikopat itu terjun bebas dari atas bukit, tubuhnya diselimuti lidah api merah raksasa yang membentuk siluet naga. Begitu kakinya menyentuh tanah lembah, sebuah gelombang kejut panas meledak ke segala arah, menghanguskan ribuan boneka kosong dalam sekejap hingga menjadi abu. ​"Lavinia! Lihatlah bagaimana aku membakar sampah-sampah ini untukmu!" Adrian meraung gila di tengah medan tempur. Pedang besarnya terayun brutal, setiap tebasannya menciptakan gelombang api yang me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 50

    Di dalam kereta, suasana romantis yang penuh tekanan ini kian terasa nyata. Adrian duduk di hadapanku memberikan tatapan lapar yang tidak putus-putus. Sementara tangannya tidak berhenti membelai ujung jubah beludruku seolah-olah kain itu adalah bagian dari kulitku. Namun, pemandangan di luar jendela kereta kian lama kian merusak suasana romantis kami. Desa-desa perkebunan yang biasanya hijau kini tampak mati terlihat dari daun-daun tanaman yang menghitam dan membusuk akibat paparan partikel dari kabut abu-abu yang mulai bocor dari perbatasan utara. Para penduduk lokal yang tidak sempat melarikan diri terlihat merangkak di pinggir jalan dengan tatapan mata yang kosong. Kulit mereka berubah menjadi seputih kapur dengan urat-urat hitam yang menonjol di sekujur tubuh. ​Mereka adalah produk gagal dari proses kerusakan awal Project: Gaia. Mereka

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 49

    Semburat fajar yang muncul di ufuk timur Kekaisaran Blackwood tidak membawa kehangatan yang manis seperti di novel-novel cinta yang biasa dibaca para nona bangsawan. Langit pagi itu justru terlihat menakutkan seperti perpaduan warna merah tua yang pekat dan kepulan abu-abu dari kabut Project: Gaia yang mirip polusi udara kota besar akibat proyek gagal. Udara di luar paviliun terasa sangat dingin menusuk kulit, membawa embun yang berbau karat besi dari arah utara. Itu adalah tanda jelas bahwa ribuan nyawa di perbatasan Whitmore sedang terancam oleh sistem dunia yang mendadak rusak. ​Namun, di dalam kamar tidur utama paviliun, masalah besar kekaisaran itu mendadak terasa kalah mendesak jika dibandingkan dengan masalah medis di atas ranjang sutra besarku. ​Ranjang besar itu kini tampak berantakan seperti medan perang yang hancur lebur. Sprei sutra robek di beberapa bagian, bantal-b

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 3

    Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."​Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya.​"Kamu benar-be

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 2

    Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 1

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Prolog

    Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status