LOGINChapter 9
Si Berandalan Cuaca tidak terlalu terik meskipun matahari bersinar cerah dan pagi ini Marcello sudah memperhitungkannya dengan matang, seharusnya rencananya berjalan seperti apa yang diinginkannya karena seperti halnya Sebastian yang tidak memiliki kegagalan dalam daftar hidupnya, Marcello juga tidak pernah memasukkan kegagalan ke dalam agenda hidupnya. Setelah pertemuannya dengan Aneesa dua hari yang lalu Marcello belum menjalin komunikasi lagi dengan gadis incarannya itu meskipun telah mengatakan akan meneleponnya, Marcello melakukannya dengan sengaja dan tentunya telah memperhitungkan setiap tindakannya karena mendapatkan Aneesa adalah agenda utama dalam hidupnya. "Bagaimana wawancaramu tadi?" tanya Narnia yang hanya mengenakan bikini. Marcello memindahkan kacamata hitamnya ke atas kepala lalu duduk di kursi panjang yang terletak di samping kolam renang di tempat tinggal Narnia. Wawancara di televisi yang disiarkan secara langsung berjalan seperti yang sudah dijadwalkan, Marcello menjawab beberapa pertanyaan yang telah disepakati tentunya yang relevan dengan dunia F1 dan kemenangannya musim ini. Sementara pertanyaan lain yang mendadak ditanyakan karena sensasi yang dibuatnya tentu saja Marcello tidak memberikan jawaban apa pun. "Aku akan pergi ke Kannapolis besok," kata Marcello tanpa menjawab pertanyaan Narnia. Narnia mengulurkan gelas berisi sparkling water dengan potongan lemon pada Marcello, raut wajahnya berubah sedikit muram. "Kita belum menghabiskan waktu, sayang sekali kau sudah akan pergi lagi." Marcello menikmati sparkling water-nya kemudian tanpa meletakkan gelas di tangannya menatap air di kolam yang terlihat jernih dan segar. "Kami diagendakan untuk melakukan tes stimulator." "Kau tidak memberitahu aku kalau kau tidak berlama-lama di sini," ucap Narnia menunjukkan protesnya sembari mengambil gelas dari tangan Marcello lalu dengan gayanya yang menggoda melingkarkan lengan Marcello di pinggangnya. "Malam ini kita bisa menghabiskan waktu berdua sebelum kau pergi ke Kannapolis, kan?" Marcello menengadah, di depannya tersaji tubuh molek Narnia yang nyaris telanjang. Hanya payudaranya yang terbungkus kain tipis dan celana dalam yang hanya menutupi bagian kewanitaannya, hanya tinggal menarik tali-tali bikini yang diiikat dengan rapuh makan Narnia akan polos tanpa busana dan siap dinikmati. Bibir Marcello menyunggingkan senyum tipis, Narnia selalu memberikan kepuasan pria dewasa tanpa diminta dan Narnia memenuhi kebutuhannya dengan sangat baik. Sayangnya kali ini ia tidak datang menemui Narnia untuk memenuhi hasratnya, kedatangannya untuk mengakhiri hubungan mereka. "Dan, sekarang kita tidak perlu lagi berkencan sembunyi-sembunyi. Papaku sudah tahu, tenang saja karena dia tidak berkomentar tentang hubungan kita, sementara Barron... Aku yakin kalau dia tidak akan ikut campur," ucap Narnia seraya melingkarkan lengannya di leher Marcello. Barron tidak akan peduli, tentu saja karena Barron adalah seseorang yang hanya peduli dengan keuntungan, sementara Oliver tidak memberikan komentar pada Narnia, tetapi pria itu datang dan mengancamnya—memberi satu-satunya pilihan dan Marcello dengan senang hati memenuhi keinginan Oliver. "Papamu sudah bicara denganku," kata Marcello dengan tenang menatap mata Narnia. Narnia membalas tatapan Marcello dan memiringkan kepalanya. "Oh, ya? Apa katanya?" "Papamu bilang, jangan dekati putriku," kata Marcello menirukan ucapan Oliver dengan sangat tenang. Narnia tersenyum menggoda. "Jadi, bagaimana menurutmu?" "Kurasa papamu benar," jawab Marcello datar. Narnia melepaskan lengannya dan meninggalkan Marcello masuk ke dalam air, berenang-renang dengan sangat tenang lalu kembali keluar dari air kemudian mengambil botol air mineralnya. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu meneguk air mineralnya lalu merebahkan dirinya di kursi dan menatap langit. "Papa hanya takut aku dikecewakan," kata Narnia pelan lalu menoleh kepada Marcello. "Aku pasti akan mengecewakanmu," kata Marcello dan membalas tatapan Narnia. *** Aneesa berada di studio lukisnya yang berada di sisi timur rumahnya. Kanvas-kanvas setengah jadi tersandar di dinding dan beberapa lukisan yang telah selesai ditutup dengan kain putih, sementara rak kayu penuh dengan kuas, palet, dan botol cat warna-warni. Dindingnya yang terbuat dari kaca menghadap ke barat membuat Aneesa dapat menyaksikan matahari terbenam, memberikan ilham di setiap sapuan kuasnya. Aneesa mengoleskan kuasnya ke kain kanvas, gerakannya pelan namun pasti meninggalkan jejak warna yang tegas di permukaannya. Alunan musik klasik lembut mengiringi setiap gerakannya, sementara ekspresinya sangat serius membuatnya mengabaikan Lyndi yang mengetuk pintu studio lukisnya. "Marcello sudah datang," kata Lyndi seraya melangkah masuk. Aneesa menghentikan gerakannya dan bibirnya menyunggingkan senyum. "Berandalan," gumamnya pelan. "Apa perlu dia kubawa ke sini?" tanya Lyndi. Aneesa mengambil tisu dan mengusap kuasnya menggunakan tisu tersebut lalu meletakkan kuasnya ke atas paletnya. "Biarkan dia menunggu di ruang tamu." Kemudian Aneesa membersihkan tangannya dari percikan-percikan cat yang mengotorinya, gerakannya sangat santai seolah-olah tidak ada orang yang sedang menunggunya. "Kau sengaja ingin membuatku menunggu?" Suara bariton itu membuat Aneesa menoleh, Marcello berdiri di ambang pintu. Penampilannya santai mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans belel sementara rambutnya diikat ke belakang, tetapi menyisakan beberapa bagian yang tidak bisa diikat. Benar-benar penampilan yang cocok dengan sebutan 'berandalan', pikir Aneesa. Aneesa tersenyum mengejek kepada Marcello lalu menatap Lyndi. "Tinggalkan kami." Lyndi mengangguk lalu meninggalkan ruangan, melewati Marcello dan mereka sekilas beradu pandangan saat Lyndi melewati Marcello. Setelah Lyndi menjauh Marcello menutup pintu lalu melangkah masuk, langkahnya santai tetapi tegap dan tegas sementara tatapannya hanya tertuju pada Aneesa. "Kau mengundangku ke sini, pastinya untuk membahas kolaborasi yang kutawarkan, bukan?" Aneesa meletakkan kain lap di tangannya ke atas meja yang penuh dengan bercak cat berwarna-warni yang telah mengering lalu dengan gerakan santai mengalihkan pandangannya kepada Marcello. "Kita belum selesai mengobrol beberapa hari yang lalu." Bibir Marcello menyunggingkan senyum, tatapannya masih tertuju pada Aneesa. "Selain kolaborasi, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan." Aneesa tersenyum mengejek. "Selama bertahun-tahun, aku beberapa kali mengirimkan pesan padamu, meneleponmu, tetapi kau mengabaikanku." "Jadi, ini yang kau maksud pembicaraan penting?" tanya Marcello yang telah berdiri tepat di depan Aneesa seraya memasukkan tangannya ke dalam saku jaket kulitnya. "Kau menganggap hubungan kita tidak penting, bukan masalah. Tetapi, apa aku pernah berbuat salah hingga kau mengabaikan aku?" tanya Aneesa dan tidak menyembunyikan kekesalannya. Marcello mengeluarkan satu tangannya dari saku jaketnya, diambilnya kuas di atas palet, ditatapnya, ditimangnya perlahan lalu pandangannya tertuju pada lukisan yang belum jadi di depannya. "Bakat melukismu semakin mengagumkan," katanya memuji dengan santai. "Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Aneesa seraya memutar bola matanya dengan malas dan bersedekap. Marcello tersenyum miring. "Kau terlalu memperhitungkan hal remeh dan tidak penting." Aneesa menghela napasnya, Marcello yang dikenalnya dulu adalah pemuda urakan yang setiap harinya sibuk mengamati mesin-mesin mobil dan tentu saja diam-diam mengendarai mobil meskipun usianya belum memasuki usia legal untuk berkendara di jalan raya. Tetapi, sikapnya sangat ceria dan energik. Sekarang Aneesa justru hampir tidak mengenali pria di depannya yang selalu menunjukkan sikap sangat santai, bahkan terkesan acuh pada semua hal termasuk penampilan. Aneesa menatap Marcello lekat-lekat dan berpikir jika sesuatu yang besar mungkin mengubah Marcello. "Beberapa tahun tidak bertemu, aku seperti tidak mengenalmu," ucapnya pelan dan ragu-ragu.END Malam di Monaco selalu punya caranya sendiri untuk terasa hidup—bukan bising, melainkan berkilau. Lampu-lampu pelabuhan memantul di permukaan laut seperti deretan perhiasan yang dijatuhkan dengan sengaja. Dari balkon apartemen mereka, kota itu terlihat tenang, nyaris sopan, menyembunyikan hiruk-pikuk siang hari di balik cahaya keemasan. Aneesa tiba saat jam hampir bergeser ke tengah malam. Lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan, tatanan rambutnya belum sepenuhnya dilepas. Ia menutup pintu perlahan, lalu berhenti sejenak ketika mendapati Marcello di ruang tengah—masih mengenakan kaus sederhana, duduk di sofa dengan tablet terbuka dan segelas air di meja. "Sayang, akhirnya kau pulang," kata Marcello dan bangkit. Senyumnya langsung menghapus lelah yang sejak tadi menempel di wajah Aneesa. "Akhirnya konser berakhir," jawab Aneesa sambil mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi Marcello, aroma panggung masih tersisa. "Kenapa belum tidur?" "Aku menunggumu," ka
Chapter 127 'Berandalan' Lain Pagi itu datang tanpa keramaian. Hamparan tanah luas berwarna keemasan terbentang di bawah matahari musim panas yang masih jinak, diselingi pohon-pohon ek yang berdiri berjauhan, seolah menjaga jarak satu sama lain. Udara kering, bersih, dan tenang—jenis pagi yang tidak meminta apa pun selain kehadiran penuh. Dehesa pribadi milik keluarga kerajaan terhampar sejauh mata memandang, tertutup dari dunia luar, dijaga sunyi dan tradisi. Marcello menuntun kudanya lebih dulu, langkahnya mantap dan akrab, seperti seseorang yang tahu kapan harus bergerak dan kapan membiarkan alam memimpin. Aneesa menyusul di sisinya. Ia mengenakan pakaian berkuda sederhana—kemeja terang, celana gelap, sepatu tanpa hiasan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya bersih dari riasan dan perhiasan. Tidak ada sorotan di sana, hanya mereka, pagi, dan ruang yang terasa luas tanpa tuntutan. Maximilian dan Serafina bergerak sedikit di depan, menunggangi kuda-kuda mereka dengan cara yang sa
Chapter 126 Sama-sama Kalah Lake Como, Italia. Lima bulan kemudian. Narnia berdiri di tepi ruang pesta dengan segelas sampanye yang nyaris tak disentuh. Dari tempatnya, ia bisa melihat segalanya dengan jelas—gaun-gaun mahal, senyum-senyum yang dipaksakan, dan Agnes yang tampak sempurna menjadi pusat perhatian. Pernikahan megah, nyaris tak bercela. Terlalu rapi, terlalu terencana, seolah setiap detail sudah disepakati jauh sebelum perasaan ikut dilibatkan. Ia menatap Barron lebih lama dari seharusnya. Pria itu berdiri di samping Agnes, tubuhnya tegap, wajahnya tenang, namun sorot matanya kosong. Narnia mengenali tatapan itu. Tatapan seseorang yang hadir secara fisik, tapi pikirannya berada di tempat lain, bukan di pesta pernikahan ini. Agnes terlihat bahagia—atau setidaknya, pandai memainkan peran itu. Senyumnya halus, geraknya anggun, tangannya menggenggam lengan Barron dengan kepastian yang nyaris agresif. Narnia menelan senyum kecil, ia tahu betul Agnes selalu menang kare
Chapter 125 Gadis Paling Beruntung Senin pagi datang tanpa suara. Cahaya matahari menyelinap tipis melalui celah tirai, jatuh ke dinding kamar yang nyaris kosong. Marcello terbangun lebih dulu, masih setengah sadar, menyadari keheningan yang berbeda dari hotel-hotel yang biasa ia tempati. Kamar itu terasa tenang—bukan dingin, hanya sunyi dengan cara yang menenangkan. Aneesa masih terlelap di sisinya, napasnya teratur. Rambutnya tergerai di bantal, wajahnya tampak lebih lembut tanpa beban apa pun. Marcello sejenak memandangi wajah pujaan hatinya, seolah pagi itu memberinya waktu yang jarang—waktu tanpa jadwal, tanpa sorotan, tanpa siapa pun yang menuntut apa pun darinya. Aneesa bergerak pelan, membuka mata ketika cahaya mulai terasa terlalu terang untuk diabaikan. Ia menoleh dan mendapati Marcello sudah terjaga, sedang menatapnya. Senyum kecil muncul di bibirnya dan berkata, “Selamat pagi, Sayang.” Ujung jemari Marcello menyentuh pelipis Aneesa dengan lembut, bibirnya menyunggin
Chapter 124 Pengantinku Air mata Marcello benar-benar terdorong keluar, sementara Serafina juga menyeka air matanya dan Marcello merangkul adiknya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga Vanilla dan Nick yang saling berpelukan dengan lembut. Marcello lalu beringsut dan memeluk ayahnya. "Pa, terima kasih." Nick menepuk-nepuk punggung Marcello. "Papa bangga dengan semua pencapaianmu, dan sekarang kau memilikinya. Seseorang yang membuatmu merasa benar-benar pulang," katanya lembut. Marcello lalu memeluk ibunya, tanpa mengatakan apa pun. Hanya kebahagiaan yang pasti dipahami dan dirasakan ibunya. "Nak, kau selalu membuat Mama khawatir, tetapi kau selalu membuktikan kalau kau pantas mendapatkan apa pun yang kau inginkan pada kami. Dan sekarang kau mendapatkannya," kata Vanilla seraya memeluk Marcello dengan penuh kehangatan seorang ibu. Marcello mengangguk. "Maafkan aku, selalu membuatmu khawatir." "Ingatlah sekarang kau tidak bisa lagi hidup sesuka hatimu. Ada tanggung jawab da
Chapter 123 Dunia Baru Marcello meninggalkan perjamuan sederhana yang diadakan oleh tim Haas, sebuah perayaan kecil yang biasa dilakukan setelah melakukan setelah seri berakhir. Dua pekan lalu jamuan itu dihadiri oleh wajah-wajah murung yang bahkan seperti tidak memiliki gairah hidup lagi, namun malam ini canda tawa menghangatkan suasana. Berita tentang dirinya yang dinobatkan sebagai ‘aset nasional’ menghiasi berbagai portal berita online, penggemarnya sedang merayakannya, begitu pula rakyat Spanyol. Marcello merasakan kebahagiaan sekaligus beban di pundaknya bertambah, namun ia yakin dengan kemampuannya. Ditambah dengan sponsor yang terus berdatangan, kekhawatiran akan runtuhnya tim karena dirinya perlahan memudar. Marcello menghela napas dalam-dalam beberapa kali sepanjang mengemudian supercar ayahnya menuju ke tempat tinggal orang tuanya. Sebastian bilang, ibunya mengadakan pesta untuknya dan Aneesa sudah berada di sana. Namun, ketika tiba di sana Serafina justru langsung me







