LOGIN"Ini kok nggak bisa dihubungin lagi sih! Hiiihhh sebel banget! Udah pasti ada sesuatu ini sama mereka khususnya sama Mila. Besok pagi aku akan ke sana. Aku akan tanyakan sendiri sama si Sri. Lihat saja kalau sampai dia nggak mau melanjutkan informasinya!""Kenapa sih, Mah? Kamu kok marah-marah begitu? Ada apa? Cepat keriput kamu kalau bawaannya emosi terus.""Papah kok doainnya begitu? Jangan bikin Mamah tambah sensi deh! Ini tuh emang lagi emosi banget. Bukan apa, Pah. Si Sri itu...""Sri siapa?""Bibi di rumahnya Saka. Tadi Mamah tuh telepon dia. Tanya-tanya sama dia soal Saka dan Mila, dia tuh udah mau cerita, udah ngomong kalau mereka nggak seromantis keliatannya. Mereka bermasalah, Pah. Cuma ya itu, giliran udah mau cerita, tau-tau nggak aktif nomornya. Hapenya mati, 'kan ngeselin banget, Pah. Pokoknya feeling mamah tuh kuat tentang Saka sama Mila. Nggak bisa dua orang itu tuh bertahan lama. Si mandul itu cuma nyusahin aja jadi perempuan. Nggak guna juga di keluarga kita.""Jang
"Iya Nyonya besar bagaimana? Maaf Nyonya, saya baru saja dari kamar mandi." "Lama kamu tuh! Nggak tau siapa yang menghubungi. Gimana anak saya dan mantu mandul saya itu? Apa yang kamu lihat dari mereka, Sri?" "Maaf Nyonya besar, saya nggak nyangka kalau akan mendapatkan telepon dari Nonya besar. Kalau untuk Nyonya dan Tuan Saka, saya lihat memang agak kurang harmonis, Nyonya. Hanya saja itu wajar dalam berumah tangga." "Kamu jangan menutupi apapun dari saya Sri! Kamu ngomong aja kalau emang mereka itu banyak masalah. Jangan kamu tutup-tutupi!" "Nggak ada, Nyonya besar." "Nggak ada gimana? Kamu bilang tadi ada masalah sekarang kamu bilang lagi nggak ada apa-apa. Kamu aja omongannya nggak bisa dipegang. Cerita, Sri! Jangan kamu tutupi! Saya bisa saja memulangkan kamu kalau kamu berani berbohong. Siapa yang mempekerjakan kamu di sana? Kamu pikir Mila? Saya, Sri! Ingat itu! Saya yang mengajukan kamu pada Saka!" "Iya, Nyonya besar. Maaf tapi memang sebelumnya jarang bertengkar hanya
Bejo lebih dulu mandi dan membersihkan diri sebersih bersihnya karena Mila sesuka itu. Bahkan persiapan dia lakukan hampir satu jam di kamar mandi hingga semua jari terlihat keriput. "Nah kalau begini, mau dijilat, disedot, dihisap, dimut, gue pede."Bejo keluar dengan tubuh yang sangat segar. Masih dengan berbalut handuk sebatas pinggung. Bejo melangkah mendekati meja yang di depan sana ada kaca berukuran kecil untuknya melihat penampilannya sendiri.Minyak wangi disemprotkan keseluruh badan. Dia menyeringai kala wangi maskulin begitu sangat menggoda. Ini sudah kesekian kalinya tetapi untuk kegiatan ranjang tidak akan pernah membuatnya bosan. Hanya saja, sambil menunggu waktu. Bejo lebih dulu menyiapkan bahan untuk proposalnya. Sejenak dia bergelut dengan kata dan juga mengasah otak. Tanpa dia tau kalau Mila pun tengah mempersiapkan diri di kamar. "Kalau pakai yang ini gimana ya?" Mila melihat lingerie yang kini ada di tangannya. Semua stok lingerie baru sudah digunakan dan tidak
"Nyonya mikirnya kejauhan. Udah kayak jalan-jalan dari Jakut ke Jaksel. Kudu melewati kemacetan dan kesabaran yang ekstra. Ke sana terus mikirnya. Yang kesini aja nggak ada, Nyonya? Nggak mau jauh-jauh kalau Bejo, Nya. Maunya di ranjang Nyonya aja." "Jangan gombal! Saya serius tanya sama kamu. Ada rahasia apa kamu sama Caca?" "Nyonya pengen tau banget?" Sontak Mila merengut dengan melipat kedua tangan dan melengos enggan menatapya lagi. Mila diam dan Bejo terkekeh melihat itu. "Duuuh gemas banget bini orang! Coba bini sendiri. Udah gue ketekin sekarang juga. Sakingnya bini orang, jadi cuma bisa mandang." Dalam hati Bejo begitu berisik tetapi mau gimana memang adanya Mila begini sekarang. Sudah bebas mengungkapkan isi hati dan ketidak sukaannya sedangkan dia hanya kebagian gemasnya saja yang ditahan-tahan seperti tengah menahan kentut di depan Mila. "Jo kamu ngomong apa sih? Yang jelas kalau bicara!" "Katanya masih kesal kok negur?" "Oh jadi kamu nggak mau ditegur? Ok
"Aaaaaa..... Iya-iya ampun, Nyonya! Ampun!" Mila yang geregetan kemudian menarik telinga Bejo agar sadar tengah bicara dengan siapa. Bukannya minta maaf malah ngajak perang. Itulah yang Bejo lakukan hingga membuat Mila gemas sendiri jadinya. "Kamu tuh apa sih! Udah buat aku nunggu, sekarang malah mau ngajak aku gelud. Gimana konsepnya sih, Jo? Ih! Geregetan banget sama kamu tau nggak! Bikin aku uring-uringan aja!"Mila melepaskan telinga Bejo yang kini terlihat memerah. Kalau tidak begini mungkin wajah Mila yang memar karena tadi tangan Bejo sudah ancang-ancang ingin memukulnya. Maka dari itu Mila langsung main tangan juga. "Maaf Nyonya, maaf! Duh nggak tau kalau itu Nyonya. Kirain ada yang mau rampok saya tadi. Maklum baru bangun Nyonya. Kaget banget tadi.""Kamu ngapain tidur di sini? Saya tuh nyariin tau nggak! Saya pikir kamu belum datang. Bisa ngabarin 'kan? Kenapa malah buat saya nunggu? Hampir saja saya pulang naik taksi online tau nggak.""Iya maaf, Nyonya. Tadi tuh udah ng
"Lo serius?" tanya Bejo dengan kedua mata yang menunjukkan keterkejutannya. Caca menganggukkan kepala meyakinkannya kalau apa yang disampaikan benar adanya. Bejo pun mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Apa yang bisa membuat lo yakin?" "Aku yang capek mengurusnya. Kamu paham nggak sih, aku di titik lelah dan muak banget." "Tapi kemarin ada di sana, dia yang mau treatment 'kan?" tanya Bejo dan Caca menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi ya gitu deh! Nggak tau juga bisa sampai begitu tuh gimana. Pusing aku juga." "Terus gimana sama pacarnya yang satu?" tanya Bejo terus menggali informasi. Ajimumpung banget baginya yang memang sudah lelah semalaman mencari informasi dan siang ini malah dibuka selebar-lebarnya sampai Bejo rasanya ingin bersorak tetapi dia malah dibuat tercengang berulang kali. "Ya nggak tau dong, Jo. Kalau tau juga nggak mungkin banget. Kayaknya malah gantung soalnya udah nggak pernah lihat yang pertama ke rumah lagi." "Kira-kira lo tau siapa cowok perta
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







