Masuk"Loh kok nggak langsung berangkat, Jo?" "Janjiannya sama dosbing jam sembilanan, Nyonya." Bejo memilih menunggu waktu di toko Mila. Tadi wanita itu tidak tau kalau dia masih di sana. Maka dari itu sempat terkejut kala tau mobilnya masih ada diparkiran. "Masuk dulu kalau begitu," perintah Mila dan dia pun segera melangkah masuk ke dalam toko tetapi tertahan saat melihat dari dalam ada Caca yang turun dari mobil dan masuk ke toko roti. Segera langkahnya panjang menuju ruangan Mila tetapi tidak masuk. Bejo sengaja berdiri di dekat pintu bersembunyi di balik pilar sehingga dia bisa melihat pergerakan Caca dari sana. "Mbak, saya kenal dengan mobil yang di depan itu. Itu tadi customer sini juga? Sekarang orangnya mana ya, Mbak?" tunjuk Caca yang kepo akan mobil Mila hingga bertanya pada pelayan yang tengah menatap roti. Bejo diam memperhatikan dan berharap pelayan tersebut tidak memberikan jawaban yang bisa membuat Caca menjadi betah di sini. "Oh itu milik bos saya, Kak
"Memang agak lama, Mas." Kedua alis Saka menukik mendengar jawaban Mila. Pria itu tidak percaya karena setaunya yang terakhir jumpa juga sedang berhalangan dan kalau dihitung seharusnya sudah sembuh. Namun mengapa malah masih ada. "Kamu nggak percaya sama aku, Mas?" "Cepat bersihkan!" perintah Saka yang kemudian beranjak dari atas tubuh Mila. Laki-laki itu melangkah menuju balkon kamar sedangkan Mila segera masuk ke dalam kamar mandi setelah mengotori ranjangnya juga. "Duh jadi ganti sprei dan selimut deh," gumamnya dan kasihan Bibi kalau harus membersihkan bekasnya begini. Memang pagi ini agak repot. Itu semua karena masalah yang sama dan rasanya sulit bagi Mila untuk bisa keluar dari masalah itu. Apalagi Saka yang semakin menggila dengan pemikiran dan keinginan-keinginan pria itu yang tidak bisa diterima oleh banyak orang. "Mas kamu mau mandi?" tanya Mila dengan keraguan kala Saka melangkah ke arahnya. Mila diam dengan handuk yang masih dia pegang dan Saka t
"Malam Tuan. Tuan dimana? Kenapa tidak pulang?" "Kenapa kamu yang bawel? Istriku saja tidak sebawel kamu! Bagaimana selama aku tidak pulang? Ada perkembangan dengan istriku? Katanya dia sangat menikmati sekali bercumbu denganmu.""Betul, Tuan." Bejo menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jawabannya demikian tetapi dia masih harus memikirkan efek dari setiap apa yang ia sampaikan. "Nyonya mengatakan begitu, Tuan?""Ya.""Ya memang Nyonya sudah sangat menikmati sekarang, Tuan. Hanya saja memang saya tidak bisa menjamin saat Nyonya menerima saya mau juga menerima Tuan atau tidak. Mungkin beda responnya, saya juga kurang paham Tuan."Bejo menjawab dengan sangat berhati-hati sekali. Padahal dia sendiri selesai dimanjakan oleh istri majikannya tersebut. "Baguslah! Setidaknya dia merasakan kenikmatan itu."Kedua alis Bejo menukik mendengar tanggapan dari Saka dan kembali bertanya. "Maaf Tuan, apa Tuan tidak ingin pulang dan melihat atau merasakan sendiri bagaimana has
Tangan Mila sengaja membantu Bejo membuka pengait yang ada di depan tepat bawah bagian yang merekah, bukan punggung bagian belakang yang mungkin sulit dijangkau oleh wanita itu. Lepas! Kedua buah yang indah, penuh, mulus, sangat berkilau di mata Bejo dan itu jelas sangat menggiurkan sekali. Jangan salahkan dia yang memakannya dengan lahap karena hal ini bukan untuk diabaikan. Remasan di sebelah sisi mengiringi hisapan yang kuat hingga membuat Mila semakin membusungkan dada. Sementara dia semakin gemas karena sudah lama tak berjumpa."Eugh... apa ini salah? Dia yang menyajikan dan dia yang mengijinkan, dia juga yang sudah membuatku hampir gila. Ah, Bejo! Gigit sedikit biar sakit di hatiku kalah dengan rasa ini."Bejo pun patuh. Sebenarnya tidak mau tetapi dia malah semakin gemas saja dengan Mila yang sangat agresif dan mulai ingin main-main lebih nakal lagi. Gigitan kecil pun dia berikan bahkan saat wanita itu mendesis merasakan sakit, Bejo hanya melepasnya sedikit dan semakin genc
"Nanti aku kasih Bu, biarkan aku mengobrol dengan ayah dulu. Kenapa bisa sampai ayah sakit begini? Setauku Ayah itu sangat menjaga kesehatan. Makan juga dijaga sekali sampai diet gula dan minum air putih banyak. Ayah juga orang yang rajin olahraga. Kenapa tiba-tiba sekali sakit ginjal dan harus cuci darah terus?" "Jadi kamu mau memutar balikkan fakta dan menyalahkan Ibu yang nggak becus setelah Ibu singgung kamu dengan Saka? Iya? Kamu mau menuduh Ibu yang tidak bisa melayani ayan? Mau kamu tuh apa sih, Mila? Nggak paham Ibu sama kamu. Harusnya tuh bersyukur Ibu sehat bisa jaga ayah. Bukan malah curiga." "Bukan begitu, Bu. Semua pasti ada penyebabnya dan jangan sampai hal itu berlanjut hingga terus menyakiti tubuh Ayah. Aku nggak menyalahkan Ibu. Aku nggak menyalahkan siapa-siapa. Aku hanya ingin kita sama-sama memikirkan hal ini dulu. Jangan juga Ibu singgung aku dengan Mas Saka! Fokusnya pada ayah saja!" "Kenapa memangnya? Kenapa tidak boleh menyinggung Saka? Kamu pikir deng
"Ayo turun, Nyonya! Kenapa diam saja? Masih kepikiran sama tai kotok?" tanya Bejo seraya membuka pintu mobil untuk Mila. Bejo menahan tawa saat Mila menatapnya dengan tatapan yang penuh tanya sampai-sampai wanita itu masih terlihat bingung. Namun dia sama sekali tidak mau menjelaskan. Kalau sudah tidak paham ya sudah. Bejo hanya geli sendiri melihat ekspresi dari Mila. Mungkin memang karena mereka hidup di tempat berbeda. Bisa jadi Mila dulu hidupnya tidak seperti dia yang suka mbolang. Mila pun berpindah mobil sedangkan Bejo lebih dulu menghubungi Caca yang sudah pasti menunggu kabarnya. Bejo juga tidak boleh sembarangan sama orang mengenai barang mahal. "Sorry mobil lo kebawa. Gue buru-buru banget tadi. Mobil lo ada di kampus. Nanti bakal ada yang mulangin ke sana tapi bukan gue. Thanks udah dipinjemin. Tenang aja! Mobil lo aman. Gue harus kerja. soalnya." Bejo melirik pada Mila yang diam tetapi mendengarkan apa yang dia sampaikan saat menghubungi Caca. Wanita itu
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







