LOGINCup Bejo menyeringai mendapatkan kecupan dari Mila. Tiba-tiba sekali tetapi di saat ingin membalas, wanita itu malah sudah keburu beranjak dari duduknya. Bejo pun ikutan berdiri dan mengikuti langkah Mila yang sudah keluar dari ruangan. Mila melangkah panjang menuju mobil. Mereka segera meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, Mila hanya diam tak mengeluarkan suara. Bejo pun beberapa kali melirik Mila yang kedapatan sedang melamun. Tangannya menyentuh tangan Mila menarik perhatian wanita itu. "Kenapa, Jo?" "Kenapa melamun aja? Nggak boleh, Nyonya!" larang Bejo penuh peringatan dan Mila hanya tersenyum menanggapi. Mila sempat menoleh kepadanya dan Bejo membalas memperhatikan tetapi setelah itu kembali fokus pada jalan. "Aku lagi banyak banget yang dipikirin, Jo. Aku diam ya mikirin semua masalah aku, bukan hanya sekedar melamun. Jo kalau misal aku bawa Ayah ke luar negeri gimana ya? Mungkin di sana beliau bisa cepat sembuh." Bejo diam tak berkomentar
"Bukankah kalau membongkarnya tidak hanya saya saja yang kena tetapi kamu juga pastinya akan sangat dibenci oleh Mila?" "Tentu saja, maka dari itu Ibu jangan memaksa saya untuk menikahi Mala. Cukup Mila saja yang menjadi istri saya!" "Tapi Saka, Mila itu sudah tidak lagi bisa diharapkan." Ibu malah membujuk menantu di jalan yang buruk. Tentu saja karena apa yang beliau inginkan sudah tak lagi mudah dan tak lagi sejalan dengan niat juga rencana di awal. "Mungkin itu menurut Ibu, tapi menurut saya Mila masih menjadi wanita manis yang penurut." Saka menyunggingkan senyum dengan tangan yang membuka kancing jasnya. Saka memandang Ibu tanpa menggoyahkan prinsipnya hingga membuat kedua tangan ibu terkepal kuat melihat itu. "Sial! Pakai apa Mila hingga Saka tidak sama sekali mau melirik Mala? Padahal Mala masih muda dan lebih fresh tentunya. Seharusnya Mala lebih menggoda dari pada Mila. Ladang uangku bisa habis kalau sudah seperti ini," gumam Ibu seraya menundukkan kepala.
" Tidak usah terlalu dipikirkan, Nyonya! Dia datang hanya ingin tau dimana Ayah Nyonya berada dan itu juga karena sudah tak ada lagi uang yang Nyonya kirim ke beliau maka dari itu Ibu anda benar-benar mengusik. Coba saja kalau masih ada dana yang masuk! Beliau tidak akan perduli pada Ayah. Nyonya hanya boleh fokus pada kesembuhan Ayah saja, dari situ kita bisa tau apa yang terjadi selama ini." "Benar apa katamu, Jo. Banyak hal yang ingin aku tau tentang Ibu dan Ayah." Bejo mengangukkan kepala dan mengusap kepala Mila. Dia menatap gemas Mila dan beranjak memberikan minum pada Mila. "Apa yang Nyonya lakukan sudah tepat. Memang seharusnya usir saja! Bukan bermaksud kurang ajar tetapi agar menjadi pembelajaran juga untuk beliau. Toh selama ini Nyonya juga tidak menutup mata. Nyonya sangat amat bertanggung jawab dan baik pada beliau. Tidak ada surga darinya bukan berarti hidup Nyonya berasa di neraka." "Jo hari ini kamu sangat bijak. Bantu aku untuk merawat Ayah!" pinta Mila sete
[Saya OTW, Nyonya.] Bejo mengirimkan pesan sebelum menyalakan mesin mobil. Sejenak diam menunggu balasan tetapi beberapa saat ditunggu, tidak kunjung ada balasan dari Mila. Bejo tidak tau kalau Mila sedang mendapatkan tamu tak diundang sehingga harus mengeluarkan semua tenaga yang dimiliki untuk menghadapi orang tersebut. "Kalau Ibu datang hanya ingin menanyakan tentang Ayah. Baik, Mila akan jawab kalau Ayah baik-baik saja. Jadi Ibu tidak perlu khawatirkan pada Ayah. Sekarang Ibu bisa bebas bekerja atau pergi kemana pun tanpa ada yang harus dipikirkan lagi." "Kamu itu pandai bicara Mila! Saya tanya dimana ayahmu dirawat? Kamu bawa kemana ayah kamu? Jangan kurang ajar, Mila! Ayahmu itu suamiku. Apa-apaan kamu tuh jadi melarang-larang orang untuk bertemu." "Dari dulu juga Mila tau. Ada Ayah pasti ada Ibu. Tidak mungkin Mila keluar dari dalam rahim buaya. Mila tau Ibu siapa. Hanya saja untuk sekarang, jangan ganggu Ayah, Bu! Mila sedang berjuang untuk menyembuhkan beliau jad
[Jo nanti pulang kampus, antar ke rumah sakit ya! Saya ingin membawakan makanan kesukaan Ayah.] Bejo baru saja keluar dari ruangan Keysa. Dia mengusap kasar wajahnya dan menggelengkan kepala setelah melirik pintu ruangan itu. Bejo melangkah menuju kantin sesuai instruksi tadi. Bejo mengambil salah satu tempat. Dia masih sendiri. Mungkin Didi belum selesai atau masih banyak revisian. Edo pun entah kemana. Sudah di kampus atau masih tidur di rumah. Ditemani dengan es kopi dia mengaduk minuman itu dengan sedotan yang diberikan. Otak masih banyak sekali pikiran. Tentu saja, apalagi mengingat permintaan Keysa tadi dan juga apa yang Keysa sampaikan. Satu sesapan dia ambil untuk melegakan kerongkongan dan pikiran. Bejo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana untuk melihat pesan masuk dari Mila tadi. [Oke, Nyonya.] Bejo menghela nafas panjang kemudian memandang ke arah sekitar. Tentu saja banyak yang memperhatikan. Apalagi dia sendirian. Banyak pasang mata wanita yang in
"Maaf, Bu. Ibu mau ngajar atau ke pesta? Mau kondangan ya pulang dari sini?" tanya Bejo sukses membuat Bu Keysa tercengang dan menatap gemas padanya. Bahkan tangan beliau memukul lengannya. "Apa sih kamu, Jo? Kok tanyanya begitu? Nggaklah! Aku mau bimbingan dan ngajar. Masuk!" sahut Bu Keysa dan Bejo menggaruk kepalanya melihat ekspresi beliau yang kesal. "Ya lagian pakaiannya begini. Menarik sih! Menarik buat saya kritik." Keysa melirik sengit kemudian menggelengkan kepala. Mereka pun duduk berhadapan lanjut membahas tentang skripsi yang sedang dikerjakan. Namun dipertengahan, Keysa tertangkap begitu sangat memperhatikan Bejo yang tengah merevisi makalahnya. "Jo." "Iya, Bu." Jawaban Bejo berikan tanpa menoleh pada Bu Keysa. Bejo masih sibuk dan tidak begitu memperhatikan wanita itu. "Kamu masih marah sama saya? Masih anggap saya bodoh?" tanya Bu Keysa dengan kedua mata begitu lekat pada Bejo. "Pertanyaan yang sepertinya nggak perlu saya jawab, Bu." "Sebenern
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







