LOGIN"Jadi begini Bu. Untuk penyakit di badan Ibu tidak kami temukan hanya memang pikiran yang berat mempengaruhi tekanan darah. Agak tinggi ya Bu. Selebihnya baik. Lalu untuk...." Mila dan Bejo semakin menatap intens dokter tersebut. Tangan Mila meraih tangannya dan menggenggam dengan erat. Bejo pun sampai menarik nafas dalam karena ikut tegang menunggu hasilnya. "Jadi yang kami temukan itu ada suntikan hormon seperti penunda kehamilan. Kalau dilihat dari obatnya ini termasuk yang jangka lama, tiga bulan masa periodenya. Jadi selama masih obat itu berlaku maka tidak akan mengalami menstruasi dan juga kehamilan. Biasanya seperti itu." Mila melepaskan tangannya dan memandang dengan kedua mata yang langsung memerah. Mila menutup mulut tak menyangka akan hal itu. Bahkan ekor mata Mila basah dan tangan satunya menekan dada. Bejo pun segera merangkul kemudian mengusap lengan Mila. Wanita itu langsung memeluknya. Mila menangis, tangisnya lirih tetapi begitu sangat menyesakkan sekali.
"Ada apa, Mah? Kamu kenapa sampai begini? Ya ampun!" Papah masuk dengan berlari tergopoh-gopoh bahkan saking lamanya durasi yang dibutuhkan akan kedatangan papah dan juga pembantu di sana, Mamah sampai bersembunyi di balik selimut dengan tubuh yang gemetar. "Kamu tuh kenapa sih?" tanya Papah lagi kemudian naik ke atas kasur. Beliau membuka selimut yang mamah gunakan dan melihat bagaimana Mamah sampai ketakutan seperti ini. Mamah pun segera memeluk tubuh beliau dengan sangat erat dan mata yang basah. "Itu Pah! Ada ayam mati itu!" "Mana?" "Itu di pekat itu, Pah! Cari tau siapa yang memberikan aku paket misterius seperti itu. Mamah takut, Pah! Ada darah segarnya di sana," jawab Mamah dengan suara yang gemetar seraya menunjuk ke bawah. Papah yang penasaran pun segera melihat kotak paket tersebut dan membukanya. Kedua alis papah menukik melihat isi dari kotak tersebut dan menunjukkan pada Mamah yang membuang muka dan kembali menjauh. "Apa sih, Mah? Nggak ada loh. Ini
Mila pun akhirnya berhasil Bejo bawa ke restoran tak jauh dari rumah sakit Bejo juga memesan privat room untuk mereka singgah. Kini Mila merebahkan tubuhnya di atas sofa tak berkaki yang terbuat dari bahan empuk dengan kedua kaki Mila yang mudah diluruskan. Tangan Bejo kemudian mengusap kepala Mila. Bejo tau Mila saat ini sedang sangat pusing sekali memikirkan semua yang terjadi. Apalagi kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa wanita itu. "Bobo dulu! Lumayan satu atau dua jam. Katanya kalau sudah ada hasilnya nanti bakal dihubungin sama dokter atau mau makan dulu?" "Nggak mau!" Mila menggelengkan kepala dan memilih memejamkan kedua mata. Air mata wanita itu pun menetes dan Bejo segera mengusapnya dengan ujung jemari. Bejo pun mengecup kedua mata Mila hingga wanita itu kembali membukanya. "Jo... Hiks... Hiks..." Mila bergerak memeluk tubuhnya. Sesuai kodratnya, Mila lemah, ada kekuatan yang kadang muncul tetapi kembali lagi Mila adalah wanita biasa yang memiliki hati
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Mila dengan sangat penasaran sekali begitu pun dengan Bejo yang sampai memajukan tubuhnya menatap wajah dokter yang kini akan menjelaskan hasilnya. "Yang seperti kita tahu, tidak ada tanda-tanda kehamilan itu terjadi. Rahim masih kosong dan memang hasilnya negatif. Tidak ada kantung yang menandakan pertumbuhan di sana." "Tapi saya sudah telat beberapa Minggu ini, Dok." Mila masih ngotot, semua yang dirasakan disampaikan dan dikonsultasikan. Hanya saja memang sedikit emosi karena mungkin Mila takut terjadi sesuatu pada dirinya. Bejo pun kembali menenangkan. Tangannya mengusap lengan Mila dengan lembut. Bejo tidak menyampaikan apapun hanya memberikan kekuatan lewat sentuhan tangannya. Kedua mata Bejo pun menatap teduh menenangkan, mengisyaratkan kalau tidak akan terjadi apa-apa pada Mila. "Apa Ibu melakukan suntik hormon? KB atau sejenisnya yang bisa menunda kehamilan?" tanya Dokter dan Bejo kembali menoleh ke arah Mila. Mila menggelengk
"Nggak gitu konsepnya, Jo! Aku naik ke kamar dulu ya. Kamu kalau mau main nggak apa-apa kok. Tenang saja! Aku baik-baik di rumah. Urusan Mas Saka, kamu nggak perlu kepikiran gimana-gimana!" "Oke, Nyonya. Nanti kalau mood ya saya main. Kalau nggak ya mending semedi di kamar nyari wangsit." Mila terkekeh mendengar itu dan memberikan ibu jarinya. Bejo pun masuk kamar, setidaknya untuk permintaan Mila sudah dia penuhi, tinggal menunggu hasilnya besok pagi. Malam ini Bejo tidak pergi kemana-mana. Waktu digunakan untuk mengerjakan tugas dan juga mengawasi majikan. Tidak ada masalah malam ini. Hanya saja memang dia diteror oleh kedua sahabatnya. Bejo mencari aman dengan mematikan ponselnya. Bejo juga bisa tidur lebih cepat dan lebih tenang malam ini. Begitu pun dengan Mila yang tidak mendapatkan gangguan dari Saka. Semua terlihat damai. Fajar baru menyingsing tatapi tidur lebih awal tak membuat mata Bejo langsung terbuka lebar. Hanya saja sebuah ketukan membuatnya mau tak mau
"Aku hanya ingin membicarakan agenda besok, Mas. Lagian Bejo kerja sama aku. Wajar kalau ada yang ingin aku sampaikan padanya. Mas kalau mau mendengarkan kami bicara silahkan!" "Betul, Tuan! Kemungkinan besok Nyonya minta di antar ke tempat lain." "Jadi tidak ada agenda malam ini? Padahal selagi aku di rumah, Sayang. Siapa tau bisa menjadi hiburan," kata Saka menanggapi. "Aku lagi nggak mood, Mas. Aku lagi nggak kepengen main. Aku capek. Pokoknya Jo, besok kamu harus antar aku ke rumah sakit ya! Kayaknya aku butuh di cek darah. Emosi banget dari tadi." "Baik, Nyonya. Mau nyari sate kambing sekalian nggak? Biasanya kalau rendah minta dikasih makan kambing, Nya. Nanti saya ajak ke tempat yang bagus. Tempat recommended yang enak. Dagingnya empuk, legit, yahut, endul, beeehhh... Kalau dimakan Mak klenyut-klenyut." Bejo mengangkat kedua alisnya. Dengan satu gerakan yang membuat Mila menarik nafas dalam dan mengulum senyum padanya. Apalagi setelah melihat gaya bicaranya yang
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







