ログイン"Ya ampun, Jo! Jangan ngebut! Rambut aku berantakan, Jo! Bibir aku..... Aaaaa eeeee mmmmm..." Bejo benar-benar tidak memikirkan siapa yang dia bawa. Bahkan Bejo tidak perduli bibir Caca sampai komat kamit karena angin yang terlalu kencang. Di panas matahari yang terik begini pun, Bejo sama sekali tidak memberikan helm untuk Caca. Padahal ada helm yang dia beli untuk Mila waktu itu tetapi tidak dia pinjamkan pada Caca. Bejo iseng mengarahkan kaca spionnya pada Caca. Dia penasaran juga bagaimana kondisi Caca saat ini sampai dimana Bejo menahan tawa melihat Caca yang sudah sangat berantakan. Tak lama lampu rambu kalau lintas berubah menjadi merah dan dia segera menghentikan motornya. "Muka loe Caca udah kayak boneka Chucky," ujar Bejo dalam hati. Rasanya dia ingin melepaskan tawanya tetapi tidak mungkin. Bejo melihat ke sekitar, dia melihat pengendara lain yang tengah memperhatikan Caca dengan ekspresi yang sama, sama-sama menahan tawa. "Jo aku malu. Jangan kenceng-kenc
"Saya nggak berangkat Jo. Kamu kalau mau ke kampus hati-hati ya. Hari ini kamu free. Saya di rumah." Suara Mila terdengar pelan sekali di telinganya. Ada rasa penasaran yang semakin kuat setelah mendengar suara itu. Rasanya Bejo sangat ingin ke atas tetapi terhalang oleh Bibi. "Ya sudah kalau begitu. Nyonya sudah minum obat? Katanya meriang? Apa karena main basah-basahannya nggak tuntas, Nyonya?" "Bisa jadi." Kedua alisnya terangkat mendengar jawaban itu dari Mila. "Jadi beneran gara-gara nggak sampai tuntas jadinya kependem terus bikin meriang, Nyonya?" tanyanya lagi dan Mila hanya menjawab singkat saja. "Mungkin." Tut "Eh kok dimatiin? Beneran nggak sih? Ah taulah! Nanti biar gue cek sendiri aja." Bejo menghabiskan makanannya dan bergegas pergi, karena tidak membawa Mila maka dari itu dia tidak menggunakan mobil. Motor kesayangannya akan kembali dikeluarkan untuk berangkat ke kampus. "Jo! Jo! Jo!" Panggilan dari belakang sana membuatnya menoleh penuh
"Jangan di sini, Jo!" "Terus mau dimana, Nyonya?" "Jangan juga sekarang!" jawab Mila dengan tegas kemudian beranjak dari sana dan pergi meninggalkannya yang masih ada di dalam air. Bejo menghela nafas berat melihat itu kemudian melirik ke atas. Di sana sudah tak ada lagi Saka tetapi sepertinya dia tidak akan aman kalau hanya diam. Bejo pun memutuskan untuk berenang demi menidurkan Juki. Suara air yang bergerak begitu kencang menggambarkan bagaimana gerakannya saat ini. Semua dia lakukan demi untuk bisa kembali menenangkan diri. Tidak lama, tapi menghasilkan, gerakannya membuat Juki lebih tenang. Nafasnya ngos-ngosan dan dia segera keluar dari kolam. Bejo merebahkan diri di pinggir kolam, meringis saat badannya terasa lelah. "Juk-Juk, lo kalau udah berdiri begini amat dah. Kudu capek dulu baru mau pingsan lagi," kata Bejo kemudian memejamkan kedua mata. Sejenak dia menenangkan diri sebelum kembali ke kamar. Tanpa dia tau, di atas ternyata Mila sedang berdebat kemb
Mila tersenyum memandangnya dan itu menjadi pemandangan yang mungkin kelak akan dia rindukan. Bejo sendiri tidak yakin akan tetap ada terus di samping wanita itu. Tidak ada yang tau bagaimana kedepannya nanti. Untuk saat ini mereka hanya bisa menjalani tanpa rencana apapun. Senyum Mila pun merupakan jawaban dari hati wanita itu. Hanya saja Bejo tidak ingin membahasnya lagi demi kenyamanan wanita itu. Yang terpenting dia sudah tau kalau hadirnya diterima baik oleh Mila. "Yang tadi, di sana itu, orang yang berarti bagi Nyonya?" tanya Bejo dengan suara lirih dan agak ragu untuk menanyakan itu. "Ya, dia orang baik tapi nasibnya tidak baik." Mila kemudian melihat jauh ke depan. Wanita itu kembali tersenyum tetapi kali ini bukan senyum yang membahagiakan tetapi senyuman yang menyimpan banyak luka. "Jangan diteruskan kalau itu bisa melukai Nyonya kembali!" "Aku selalu mendoakannya, Jo. Dia hadir sebelum aku bersama Mas Saka. Dia orang yang pernah sangat aku sayang dan sampa
Bejo tidak mengatakan apa-apa. Dia diam memeluk Mila dan tidak juga menghiraukan Bibi yang sejak tadi mencolek, mencubit, sampai menarik pakaiannya. Bejo kali ini tidak perduli apapun karena yang dia tau, Mila saat ini sedang sangat membutuhkan tempat ternyaman untuk melepaskan beban yang datang dari orang yang seharusnya paling menyayangi wanita itu. "Maaf kalau kamu juga harus kena amukan Ibu tadi. Maaf ya, Jo. Ibu memang seperti itu." Mila mendongak menatap wajahnya yang kini tersenyum dengan mengukir senyum. Kedua tangannya pun masih memegang kedua lengan Mila dan memperhatikan air mata yang kembali terjatuh. "Jangan dipikirkan, Nyonya! Saya mah udah biasa kalau hanya dihina seperti itu. Lagian nggak ada yang salah karena memang saya hanya sopir." "Tapi Ibu sangat meremehkan kamu, Jo. Aku juga malu karena sikap Ibuku sangat buruk." Mila menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengusap air mata. Bibi yang tadi sibuk menariknya dan menyadarkannya pun ikut iba melihat
"Bu ini sopir aku. Dia itu tinggal di sini. Jangan seperti ini, Bu! Lepas!" Mila meraih tangan Ibu dan menariknya agar melepas tubuh Bejo. Ibu benar-benar tidak terkendali sampai seperti ini. Mila sangat terlihat tidak suka dengan sikap Ibu yang demikian. Bejo sendiri sampai tidak percaya kalau beliau itu adalah orang tua dari Mila. Apa lagi sangat jauh sekali dari Mila yang kalem ini. Kalau ada buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Mila itu buah yang belum sampai jatuh sudah dipetik sama orang. "Apa? Jadi ini sopir kamu? Kenapa kalian terlihat sangat dekat? Kamu jangan kurang ajar sama Saka ya, Mila! Jangan sampai karena Saka sibuk terus kamu ada main sama orang ini! Ingat! Dia itu hanya sopir! Babu! Bawahan kamu! Bukan orang yang penting! Nggak ada uangnya! Maka dari itu jangan kamu gelap mata hanya karena melihat ketampanannya saja! Ngerti kamu!" "Bu!" sentak Mila tak terima. Sementara Bejo hanya menyeringai mendengar semua yang keluar dari mulut beliau. Bejo pun sama se
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







