Dalam catatan kuno yang disegel di Paviliun Langit Timur, tertulis bahwa dunia ini ditopang oleh 25 api primordial yang berasal dari kejadian kosmik, pertumpahan darah, atau kehendak dewa dan makhluk purba. Api-api ini bukan sekadar nyala biasa, melainkan kekuatan yang bisa membentuk atau menghancurkan jalan Dao. Sepuluh peringkat teratas dari api primordial ini bahkan memiliki roh api masing-masing — entitas kuno yang hidup dan memiliki kesadaran, hanya tunduk pada pemilik yang layak. Para penyuling pil tingkat tinggi dan pendekar besar berebut untuk memilikinya, karena satu api saja bisa mengubah nasib sekte, kerajaan, bahkan benua.
Di dunia kultivasi, jarak antar tingkat bukan sekadar angka ia adalah jurang. Satu langkah kecil bisa memisahkan nasib manusia dan dewa. Seorang kultivator Taraf Empat puncak bisa memimpin sekte, menggetarkan sebuah negara. Namun begitu menembus Taraf Lima, dunia yang mereka pijak seolah berubah. Langit dan bumi merespons, Dao di sekitarnya menjadi tunduk. Apalagi Taraf Enam itu sudah merupakan makhluk langka di negeri tingkat rendah.Biasanya, seorang pendekar Taraf Enam tidak akan lagi membuang waktu di negeri kultivasi rendah. Mereka memilih pergi ke negara yang lebih tinggi, di mana energi Dao lebih padat, sumber daya lebih kaya, dan lawan lebih layak untuk mengasah diri. Maka dari itu, mendengar nama “Taraf Enam” di negeri seperti Kota Pembantaian adalah hal yang nyaris mustahil.Namun malam itu, di dalam tenda besar Camp Bayangan, sebuah rahasia yang tak seorang pun duga akhirnya terbongkar.Suasana menegang sejak Xu Ming mengucapkan kalimat itu.“Dia sebenarnya adalah seorang p
“Pendekar taraf lima lainnya?!” Suara berat Bai Simi pecah di dalam aula, matanya melebar, cambuk di tangannya bergetar tak terkendali.Kata-kata Xu Ming barusan bergema dalam pikiran semua orang yang hadir. Sesaat, udara di dalam ruangan seakan membeku. Bahkan napas berat prajurit pengawal di tepi aula terdengar jelas.Zhuge Liang menghentikan langkah mondar-mandirnya. Tubuhnya menegang, pupilnya menyempit. “Jadi bukan hanya Shi Tian, Lembah Moyan ternyata menyembunyikan satu lagi pendekar taraf lima?” gumamnya, suara rendahnya penuh ketegangan.Mo Lauzu menggeram, wajah tuanya berkerut semakin dalam. “Gila! Jika benar begitu, maka kekuatan kita selama ini sudah terlalu diremehkan. Kita semua tahu perbedaan puncak taraf empat dan taraf lima bukan sekadar satu tingkat.”Ketua Sekte Pengemis menambahkan dengan suara berat, tongkat bambu di tangannya menekan lantai. “melainkan jurang hidup dan mati. Bahkan mereka yang sudah bertahun-tahun di puncak taraf empat masih terjebak tanpa harap
Di atas langit, dua sosok masih bertarung sengit. Zhuge Liang, penguasa Kota Pembantaian, melayang dengan jubah berkibar, tombak peraknya menahan gempuran pedang hitam Shi Tian yang berlumuran aura iblis. Kedua pendekar itu seperti dewa perang yang saling mengiris langit. Xu Ming mendongak, pupilnya berkilat. Suara transmisinya menembus medan, langsung ke telinga Zhuge Liang.“Tuan Kota, kita sebaiknya mundur terlebih dahulu.”Zhuge Liang terperanjat, hampir kehilangan ritme serangannya. “Mund-mundur?!” serunya melalui transmisi. “Kenapa?! Kita belum kalah!”Xu Ming mengatupkan giginya, suaranya dalam dan penuh keyakinan. “Percayalah kepadaku, Tuan Kota! Saat ini, bertahan lebih lama hanya akan mengundang kehancuran. Aku punya cara untuk membalikkan keadaan, tapi kita harus mundur terlebih dahulu!”WHUUUMMMM!!! Langit berguncang saat Shi Tian menghantam dengan pedang hitamnya. Aura iblis meluap liar, melilit tubuhnya seperti kabut neraka. Tatapan matanya menyala buas, penuh amarah.“B
Whuushhh!!! Xu Ming menebarkan sayap naga es dan api dari manifestasi Dao-nya, tubuhnya melesat seperti anak panah. Lelaki tua itu menyilangkan tangan, melepaskan racun kental seperti kabut rawa, lalu menghantamkannya lurus ke dada Xu Ming. Duaarrr!!! Tubuh mereka berdua terpental bersamaan! Xu Ming menghantam pilar batu hingga retak, sementara lelaki tua itu menjejak lantai keras, meninggalkan bekas telapak kaki yang berasap korosif.Napas Xu Ming terengah, namun matanya masih bersinar tajam. Wajah lelaki tua itu pucat, keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Ia mendengus keras, dada naik-turun seperti tempa besi yang kehabisan arang.“Kau bajingan kecil!” lelaki tua itu meraung. “Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa mengimbangi Dao-ku?!”Xu Ming menyeringai bengis, meski darah menetes di sudut bibirnya. “Mungkin kau terlalu lama duduk menjaga reruntuhan ini, tua bangka. Sementara aku terus melangkah maju.”BOOMM!!! Aura keduanya meledak kembali, tapi kali ini lebi
Sha Bhu menggenggam pedang tembaganya dengan sisa tenaga. Lututnya bergetar, darah segar terus menetes dari mulutnya, matanya yang buram menatap kehancuran yang sebentar lagi menimpanya.“Sepertinya, sampai di sini aku…” gumamnya lirih.Namun, tepat saat pusaran racun itu hendak menghantam, udara berubah. SSHHHHHHH! Suhu mendadak anjlok. Bersamaan dengan itu, kabut racun yang mengamuk tiba-tiba melambat, lalu membeku. Kristal es putih kebiruan merebut setiap tetes racun dari udara, membalutnya dengan lapisan beku yang berkilau dingin. Desis korosif lenyap, diganti dengan suara retakan es yang merambat cepat di sepanjang pusaran racun.“Teknik Dao Taraf Pertama : Medan Pembekuan Ekstrem!” Suara muda itu bergema lantang, menyapu seluruh lorong reruntuhan.Salju turun perlahan, butir-butir putih melayang lembut, namun membawa tekanan Dao yang menusuk tulang. Seolah musim dingin pertama baru saja turun ke dalam gua magma yang penuh racun.Kabut hijau pekat itu, yang seharusnya menelan Sha
Cahaya merah muda bercampur hitam yang menyelimuti tubuh Xu Ming perlahan meredup, menyusut masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Nafasnya stabil, meridian di dalam tubuhnya berdenyut dengan kekuatan baru. Kesadarannya kembali penuh. Ia membuka mata. Pupil hitamnya kembali jernih, namun wajahnya masih menyimpan kebingungan setelah pengalaman terobosan barusan.Yang pertama ia lihat bukanlah naga purba, bukan pula ruang spiritual, melainkan sosok mungil yang berdiri di udara dengan kedua tangan bertolak pinggang—Bing-Bing. Rambut peraknya melayang indah, tapi tatapan matanya… seperti hendak memakan Xu Ming hidup-hidup.BRAK! Tinju mungil Bing-Bing menghantam kepala Xu Ming.“Kau selalu saja membuatku hampir mati ketakutan tiap kali kau mendapat ‘keajaiban’!” teriaknya dengan wajah merah padam. “Apa kau tahu betapa paniknya diriku saat melihatmu mendadak hilang kesadaran, pupilmu putih seperti boneka mayat, sementara tubuhmu hampir meledak karena lahar panas?!”Xu Ming meringis sambil meng