เข้าสู่ระบบRestoran di dekat kantor siang itu terasa gerah bagi Malikha, bukan karena udara, melainkan karena atmosfer yang dibawa oleh Laras. Setelah kemenangan kecil bersama Doni kemarin, Laras justru datang menghampiri meja makan Malikha dengan senyuman manis yang tampak tanpa beban. Langkah ini adalah bagian dari strategi baru yang lebih rapi untuk memutarbalikkan fakta di hadapan karyawan lain yang sedang mengamati mereka dari kejauhan.
"Hebat sekali ya, Malikha, bisa l
Malam sebelum sidang klarifikasi, ruang tengah apartemen terasa jauh lebih tenang. Di atas meja kerja lipat, Malikha menunjukkan sebuah map dokumen logistik kepada Reyhan. Angin segar seolah baru saja berembus ke dalam rumah tangga mereka setelah Hendra diam-diam mengirimkan sebuah fail audit manual pembanding sebelum jam pulang kantor berakhir."Mas Reyhan, lihat ini," ucap Malikha, menunjuk deretan tabel angka dengan ujung penanya. "Hendra berhasil memverifikasi bahwa stempel digital pada memo rahasia yang dituduhkan Laras memiliki perbedaan kode enkripsi. Memo yang ada di komite disiplin menggunakan format tahun lalu, sementara memo resmi dari ruangan Mas selalu diperbarui setiap tiga bulan."Reyhan memeriksa dokumen tersebut, lalu mengembuskan napas panjang dengan kelegaan yang membuncah di dada. Ketegangan yang mengunci sarafnya sejak siang tadi seketika mencair. "Alhamdulillah. Ini bukti telak, Malikha. Dengan perbedaan
Suasana kantin lantai dasar pada jam istirahat siang itu terasa begitu menghimpit. Malikha duduk sendirian di meja sudut, menatap mangkuk supnya yang mulai mendingin. Setelah pencopotan dirinya dari kepemimpinan tugas kemarin, tekanan sosial di kantor menjelma menjadi tembok pemisah yang tebal. Beberapa rekan kerja yang melintas sengaja mengambil jarak, memandang Malikha dengan sorot mata penuh prasangka, lalu berbisik di balik punggungnya.Dari arah pintu masuk, Reyhan berjalan bersama beberapa manajer divisi logistik setelah meninjau kesiapan berkas rapat pleno. Langkah Reyhan melambat saat matanya menangkap sosok Malikha yang terasing di sudut ruangan. Konflik batin yang pekat seketika mencengkeram dada sang CEO. Dia ingin sekali melangkah ke sana, duduk di samping istrinya, dan menegaskan kepada semua orang bahwa Malikha tidak bersalah.Namun, batasan adab di tempat kerja dan janji musyawarah mereka menahannya. Satu gerak
Layar gawai yang menampilkan wajah dingin Ibu Besar baru saja menggelap, namun guncangan dari panggilan video itu masih menyisakan ketegangan pekat di kamar utama. Di bawah temaram lampu, Reyhan mencengkeram ponselnya dengan jemari yang memutih. Tuntutan skorsing baru dari komite disiplin yang dibawa Tante Rania telah merobek sisa kehangatan malam mereka."Aku harus menolak tuntutan ini secara mutlak besok pagi, Malikha," ucap Reyhan, suaranya meninggi, dipenuhi kemarahan yang membakar batin. "Jika aku menandatangani surat skorsing itu, berarti aku membiarkan mereka menginjak harga dirimu untuk kedua kalinya. Masa bodoh dengan mosi tidak percaya itu, aku akan menghadapi rapat pleno dengan caraku sendiri."Malikha yang masih mengenakan mukena putihnya berdiri dengan tenang, menatap Reyhan tanpa riak kepanikan. "Mas Reyhan, kendalikan amarah Mas. Menolak secara agresif tanpa pemeriksaan yang sah justru akan membuat kita terliha
Aroma gurih dari tumis kangkung yang baru matang perlahan memenuhi ruang makan apartemen, sedikit mengikis ketegangan yang dibawa dari kantor. Malikha meletakkan mangkuk terakhir di atas meja, sementara Reyhan baru saja menyelesaikan zikirnya di atas sajadah ruang tengah. Keadaan pasca-sidang etik dan keraguan Hendra siang tadi membuat batin mereka lelah, namun rumah ini selalu menjadi tempat mereka menata kembali niat yang sempat goyah."Mari makan dulu, Mas Reyhan," panggil Malikha lembut, melepas celemeknya dan duduk dengan jarak adab yang biasa mereka jaga.Reyhan melangkah mendekat, melipat sajadahnya, lalu mengambil tempat duduk di hadapan Malikha. Wajahnya masih menyiratkan sisa konflik batin yang pekat. "Hendra meragukan kita hari ini, Malikha. Sikapnya mendingin saat memeriksa berkas pleno sore tadi. Aku merasa gagal mempertahankan kepercayaan orang terdekat kita."Malikha mengambilkan na
Restoran di dekat kantor siang itu terasa gerah bagi Malikha, bukan karena udara, melainkan karena atmosfer yang dibawa oleh Laras. Setelah kemenangan kecil bersama Doni kemarin, Laras justru datang menghampiri meja makan Malikha dengan senyuman manis yang tampak tanpa beban. Langkah ini adalah bagian dari strategi baru yang lebih rapi untuk memutarbalikkan fakta di hadapan karyawan lain yang sedang mengamati mereka dari kejauhan."Hebat sekali ya, Malikha, bisa langsung membuat Mas Doni berpihak kepadamu," ucap Laras, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja dengan gerakan yang sangat luwes. "Tetapi, bukankah aneh kalau seorang staf biasa bisa mendapatkan detail log aktivitas komputer yang begitu rahasia? Orang-orang di lantai lima mulai berpikir masuk akal, dari mana lagi kamu mendapatkan data sedalam itu kalau bukan dari meja atas?"Malikha meletakkan sendoknya, mengatur napas agar konflik batin di dadanya tidak merusak k
Di dalam ruang tengah apartemen yang diselimuti keheningan malam, Malikha duduk menekuri lembaran manifes logistik proyek internal. Reyhan berjalan mendekat, membawa dua cangkir teh kamomil hangat yang aromanya perlahan menenangkan ketegangan sisa jam kantor tadi. Pria itu mengambil tempat di lantai, bersila tepat di samping Malikha dengan jarak adab yang senantiasa mereka pelihara secara terhormat."Aku melihat data dari Hendra mengenai komputer Tante Rania, Malikha," buka Reyhan, suaranya sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Jaringan keluarga sudah menyusup terlalu jauh ke lantai lima menggunakan akun Laras. Besok pagi, aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan mengonfrontasi Tante Rania secara langsung di depan Ibu Besar."Malikha menghentikan jemarinya di atas kertas, lalu menoleh memandang suaminya. Tatapan matanya jernih, memancarkan keteguhan prinsip yang kokoh. "Mas Reyhan, saya menolak rencana itu. Jika Mas mend







