Se connecterSi gondrong segera mendorong tubuh Kakek Sugi ke atas dengan sekuat tenaga. Bimo mengulur tangannya, menyambar pergelangan tangan pria tua itu dan menariknya masuk ke dalam ventilasi “Cupu, cepat!”teriak si gondrong seraya mengangkat pinggul si cupu yang bergetar ketakutan.Si cupu menggapai tepi ventilasi dan berusaha memanjat dengan bantuan tarikan kuat Bimo dan Kakek Sugi. Begitu tubuh si cupu berhasil masuk, si gondrong mendorong beberapa orang temannya yang lain lalu melompat ke atas dengan bantuan pipa besi.Di bawah mereka, sirine berbunyi sangat keras hingga memekakkan telinga. Lampu merah tak berhenti berkedip seiring dengan waktu yang terus berjalan mundur.00:00:0200:00:0100:00:00Tepat saat timer menyentuh angka nol, pintu besi shelter tertutup rapat dan terkunci secara otomatis. Dari celah-celah ventilasi bawah, terdengar bunyi desisan diiringi munculnya asap tebal berwarna hijau memenuhi seluruh ruangan yang baru saja mereka tinggalkan.Pesss…“Tutup penutup ventilas
Bimo menghentakkan pinggulnya sedalam mungkin hingga membuat Susan memekik dengan mata terbelalak.“OH GOD!! G-GEDE SEKALI!!” Semua tahanan terutama si gondrong, si cupu, dan Kakek Sugi tercengang begitu melihat Bimo yang super gede itu menancap ke dalam lembah sempit milik Susan.Bimo tidak ingin berlama-lama dan langsung saja menggerakkan pinggulnya secepat angin topan dan tornado.Plok! Plok! Plok! “AHKKK!! AMPUN! INI SANGAT DALAM! FUCK!!” umpat Susan seraya membenamkan wajahnya di balik karpet.Beberapa kali batang beruratnya itu timbul dan terbenam sangat dalam ke dalam rahim Susan. Dinding kenikmatan wanita itu terus berkedut dan memijat miliknya di dalam sana.“Sssshhh sial!” umpatnya seraya menampar bongkahan pantat Susan yang sintal dan kenyal berkali-kali.Plak! Plak! Plak! “Ouhhh! Sodok terus tahanan 001! Sodok lebih dalam lagi! Ouhh!” pekik Susan seraya ikut menggoyangkan pantatnya seirama dengan hentakan pinggul Bimo yang semakin brutal.Selama satu jam berlalu, akhirn
“Hompimpa alaium gambreng!” seru mereka serentak seraya mengibaskan tangan masing-masing.Hasilnya, Kakek Sugi keluar sebagai pemenang dengan posisi telapak tangan yang berbeda sendiri.“Ahahaha! Rezeki memang tidak pernah tertukar! Kakek duluan ya!” seru Kakek Sugi dengan wajah berseri-seri, melangkah maju menghampiri wanita cantik dan montok tadi, sebut saja namanya Susan. Si gondrong dan si cupu hanya bisa cemberut iri melihat si Kakek yang mendapatkan pelayan plus-plus dari Susan.Yang lainnya terus melakukan hompimpa. Sampai akhirnya Bimo mendapatkan giliran kedua, si gondrong dapat giliran ketiga, dan si cupu malah mendapatkan giliran paling akhir.Si gondrong ketawa cekikikan saat mengetahui si cupu dapat giliran paling apes.”Ahahahaha, biasanya yang paling akhir itu gak enak. Becek ahahahaha!!” Si cupu hanya bisa diam dan tidak menghiraukan perkataan si gondrong.Sementara itu Kakek Sugi buru-buru menurunkan celananya, memperlihatkan senjata kebanggaannya yang cukup besar di
Si cupu membeku di tempatnya. Kedua mata pria itu terbelalak saat merasakan lendir berbau amis jatuh di dahinya. Rahang transparan bayi semut itu bergetar pelan, mengeluarkan suara geraman tepat beberapa sentimeter dari dada si cupu.KRRR….KRRR…KRRR …Bimo langsung berhenti berlari dan perlahan menoleh ke belakang saat mendengar si cupu menginjak cangkang telur semut raksasa itu. Tangannya mengisyaratkan agar si cupu tidak bergerak sama sekali dan menahan nafas sejenak.Gas berwarna hijau mulai turun menyerupai kabut tebal, mengaburkan jarak pandang dan menyengat mata mereka hingga terasa sangat perih. Waktu di layar tablet yang ada genggaman Si Gondrong terus berkedip merah dan menunjukkan waktu tersisa.00:00:42Beberapa bayi semut yang terkena paparan awal gas hijau itu mulai bertingkah aneh. Mereka mengerang dan kejang, lalu mengibaskan sungutnya secara agresif karena racun yang mulai merusak sistem saraf mereka.SREK! Seekor bayi semut yang mengalami kejang mendadak menabrak
Tubuhnya seketika bergidik ngeri saat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Bau cairan ketuban yang amis dan menyengat langsung menyapu indra penciuman mereka. Si cupu nyaris ingin muntah namun pria itu menahannya sekuat mungkin. Terlihat sungut kecil kepala semut yang berlendir dan terus bergerak-gerak dari balik telur yang sudah retak. Meski ukurannya belum sebesar semut dewasa, anak-anak semut yang baru menetas itu masih setinggi dada manusia, dengan rahang capit yang tajam dan tembus pandang. “M-mereka menetas…” ucap si cupu seraya mundur beberapa langkah ke belakang hingga punggungnya menabrak dinding batu. “Jangan bergerak!” peringat Bimo seraya menahan bahu si cupu. “Cairan ketuban mereka masih basah. Pandangan dan pendengaran mereka belum sempurna!” KRAK! KRAK! KRAK! Puluhan telur lain retak secara bersamaan di depan jalan keluar lorong. Lusinan monster kecil yang kelaparan itu mulai merayap melintasi genangan lendir dan bergerak acak tanpa arah. Satu-satuny
“Ayo keluar sekarang!” ajak Bimo setengah berbisik. “T-tapi lewat mana?! Saat ini kita benar-benar terkepung di segala arah!” tanya si cupu mulai terisak, kedua kakinya bergetar dan sampai terkencing-kencing di celana karena ketakutan.“Kita akan melewati lorong sempit di sebelah kanan tebing!” tunjuk Bimo ke arah celah gelap di antara bebatuan, tempat itu tidak masuk di dalam denah tablet.“Semut raksasa itu tidak akan bisa masuk ke sana tanpa menghancurkan dinding batu. Itu satu-satunya akses agar kita dapat mengulur waktu!” tambah Bimo.“Bimo! Senjatanya!” si gondrong mengambil senjata api dari kotak pasokan lalu menyodorkannya ke tangan Bimo.”Apa kamu mengerti cara memakainya?”“Tenang, aku bisa melakukannya,” Bimo menerima senjata itu dan memeriksa dua butir amunisi yang tersisa di dalamnya. BUM! Dinding batu di belakang mereka tiba-tiba bergetar. Debu tanah dan runtuhan kerikil merosot menimpa kepala Kakek Sugi. Di balik lorong belakang yang gelap, samar-samar terlihat mon







