LOGINDi tengah jeritan dan kepanikan para tamu di dalam kegelapan, tiba-tiba saja layar proyektor di belakang Prof. Malik dan Nathan mendadak menyala terang dan berkedip-kedip, memancarkan cahaya yang menerangi seluruh panggung.Musik klasik yang semula mengalun lembut berganti dengan suara dengungan sinyal keras, sebelum akhirnya rekaman video mulai berputar.“GRAHHHH!!!”Suara raungan kesakitan Juno menggema sangat nyaring lewat pengeras suara. Di layar tersebut, terpampang jelas detik-detik saat Juno diikat dengan rantai besi dan disuntik berbagai cairan eksperimen kimia secara paksa oleh Prof. Malik dan Nathan. Kedua binatang itu tertawa terbahak-bahak saat melihat Juno menderita.Tak berhenti di situ, layar mendadak terbagi menjadi dua bagian. Sisi kanan menampilkan tumpukan dokumen rahasia transaksi keuangan haram Cipta Abadi Internasional, sertifikat penjualan organ ilegal, serta data penyedotan ekstrak sumsum tulang belakang Bimo secara paksa untuk dijadikan Serum Vigor-X!“A-apa
Mereka diam-diam mengamankan Juno di rumah pribadi milik salah satu teman Angel yang bermukim di kawasan Jo Chiat. Tempat itu tersembunyi dan minim kamera CCTV.Dengan hati-hati, Bimo, Angel, dan Baskoro memapah tubuh Juno masuk ke dalam ruangan bawah tanah rumah tersebut. Bimo segera membaringkan putranya itu di atas ranjang lalu memborgol kedua tangan dan kakinya agar tidak memberontak.“GRAHH... errgh…” erang Juno pelan, matanya menatap Bimo dengan tatapan sayu karena efek obat bius.“Aku sudah memanggil Dokter yang bisa dipercaya untuk menjaga dan memantau kondisi Juno di sini,” bisik Angel seraya menutup pintu ruangan. “Dia aman, Bim. Tenang saja. Kamu tidak perlu khawatir.”“Berapa banyak waktu yang kita punya sebelum acara launching Serum Vigor-X dimulai, Bas?” tanya Bimo seraya memeriksa amunisi pada senjatanya.Baskoro menatap layar laptopnya yang menampilkan peretasan data internal Cipta Abadi Internasional. “Acara utamanya mulai dalam satu jam lagi di Grand Ballroom The Rit
Bimo tidak dapat menahan air matanya saat melihat keadaan Baby Juno yang terlihat menderita dan kesakitan di atas bangsal dengan tangan dan kaki terikat kuat.“GRAHHH!!” teriak Juno mengerang kesakitan dengan matanya memerah dan nafas tersengal-sengal.“Sabar, Nak... Papa di sini. Papa berjanji akan melepaskan kamu,” ucap Bimo dengan nada bergetar.Dengan cepat Bimo merenggut pengunci rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kaki Juno. Dua ilmuwan yang berada di pojok ruangan hanya bisa bergidik ketakutan sambil mengangkat kedua tangan ke atas, tak berani berkutik di bawah acungan senjata apinya Angel.“Dimana Prof.Malik dan Nathan?!” tanya Angel kepada dua ilmuwan di depannya. Moncong senjatanya sudah berada tepat di salah satu dahi mereka.“H-hari ini mereka sedang melakukan peluncuran Serum Vigor-X di Grand Ballroom Hotel The Ritz-Carlton Millenia!” jawab ilmuwan itu tergagap dengan wajah pucat pasi. “Mereka mau menjualnya ke para investor kaya malam ini juga!”Mendengar h
Malam ini mereka menaiki kapal speedboat menuju pulau Jurong yang berada di tengah lautan Singapore.Angin malam berhembus sangat kencang menerpa wajah Bimo hingga membuat tubuhnya merinding kedinginan. Namun tatapan matanya tetap fokus menatap bayangan pulau buatan itu dari kejauhan.Sementara itu, di sampingnya Angel sedang sibuk memeriksa pistol berperedam dan perlengkapan selam mereka. Di sisi lain, Baskoro duduk memangku laptop yang dilindungi oleh casing tahan air.“Satu menit lagi kita sampai di titik aman,” ucap nakhoda kapal yang disewa Angel.Baskoro membetulkan posisi earpiece di telinganya, lalu melirik Bimo. “Bim, kamera di jalur pipa pembuangan sektor barat daya sudah berhasil kuretas. Videonya juga sudah kuputar berulang. Di layar monitor penjaga, area itu hanya kelihatan seperti ombak biasa selama 15 menit ke depan.”“Bagus,” balas Bimo singkat. “Bas, kamu tetap di kapal ini. Pantau jalur komunikasi dan siap-siap retas pintu akses laboratorium begitu kami sampai di p
Pesawat yang dinaiki oleh Bimo baru saja mendarat di Bandara Changi, Singapore. Suara merdu pramugari terdengar dari pengeras suara hingga membuat Bimo tersadar dari lamunannya.“Akhirnya kita sampai juga,” gumam Baskoro seraya membuka kacamata hitamnya. Pria itu bangkit dari duduknya lalu mengambil tas dari atas kabinnya. Begitu juga dengan Angel.Bimo merenggangkan otot-ototnya sejenak, melepas rasa pegal yang dirasakannya dari kemarin karena kurang tidur dan salah bantal sebelum akhirnya ikut berdiri dan berbaris saat akan keluar dari pesawat. Mereka melangkah keluar dari garbarata menuju ke area terminal kedatangan.Drrrtt…drrrt…drrrttt…Tiba-tiba ponselnya bergetar hingga membuat langkahnya terhenti sejenak. Dia mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat pesan dari Mayang.“Bimo, sudah sampai mana? Jangan lupa kabari Mama kalau sudah sampai di kampung ya. Mama khawatir.”Bimo tanpa sadar tersenyum saat membaca pesan penuh perhatian itu. Tangannya dengan cepat mengetik balasa
“Ma, boleh aku izin beberapa hari untuk melihat keluargaku yang sakit?” izin Bimo pada Mayang sebelum pergi ke Singapore besok. Dia berpura-pura ada keluarganya yang sakit karena tidak punya alasan lain.Mayang mematikan keran air di wastafel lalu berbalik menatapnya.”Keluarga? Siapa? Bukannya kedua orang tuamu sudah meninggal?” “Bibi saya, tepatnya adik dari pihak Ibu,” jawab Bimo berdusta.“Astaga, bibimu sakit apa?” tanya Mayang dengan nada khawatir.“Kemarin Bibi kena serangan jantung. Paman memintaku untuk kembali ke kampung untuk menjenguknya sebentar,” jawab Bimo senatural mungkin agar Mayang percaya.Tatapan mata Mayang berubah menjadi sendu. Wanita itu berjalan mendekat dan menepuk bahunya pelan. “Yang sabar ya Bimo. Semoga bibimu cepat sembuh.” “Terima kasih doanya Ma,”sahut Bimo.Mayang mengeluarkan dompet kecil dari saku dasternya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari sana. “Ambillah, untuk ongkos kamu pulang ke kampung. Tinggalkan nomor rekeningmu, nanti ak







