Share

Bab 68

Penulis: Mr. Kis
last update Tanggal publikasi: 2026-09-19 19:34:24

"Lepaskan Adel, Bu Mira! Dia sedang sakit demam tinggi!" panggil Alya melangkah maju, mencoba menghalangi jalan Mira yang menyeret paksa tubuh kecil yang terkulai lemah itu.

​Namun, sebelum jemari Alya sempat menyentuh lengan Adel, Marni dengan kasar mendorong bahu Alya hingga wanita itu melangkah mundur dan hampir kehilangan keseimbangan.

​"Jangan ikut campur kamu, Pembantu!" bentak Marni dengan wajah memerah murka, jarinya menunjuk-nunjuk tepat di depan mata Alya. "Kamu itu bukan siapa-siapa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 72

    Malam kian melarut, merayap menembus dinding-dinding rumah tua keluarga Marni. Di dalam ruang tamu yang remang, Marni berjalan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setiap kali terdengar suara kendaraan melintas di depan rumah, ia refleks menoleh cepat ke arah jendela, berharap itu adalah langkah kaki Adam yang datang membawa kepanikan.​Namun, jalanan di luar tetap lengang. Tidak ada tanda-tiga kedatangan Adam sama sekali.​"Kenapa pria konyol itu belum muncul juga?!" bentak Marni dengan suara tertahan namun penuh amarah. Ia memutar tubuhnya, menatap Mira yang sedang bersandar di sofa sambil mengikir kuku jarinya. "Harusnya saat ini dia sudah menggedor pintu kita sambil berlutut memohon agar Adel dikembalikan!"​Mira melirik ibunya malas, meski di dalam dadanya mulai merayap rasa kebingungan yang sama. "Mungkin dia masih sibuk mencari uang ganti rugi atau bingung mau tinggal di mana, Bu. Tadi kan di kosannya mereka suda

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 71

    Napas Adam memburu di ceruk leher Alya, menghantarkan hawa hangat yang membuat seluruh tubuh Alya meremang hebat. Di dalam kamar hotel melati yang temaram itu, gesekan kain dan keheningan yang menghimpit seolah melipatgandakan desakan emosi yang selama ini terpendam. Adam, yang berada di puncak rasa frustrasi, lelah, dan kesepian akibat pengkhianatan Mira, tak lagi mampu membendung gejolak insting prianya di hadapan wanita yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar.​"Pak Adam... Tolong, ingat situasi kita... Jangan begini..." desis Alya terbata-bata. Jemari tangannya yang gemetaran menahan dada bidang Adam, mencoba memberikan jarak di antara tubuh mereka.​Namun, Adam seakan tuli oleh pusaran gairah dan rasa butuh yang mendalam. Dekapan tangannya di pinggang Alya justru makin mengerat, mengunci pergerakan wanita itu hingga tak ada celah untuk menghindar. Pria itu menyusupkan wajahnya makin dalam, menyesap aroma harum yang terbayang dari leher Alya, lalu mengecup garis rahang wanit

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 70

    Sore mulai berganti remang ketika Adam dan Alya berhasil menemukan penginapan baru. Pilihan mereka jatuh pada sebuah hotel melati berbiaya murah yang terletak di pinggiran kota—tempat bersahaja yang tidak menerapkan aturan ketat atau proses administrasi yang berbelit-belit. Setelah menaruh koper dan tas pakaian mereka di sudut ruangan, Alya berdiri mematung di dekat jendela, menatap bayangan senja yang perlahan memudar.​Rasa penasaran yang mengganjal di dadanya sejak di jalan akhirnya tak sanggup ia tahan lagi. Alya membalikkan badan, menatap Adam yang sedang duduk di tepi ranjang seraya menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemari lelah.​"Pak Adam..." panggil Alya pelan dari balik maskernya. "Kenapa tadi Bapak tidak langsung pergi ke rumah Bu Mira untuk menjemput Adel? Bukankah makin lama Adel di sana, makin kasihan kondisinya?"​Adam menengadahkan kepala, menatap Alya dengan pandangan yang dalam namun sarat akan kelelahan emosional. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskan

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 69

    Layar telepon pintar di atas meja kerja Adam menyala, menampilkan nama 'Alya' di layarnya. Dengan senyum tipis yang mendadak terulas di bibirnya, Adam menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telinganya. Rasa lelah akibat tumpukan berkas Direktur Utama seolah menguap begitu saja.​"Halo, Alya? Ada apa? Bagaimana keadaan Adel?" tanya Adam dengan suara lembut.​Namun, tidak ada nada tenang dari seberang telepon. Yang terdengar justru bisikan hembusan napas terengah-engah dan nada suara Alya yang bergetar hebat dipenuhi kepanikan.​"P-Pak Adam... Pak Adam harus segera pulang... Adel... Adel dibawa pergi secara paksa!"​DEG!​Darah dalam tubuh Adam serasa berhenti mengalir seketika. Senyum di wajahnya lenyap, digantikan raut pucat pasi. "Apa maksudmu, Alya?! Siapa yang membawa Adel?!"​"Bu Mira dan ibunya, Pak..." jawab Alya patah-patah, suaranya terdengar begitu terpukul. "Mereka mendatangi penginapan ini, menghasut Ibu Kos hingga kami diusir. Bu Mira menyeret Adel yang sedang

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 68

    "Lepaskan Adel, Bu Mira! Dia sedang sakit demam tinggi!" panggil Alya melangkah maju, mencoba menghalangi jalan Mira yang menyeret paksa tubuh kecil yang terkulai lemah itu.​Namun, sebelum jemari Alya sempat menyentuh lengan Adel, Marni dengan kasar mendorong bahu Alya hingga wanita itu melangkah mundur dan hampir kehilangan keseimbangan.​"Jangan ikut campur kamu, Pembantu!" bentak Marni dengan wajah memerah murka, jarinya menunjuk-nunjuk tepat di depan mata Alya. "Kamu itu bukan siapa-siapa di sini! Cuma pelayanan kusam yang kebetulan disewa! Mira ini ibu kandungnya yang sah di mata hukum dan pengadilan! Kalau kamu berani melarang atau menyentuh cucuku sedikit saja, aku seret kamu ke kantor polisi atas tuduhan penculikan!"​Napas Alya tertahan di balik maskernya. Dadanya bergemuruh hebat dipenuhi gelombang amarah yang membakar. Sebagai Diva, ia sanggup menghancurkan Mira dan Marni hanya dengan satu jentikan jari. Namun, di dalam penyamarannya sebagai Alya si pelayan kusam yang tak

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 67

    Setelah usai membaca pesan balasan dari Adam yang penuh akan tantangan dan perlawanan, wajah Marni seketika memerah padam. Ibu kandung Mira itu menepuk meja di ruang tamu dengan begitu keras hingga cangkir teh di atasnya bergetar. Matanya melotot tajam, dipenuhi amarah yang membakar dada.​"Kurang ajar!" bentak Marni dengan napas memburu. "Lihat ini, Mira! Pria tidak tahu diri itu benar-benar sudah merasa di atas angin! Dia pikir dengan jabatannya yang baru itu dia bisa menginjak-injak kita?!"​Mira yang duduk di samping ibunya meremas ponselnya sendiri, raut wajahnya mengetat kesal. "Dia tidak takut sama sekali dengan ancamanku, Bu. Malah dia mengancam balik mau membawa kasus penelantaran anak ke polisi. Bagaimana ini?"​Marni mendesis sinis, melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh. "Adam itu cuma gertak sambal! Dia sengaja bersikap keras supaya kamu ciut dan menyerah begitu saja. Kamu tidak boleh kalah, Mira! Kita harus bertindak lebih tegas! Minta dia segera mengurus surat cer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status