LOGIN"Pil apa yang kau maksud?"Pemuda itu merogoh saku bagian dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berukirkan porselen putih dari sakunya.Davien mengambilnya dan membuka tutupnya.Aroma herbal yang sangat harum langsung memenuhi ruangan, membawa kesegaran alami yang menenangkan saraf.Dia menuangkan satu pil berwarna cokelat keemasan ke telapak tangannya.Pil itu terlihat sempurna.Tidak ada retakan di permukaannya, tidak ada perubahan warna, bahkan aroma spiritualnya sangat murni.Namun setelah Davien mengaktifkan sedikit energi di ujung jari untuk membakar lapisan luar pil tersebut, ekspresinya berubah."Pil ini tidak bermasalah," kata Davien.Pemuda itu terkejut dan membelalakkan matanya tak mengerti."Kalau begitu—""Masalahnya ada pada sesuatu yang ditambahkan ke dalam proses pembuatannya," sela Davien.Davien menghancurkan sedikit bagian pil menggunakan kuku jarinya.Serbuk halus jatuh ke telapak tangannya.Dia mengendusnya, lalu membiarkan energinya mengurai tiap ele
Pemuda itu terdiam kaku. Pikirannya berkecamuk hebat, membayangkan bayangan kematian ibunya yang kian mendekat.Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih dan menembus kulit."Apa kau... Apakah kau bisa menyembuhkannya?" tanyanya penuh getaran emosi, seraya menatap Davien bagaikan menatap satu-satunya jerat penyelamat di tengah lautan badai.Davien memandang wanita tua tersebut."Bisa," sahut Davien singkat.Jawaban sederhana tanpa keraguan itu membuat pemuda tersebut tidak mampu lagi menahan beban psikologis di dadanya. Dia melangkah maju dan langsung berlutut di lantai batu penginapan.BRUK!"Kalau begitu, aku mohon selamatkan ibuku!" jerit pemuda itu seraya menundukkan kepalanya rapat-rapt. "Aku akan membayarmu dengan apa pun, walau itu dengan nyawaku sekalipun!"Davien mengangkat tangannya pelan."Bangun. Aku tidak membutuhkan kau berlutut," tegur Davien dingin. "Tindakanmu hanya membuang waktu."Pemuda itu buru-buru bangkit kembali, lalu mengusap peluh di wajahnya
Fajar baru saja menyentuh atap-atap Kota Qingyuan ketika Davien menutup buku medis terakhir di hadapannya.Semalaman membaca membuat pikirannya dipenuhi berbagai teori pengobatan yang sebelumnya tidak pernah dia temui sebelumnya.Namun alih-alih merasa lelah, Davien justru merasa semakin tertarik.Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap cahaya pagi yang masuk melalui jendela."Menarik," bisik Davien pelan, jemarinya mengelus permukaan buku tua di depannya.Ilmu medis di Dimensi Gunung Terlarang ternyata bukan sekadar pengobatan menggunakan pil dan ramuan spiritual. Beberapa tabib telah mengembangkan metode untuk mengamati aliran energi dalam tubuh, memperbaiki meridian, bahkan menggunakan kesadaran spiritual untuk mendeteksi penyakit yang tidak terlihat secara fisik.Sayangnya, sebagian besar pengetahuan tersebut masih terpecah-pecah.Ada yang memahami meridian tetapi tidak memahami organ. Ada yang ahli meracik pil tetapi tidak memahami akar penyakit. Ada pula yang mampu menye
Davien melirik kartu tersebut sejenak, tetapi tidak serta-merta mengambilnya.Mo Yuan tidak memaksanya lebih jauh. Dia melangkah mundur anggun sambil menyilangkan kedua tangannya di balik punggung.Dia hanya berbalik dan berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai dua.Namun sbelum mencapai anak tangga pertama, dia berhenti. Kakinya terdiam di atas anak tangga, lalu Mo Yuan menolehkan kepalanya sedikit."Omong-omong, Tuan Muda Davien."Davien menoleh pelan."Di Kota Qingyuan, kemampuan seorang tabib memang dihormati," kata Mo Yuan dengan nada rendah. "Tetapi Paviliun Seribu Obat memiliki warisan ribuan tahun. Pengetahuan di wilayah luar ini hanyalah setetes air di samudera."Mo Yuan tersenyum tipis, sebuah tawa dingin yang tertahan."Jangan sampai kau mengira karena berhasil menyelamatkan satu orang, kau sudah memahami ilmu medis dunia kultivasi."Setelah mengatakan itu, dia melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua, jubah putihnya melambai anggun sebelum lenyap di balik tirai.Dav
Anak tersebut mendudukkan tubuhnya secara spontan dan memuntahkan cairan hitam pekat dari mulutnya!HOEKK!Cairan hitam berbau sangit itu jatuh ke lantai dan mengeluarkan suara mendesis yang tajam.Asap hitam beracun mengepul dari permukaan lantai yang langsung menghitam dan terkikis tipis.Kerumunan di sekeliling Paviliun Seribu Obat langsung gempar!"Racunnya keluar!""Mustahil! Racun di meridian jantung berhasil dikeluarkan tanpa merusak pembuluh darahnya?!""Dia benar-benar berhasil!"Ayah sang anak langsung memeluk putranya yang terkulai lemas dengan mata berkaca-kaca. Air mata haru menetes mengaliri pipi pria paruh baya itu."Lin'er... Lin'er! Kau bisa mendengarkanku?!"Anak itu belum sepenuhnya sadar, tetapi kelopak matanya bergetar pelan dan napasnya sudah jauh lebih stabil, ritme dadanya kembali normal.Davien mencabut ketiga jarum dari tubuh sang anak dengan satu gerakan cepat, menyimpannya kembali."Dia selamat," kata Davien datar seraya mengusap ujung jarinya. "Bawa dia pu
Dia bahkan hendak berlutut di hadapan Davien. Namun Davien menahannya dengan satu gerakan. Tangan kirinya mencengkeram lengan pria paruh baya itu sebelum lututnya menyentuh lantai."Jangan berlutut," tegur Davien dingin. "Siapkan apa yang aku minta.""Baik, aku akan menyiapkan apa pun! Katakan saja!" sahut sang ayah cepat seraya menghapus air matanya."Jarum perak baru. Dua puluh tujuh batang. Air spiritual murni. Dan satu tungku kecil."Tabib tua itu tertegun. Alisnya bertaut heran. "Jarum perak?"Davien menoleh kepadanya, pandangannya sedingin es."Yang kau gunakan tadi sudah terkontaminasi racun. Jangan dipakai lagi."Wajah tabib tua itu sedikit memerah akibat sindiran mendasar tersebut.Namun kali ini dia tidak membantah. Keahlian analisis Davien yang tepat sasaran tadi telah meruntuhkan seluruh keangkuhan profesionalnya.Dia segera memerintahkan para murid untuk mengambil perlengkapan yang diminta Davien. "Cepat! Ambilkan set jarum perak dari ruang penyimpan utara dan tungku pe
Sinar matahari sore menembus celah gorden sutra di paviliun kediaman Pratama, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Davien duduk bersila di atas ranjangnya, mencoba memfokuskan aliran Qi melalui teknik Napas Kehidupan Tanpa Batas. Namun, untuk pertama kalinya dalam sepuluh
Suasana di koridor menuju ruang rapat utama lantai 50 berubah drastis. Jika di balkon tadi udara terasa segar dan penuh getaran romantis yang halus, maka di depan pintu jati ganda yang menjulang tinggi ini, atmosfer terasa berat oleh bau kertas, kopi mahal, dan ambisi yang busuk.Maya Pratama mengh
"Bagus," lirih Maya, lalu begitu menyadari tatapan Davien, ia kembali berkata," Maksudku ... kau terlihat pantas. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan terlihat sangat berbeda."Maya segera membuang muka kembali ke jendela saat Davien menatapnya lebih lama. Ia tidak ingin Davien tahu bahwa dirin
“N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. P







