Home / Male Adult / Pesona Pemuda Desa / 93. Krisis Besar

Share

93. Krisis Besar

last update publish date: 2026-10-20 13:00:17

Joni menelan ludah. Tangan kanannya nyaris refleks menyentuh jaketnya—tempat amplop berisi foto-foto terlarang itu bersembunyi, tapi berhasil ia tahan sekuat tenaga. 

"Joni?" suara berat Rama memecah hening. "Ngapain kamu di kantor saya jam segini?"

Joni menarik napas pendek melalui hidung, menata detak jantungnya yang berdentum lia

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pemuda Desa   95. Memburu si Bajingan

    "Kecilin suara Tante," bisik Joni rendah seraya mencengkeram pergelangan tangan Aya.Matanya melirik ke arah lantai dua.Situasi di rumah ini seperti ladang ranjau. Salah pijak sedikit saja, ledakannya akan menghancurkan segalanya.Aya menahan napasnya, membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri seraya menatap Joni dengan mata membelalak lebar. Air muka ketakutannya belum surut sedikit pun.Joni tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat dan hati-hati, tangannya menarik resleting jaketnya ke bawah.Dari balik lipatan kain tebal itu, ia mengeluarkan amplop yang masih utuh.Melihat ampl

  • Pesona Pemuda Desa   94. Kepanikan Aya

    Sedan mewah itu melaju tenang membelah jalanan yang lengang.Joni mencengkeram lingkar kemudi dengan jemari yang kokoh. Dari sudut matanya, ia sesekali melirik spion tengah.Di jok belakang, Rama mendadak membuka matanya perlahan, mengusap wajahnya yang kuyu, lalu meluruskan posisi duduk seraya memijat pelipisnya yang berdenyut."Masih jauh, Jon?" gumam Rama datar, suaranya parau dan berat."Sekitar sepuluh menit lagi, Om," sahut Joni tenang.Rama mendengus pelan, menyandarkan kembali kepalanya ke sandaran jok seraya menatap lampu jalan yang meluncur di balik jendela."Sialan memang orang-orang di

  • Pesona Pemuda Desa   93. Krisis Besar

    Joni menelan ludah. Tangan kanannya nyaris refleks menyentuh jaketnya—tempat amplop berisi foto-foto terlarang itu bersembunyi, tapi berhasil ia tahan sekuat tenaga."Joni?" suara berat Rama memecah hening. "Ngapain kamu di kantor saya jam segini?"Joni menarik napas pendek melalui hidung, menata detak jantungnya yang berdentum liar di balik tulang rusuk.Ia tahu betul, salah satu kata saja, jurang kehancuran langsung menyambutnya."M-Malam, Om," sahut Joni, sedikit menundukkan kepala. "Saya disuruh Tante Aya ke sini."Kening Rama berkerut samar. Ia melangkah keluar dari dalam lift.

  • Pesona Pemuda Desa   92. Tertangkap Basah

    Melihat Aya yang terduduk lemas dengan tatapan kosong, Joni mencengkeram kedua bahu wanita matang itu, sedikit mengguncangnya agar kesadaran Aya kembali utuh."Tante, dengerin saya!" bentak Joni dengan suara rendah. "Om Rama udah balik dari luar kota apa belum?!"Aya tersentak, bola matanya yang berkaca-kaca menatap Joni. "T-Tante nggak tahu, Jon... Rama nggak ada kasih kabar sama sekali hari ini. Tapi... tapi kayaknya belum. Biasanya kalau mau pulang dia telepon sekretarisnya atau kasih kabar ke Tante...""Pastiin sekarang, dan kasih saya alamat lengkap kantornya!" perintah Joni cepat tanpa memberi celah bagi Aya untuk larut dalam ketakutan. "Saya harus ke sana sekarang juga buat ambil paket itu sebelum jatuh ke tangan Om Rama atau orang kantornya!"Aya menelan ludah susah payah, lalu buru-buru meraih tasnya yang tergeletak di atas meja konsol. Dengan jari-jari yang masih bergetar, ia mengeluarkan selembar kartu akses hitam berlogo emas dan sebuah catatan kecil berisi nama gedung ser

  • Pesona Pemuda Desa   91. Tamatlah Sudah

    Joni mematikan mesin motor di depan pintu pagar samping.Napas pemuda itu masih memburu liar. Ia baru saja memacu kendaraannya menembus kemacetan seperti orang kesetanan. Joni membuka kunci gembok pagar dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melangkah cepat melintasi pekarangan.Seluruh rumah utama tampak gelap gulita dari luar. Joni mendorong pintu dapur yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang tengah, pandangannya langsung tertumbuk pada sesosok tubuh yang meringkuk di sudut sofa.Aya duduk di sana dengan kedua lutut terlipat rapat ke dada.Seluruh tubuh wanita matang itu gemetar hebat. Wajahnya yang pucat menatap kosong ke atas meja, tempat sebuah amplop cokelat berukuran besar teronggok dalam keadaan terbuka. Kedua tangannya meremas ujung bantal sofa begitu kuat."Tante..." panggil Joni pelan seraya melangkah mendekat.Mendengar suara itu, kepala Aya tersentak ke atas. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang teramat pekat."Joni..." bisik A

  • Pesona Pemuda Desa   90. Paket Tanpa Nama

    Pukul sepuluh malam, lampu utama di area kafe sudah dipadamkan.Hanya ada satu lampu yang masih menyala di balik meja bar, menerangi deretan cangkir yang baru saja selesai ditiriskan.Suasana kafe sunyi senyap. Doni sudah pulang lebih awal setengah jam lalu, menyisakan Joni dan Rina untuk menyelesaikan tugas penutupan sif.Joni sedang berdiri di depan wastafel dapur belakang, menyeka tangannya yang basah dengan serbet bersih.Di kepalanya, kalimat Mirna tadi siang masih terngiang samar.‘Cepat atau lambat... saat masalah besar melanda rumah itu, kamu bakal sadar kalau cuma Tante yang punya kekuatan buat nyelamatin kamu.’

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status