LOGINDengan langkah tegap dan dagu terangkat, Verlyn membalikkan badannya. Ia keluar dari ruangan pribadi Kayn tanpa menoleh lagi sedikit pun. Setiap langkah kakinya terasa begitu dingin, meninggalkan pria yang kini telah menjadi asing dalam kehidupannya.Begitu keluar dari gedung Vyntie Group dan melangkah masuk ke dalam kabin mobil, Sofia dan Pak Rian seketika terperanjat melihat deretan bekas air mata di pipi Verlyn serta matanya yang sedikit memerah."Nona Verlyn? Anda tidak apa-apa?" tanya Sofia panik, siap menyiapkan tisu.Verlyn menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu memasang senyuman tipis, sebuah topeng ketenangan yang amat sempurna. Ia menyapu halus sisa kebasahan di pipinya."Aku baik-baik saja, Sofia," jawab Verlyn tenang, suaranya sangat stabil tanpa getaran. "Pak Rian, kita jangan pulang ke rumah dulu. Antar aku ke pusat perbelanjaan paling eksklusif di kota ini, ya."Pak Rian dan Sofia saling pandang bingung, namun Pak Rian segera mengangguk dan meng
Penerbangan malam dari Chicago mendarat di New York tepat saat fajar menyingsing. Tanpa buang waktu untuk pulang atau sekadar ganti baju, Verlyn langsung meminta supirnya meluncur ke kantor pusat Vyntie Group. Setibanya di sana, mobil berhenti mulus di pelataran gedung. "Pak Rian, Sofia, kalian berdua tunggu di mobil saja. Aku tidak akan lama," tegas Verlyn. Verlyn melangkah keluar dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Ia hanya mengenakan piyama sutra krem berdetail ruffle, dilapisi jaket winter parka cokelat berkerah bulu, serta sandal rumahan biasa. Mengabaikan pandangan heran para staf, Verlyn melewati resepsionis tanpa membuat janji dan langsung naik lift VIP menuju lantai 15, ruangan pribadi Kayn. Brak! Pintu ganda itu terdorong lebar. Di dalam, Kayn yang sedang mendiskusikan dokumen bersama Sekretaris Rainon seketika terkejut. "Kayn..." panggil Verlyn terengah-engah, memegang lututnya untuk mengatur napas. Kayn membelalak, kaget melihat Verlyn berd
Mengabaikan rasa heran Sofia, Verlyn menyambar jaket tebal yang disodorkan asistennya, mengenakannya menutupi piyama sutranya, lalu langsung melangkah cepat keluar dari villa. Matanya terpaku pada sosok Sellina dan pria bermata ungu yang baru saja melangkah masuk ke dalam area lobby Hotel Pasangan tersebut. Tanpa membuang waktu, Verlyn menyusup masuk melewati pintu kaca otomatis hotel. Suasana lobby terasa agak remang dengan aroma parfum ruangan yang manis namun menyengat. Verlyn langsung berjalan mendekati meja resepsionis. "Selamat malam, Miss. Ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita resepsionis di balik meja dengan senyum ramah profesional. "Saya ingin bertanya, bisakah Anda memberi tahu saya nomor kamar dan atas nama siapa pasangan yang baru saja check-in dua menit yang lalu?" tanya Verlyn langsung pada intinya. Resepsionis itu menunjukkan raut ragu, lalu menggeleng pelan. "Mohon maaf sekali, Nona. Identitas dan privasi seluruh tamu di hotel kami bersifat sangat rahasia. K
Setelah lima hari yang melelahkan di Chicago, Verlyn memutuskan untuk tidak langsung terbang kembali ke New York esok harinya. Ia memilih mengambil jeda satu hari penuh untuk beristirahat di villa tiga lantai tempatnya menginap, memberi waktu bagi dirinya, Sofia, serta para pengawalnya untuk menenangkan pikiran sebelum kembali ke rutinitas kerja yang padat. Menjelang malam, langit Chicago bergeser menjadi keunguan yang tenang. Verlyn melangkah naik ke area rooftop lantai tiga villa, menikmati terpaan angin malam seraya menyandarkan tangannya di pagar pembatas. Gadis itu mengenakan pakaian santai rumahannya, piyama bahan sutra berwarna pastel yang lembut dan nyaman. Ponsel di genggamannya berdering, memunculkan nama Kayn di layarnya. Verlyn menyunggingkan senyum tipis lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Kayn!" sapa Verlyn lembut. "Verlyn... kamu masih di Chicago?" suara Kayn terdengar sedikit parau namun sarat akan kehangatan dan rasa rindu di seberang sana. "Bag
Verlyn menatap Steven sejenak sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis yang anggun. Ajakan ramah dari tuan rumah kota Chicago itu terdengar cukup menarik untuk mengisi waktu luangnya. "Baiklah, Tuan Steven. Saya terima tawaran Anda," jawab Verlyn tenang. Sebelum melangkah pergi, Verlyn menoleh ke arah tim pengawalnya dan memberikan instruksi pelan. "Jaga jarak aman dan bersikaplah sewajarnya. Jangan membuat suasana terlalu tegang." Pengawal pribadinya mengangguk paham dan mengikuti dari jarak yang tidak mencolok. Verlyn dan Steven pun mulai berjalan santai membelah sudut-sudut eksotis kota Chicago. Sepanjang perjalanan, kecanggokan di antara mereka perlahan luntur. Mereka mengobrolkan banyak hal acak, mulai dari latar belakang industri bisnis, hobi, hingga pengalaman unik selama memimpin perusahaan masing-masing. Steven terbukti sebagai pemandu yang menyenangkan, cerdas, dan memiliki selera humor yang halus. Sore harinya, setelah mereka sempat bergabung sebentar dalam
Setelah menempuh penerbangan yang cukup menyita waktu, pesawat komersial yang membawa Verlyn dan timnya akhirnya mendarat mulus di Bandara Internasional O'Hare, Chicago. Sore hari di kota berjuluk The Windy City itu disambut angin sejuk yang berembus cukup kencang. Begitu keluar dari terminal kedatangan, iring-iringan mobil mewah yang disiapkan oleh tim pengawal pribadi pesanan Kaze sudah berjejer rapi. Verlyn melangkah masuk ke kabin mobil, menatap deretan pencakar langit Chicago dari balik jendela. Mobil itu membawa mereka membelah jalanan kota menuju sebuah villa privat megah bermarsitektur modern di kawasan eksklusif yang sengaja disewa oleh ayahnya selama kunjungan bisnis ini. Melihat pemandangan kota asing di luarnya, Verlyn menghela napas pelan. "Semoga tidak ada masalah apa-apa di New York selama aku pergi," bisik Verlyn pelan pada dirinya sendiri, menyisakan sebersit rasa cemas untuk Kayn dan situasi yang ia tinggalkan di sana. [ KEESOKAN HARINYA ] Pagi ber
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema







