LOGINPena di jemari Kayn terhenti tepat di atas dokumen analisis risiko di mejanya.Mata Kayn menatap lurus ke deretan angka di kertas, tapi pikirannya melayang jauh ke kejadian beberapa jam lalu di balkon kamar Verlyn. Aroma manis wine yang bercampur dengan wangi khas Verlyn seolah masih membayang di ingatannya.Setiap kali ingatan malam itu melintas—sentuhan bibir Verlyn yang hangat, desahan halusnya, sampai kepasrahan wanita itu saat merengkuh lehernya—dada Kayn berdebar kencang. Rasanya seperti mimpi. Tiga tahun ia menahan diri membendung rindu, dan semalam seluruh pertahanan Verlyn runtuh di pelukannya.Senyum tipis mengulas di bibir Kayn. Pria yang biasanya selalu bersikap dingin dan kaku itu kini bersandar di kursi kerjanya, memegangi pangkal hidung seraya terkekeh pelan pada dirinya sendiri. Ia ingat betul wajah Verlyn yang memerah usai mereka berciuman—ekspresi jujur yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia lihat lagi. Kehangatan tubuh Verlyn saat
Steven membuka dokumen tebal yang ia bawa di atas meja kaca, membeberkan grafik dan lembar analisis saham. Tapi dari raut wajah dan lirikan matanya ke arah Verlyn, terlihat jelas kalau bursa saham hanya alasan formalitas dari penerbangan mendadaknya pagi ini.Verlyn berusaha fokus menyimak penjelasan Steven, meski pening di kepalanya masih sesekali terasa."Poin utama yang mau kutekankan itu pengalihan alokasi modal buat divisi teknologi Kizen Group," ujar Steven seraya menunjuk salah satu kolom angka. "Kalau kita eksekusi minggu ini, kita bisa mengunci margin keuntungan yang jauh lebih aman dari fluktuasi pasar."Verlyn mengangguk pelan, menyandarkan jemarinya di dagu. "Analisis yang sangat presisi, Steven. Penilaianmu soal timing bursa memang jarang meleset. Tapi bukankah keputusan ini butuh persetujuan dari tim penasihat eksternal juga?"Steven terdiam sejenak. Ia menutup dokumen tersebut perlahan, lalu menatap Verlyn lurus-lurus tanpa lag
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyiram lantai kayu kamar dengan cahaya hangat. Verlyn perlahan membuka matanya, mengerjap pelan merasakan denyut pening di kepalanya—efek Pinot Noir semalam yang langsung terasa.Refleks, tangan Verlyn raba-raba sisi ranjang di sebelahnya, tapi yang ia dapati hanya seprai dingin yang sudah rapi.Verlyn langsung terduduk. Kamar luas itu sunyi. Sosok Kayn sudah tidak ada. Hanya ada secangkir teh lemon hangat yang masih mengepul di atas meja nakas, bersandingan dengan selembar kertas catatan bertuliskan tulisan tangan Kayn yang rapi:“Diminum saat kamu bangun, ya. Maaf aku pulang duluan, aku enggak mau membuat para pelayan rumah ini salah paham saat mereka kembali pagi ini. Istirahatlah, Verlyn.”Verlyn memegangi kepalanya yang makin berdenyut, lalu memejamkan mata rapat-rapt saat ingatan semalam berputar cepat di pikirannya.Wajahnya seketika memerah padam. Rasa malu dan penyesalan mendadak memb
Ciuman di balkon malam itu makin dalam dan menuntut. Rasa manis wine bercampur dengan gelombang rindu yang terendam selama tiga tahun, melelehkan seluruh jarak dan batasan yang dibangun Kayn dengan susah payah.Napas Kayn terdengar makin berat dan memburu. Jemarinya yang menyusup di tengkuk Verlyn meremas pelan, membawa wanita itu makin lekat. Desahan halus lolos dari bibir Verlyn, membuat gejolak di dada Kayn semakin membakar. Tapi di tengah kepungan emosi yang membuncah, akal sehat Kayn mendadak memukulnya keras.Ia tidak mau memanfaatkan kondisi Verlyn yang sedang dipengaruhi alkohol. Ia ingin Verlyn menerimanya dan menyerahkan diri sepenuhnya saat sadar seutuhnya—bukan dalam pengaruh wine.Dengan sisa kendali diri yang tersisa, Kayn menarik kepalanya mundur pelan. Napas mereka beradu di udara malam, terengah-engah dalam jarak yang begitu dekat."Verlyn... stop," bisik Kayn serak, suaranya berat dan bergetar. Ibu jarinya mengusap lembut bi
"Kamu masih jago memasak, Kayn," puji Verlyn pelan sambil menyandarkan tubuhnya di tepi meja dapur. Matanya memperhatikan Kayn yang cekatan mematikan kompor setelah menyelesaikan sepiring pasta pesto dan sup krim hangat untuk mereka berdua.Kayn tersenyum tipis, lalu meletakkan dua piring yang sudah bersih ke bak cuci. "Keterampilan yang selalu kupelajari saat harus menyibukkan diriku sendiri selama tiga tahun ini, Verlyn."Selesai makan malam yang hangat itu, Verlyn melangkah menuju lemari penyimpanan wine milik ayahnya. Ia mengambil satu botol Pinot Noir tua beserta dua gelas kristal bertangkai tinggi."Kita minum di kamarku saja," ucap Verlyn santai, melangkah mendahului Kayn menuju lantai atas.Kayn berjalan mengikuti dari belakang seraya membawa botol wine tersebut. Ketika Verlyn membuka pintu dan melangkah masuk ke kamarnya yang luas, Kayn sempat terhenti sejenak di ambang pintu. Ia memperhatikan interior kamar Verlyn, lalu menatap wani
Lampu jalanan kota memantulkan pendar hangat di atas kap mobil sports hitam milik Kayn yang melaju tenang membelah malam. Di dalam kabin, tidak ada musik yang diputar—hanya suara hembusan AC dan dengung halus mesin yang mengisi sepi.Tapi keheningan kali ini beda. Nggak ada lagi canggung atau tensi kaku seperti tiga tahun lalu. Terasa lebih tenang dan penuh pengertian.Kayn melirik sekilas ke jok sebelah. Verlyn menyandarkan kepala di bantalan kursi, menatap pendar lampu New York dari balik jendela dengan raut wajah yang jauh lebih rileks setelah percakapannya dengan Steven tadi."Mau mampir makan malam dulu, Verlyn?" tanya Kayn pelan, memecah sepi. "Aku tahu kamu belum makan apa-apa dari acara cocktail tadi."Verlyn menoleh, mengamati garis wajah Kayn dari samping. Ada rasa takjub yang menyusup ke dadanya—pria ini ternyata masih selalu memperhatikan hal-hal kecil tentangnya."Enggak usah, Kayn. Aku cuma mau cepat sampai rumah," jaw
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar







