LOGINKeesokan paginya, ruangan kerja Kayn terasa seperti ruang hampa. Tidak ada lagi sisa-sisa emosi di wajahnya. Mata yang biasanya menyimpan duka itu kini tampak kosong dan dingin. Rasa sakit semalam sudah mencapai titik di mana ia bahkan tak lagi mampu meneteskan air mata; ia sekarang hanya merasa... mati rasa. Tanpa suara, daun pintu terbuka. Rainon melangkah masuk dengan sigap. "Rainon," panggil Kayn singkat. "Ya, Tuan Kayn? Ada yang Anda butuhkan?" "Blokir semua kartu kredit dan fasilitas atas nama Sellina. Hari ini juga. Cabut aksesnya dari semua properti Vyntie Group," perintah Kayn datar tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di mejanya. Rainon terdiam sejenak, wajahnya tampak bingung. "Saya minta maaf sebelumnya, Tuan... apa ada masalah yang terjadi? Apakah ini ada hubungannya dengan—" "Itu tidak penting," potong Kayn dingin tanpa menoleh. "Dia hanya seseorang yang sudah tidak lag
Khalix masih tampak asyik berbincang hangat dengan beberapa relasi senior di tengah riuhnya ballroom. Namun, saat pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan, dahinya berkerut pelan. Sosok Kayn yang seharusnya sedang membaur membangun relasi, sama sekali tak terlihat di mana pun. Memutuskan untuk memeriksa, Khalix memohon izin sebentar pada lawan bicaranya lalu melangkah keluar dari ballroom. Pria paruh baya itu merogoh ponsel di dalam saku jasnya, mencoba menghubungi nomor putranya. Satu panggilan dialihkan. Dua kali... tiga kali, tetap tidak ada jawaban. Panggilan teleponnya hanya dibiarkan berdering hingga mati begitu saja. Khalix menghela napas panjang, mendengus gusar. Ia berjalan menuju area parkir VIP di luar gedung hotel. Di sanalah ia melihat mobil sedan hitam milik Kayn terparkir. Lampu kabinnya redup, namun Khalix bisa melihat samar sosok putranya yang terduduk kaku di dalam. Dengan langkah lebar, Khalix menghampiri mobil itu da
Keheningan koridor VIP terasa begitu menghimpit bagi Kayn. Tubuhnya kaku membeku. Matanya menatap tajam dua sosok di depannya, berjuang keras memproses kenyataan pahit yang menghantam dadanya tanpa ampun. Sellina, wanita yang selama ini ia bela mati-matian dan ia beri segala kemewahan kini sedang bersandar mesra di dada Rensra. "Aduh, pelan-pelan dong, Rens... Nanti ada yang lihat," bisik Sellina manja sambil mengusap rahang Rensra. Rensra terkekeh pelan, ja mempererat pelukannya di pinggang Sellina. "Siapa yang bisa lihat kita di lorong sepi begini? Lagian, si Kayn itu tidak akan datang ke acara ini. Setahu aku yang diundang ke acara ini dan yang menjadi perwakilan Vyntie Group malam ini hanya Tuan Presdir Khalix, bukan dia." Sellina tertawa kecil, suara tawa yang dulu selalu terdengar manis di telinga Kayn, kini berubah menjadi bisikan beracun yang menyayat hatinya. "Iya
"Ingat kata-kata Papa, Kayn. Malam ini Papa ada urusan sendiri dengan komisaris senior," bisik Khalix dingin saat mereka baru saja melewati pintu utama ballroom hotel bintang lima tersebut. "Buktikan kalau kamu bisa bangun relasi sendiri. Amankan minimal satu kesepakatan malam ini. Jangan membuat Papa malu di depan rekan-rekan Papa." Kayn melirik ayahnya sekilas, menelan saliva yang terasa pahit di tenggorokannya. "Papa tidak mau mendampingiku dulu sebentar?" Khalix menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya dan menatap Kayn dengan pandangan menusuk. "Kamu adalah penerus Vyntie Group, bukan anak kecil yang harus digandeng ke mana-mana," sahut Khalix tanpa memberikan ruang untuk Kayn membantah. "Tunjukkan wibawamu di depan mereka." Khalix langsung berbalik dan melangkah pergi menyapa kerumunan pengusaha senior, meninggalkan Kayn sendirian di tengah riuhnya jamuan mewah itu. Kayn menghela napas panjang, ia merapikan jas hitam
"Mau sampai kapan Papa harus menanyakan alasan kinerja Vyntie Group makin merosot seperti ini, Kayn?!"Seberkas dokumen dibanting keras ke atas meja. Khalix berdiri tegap di depan meja kerja putranya dengan napas memburu dan mata memerah menahan amarah."Papa sengaja datang ke kantormu malam-malam begini hanya untuk melihat kekacauan ini?!" cecar Khalix tajam. "Sejak kamu membiarkan hubunganmu dengan Verlyn berantakan dan rencana aliansi Kizen Group terlepas, para investor mulai menarik rasa percaya mereka kepada perusahaan kita!"Kayn cuma bisa menunduk, meremas jemarinya sendiri di bawah meja. "Aku... aku lagi mengusahakan negosiasi ulang dengan beberapa vendor dan investor, Pa.""Usahakan?!" Khalix mendengus kasar. "Usahamu tidak ada artinya jika tidak menghasilkan angka yang bagus! Harusnya dari awal kamu sadar, Verlyn itu benteng pertahanan terbaikmu. Sekarang setelah dia pergi dan makin sukses sama Florest Group, Vyntie Group hanya terlihat
Hening yang menyelimuti ruang kerja Kaze terasa begitu pekat dan menekan bagi Verlyn. Kaze menatap putri tunggalnya dalam-dalam. Ada rasa bangga yang besar, namun di saat bersamaan, kesedihan merayap di benak sang ayah saat melihat betapa kuatnya dinding pertahanan yang dibangun oleh Verlyn. Pertanyaan Kaze mengenai kemungkinan rujuk jika Kayn datang memohon maaf tadi seolah memanggil kembali bayang-bayang masa lalu yang sudah bersusah payah Verlyn kubur dalam-dalam. Tapi, tidak ada ekspresi terkejut, marah, atau ragu di raut wajah Verlyn. Tatapan matanya tetap tenang. "Ayah mungkin sudah tahu sendiri alasanku membatalkan rencana aliansi dan perjodohan itu sejak awal," ujar Verlyn dengan tegas. "Kizen Group berdiri kokoh karena profesionalitas dan integritas, Ayah. Bukan karena belas kasihan atas sebuah hubungan yang sudah mati." Kaze menghela napas panjang, menempelkan kedua tangannya di atas meja lalu mengamati raut wajah putrinya d
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
“Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b







