LOGIN“Ahh, I-ini terlalu dalam,” erang Zhiya sembari mencengkram erat punggung Lingga.
Keduanya kini menyatu tanpa batasan sedikit pun. Tanpa ampun, Lingga terus menggerakkan tubuhnya maju mundur hingga membuat Zhiya mengerang nikmat. Lingga tersenyum menang saat melihat wajah pasrah Zhiya yang begitu membangkitkan gairahnya. “Bertahanlah,” bisik Lingga. “Eungh, cukup, aku tidak tahan lagi.” Mendengar itu, Lingga mengunci kedua tangan Zhiya. Ia juga mempercepat gerakannya hingga membuat Zhiya mengerang nikmat. Ia bisa merasakan kedutan yang menjepit miliknya. Hingga membuatnya tak tahan dan akhirnya mencapai puncak bersamaan dengan gadis yang ia tindih. Tubuhnya pun ia rebahkan tepat diatas tubuh Zhiya. Pria itu kemudian mengecup bibir milik Zhiya dengan lembut. “Aku tidak mungkin hamil kan?” batin Zhiya. “Memangnya kenapa kalau kau hamil?” tanya Lingga Zhiya pun membulatkan matanya karena terkejut. “Kau bisa mendengar apa yang aku katakan?” tanya Zhiya. “Aku tidak tuli, Zhiya,” ucap Lingga Zhiya terdiam. “Dia bisa mendengar apa yang aku katakan didalam hati,” “Aku bahkan tidak tahu itu suara hatimu. Aku kira kau berbicara denganku tadi,” ujar Lingga. Pria itu kemudian bangkit. Ia kembali mengangkat tubuh Zhiya menuju kolam pemandian miliknya untuk membersihkan diri mereka. Zhiya bergumam saat melihat kolam pribadi milik Lingga yang begitu indah. Kolam itu berada di ruang paling dalam dari istana. Tempat yang tidak pernah disentuh pelayan, tempat yang dibuat hanya untuk raja. Airnya jernih seperti kaca, namun memantulkan warna merah keemasan seperti bara yang dipadamkan oleh waktu. Uap tipis menggantung di permukaan air, seolah api dan air sedang berdamai di satu titik. Lingga turun perlahan ke dalam kolam, masih mendekap tubuh Zhiya, membawanya masuk seperti memandu sesuatu yang rapuh namun sangat berharga. Suhu air hangat menyelimuti tubuh mereka, membuat keduanya merasa seperti roh dan tubuh sedang kembali menemukan bentuknya. Zhiya menutup mata sejenak. Ada rasa ringan, sekaligus berat. Karena apa yang terjadi sebelumnya baru saja mengubah garis hidup mereka. Lingga menyibakkan sedikit air ke pundak Zhiya, gerakannya lembut, bukan sebagai raja yang berkuasa, melainkan sebagai pria yang takut kehilangan apa yang baru saja ia dapatkan kembali. “Tubuhmu semakin nyata,” ucap Lingga lirih sembari mengecup pelan pundak Zhiya yang tak tertutup kain. Zhiya membuka mata perlahan dan menatap permukaan air. Refleksinya tidak lagi kabur seperti bayangan kabut. Ia mulai melihat dirinya. Lebih jelas, lebih solid, lebih hidup. “Apa ini berarti, aku semakin dalam menjadi bagian dari duniamu?” tanyanya pelan. Lingga tidak menjawab dengan kata. Ia meraih tangan Zhiya di atas permukaan air dan menggenggamnya erat, seolah genggaman itu adalah sumpah yang tidak bisa ditarik kembali. Di sekitar mereka, lentera batu di tepi kolam menyala satu per satu, seperti roh istana menyadari bahwa api yang padam itu telah kembali menyala. Keduanya tidak berbicara lebih banyak. Mereka hanya duduk berdua di dalam air hangat, diam, namun saling terikat oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sentuhan fisik. “Aku tidak ingin kau pergi,” bisik Lingga. Zhiya tersentak. Sudah berapa lama sejak ia tertidur dan meninggalkan raga aslinya. Ia menatap mata Lingga dalam. Seolah ingin mengutarakan sesuatu. Tapi tak bisa ia ungkapkan. Lingga menyentuh dagu Zhiya. Menarik wajah gadis itu dan kembali mencium bibir nya yang sudah menjadi candu baginya. Ini adalah pertemuan ke— tujuh?. Tapi, ia merasa bahwa Zhiya sudah hidup bertahun lamanya disisinya. “Aku harus kembali, Lingga,” lirih Zhiya. “Tidak, kumohon,” cegah Lingga. Zhiya menggeleng. Belum sempat ia membalas perkataan Lingga, tiba-tiba ia tersentak. Ia membuka matanya lebar dan langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Aku sudah kembali,” gumamnya saat sadar dirinya telah kembali ke kamar miliknya. Ia kemudian tersadar dengan mimpi nya. Ia kemudian bangkit dan menuju meja rias untuk melihat tubuhnya. Dan benar saja, bekas kemerahan yang ditinggalkan oleh Lingga, terlihat jelas di tubuhnya. “Ini bukan mimpi. Ini nyata,” gumamnya. Gadis itu kemudian melirik jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi. “Aku tertidur selama ini?” batin Zhiya. Tanpa pikir panjang, ia bangkit menuju kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya. Menjelang pagi, ia kembali seperti biasa. Ia meninggalkan apartemennya dan menuju mobilnya yang sudah terparkir di basement. “Temui aku saat bulan purnama. Dibalik museum,” ujar suara wanita di daun telinganya. Zhiya mematung di basement apartemennya. Zhiya kemudian tersadar saat hanya dirinya yang di basement itu. Ia memastikan dirinya sadar. Apa sudah sebaiknya dia harus berobat untuk konsultasi? Rasanya, akhir-akhir ini, ia semakin sering berhalusinasi. “Morning, Zhiyaa!” sapa Arga begitu Zhiya berhenti di parkiran museum— tempat kerjanya. Ia mengambil nafas sebelum ditegur temannya dari jendela kaca mobil. “Pagi,” balas Zhiya. “Kenapa mukamu pucat sekali, Zhiya?” tanyanya. Zhiya menoleh. “Oh ya? Mungkin hanya sedikit kurang tidur,” jawab Zhiya sembari menepuk pelan pipinya. “Jaga kondisimu. Besok hari lagi, pameran akan berlangsung. Jangan sampai kau sakit,” ujar Arga. Zhiya mengangguk pelan. Ia bahkan baru sadar bahwa akan ada pameran dalam waktu dekat. Gadis itu kemudian masuk ke ruangannya dan duduk di meja kerjanya. Tapi saat sedang fokus bekerja, tiba-tiba sebuah kotak makanan diletakkan di hadapannya. Ia kemudian menoleh dan mendapati Arga sudah berdiri di sampingnya. “Makanlah. Kau pasti belum memakan apapun,” ucap Arga. Zhiya tersadar. Ia memang belum memakan apapun dari kemarin. “Terima kasih.” Ia tersenyum menatapnya kecil. “Mengenai pameran besok— kamu tahu Raja Lingga, kan? Raja yang hilang di dinasti Qinzhou? Lukisannya sudah hilang bertahun-tahun dan sudah ditemukan. Besok akan dipamerkan. Aku balik ke mejaku, ya. Dimakan, ya!” Senyuman tipis itu berubah pucat. Apa katanya— Raja Lingga? Dimana ia pernah mendengarnya?Istana Qingzhou berubah sejak malam penghakiman itu. Udara terasa lebih ringan. Langit lebih jernih. Bahkan bunga-bunga di taman istana mekar lebih awal dari musimnya. Seolah kerajaan itu sendiri… bernapas lega. “Yang Mulia,” Zhiya memberi hormat pada Lingga saat menghampiri nya di Aula utama. Lingga berdiri, tersenyum dan menyambut Zhiya. “Tidak perlu terlalu formal,” ucap Lingga. “Sekarang aku tinggal disini. Tentu harus mengikuti peraturan dan mempelajari tatakrama istana.” “Kemarilah,” ucap Lingga. Ia kemudian menuntun Zhiya duduk di singgasana miliknya. “Lingga, apa ini pantas?” tanya Zhiya. “Jangan khawatir. Setelah ini, kau akan menjadi permaisuri. Dan kau pasti akan mendampingiku di singgasana ini,” ujar Lingga. Zhiya tersenyum. “Sekarang, aku benar-benar tenang. Walau, masih sedih karena meninggalkan Ibu disana,” ucap Zhiya. Belum sempat Lingga menjawab, seorang prajurit datang menghampiri mereka. “Lapor Yang Mulia,” “Katakan,” “Bandit… menyerang w
“Bulan hitam sudah menutup sempurna. Ini waktunya kita menuju perbatasan mati,” ucap Lingga. Pria itu mengulurkan tangannya sekali lagi dengan ekspresi yang penuh arti. Zhiya kemudian menepis tangan itu, dan langsung memeluk tubuh Lingga. Gadis itu menjerit karena sadar bahwa ia sudah tidak bisa kembali ke Aetheria, dan meninggalkan Ibunya sendiri. “Aku tahu kau kuat,” bisik lingga sembari mengelus surai Zhiya. Tangis Zhiya pecah. Dadanya sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Pelukan mereka melonggar. Lingga langsung mengangkat tubuh Zhiya dan membawanya kedalam kereta kuda yang sudah menunggu mereka. “Setelah ini, kau bisa hidup tenang di Qingzhou. Aku berjanji,” ~~~ Perbatasan antara Qingzhou dan Yongzhou terhampar seperti luka lama yang tak pernah sembuh. Tanahnya retak. Udara di sana lebih dingin dari tempat lain. Langit menggantung rendah—pekat, berdenyut perlahan. Dan malam itu… Bulan Hitam naik. Cahayanya tidak memantul. Ia menelan. Di garis batas kematian—tempat
Hari itu, langit kelabu. Bukan hujan. Bukan panas. Hanya abu-abu yang menggantung rendah, seolah langit pun sedang berduka. Pemakaman umum di pinggiran kota dipenuhi pelan-pelan oleh orang-orang berpakaian hitam. Rekan kerja museum. Tetangga lama. Teman-teman sekolah. Orang-orang yang pernah mengenal senyum Zhiya. Semua datang. Semua terdiam. Di tengah lapangan kecil, sebuah liang telah disiapkan. Di sampingnya, peti kayu cokelat muda terbaring. Di dalamnya— Zhiya. Dengan gaun putih sederhana. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya damai. Terlalu damai untuk seseorang yang pergi terlalu cepat. Ibu Zhiya duduk di kursi depan. Tubuhnya tampak lebih kecil dari biasanya. Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Sejak pagi, ia hampir tidak bicara. Hanya memegang foto kecil Zhiya di tangannya. Foto lama. Saat Zhiya tertawa di depan museum. Saat dunia masih utuh. Arga berdiri beberapa langkah di belakang. Memakai kemeja hitam. Rambutnya tidak rapi. Matanya merah.
Ambulans datang dengan suara yang memecah malam. Sirene meraung, menabrak sunyi apartemen yang baru saja dipenuhi tangis. Lampu merah-biru memantul di dinding lorong, di wajah Arga yang pucat, di mata ibu Zhiya yang sudah hampir kosong. “Mohon minggir… mohon minggir…” Petugas medis berlari masuk membawa tandu. “Pasien tidak sadar?” tanya salah satu dari mereka cepat. “Tidak bangun… dingin…” jawab Arga terbata. Mereka berlutut di sisi Zhiya. Memeriksa napas. Memeriksa denyut. Memasang alat. “Tidak ada respons… nadi lemah… sangat lemah…” gumam paramedis. Ibu Zhiya mencengkeram lengan petugas. “Tolong… tolong selamatkan anak saya… saya mohon…” Petugas menatapnya dengan wajah profesional—namun mata yang berat. “Kami akan berusaha, Bu.” Di dalam ambulans, dunia terasa sempit. Zhiya terbaring di tengah, tubuhnya diselimuti selimut darurat. Kabel-kabel menempel di dadanya. Monitor berbunyi pelan, tak beraturan. Bip… Bip… … Bip… Arga duduk di sampingnya
Malam turun perlahan di Aetheria. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti bintang buatan yang berusaha menandingi langit. Dari jendela apartemennya, Zhiya melihat semuanya tanpa benar-benar melihat. Pikirannya sudah terlalu jauh. Dikamar yang hampir kosong, ia menjatuhkan dirinya dikursi depan meja rias sembari menyisir rambutnya. Seakan mengemas dirinya dan bersiap untuk pergi jauh. Jam menunjukkan pukul 23.40. Langit semakin gelap. Zhiya berdiri, berjalan ke pintu. Tangannya berhenti di gagang. Ia tahu… kalau ibunya datang sekarang— melihat koper, rumah kosong, wajahnya yang terlalu tenang— ibunya akan hancur. Perlahan, Zhiya memutar kunci. Klik. Klik kedua. Pintu terkunci rapat. Seperti ia mengunci jalan pulang. Ia menyandarkan dahi ke pintu. “Maaf, Bu,” bisiknya. “Bukan karena aku tidak mau bertemu… tapi karena aku tidak sanggup melihatmu menangis.” Air matanya jatuh, membasahi kayu. Namun ia mengusapnya cepat. Tidak boleh ragu. Tidak lagi. Ia kemba
Sejak malam Lingga muncul di balkonnya, Zhiya berhenti menunda. Ia berhenti berharap waktu akan melunak. Berhenti berpura-pura bahwa semuanya masih bisa kembali seperti semula. Pagi itu, ia bangun lebih awal dari biasanya. Langit Aetheria masih kelabu. Kota masih setengah tertidur. Arga masih terlelap di kamar sebelah. Zhiya duduk di meja kecil dekat jendela, membuka laptopnya. Layar kosong. Kursor berkedip. Seolah menunggu keputusan terakhir. Surat Pengunduran Diri, Ia mengetik perlahan. Bukan karena ragu pada kata-kata— tapi karena setiap huruf terasa seperti langkah menjauh. “Kepada Kepala Divisi Konservasi, Dengan ini saya mengajukan pengunduran diri…” Tangannya berhenti. Ia menghela napas, lalu melanjutkan. Ia menulis tentang “alasan pribadi”, tentang “kebutuhan untuk rehat”, tentang “terima kasih atas kesempatan”. Semua bohong. Namun bohong yang paling lembut yang bisa ia berikan. Saat selesai, ia menatap dokumen itu lama. Museum adalah tempat ia berpijak di







