Mag-log in“Tapi… kami hanya tunangan, kan? Kenapa ada pasal memiliki keturunan?”
Ratih dan David saling bertatapan beberapa saat. Lalu keduanya saling menunduk. Ratih berdeham, “Mari kesampingkan soal pasal itu. Pasal lainnya apa siap?” “Kalau membantu merawat, menjaga, dan mendidik anak umur lima tahun… saya punya pengalaman. Saya—” “Ya. Kau guru honorer TK. Aku tahu.” Elara mendongak terkejut, “Anda sudah tahu?” “Kau pikir aku ini siapa? Aku tidak akan memberikan penawaran ke sembarang orang. Aku sudah mempelajari latar belakangmu,” jelasnya sambil membuka lembaran terkait kehidupan Elara. “Kau tidak memiliki orangtua, tinggal hanya dengan Nenekmu. Kau butuh uang perawatan dan operasi Nenekmu yang sakit, tetapi sedang cuti paksa tanpa tahu kapan berakhir masa cutinya. Tanpa gaji.” Mendengar semua itu, Elara sangat marah karena tersinggung, “Apa hak Anda untuk menggali latar belakang saya, Nyonya?” “Saya tidak akan menerima tawaran Anda. Lagipula semua kontrak itu tidak seimbang dengan kerugian yang saya terima nantinya,” ucap Elara dengan marah. Ia hendak berdiri dan keluar dari sana. “Lima ratus juta itu hanya awalnya saja. Sampai kamu berhasil menaklukan Cucuku itu.” Ratih tersenyum melihat Elara berhenti. Ia yakin angka sebesar itu akan membuatnya luluh. Ia melanjutkan, “Bagaimanapun juga, kau butuh pekerjaan ini. Pekerjaan yang terjamin dengan bayaran tinggi. Hanya sebagai pasangan cucuku saja. Bayaran akan diterima malam ini. Kau butuh segera, bukan?” “Dua ratus juta untuk operasi, sisanya masih sangat banyak. Aku bisa menyimpannya untuk digunakan setelah kontrak berakhir. Bahkan untuk anak Cucuku nanti,” batin Elara. Ia kembali duduk dengan tenang, “Baiklah, Nyonya. Aku akan melakukannya. Berikutnya, tolong tanyakan saja padaku secara langsung. Aku akan memberitahukannya dengan senang hati dan jujur.” Ratih tidak bisa menyembunyikan senyumnya, tetapi sekuat tenaga dirinya menutupinya. “David.” David mengangguk dan segera mengetahui apa yang dibutuhkan atasannya itu. Ia pun membawakan bolpoin dan cap keluarga untuk teken kontrak. Kontrak pun berhasil mereka setujui dengan pasal keturunan dianulir terlebih dahulu. “Kau perlu bertemu dengan Cucuku dan Cicitku dahulu. Kau boleh menyelesaikan dulu proses operasi Nenekmu itu, baru memulai pekerjaanmu di sini.” Ratih memberikan koper berisi uang dua ratus lima puluh juta rupiah, dan kartu berisi dua ratus lima puluh juta rupiah sisanya. Elara menerimanya dengan gemetaran. Ia tidak percaya akan memegang uang segitu banyaknya di tengah ekonomi yang sulit. Dia meneteskan air matanya tanpa sadar. “Tolong jangan kotori karpetku dengan air mata itu,” canda Ratih pada Elara. “Maaf.” Elara tertawa renyah dan langsung pamit untuk mengurusi neneknya. *** Setelah urusan rumah sakit selesai. Seminggu kemudian, sesuai tanggal janjiannya yang diberitahukan David, Ia pun datang ke rumah Ratih untuk bertemu dengan cucunya. Ia sudah berdiri di depan sebuah rumah yang membuatnya gemetaran melihat pagar rumahnya yang besar. “Ini rumah manusia?” Elara mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih dalam pagar itu. Dari balik pagar besar itu, terlihat halaman luas dengan bangunan rumah yang sangat mewah di tengahnya. Ia juga melihat taman yang rapi dan terawat dengan air mancur di samping rumahnya. “Pantas saja gajiku besar. Mungkin bagi mereka itu cuma recehan saja, ya?” Elara terus mengagumi rumah milik keluarga Pratama. Lalu, beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Tepat di sampingnya. Dengan refleks, Elara menyingkir dengan sopan. Namun, mobil itu tidak memasuki gerbang, mobil itu malah diam tepat di samping Elara yang kebingungan. Pintu mobil itu terbuka dan segera setelah itu keluar seorang pria yang ia kenal. Elara membeku melihat pria itu. “Ayahnya Tristan?” batin Elara. Pria itu berhenti melangkah ketika melihat Elara di depannya. Tatapan wajahnya pada Elara membuat perempuan itu menelan ludahnya. “Kenapa ayah Tristan ada di sini?” Elara melirik rumah besar di sampingnya dan tersadar sesuatu. Elara menggigit bibirnya gelisah. Pria itu berjalan mendekati Elara sampai hanya berjarak satu jengkal saja. “Apa yang Anda lakukan di sini?” Elara hanya menunduk menahan napasnya, “Ayah Tristan…” “Jawab pertanyaanku, Miss.” Elara mendongakkan kepalanya hendak menjawab pertanyaannya itu, tetapi pintu gerbang besar itu terbuka. Suara perempuan tua dari dalam rumah terdengar dari dalam rumah samar memanggil satu nama. “Cucuku!” Ratih berdiri di tangga depan pintu rumahnya dengan senang menyambut pria itu. Pria dingin itu menoleh melihat Ratih. Ratih berjalan keluar dengan bantuan tongkatnya tanpa mengurangi wibawanya sebagai pemilik rumah. Saat melihat Elara, senyum di wajahnya semakin mengambang. “Kamu juga sudah datang. Pas sekali.” Elara tersenyum membalas sambutan Ratih sambil diam-diam memperbaiki penampilannya agar tidak terkesan mempermalukan diri. Pria itu menoleh pada wanita tua itu dengan heran, “Nenek kenal wanita ini?” Ratih tersenyum, “Tentu saja.” “Nenek yang undang dia ke sini?” Ratih mengangguk. Pria itu melihat ke Elara, tatapan dinginnya melihat dari atas sampai bawah. Membuat Elara merasa canggung. Lalu pria itu kembali melihat neneknya. “Tapi… untuk apa?” Ratih tidak menjawabnya, ia justru meraih tangan Elara dan menggenggamnya dengan hangat, “Terima kasih sudah menerima undanganku, Miss Elara.” Elara tampak bingung dengan perbedaan sifat Nyonya Ratih di hadapannya dengan saat pertemuan sebelumnya, “Ehm… sama-sama, Nyonya.” Ratih meremas lembut tangan Elara, “Panggil saja saya Nenek, Elara.” Elara membelalakan matanya terkejut dengan permintaan itu. Namun kemudian dia sadar itu sudah termasuk dalam pekerjaannya. Ia pun mengangguk. Cucu wanita itu langsung menoleh tidak mengerti, “Nenek?” Ratih menggandeng Elara masuk rumahnya, “Duduk dulu, Elara. Kamu pasti capek.” Lagi-lagi Elara hanya mengikuti ritme permainan sandiwara Ratih saja. “Nek, ada apa ini?” “Duduk dulu.” “Nek—” “Arvan Darya Pratama!” Arvan pun terdiam. Mendengar teriakan itu juga membuat Elara membeku. Elara menatap pria yang masih berdiri mematung di depan pintu. Pria itu juga ternyata sedang menatap padanya. “Salam kenal, Pak Arvan. Dimana Tristan?” sapa Elara untuk mengakrabkan diri dengan calon ipar kontraknya. Arvan tidak membalasnya, Ia hanya pergi meninggalkan dia dan neneknya ke lantai atas. “Sudahlah, Elara. Biarkan Arvan dulu. Kamu istirahat saja dulu. Kamarmu ada di lantai tiga, di sebelah Tristan dan Arvan.” Elara sempat bingung dengan kamar yang diberikan. Kenapa harus di dekat ayah anak itu? Tetapi tidak ia tanyakan. Ia pikir, mungkin kamar yang kosong memang hanya di sana. “Baik, Nyo—” “Nenek.” “Baik, Nenek.” *** Semua barang bawaan Elara sudah ia bereskan di kamar barunya. Ia tidak berpapasan dengan Arvan dan Tristan. Dia merasa lega karena masih merasa canggung. “Tapi, di mana si Tuan Muda itu? Katanya aku harus ketemu dengan dia.” Elara pun beranjak dari rumah itu untuk menanyakan hal itu pada Nyonya Ratih. Saat keluar kamar, Ia melihat Arvan yang masuk ke kamarnya. Ia menoleh singkat ke arah Elara. Tetapi hanya beberapa detik tatapan dinginnya itu melihat Elara, dia masuk begitu saja tanpa basa-basi sedikitpun. Elara membiarkan hal itu begitu saja. Justru dirinya lebih nyaman seperti itu. Ia tidak perlu bersusah payah mencari topik untuk sekadar menyapa Arvan. Elara turun ke lantai dasar dan beruntung bertemu dengan Nenek Ratih di sana. “Sayang, kenapa tidak istirahat?” Elara masih belum terbiasa dengan perbedaan sifat Nyonya Ratih itu. Ia pun menjawab dengan canggung, “Nggak, Nek. Aku mau nanya sesuatu sama Nenek.” “Nanya apa? Kalau begitu, mau duduk sebentar sambil minum teh?” Elara mengangguk setuju. Mereka duduk di taman dengan teh hangat dan kukis lengkap di depannya. “Makan saja yang kamu suka dari semua itu, Elara.” “Daripada itu… Nyo, eh Nenek, di mana pria yang akan bertunangan denganku?” Ratih mengerutkan keningnya di balik cangkir tehnya. “Kamu ini kenapa? Bukannya tadi kalian sudah bertemu?” Kini giliran Elara yang mengerutkan keningnya. “Dia Arvan. Dia cucuku satu-satunya.” Mulut Elara menganga lumayan besar. “Apa?!”“Mati aku! Dia ada di sana berapa lama? Dia dengar semua yang aku obrolin?” gumam Elara sambil mengigit bibirnya.“P-Pak Arvan? Tadi saya kira Bapak lagi di luar…” Elara tersenyum kaku. Bi Sari langsung mundur dan keluar begitu saja.“Memangnya kalau aku di luar, kau bisa bebas membicarakanku begitu saja?” Pria itu berjalan masuk tanpa pamit.“Halo, Pak. Saya belum mengizinkan Bapak masuk kamar saya. Kamar seorang gadis, loh.”Pria itu tetap berjalan memasuki kamar Elara dengan tekanan yang mengintimidasi Elara. Ia membungkukkan badannya sampai wajahnya tepat berada di depan wajah Elara.“Kau duluan yang sudah mengusik privasiku.”Elara mengerjapkan matanya terkejut. Ia dengan cepat memundurkan kepalanya sampai terjatuh di kasur. Menyebabkan Arvan ikut kehilangan keseimbangan dan hampir menindih Elara.Untungnya tangan Arvan berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh di tubuh kecil Elara. Mereka saling berpandangan. Beberapa saat mereka sama-sama saling mengamati wajah masing-masing
Ratih terkejut dengan reaksi Elara, “Ada apa dengamu?”“M-Maaf, Nek. Aku kira bukan Arvan yang-—”“Emang ada apa dengannya sampai kamu berpikir begitu?” Ratih menatapnya tajam sambil menyimpan cangkir teh mewahnya.“M-maksud saya, bukannya Pak Arvan sudah memiliki anak? Berarti dia sudah menikah. Jadi, saya tidak menyangka kalau beliau—”“Hahahaha.” Alih-alih menjawab, Ratih malah tertawa kencang. Lalu menutup mulutnya khawatir kebablasan. Ia berdehem, “Kau ini lucu. Sebenarnya apa yang kamu ketahui dari keluarga Pratama ini?”Elara mengedipkan matanya, “Yang saya tahu, Pratama Group itu perusahaan terbesar kedua, Nyonya. Anda sangat kaya raya.”“Terima kasih, Nak. Namun yang kutanya, bukan tentang perusahaanku. Apa kamu tahu tentang keluarga kami?”“Ah, apa yang Nenek maksud anggota keluarganya? Maaf Nenek, saya tidak mengetahui sampai sana.”Ratih menatap Elara menyipit. Ia meminum kembali tehnya perlahan. Kemudian, “Apa aku salah menawari pekerjaan ini padamu?”Elara membeku, “Apa
“Tapi… kami hanya tunangan, kan? Kenapa ada pasal memiliki keturunan?”Ratih dan David saling bertatapan beberapa saat. Lalu keduanya saling menunduk. Ratih berdeham, “Mari kesampingkan soal pasal itu. Pasal lainnya apa siap?”“Kalau membantu merawat, menjaga, dan mendidik anak umur lima tahun… saya punya pengalaman. Saya—”“Ya. Kau guru honorer TK. Aku tahu.”Elara mendongak terkejut, “Anda sudah tahu?”“Kau pikir aku ini siapa? Aku tidak akan memberikan penawaran ke sembarang orang. Aku sudah mempelajari latar belakangmu,” jelasnya sambil membuka lembaran terkait kehidupan Elara.“Kau tidak memiliki orangtua, tinggal hanya dengan Nenekmu. Kau butuh uang perawatan dan operasi Nenekmu yang sakit, tetapi sedang cuti paksa tanpa tahu kapan berakhir masa cutinya. Tanpa gaji.”Mendengar semua itu, Elara sangat marah karena tersinggung, “Apa hak Anda untuk menggali latar belakang saya, Nyonya?”“Saya tidak akan menerima tawaran Anda. Lagipula semua kontrak itu tidak seimbang dengan kerugia
“Anda bilang Pratama Group?” Elara mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Ada urusan apa Pratama Group dengan saya? Maaf, sepertinya Anda salah sambung, Pak.”“Tunggu, Miss Elara. Kami benar menghubungi Miss.”Elara kembali mendengarkan lawan bicaranya itu, “Menghubungi saya untuk apa, Pak? Saya tidak merasa memiliki urusan dengan pihak Pratama Group.”David terdiam beberapa saat, seolah sedang menyiapkan jawaban yang dapat dimengerti Elara.“Mohon maaf, Miss, kami tahu Miss Elara sedang sibuk. Namun, apa bisakah Miss Elara meluangkan waktu untuk bertemu di kantor kami malam ini?”“Ada apa lagi, sih? Belum beres urusan yang satu, ini ada lagi yang harus kuurus. Apa yang mereka inginkan?” batin Elara sambil memijat kepalanya.“Sekali lagi, Pak. Ada urusan apa?” Emosi dalam diri Elara semakin menumpuk.“Atasan saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk Anda.”Pekerjaan?Satu kata itu berhasil membuatnya terdistraksi dari rasa kesalnya. Setelah semua yang terjadi hari ini, dirinya yang
“Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya. “Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput. Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya. “Kalau saja aku punya kerjaan sa







