Share

Interogasi

Author: SarahAksara
last update publish date: 2026-08-28 11:02:53

“Mati aku! Dia ada di sana berapa lama? Dia dengar semua yang aku obrolin?” gumam Elara sambil mengigit bibirnya.

“P-Pak Arvan? Tadi saya kira Bapak lagi di luar…” Elara tersenyum kaku. Bi Sari langsung mundur dan keluar begitu saja.

“Memangnya kalau aku di luar, kau bisa bebas membicarakanku begitu saja?” Pria itu berjalan masuk tanpa pamit.

“Halo, Pak. Saya belum mengizinkan Bapak masuk kamar saya. Kamar seorang gadis, loh.”

Pria itu tetap berjalan memasuki kamar Elara dengan tekanan yang mengintimidasi Elara. Ia membungkukkan badannya sampai wajahnya tepat berada di depan wajah Elara.

“Kau duluan yang sudah mengusik privasiku.”

Elara mengerjapkan matanya terkejut. Ia dengan cepat memundurkan kepalanya sampai terjatuh di kasur. Menyebabkan Arvan ikut kehilangan keseimbangan dan hampir menindih Elara.

Untungnya tangan Arvan berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh di tubuh kecil Elara. Mereka saling berpandangan. Beberapa saat mereka sama-sama saling mengamati wajah masing-masing.

“Pak?” Ketika sadar, Arvan buru-buru bangkit dari sana dan merapikan bajunya. Begitupun Elara. Jantungnya seolah mau melompat keluar karena kejadian barusan.

“Ekhem. Jadi apa kau mau menjelaskan alasan kenapa ingin tahu tentang hidupku?”

Elara meringis. Baru saja beberapa menit lalu dirinya diingatkan untuk tidak ketahuan Arvan. Sekarang dirinya sudah gugur dalam misinya di hari pertama menginjakkan kaki di rumah itu.

“Enggak. Dia hanya tidak boleh tahu kalau aku lagi punya misi menyelidikinya. Bukan tahu kalau aku tertarik padanya, kan?” batin Elara.

“Pak… Maaf, saya hanya ingin tahu tentang anggota keluarga rumah ini.”

“Sampai mantanku?”

Elara menelan ludahnya. Sulit sekali mencari alasan untuk orang seperti Arvan. Elara memutar otaknya. Ia meremas buku catatannya tanpa sadar. Arvan menoleh ke arah tangan Elara. Dengan cepat, Elara sembunyikan catatan itu di belakang tubuhnya.

“Saya… penasaran,” jawab Elara yang disesalinya. Bisa-bisanya setelah memutar otaknya, yang keluar adalah penasaran.

Arvan kembali mendekati Elara. Elara refleks mundur sedikit di kasurnya. Arvan mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Elara. Elara kaget dan refleks menahan napasnya dan menutup matanya rapat. Lalu hembusan napas Arvan terasa di telinga kirinya.

“Aku juga penasaran,” ucap Arvan dengan suara rendah. Elara sontak membuka matanya dan menoleh ke arah kirinya. Hidungnya menabrak rahang keras Arvan. Bibirnya tidak sengaja menyentuh sedikit leher atas Arvan.

Elara kaget dan meminta maaf. Arvan terdiam sesaat dan langsung berdiri, “Aku penasaran kenapa Nenekku meloloskanmu menjadi pengasuh Tristan.”

Saat hendak menjawab ejekannya itu, suara tertawa kecil terdengar di luar kamar. Elara pun menoleh ke pintu. Muncul kepala mungil mengintip dari sana. Mata bulatnya menangkap sosok Elara, dia pun tersenyum lebar.

“Miss!” Dia berlari kecil ke pangkuan Elara. Elara dengan sigap memangkunya dan memeluknya gemas. “Tristan, Miss kangen. Tadi kamu kemana saja?”

“Aku juga kangen, Miss. Aku tadi dari playground. Baru dijemput sama Papa,” jawabnya sambil menunjuk papanya.

Elara lupa akan tatapan dingin Arvan beberapa saat, sekarang ia kembali ke kenyataan. Dia lagi diinterogasi oleh calon tunangan kontraknya itu.

Arvan masih terdiam di sana. Memandangi interaksi antara anak angkatnya dengan pengasuhya itu. Terlihat sangat dekat dan natural. Kebanyakan pengasuh yang sudah pernah diterima bekerja di rumah itu tidak bertahan lama.

“Kali ini sampai berapa lama?” pikir Arvan dingin.

“Miss Elara, aku dengan Miss akan tinggal di sini bareng Tristan, ya?”

“Hmm? Dengar dari siapa? Padahal itu harusnya kejutan, loh.”

“Kejutan? Yaa… sayang sekali, Miss. Aku tadi dengar dari telepon Nenek sama Papa,” jawab anak itu sambil manyun. Membuat Elara semakin gemas dengan anak itu.

“Gak papa, Sayang. Kamu senang Miss tinggal di sini?”

Anak itu kembali tersenyum lebar, “Senang sekali, Miss!”

“Miss juga senang, Sayang…” Elara memeluk Tristan dengan erat saking gemasnya. “Ah, Miss punya banyak camilan. Kamu mau?”

Arvan merasa tidak terlihat di ruangan itu. Ia berdehem lumayan keras. Elara mendongak melihatnya, “Maaf, Pak. Apa boleh Tristan memakan kudapan ini?”

Arvan menatap wanita itu beberapa detik, “Jangan kebanyakan,” jawabnya sambil keluar dari kamar Elara. Tanpa ambil pusing Elara menawarkan banyak camilan pada Tristan dan bermain di kamarnya.

***

Elara berjalan kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama Nek Ratih dan Tristan. Arvan tidak ikut karena masih ada kerjaan di ruang kerjanya.

“Makan malamnya mewah dan banyak banget. Kenyang sampai besok pagi, nih kayaknya.” Elara mengusap perutnya puas. Ia melirik kamar tengah milik Tristan, “Besok main di sana, ah. Sayang banget Tristan masih ada urusan sama Nek Ratih, jadi gabisa bareng deh ke kamar.”

Ia menutup pelan pintu kamarnya di belakang. Ia masih merasa bersyukur bisa diterima bekerja di keluarga Pratama.

“Tuhan… terima kasih sudah memberiku banyak makanan. Jarang banget aku bisa merasa kenyang seperti ini.” Elara kembali mengeluarkan perutnya yang kekenyangan.

Dia pun berbaring telentang di kasurnya menatap langit-langit kamar mewah itu. Lagi-lagi dirinya mensyukuri kondisinya itu.

Tiba-tiba dirinya ingat dengan TK Sentosa. Ia rindu mengajar di sana, bermain bersama muridnya yang imut dan menggemaskan. Hanya itu satu-satunya yang membuat dirinya merasa sayang dengan keadaannya.

“Aku sudah tidak bisa kembali ke sana, kan?” Elara sedikit kecewa dengan dirinya. TK itu merupakan tempat impian Elara. Sejak di bangku sekolah, dirinya sudah menyukai anak kecil. Jadi cita-citanya saat itu adalah menjadi guru TK.

Sayang sekali cita-citanya itu harus berhenti di bulan ketiganya bekerja.

“Eh, tapi… Aku masih punya anak didik. Tristan. Dia lagi apa sekarang ya?” Baru saja bertanya, Elara mendengar suara pintu kamar sebelahnya yang tertutup. Dia pun senang.

“Tristan udah masuk kamar. Aku penasaran sama kamarnya. Mampirlah sebentar.”

Elara memasang sandal rumahnya dan bergegas keluar kamar. Dia mendekati kamar tengah dengan tenang agar tidak terlalu berisik.

Tok!

Tok!

Tok!

“Tristan…”

Tidak ada jawaban dari kamarnya. Ia kembali mengetuk pelan. Masih tidak ada jawaban.

“Mungkin sudah tidur,” gumam Elara kecewa. Namun, saat Elara hendak pergi kembali ke kamarnya, tangannya tanpa sengaja membuka pintu itu.

Elara mengintip dari celah kamar itu. Tapi ia urungkan kembali karena itu tidak sopan. Meskipun kamar itu milik anak kecil, dia tetap harus meminta izin untuk masuk.

Ia pun menutup pintu itu perlahan. Namun dia mendengar suara terjatuh dari dalam kamar. Elara khawatir Tristan kenapa-kenapa.

“Tristan, Miss izin masuk!” Tanpa menunggu jawaban darinya, Elara masuk dengan cepat. Mencari sumber suara jatuh.

Ia tidak menemukan Tristan. Lalu ia mendengar suara air di kamar mandi. Elara semakin panik, ia teringat akan neneknya yang harus dibawa kerumah sakit karena terjatuh di kamar mandi.

Dengan cepat, Elara membuka pintu kamar mandi untuk melihat kondisi Tristan.“Aaaah!”

Matanya menangkap sosok pria dewasa yang terkena air shower. Seluruh tubuhnya basah. Tanpa busana. Elara lemas dan terjatuh.

“Elara?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Sang Pewaris   Interogasi

    “Mati aku! Dia ada di sana berapa lama? Dia dengar semua yang aku obrolin?” gumam Elara sambil mengigit bibirnya.“P-Pak Arvan? Tadi saya kira Bapak lagi di luar…” Elara tersenyum kaku. Bi Sari langsung mundur dan keluar begitu saja.“Memangnya kalau aku di luar, kau bisa bebas membicarakanku begitu saja?” Pria itu berjalan masuk tanpa pamit.“Halo, Pak. Saya belum mengizinkan Bapak masuk kamar saya. Kamar seorang gadis, loh.”Pria itu tetap berjalan memasuki kamar Elara dengan tekanan yang mengintimidasi Elara. Ia membungkukkan badannya sampai wajahnya tepat berada di depan wajah Elara.“Kau duluan yang sudah mengusik privasiku.”Elara mengerjapkan matanya terkejut. Ia dengan cepat memundurkan kepalanya sampai terjatuh di kasur. Menyebabkan Arvan ikut kehilangan keseimbangan dan hampir menindih Elara.Untungnya tangan Arvan berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh di tubuh kecil Elara. Mereka saling berpandangan. Beberapa saat mereka sama-sama saling mengamati wajah masing-masing

  • Tawanan Sang Pewaris   Misi Pertama: Mencari Informasi

    Ratih terkejut dengan reaksi Elara, “Ada apa dengamu?”“M-Maaf, Nek. Aku kira bukan Arvan yang-—”“Emang ada apa dengannya sampai kamu berpikir begitu?” Ratih menatapnya tajam sambil menyimpan cangkir teh mewahnya.“M-maksud saya, bukannya Pak Arvan sudah memiliki anak? Berarti dia sudah menikah. Jadi, saya tidak menyangka kalau beliau—”“Hahahaha.” Alih-alih menjawab, Ratih malah tertawa kencang. Lalu menutup mulutnya khawatir kebablasan. Ia berdehem, “Kau ini lucu. Sebenarnya apa yang kamu ketahui dari keluarga Pratama ini?”Elara mengedipkan matanya, “Yang saya tahu, Pratama Group itu perusahaan terbesar kedua, Nyonya. Anda sangat kaya raya.”“Terima kasih, Nak. Namun yang kutanya, bukan tentang perusahaanku. Apa kamu tahu tentang keluarga kami?”“Ah, apa yang Nenek maksud anggota keluarganya? Maaf Nenek, saya tidak mengetahui sampai sana.”Ratih menatap Elara menyipit. Ia meminum kembali tehnya perlahan. Kemudian, “Apa aku salah menawari pekerjaan ini padamu?”Elara membeku, “Apa

  • Tawanan Sang Pewaris   Mulai Bekerja

    “Tapi… kami hanya tunangan, kan? Kenapa ada pasal memiliki keturunan?”Ratih dan David saling bertatapan beberapa saat. Lalu keduanya saling menunduk. Ratih berdeham, “Mari kesampingkan soal pasal itu. Pasal lainnya apa siap?”“Kalau membantu merawat, menjaga, dan mendidik anak umur lima tahun… saya punya pengalaman. Saya—”“Ya. Kau guru honorer TK. Aku tahu.”Elara mendongak terkejut, “Anda sudah tahu?”“Kau pikir aku ini siapa? Aku tidak akan memberikan penawaran ke sembarang orang. Aku sudah mempelajari latar belakangmu,” jelasnya sambil membuka lembaran terkait kehidupan Elara.“Kau tidak memiliki orangtua, tinggal hanya dengan Nenekmu. Kau butuh uang perawatan dan operasi Nenekmu yang sakit, tetapi sedang cuti paksa tanpa tahu kapan berakhir masa cutinya. Tanpa gaji.”Mendengar semua itu, Elara sangat marah karena tersinggung, “Apa hak Anda untuk menggali latar belakang saya, Nyonya?”“Saya tidak akan menerima tawaran Anda. Lagipula semua kontrak itu tidak seimbang dengan kerugia

  • Tawanan Sang Pewaris   Kontrak

    “Anda bilang Pratama Group?” Elara mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Ada urusan apa Pratama Group dengan saya? Maaf, sepertinya Anda salah sambung, Pak.”“Tunggu, Miss Elara. Kami benar menghubungi Miss.”Elara kembali mendengarkan lawan bicaranya itu, “Menghubungi saya untuk apa, Pak? Saya tidak merasa memiliki urusan dengan pihak Pratama Group.”David terdiam beberapa saat, seolah sedang menyiapkan jawaban yang dapat dimengerti Elara.“Mohon maaf, Miss, kami tahu Miss Elara sedang sibuk. Namun, apa bisakah Miss Elara meluangkan waktu untuk bertemu di kantor kami malam ini?”“Ada apa lagi, sih? Belum beres urusan yang satu, ini ada lagi yang harus kuurus. Apa yang mereka inginkan?” batin Elara sambil memijat kepalanya.“Sekali lagi, Pak. Ada urusan apa?” Emosi dalam diri Elara semakin menumpuk.“Atasan saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk Anda.”Pekerjaan?Satu kata itu berhasil membuatnya terdistraksi dari rasa kesalnya. Setelah semua yang terjadi hari ini, dirinya yang

  • Tawanan Sang Pewaris   Telepon Asing

    “Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya. “Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput. Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya. “Kalau saja aku punya kerjaan sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status