LOGIN“Anda bilang Pratama Group?” Elara mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Ada urusan apa Pratama Group dengan saya? Maaf, sepertinya Anda salah sambung, Pak.” “Tunggu, Miss Elara. Kami benar menghubungi Miss.” Elara kembali mendengarkan lawan bicaranya itu, “Menghubungi saya untuk apa, Pak? Saya tidak merasa memiliki urusan dengan pihak Pratama Group.” David terdiam beberapa saat, seolah sedang menyiapkan jawaban yang dapat dimengerti Elara. “Mohon maaf, Miss, kami tahu Miss Elara sedang sibuk. Namun, apa bisakah Miss Elara meluangkan waktu untuk bertemu di kantor kami malam ini?” “Ada apa lagi, sih? Belum beres urusan yang satu, ini ada lagi yang harus kuurus. Apa yang mereka inginkan?” batin Elara sambil memijat kepalanya. “Sekali lagi, Pak. Ada urusan apa?” Emosi dalam diri Elara semakin menumpuk. “Atasan saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk Anda.” Pekerjaan? Satu kata itu berhasil membuatnya terdistraksi dari rasa kesalnya. Setelah semua yang terjadi hari ini, dirinya yang mendapat cuti paksa, juga biaya rumah sakit neneknya yang tidak sedikit itu, jelas Elara membutuhkan pekerjaan. Elara berdekham memperbaiki nada bicaranya, “Pekerjaan apa tepatnya, Pak?” “Terkait hal itu… Sebaiknya Miss Elara tanyakan langsung pada atasan saya.” Elara menggigit bibirnya. Ia berpikir menimbang apa yang sebaiknya dia putuskan. “Jadi, Miss Elara? Apakah Anda bersedia datang ke kantor kami untuk membicarakan tawaran kami?” “...” Elara menatap jalanan di depannya. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya. Mencari pekerjaan lain tentu tidak mudah. Apalagi in this economy. Dan dia sangat membutuhkan uang cepat. Dua ratus juta. Tapi, Elara merasa pekerjaan yang ditawarkannya bisa berbahaya. Ia takut akan hal itu. “Miss Elara?” “Ah, ya. Maaf. Tadi jam berapa?” “Silahkan datang pukul sembilan malam. Di jam segitu, beliau sudah membereskan urusannya.” “Baik, terima kasih. Pak David.” Sambungan telepon pun terputus. *** “Sayang…” Suara itu membuat Elara menoleh setelah menutup pintu rumahnya. seorang perempuan tua keluar dari kamarnya dengan langkah tertatih-tatih. Elara segera mendekatinya membantu perempuan tua itu berjalan menuju sofa ruang tamu, “Nenek? Kok belum tidur?” “Justru Nenek yang mau bertanya, Nak. Kamu dari mana? Baru selesai dari TK? Jangan terlalu capek, Nak….” “Aduh Nenek. Kalau Ela enggak kerja, gimana mau dapat uang?” Nenek itu menunduk, “Maafin Nenek ya, Sayang. Karena Nenek, kamu jadi harus bersusah payah begini. Seharusnya dulu, kamu gak ikut Nenek.” Elara langsung memeluk neneknya itu, “Sst… Nenek tolong jangan bilang begitu. Aku sayang Nenek, makanya aku ikut Nenek ke sini. Tolong jangan pernah sebut tentang itu lagi, ya?” Nenek itu mengangguk. “Nenek sudah makan?” “Sudah, Nak. Kamu gimana?” “Sudah, dong Nek.” “Obat gimana?” “Sudah, Nak. Sudahlah, Nak jangan bertanya terus. Istirahatlah.” Elara mencium pipi neneknya, kemudian beranjak ke kamarnya untuk bersiap. “Sayang.” “Ya Nek? Ada yang perlu Elara bantu?” “Tidak. Untuk pengobatan Nenek, kamu sudah jangan pikirkan. Nenek gak begitu sakit, kok. Lagian Nenek sudah tua. Mungkin memang sudah waktunya…” “Nek. Biar aku urus Nenek. Tolong, ya?” Tanpa menunggu jawaban neneknya, dia pergi bergegas ke kamarnya. Dadanya sesak memikirkan apa yang dibicarakan neneknya. “Aku harus mendapatkan pekerjaan. Apa pun itu!” *** Elara menatap jam di ponselnya, lima belas menit lagi akan jam sembilan malam. Dia tiba lebih cepat karena takut kehilangan satu-satunya peluang mendapatkan uang. Udaranya sangat dingin. Tubuh Elara menggigil. “Miss Elara?” “Ya. Saya,” jawab Elara dengan cepat. “Baik, silahkan lewat sini, Miss.” “Terima kasih. Oh, Anda tidak perlu memanggil saya Miss. Cukup Elara saja.” Pria itu hanya membalas dengan senyuman dan melanjutkan memandu Elara menuju ruangan yang telah disiapkan. Setelah beberapa lorong dan lantai dari elevator, Elara dan pria itu sudah sampai di depan ruangan yang dituju. Tok! tok! tok! “Nyonya, kami sudah tiba,” sapa pria itu. “Masuk, David.” David mengangguk dan membukakan pintu untuk Elara. Elara tersenyum berterima kasih dan masuk ke ruangan itu. Ruangan yang besarnya dua sampai tiga kali lipat dari kamar tidurnya. Wangi mewah tercium di hidungnya. Ia melihat sekeliling ruangan. Ruangan itu memiliki barang dan furniture yang tertata dengan baik. Dan di tengah ruangan itu, terlihat kursi yang membalik. Elara memperhatikan kursi putar yang membalik dengan perlahan. Seorang wanita tua seketika terlihat. Penampilan mewah yang membuatnya terlihat lebih muda dari umurnya itu sangat cocok untuknya. Cerutu ia selipkan di kedua jarinya, lalu dia menghirupnya dan menghembuskannya perlahan. Tatapannya melihat ke arah Elara dari atas ke bawah. Elara kikuk, ia menelan ludah dengan pelan. Ia membenarkan penampilannya reflek karena tatapan wanita itu padanya. “Kau datang, Miss Elara.” “Ya, Nyonya. Terima kasih sudah mengundang saya.” Wanita itu mengangguk, melihat ke arah David. “Miss, silahkan duduk.” David memandu Elara untuk duduk di sofa yang berada di depan meja kerja tempat Nyonya Ratih duduk. Ratih ikut bangkit dan duduk tepat di hadapannya. Elara memperhatikan gerakan elegan Ratih dengan tertekan. “Jadi—” “Anda belum dipersilakan berbicara, Miss,” tegur David yang membuatnya terkejut. “M-Maaf, Nyonya.” “Tidak apa, Miss Elara.” Wanita itu tersenyum, tetapi Elara justru merasa tubuhnya merinding ngeri melihatnya. Elara menunduk, tangannya meremas tangan lainnya. “Seharusnya aku tidak boleh masuk dalam urusan Pratama Group,” batinnya. Keringat dingin mengalir di keningnya. Skenario buruk tiba-tiba memasuki pikirannya. “Jangan-jangan mereka benar-benar mempekerjakan aku ke dalam pekerjaan terlarang?” batinnya terus membuatnya tambah lemas. “Jangan takut,” ucap Nyonya Ratih mencoba menenangkannya. “Apakah kau ingin tahu pekerjaan apa yang kami tawarkan untukmu? Oh sebelumnya kenalkan namaku Ratih.” Elara mengangkat wajahnya perlahan dan mengangguk lemas. Wanita itu tersenyum kembali, “Jadilah pasangan untuk cucuku.” Mata Elara membelalak, mulutnya pun tidak bisa ia tahan menganga. “Apa maksud Nyonya?” “Bukan pasangan betulan. Kau akan menjadi pendampingnya selama waktu yang aku tentukan.” Elara menggeleng, “T-tidak bisa, Nyonya. Saya tidak pantas untuk mendampingi cucu Anda. Pewaris Pratama Group tidak membutuhkan saya untuk menjadi pendampingnya.” Mendengar hal itu, Ratih yang sebelumnya tersenyum, terlihat marah. Ia memukul meja di depannya dengan kencang. Membuat Elara terlonjak kaget. Ia langsung menunduk kembali. “Bukan urusanmu apakah dia butuh atau tidak! Semua yang aku putuskan harus dilakukan! Mengerti?!” Elara mengangguk-angguk dengan cepat sambil terisak. “B-Baik Nyonya. S-saya bersedia.” Ratih kembali tenang, dan bersandar di sofanya dengan santai. “Nah, karena kau sudah menerima, silahkan tanda tangani kontrak ini.” Ratih menerima beberapa lembar dokumen dari David dan langsung memberikannya kepada Elara. Dengan tangan gemetaran, Elara mengambil itu. “Bacalah dulu. Kau boleh menambahkan atau mengajukan sesuatu atas pasal-pasal yang aku sudah sematkan di sana.” Elara membacanya dengan perlahan, ia tidak ingin ada satupun keterangan yang tertinggal yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari. “Nyonya… Apa ini sungguh harus kulakukan?” “Ya.”“Mati aku! Dia ada di sana berapa lama? Dia dengar semua yang aku obrolin?” gumam Elara sambil mengigit bibirnya.“P-Pak Arvan? Tadi saya kira Bapak lagi di luar…” Elara tersenyum kaku. Bi Sari langsung mundur dan keluar begitu saja.“Memangnya kalau aku di luar, kau bisa bebas membicarakanku begitu saja?” Pria itu berjalan masuk tanpa pamit.“Halo, Pak. Saya belum mengizinkan Bapak masuk kamar saya. Kamar seorang gadis, loh.”Pria itu tetap berjalan memasuki kamar Elara dengan tekanan yang mengintimidasi Elara. Ia membungkukkan badannya sampai wajahnya tepat berada di depan wajah Elara.“Kau duluan yang sudah mengusik privasiku.”Elara mengerjapkan matanya terkejut. Ia dengan cepat memundurkan kepalanya sampai terjatuh di kasur. Menyebabkan Arvan ikut kehilangan keseimbangan dan hampir menindih Elara.Untungnya tangan Arvan berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh di tubuh kecil Elara. Mereka saling berpandangan. Beberapa saat mereka sama-sama saling mengamati wajah masing-masing
Ratih terkejut dengan reaksi Elara, “Ada apa dengamu?”“M-Maaf, Nek. Aku kira bukan Arvan yang-—”“Emang ada apa dengannya sampai kamu berpikir begitu?” Ratih menatapnya tajam sambil menyimpan cangkir teh mewahnya.“M-maksud saya, bukannya Pak Arvan sudah memiliki anak? Berarti dia sudah menikah. Jadi, saya tidak menyangka kalau beliau—”“Hahahaha.” Alih-alih menjawab, Ratih malah tertawa kencang. Lalu menutup mulutnya khawatir kebablasan. Ia berdehem, “Kau ini lucu. Sebenarnya apa yang kamu ketahui dari keluarga Pratama ini?”Elara mengedipkan matanya, “Yang saya tahu, Pratama Group itu perusahaan terbesar kedua, Nyonya. Anda sangat kaya raya.”“Terima kasih, Nak. Namun yang kutanya, bukan tentang perusahaanku. Apa kamu tahu tentang keluarga kami?”“Ah, apa yang Nenek maksud anggota keluarganya? Maaf Nenek, saya tidak mengetahui sampai sana.”Ratih menatap Elara menyipit. Ia meminum kembali tehnya perlahan. Kemudian, “Apa aku salah menawari pekerjaan ini padamu?”Elara membeku, “Apa
“Tapi… kami hanya tunangan, kan? Kenapa ada pasal memiliki keturunan?”Ratih dan David saling bertatapan beberapa saat. Lalu keduanya saling menunduk. Ratih berdeham, “Mari kesampingkan soal pasal itu. Pasal lainnya apa siap?”“Kalau membantu merawat, menjaga, dan mendidik anak umur lima tahun… saya punya pengalaman. Saya—”“Ya. Kau guru honorer TK. Aku tahu.”Elara mendongak terkejut, “Anda sudah tahu?”“Kau pikir aku ini siapa? Aku tidak akan memberikan penawaran ke sembarang orang. Aku sudah mempelajari latar belakangmu,” jelasnya sambil membuka lembaran terkait kehidupan Elara.“Kau tidak memiliki orangtua, tinggal hanya dengan Nenekmu. Kau butuh uang perawatan dan operasi Nenekmu yang sakit, tetapi sedang cuti paksa tanpa tahu kapan berakhir masa cutinya. Tanpa gaji.”Mendengar semua itu, Elara sangat marah karena tersinggung, “Apa hak Anda untuk menggali latar belakang saya, Nyonya?”“Saya tidak akan menerima tawaran Anda. Lagipula semua kontrak itu tidak seimbang dengan kerugia
“Anda bilang Pratama Group?” Elara mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Ada urusan apa Pratama Group dengan saya? Maaf, sepertinya Anda salah sambung, Pak.”“Tunggu, Miss Elara. Kami benar menghubungi Miss.”Elara kembali mendengarkan lawan bicaranya itu, “Menghubungi saya untuk apa, Pak? Saya tidak merasa memiliki urusan dengan pihak Pratama Group.”David terdiam beberapa saat, seolah sedang menyiapkan jawaban yang dapat dimengerti Elara.“Mohon maaf, Miss, kami tahu Miss Elara sedang sibuk. Namun, apa bisakah Miss Elara meluangkan waktu untuk bertemu di kantor kami malam ini?”“Ada apa lagi, sih? Belum beres urusan yang satu, ini ada lagi yang harus kuurus. Apa yang mereka inginkan?” batin Elara sambil memijat kepalanya.“Sekali lagi, Pak. Ada urusan apa?” Emosi dalam diri Elara semakin menumpuk.“Atasan saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk Anda.”Pekerjaan?Satu kata itu berhasil membuatnya terdistraksi dari rasa kesalnya. Setelah semua yang terjadi hari ini, dirinya yang
“Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya. “Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput. Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya. “Kalau saja aku punya kerjaan sa







