Mag-log inRatih terkejut dengan reaksi Elara, “Ada apa dengamu?”
“M-Maaf, Nek. Aku kira bukan Arvan yang-—” “Emang ada apa dengannya sampai kamu berpikir begitu?” Ratih menatapnya tajam sambil menyimpan cangkir teh mewahnya. “M-maksud saya, bukannya Pak Arvan sudah memiliki anak? Berarti dia sudah menikah. Jadi, saya tidak menyangka kalau beliau—” “Hahahaha.” Alih-alih menjawab, Ratih malah tertawa kencang. Lalu menutup mulutnya khawatir kebablasan. Ia berdehem, “Kau ini lucu. Sebenarnya apa yang kamu ketahui dari keluarga Pratama ini?” Elara mengedipkan matanya, “Yang saya tahu, Pratama Group itu perusahaan terbesar kedua, Nyonya. Anda sangat kaya raya.” “Terima kasih, Nak. Namun yang kutanya, bukan tentang perusahaanku. Apa kamu tahu tentang keluarga kami?” “Ah, apa yang Nenek maksud anggota keluarganya? Maaf Nenek, saya tidak mengetahui sampai sana.” Ratih menatap Elara menyipit. Ia meminum kembali tehnya perlahan. Kemudian, “Apa aku salah menawari pekerjaan ini padamu?” Elara membeku, “Apa saya punya salah, Nek?” Ia panik Ratih berkata demikian karena khawatir dirinya akan dipecat dan harus membayar uang biaya pengobatan Neneknya. “Ya.” Elara berlutut meminta maaf, “Maaf, Nyonya. Saya salah,” mohonnya dengan menundukkan kepalanya di samping lutut Ratih. Ratih terkejut dan segera membantu Elara untuk kembali ke tempat duduknya. “Elara Maheswari… apa yang harus kau lakukan ketika hendak bekerja di suatu tempat?” Elara yang panik itu seketika terdiam, lalu dia mengerti apa maksud pertanyaan Ratih padanya itu. “Nenek, aku salah. Aku harusnya mencari tahu dulu tentang kondisi tempat kerjaku. Bahkan sampai tidak mengetahui tentang Tuan Arvan.” “Kau sudah mengerti sekarang. Tolong lakukan kerjaanmu dengan baik. Bagaimana kamu mau melakukannya kalau kau sendiri tidak tahu apa-apa tentangnya.” Elara menunduk. Ia meras Nyonya Ratih benar. Sudah sepantasnya dia mencari tahu siapa yang akan ditunangkan dengannya. Meskipun itu pertunangan kontrak. “Misi pertamamu di rumah ini adalah itu. Cari tahu semua hal yang berhubungan dengan Arvan. Sebanyak yang kau bisa kumpulkan. Laporkan padaku hasilnya besok.” Ia mengambil kukis keju dengan santai. “B-besok, Nyo- Nek?” Ratih mengangguk sambil mengunyah kukis dengan anggun. Kemudian, “Dan jangan lupa tentang panggilanku. Jangan salah terus. Biasakan, Nak.” Elara mengangguk paham, “Baik, Nek. Terima kasih masih menerima saya.” “Baiklah, aku sudah kenyang. Aku mau istirahat di kamarku. Kau kembalilah lagi ke atas.” Elara mengangguk dan segera bangkit. “Terima kasih, Nek.” Ratih menjawab dengan anggukan kecil. Namun, ketika Elara baru membalikkan badannya, wanita itu kembali memanggilnya. “Elara…” Elara langsung kembali menghadap Ratih, “Ya, Nek?” “Cari semuanya. Kebaikannya, keburukannya, rumor-rumor yang tersebar, juga masukkan juga pendapatmu sendiri tentangnya di laporan besok.” Elara mengerjapkan matanya, “Sebanyak itu, Nek?” “Ya, itu standar minimumnya, Sayang.” Ia mengangkat tangannya, “Satu lagi. Jangan sampai ketahuan.” “Ha?” “Kalau sampai Arvan tahu kau sedang menyelidikinya, kau gugur.” Elara menelan ludahnya, “Saya harus bagaimana agar tidak ketahuan?” Ratih bersandar pada kursi taman itu dengan santai tetapi masih sangat anggun, “Itu masuk dalam misimu. Temukan caranya. Cari sebanyak mungkin informasi tentangnya tanpa ketahuan. Mengerti?” “Baiklah, Nek. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamitnya. Namun, lagi-lagi jalannya terhenti. “Uhm, Nek… Boleh saya bertanya satu hal?” “Silahkan.” “Sebenarnya, apakah perlu untuk saya tinggal di sini?” Ratih tersenyum tipis, “Ya, kau tinggal di sini untuk menjadi pengasuh Tristan. Itu dulu, sampai pertunangan kalian diadakan. Arvan belum tahu tentang pertunangan ini. Aku akan memperkenalkan kalian dengan statusmu sebagai pengasuh Tristan.” Elara kembali mengangguk, “Terima kasih penjelasannya, Nek.” Kali ini Elara benar-benar pamit dan pergi. Ratih memanggil salah satu pelayan entah apa yang dikatakannya, Elara sudah berjalan agak jauh. *** Elara menyusuri tangga besar berwarna emas. Ia tidak menyangka akan menaiki tangga sebesar itu di hidupnya. Ia hanya melihatnya di sinetron-sinetron saja. “Besar banget rumahnya. Ada berapa kamar, ya?” gumamnya sambil terus melihat sekelilingnya. Sebelumnya, ia tidak sempat memperhatikan sekitar karena sibuk dengan kegugupannya. Tetapi setelah dilewati beberapa saat ini, anehnya dia merasa nyaman di sana. Ia melihat dinding yang dipenuhi lukisan mewah yang harganya mungkin bisa menghidupi dirinya dan neneknya selama beberapa bulan. “Kalau salah satu lukisan ini hilang mereka sadar tidak, ya?” gumam Elara. Elara menampar dirinya sendiri agar tersadar. Akhirnya dirinya sudah sampai di kamarnya kembali. Sebelum masuk kamar, dirinya melirik kamar tengah dan kamar paling ujung. “Karena tadi Arvan keluar masuk kamar ujung, mungkin kamar tengah milik Tristan.” Elara mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengetahui hal besar. “Pantas saja, Nyonya Ratih menempatkanku di sini. Ternyata biar dekat dengan Tristan.” Elara tiba-tiba mengerutkan keningnya, “Tapi kok gak ada suara Tristan? Apa lagi gak ada, ya? Aduh, lupa nanya soal itu.” Dia pun membuka kamarnya dan masuk. Baru duduk beberapa lama di kasurnya, terdengar ketukan di pintu kamarnya. “Miss Elara?” “Ya? Boleh masuk saja…” Wanita itu masuk perlahan, “Permisi, Miss. Ini ada kiriman dari Nyonya Ratih untuk Miss.” Sesaat setelah berkata itu, wanita itu membawa masuk troli berisi kudapan yang mirip dengan apa yang tadi tersaji saat berbicara dengan Ratih. “Wow… Terima kasih, Bi.” Elara melihat kudapan-kudapan dan minuman yang tersaji itu dengan senang. “Apa Nyonya Ratih dengar perut keronconganku, ya?” batin Elara merasa terharu dengan perlakuan hangat Ratih sebagai atasannya. Dia memang tidak sempat menyantap kudapan itu karena malu dan fokus dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tapi Ratih dengan peka membawakan semua kudapan ini hanya untuknya. “Aku akan mengerjakan misi dengan baik, Nenek.” Dia membungkuk sopan pada udara, lalu menyantap dengan nikmat. “Ah… maaf, Bi,” ucapnya malu ketika dia lupa akan kehadiran pelayan itu. Pelayan itu hanya diam dan tersenyum. Ia hendak pamit, tetapi Elara memanggilnya. “Bi, namanya siapa?” Pelayan itu menoleh, “Saya? Saya Sari, Miss.” “Bi Sari, boleh saya bertanya satu hal?” Pelayan itu kembali berdiri tegak menghadap Elara, “Silahkan, Miss.” “Pak Arvan itu… orangnya bagaimana?” Pelayan itu mengedipkan matanya mendengar pertanyaan itu. Elara mengira reaksi Bi Sari yang seperti itu karena pertanyaannya yang tidak tepat. “Maaf, Bi. Saya hanya ingin tahu tentang anggota keluarga ini. Karena saya akan mulai bekerja sebagai pengasuh Tuan Tristan.” Mendengar penjelasannya itu, Bi Sari hanya tersenyum ramah. “Tidak perlu menjelaskan seperti itu, Miss. Maaf tadi saya sedikit kaget karena ada yang bertanya tentang Mas Arvan.” Elara akhirnya merasa lega. “Jadi… Pak Arvan sifatnya gimana?” “Beliau memang terkesan dingin, Miss. Tetapi, kalau sudah mengenalnya, akan tahu kalau beliau merupakan orang yang begitu peduli dengan keluarganya.” Elara terkejut dengan informasi itu. Ia buru-buru mengambil buku catatannya dan mencatat informasi itu. “Lalu, em… Mantan istrinya bagaimana, Bi? Maaf kalau terkesan lancang, saya ingin tahu hubungan orangtua Tristan untuk menentukan pola asuh yang sesuai,” alibi Elara. “Mantannya?” Bi Sari hendak menjawabnya, namun suara berat dan dingin memanggil nama Elara. “Miss Elara?” Bi Sari dan Elara sama-sama menoleh ke arah pintu. Tepat di ambang pintu, berdiri pria yang sedang mereka bicarakan. Elara dan pelayan itu sama-sama membeku. Mereka sudah tertangkap basah.“Mati aku! Dia ada di sana berapa lama? Dia dengar semua yang aku obrolin?” gumam Elara sambil mengigit bibirnya.“P-Pak Arvan? Tadi saya kira Bapak lagi di luar…” Elara tersenyum kaku. Bi Sari langsung mundur dan keluar begitu saja.“Memangnya kalau aku di luar, kau bisa bebas membicarakanku begitu saja?” Pria itu berjalan masuk tanpa pamit.“Halo, Pak. Saya belum mengizinkan Bapak masuk kamar saya. Kamar seorang gadis, loh.”Pria itu tetap berjalan memasuki kamar Elara dengan tekanan yang mengintimidasi Elara. Ia membungkukkan badannya sampai wajahnya tepat berada di depan wajah Elara.“Kau duluan yang sudah mengusik privasiku.”Elara mengerjapkan matanya terkejut. Ia dengan cepat memundurkan kepalanya sampai terjatuh di kasur. Menyebabkan Arvan ikut kehilangan keseimbangan dan hampir menindih Elara.Untungnya tangan Arvan berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh di tubuh kecil Elara. Mereka saling berpandangan. Beberapa saat mereka sama-sama saling mengamati wajah masing-masing
Ratih terkejut dengan reaksi Elara, “Ada apa dengamu?”“M-Maaf, Nek. Aku kira bukan Arvan yang-—”“Emang ada apa dengannya sampai kamu berpikir begitu?” Ratih menatapnya tajam sambil menyimpan cangkir teh mewahnya.“M-maksud saya, bukannya Pak Arvan sudah memiliki anak? Berarti dia sudah menikah. Jadi, saya tidak menyangka kalau beliau—”“Hahahaha.” Alih-alih menjawab, Ratih malah tertawa kencang. Lalu menutup mulutnya khawatir kebablasan. Ia berdehem, “Kau ini lucu. Sebenarnya apa yang kamu ketahui dari keluarga Pratama ini?”Elara mengedipkan matanya, “Yang saya tahu, Pratama Group itu perusahaan terbesar kedua, Nyonya. Anda sangat kaya raya.”“Terima kasih, Nak. Namun yang kutanya, bukan tentang perusahaanku. Apa kamu tahu tentang keluarga kami?”“Ah, apa yang Nenek maksud anggota keluarganya? Maaf Nenek, saya tidak mengetahui sampai sana.”Ratih menatap Elara menyipit. Ia meminum kembali tehnya perlahan. Kemudian, “Apa aku salah menawari pekerjaan ini padamu?”Elara membeku, “Apa
“Tapi… kami hanya tunangan, kan? Kenapa ada pasal memiliki keturunan?”Ratih dan David saling bertatapan beberapa saat. Lalu keduanya saling menunduk. Ratih berdeham, “Mari kesampingkan soal pasal itu. Pasal lainnya apa siap?”“Kalau membantu merawat, menjaga, dan mendidik anak umur lima tahun… saya punya pengalaman. Saya—”“Ya. Kau guru honorer TK. Aku tahu.”Elara mendongak terkejut, “Anda sudah tahu?”“Kau pikir aku ini siapa? Aku tidak akan memberikan penawaran ke sembarang orang. Aku sudah mempelajari latar belakangmu,” jelasnya sambil membuka lembaran terkait kehidupan Elara.“Kau tidak memiliki orangtua, tinggal hanya dengan Nenekmu. Kau butuh uang perawatan dan operasi Nenekmu yang sakit, tetapi sedang cuti paksa tanpa tahu kapan berakhir masa cutinya. Tanpa gaji.”Mendengar semua itu, Elara sangat marah karena tersinggung, “Apa hak Anda untuk menggali latar belakang saya, Nyonya?”“Saya tidak akan menerima tawaran Anda. Lagipula semua kontrak itu tidak seimbang dengan kerugia
“Anda bilang Pratama Group?” Elara mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Ada urusan apa Pratama Group dengan saya? Maaf, sepertinya Anda salah sambung, Pak.”“Tunggu, Miss Elara. Kami benar menghubungi Miss.”Elara kembali mendengarkan lawan bicaranya itu, “Menghubungi saya untuk apa, Pak? Saya tidak merasa memiliki urusan dengan pihak Pratama Group.”David terdiam beberapa saat, seolah sedang menyiapkan jawaban yang dapat dimengerti Elara.“Mohon maaf, Miss, kami tahu Miss Elara sedang sibuk. Namun, apa bisakah Miss Elara meluangkan waktu untuk bertemu di kantor kami malam ini?”“Ada apa lagi, sih? Belum beres urusan yang satu, ini ada lagi yang harus kuurus. Apa yang mereka inginkan?” batin Elara sambil memijat kepalanya.“Sekali lagi, Pak. Ada urusan apa?” Emosi dalam diri Elara semakin menumpuk.“Atasan saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk Anda.”Pekerjaan?Satu kata itu berhasil membuatnya terdistraksi dari rasa kesalnya. Setelah semua yang terjadi hari ini, dirinya yang
“Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya. “Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput. Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya. “Kalau saja aku punya kerjaan sa







