Share

Tawanan Tuan Kama
Tawanan Tuan Kama
Auteur: Elios

1

Auteur: Elios
last update Dernière mise à jour: 2025-12-07 22:15:40

Laki - laki di depan Kila ini memang brengsek. Bahkan saat mata Kila sudah memanas karena menahan air mata yang siap tumpah, Kama, nama laki - laki brengsek itu. Ia tidak peduli dengan Kila, bagaimanapun mereka telah melewatkan malam bersama. Sebagai seorang suami dan istri. Tapi sekarang?

Kama bahkan tak bereaksi apa - apa dengan kesedihan di wajah Kila yang terang - terangan di perlihatkan oleh wanita itu.

“Orang - orangku akan segera mengemasi barang - barangmu,” Kama berdiri sembari berlalu meninggalkan Kila.

Kila tersentak, setelah menunggu kata - kata maaf atau ampunan, atau permohonan atau apapun itu... rupanya yang keluar dari mulut Kama, adalah kalimat berisi perintah untuk segera angkat kaki dari rumahnya.a

Kama tak berbalik badan sedikitpun, sedangkan KIla sudah siap berdiri. Siap untuk menginterupsi.

“Kenapa? Kenapa Kama!” jerit Kila dengan pedihnya.

“Kenapa kamu membuangku.... “ isak Kila dengan pedihnya, ia terhuyung dan segera mencari sandaran. Kila syok, tubuhnya bahkan tidak punya energi untuk bangkit.

“Kenapa kamu membuangku sekarang.... “ isak Kila dengan pedihnya.

Alis Kama terangkat, ia seakan tak suka dengan kata dibuang. Ia tak merasa membuang gadis bernama Kila itu.

“Kita bercerai,” ujar Kama, membenarkan.

“Kamu membuangku,” sangkal Kila, ia menegakan kepalanya. Menatap punggung Kama lurus - lurus. Bahkan sampai detik ini, Kama tidak membalikan badannya.

“Setelah menikmati tubuhku, kamu membuangku.” desis Kila dengan pedihnya.

Merasa tak senang dengan semua ucapan Kila, Kama akhirnya berbalik badan.

“KIta bercerai, dan aku tidak membuangmu.” tegas Kama, dan dengan seringai tajam Kama menatap Kila, “Dan bukan hanya aku saja yang menikmati kenangan semalam, kamu juga menikmatinya Kila. Aku bahkan masih ingat desahan kamu yang tiada hentinya.”

Bibir Kila memucat, di otaknya... ia mengingat kembali kenangan semalam. Tapi bukan karena apa, nada merendahkan Kama yang membuatnya marah.

“Aku benci Kamu.” maki Kila dan Kama hanya tersenyum puas sembari melenggang pergi.

****

****

****

Dan benar saja, seperti yang dikatan oleh Kama. Barang - barang milik Kila yang baru saja di masukan ke dalam rumah itu sehari sebelumnya, kini sudah tersusun rapi di dalam koper. Di halaman rumah yang luas itu, Kila mematung dengan hampa.

Ia baru saja menikah kemarin, belum ada sehari?

Tapi kini ia sudah menyandang status janda?

Kila berdiri dengan lemas, tanpa di sadari ada tangan yang dengan sigap menopang Kila.

Hampir saja Kila limbung dan ambruk ke tanah, tapi pemilik tangan itu berhasil menyelamatkannya.

“Orang bijak bilang tidak baik bersedih berlama - lama,” tutur pria yang kini memapah Kila menuju mobil. Kila hanya menurut saja, ia bahkan tidak tau siapa yang menolongnya. Kila menengok ke belakang, melihat lawan bicaranya.

Rupanya ia... laki - laki yang jadi orang kepercayaan Kama. Kila tidak tau namanya, ia bahkan tak sempat berkenalan.

Intinya, dia adalah laki - laki yang sama, yang menjemput Kila di rumah Pamannya dan kini, Kila juga diantar kembali oleh laki - laki itu.

“Apa orang bijak itu juga diceraikan sehari setelah menikah?” tanya Kila.

Laki - laki itu meringis, Kila bisa melihatnya dari pantulan pintu mobil. Tangan itu dengan sigap membuka pintu mobil untuknya, menuntun Kila untuk duduk dan segera menyandarkan bahu.

“Mungkin orang bijak yang aku maksud tidak terlalu bijak,” ujar laki - laki itu.

Kila menghela nafas berat. Ia memejamkan matanya yang terasa berat. Ia butuh istirahat. Dua hari ini ia sudah berperang melawan batinya, melawan keluarga Pamannya dan juga melawan Kama.

Tenaga Kila sudah di babat habis, apalagi semalam... KIla menggelengkan kepalanya cepat, berusaha melupakan akan kenanganya semalam.

Ah sudahlah, itu bukan kenangan yang baik. Itu kenangan buruk!! Tidak pantas untuk diingat ingat.

“Aku akan menyetir dengan pelan, supaya kamu bisa beristirahat cukup lama.”

Laki - laki itu sudah berada di kursi kemudi, yang bahkan Kila sendiri tidak menyadarinya.

“Terimakasih, atas pengertianya.... “

Laki - laki itu tersenyum tulus, “Istiratkanlah tubuhmu.... “ ujarnya.

Dan selang beberapa menit, tidak ada yang bisa mengganggu Kila dari tidur lelapnya. Telinganya bahkan mendadak tuli, sekitarnya menjadi senyap. Kila masuk ke dalam alam mimpi. Terlelap saking nyenyaknya.

*****

*****

*****

Tapi, ini waktu yang singkat jika digunakan untuk mengistirahatkan pikiran Kila.

Pikiran Kila terlalu berkecamuk, banyak sekali suara - suara yang berdebat di otaknya. Dan kini, mobil yang di tumpaki Kila mulai memasuki halaman rumah.

Perlahan, mobil itu melambatkan lajunya. Kemudian ia berhenti tepat di depan pintu masuk rumah. Rumah dengan pintu berwarna putih. Pintu dan kusen itu baru saja di cat baru, Kila ingat itu. Warna putihnya bahkan belum pudar.

Kila menyeringai, ia kembali ke rumah ini. Lebih tepatnya, neraka yang tidak bisa Kila tinggalkan... setelah di tumbalkan untuk menikah dengan orang yang tidak Kila kenal, ia kembali lagi ke rumah ini.

“Kita sudah sampai.... “ ujar pria di kursi kemudi. Ia sejak tadi menunggu Kila siap untuk turun.

Kila meneguk ludahnya dengan kelu, bagaimanapun ia harus turun bukan?

Kila bergegas membuka pintu mobil hendak turun.

“Akan saya bantu membawa barang - barang sampai ke dalam,” ujar pria itu.

Kila hendak menolak, tapi mengingat barang bawaanya yang terlampau banyak, ia mengundurkan diri, “Terima kasih... “ alih - alih kata penolakan, yang terucap di bibir Kila malah ucapan terima kasih.

Pria itu mengangguk cepat, dengan sigap ia keluar dan menuju ke belakang mobil. Menurunkan barang bawaan Kila dengan cepat tanpa terlihat kewalahan. Padahal isi koper Kila tidak bisa di bilang enteng.

“Mari.... “ Kila berjalan pelan, menuju pintu. Begitu berat hati untuk Kila kembali ke rumah ini.

Pintu terdorong dengan pelan, langkah Kila terasa berat. Begitu ia sudah sepenuhnya masuk, Kila langsung melihat ruang tamu. Menuju lorong, di sanalah letak kamar - kamar di rumah ini , di bagian tengah bangunan dengan bagian belakang bangunan yang di jadikan dapur.

“Dimana letak kamar anda?” tanya pria itu, pertanyaan itu menyadarkan Kila dari lamunanya sejenak.

“Ah mari.... “ Kila menyusuri lorong, ada empat kamar yang saling berhadapan, satu kamar Paman dan Bibinya. Itu adalah kamar utama yang ukurannya paling besar di rumah ini. Kemudian, ada dua kamar lagi di sebelah kiri yang berhadapan dengan kamar Paman dan Bibi Kila, itu adalah kamar dua sepupu Kila. Kamar Kemala dan Karin.

Kila melewati tiga kamar itu dengan cepat, kamarnya ada di bagian paling ujung. Ruangan yang ukurannya paling kecil. Sebenarnya, itu bukan kamar. Dulunya ruangan itu di jadikan gudang. Namun karena Kila sudah tidak diperbolehkan menumpang di kamar Kemala atau Karin, Pamannya dengan berat hati harus mengeluarkan barang barang di gudang itu. Meski sebenarnya, barang - barang di dalam sana sudah tak terpakai lagi.

Dan jadilah, dalam waktu singkat. Gudang yang penuh barang - barang rongsokan itu disulap menjadi kamar Kila. Kamarnya sempit dan memanjang. Ada satu jendela kecil sebagai pencahayaan satu - satunya agar tidak pengap dan Kila bisa menghirup udara bebas.

Kila berdiri di depan pintu kamarnya. Sedikit ragu, ia takut sehari saja ia pergi dari rumah ini, kamarnya sudah di sulap kembali menjadi gudang.

Klek....

Suara gagang pintu yang di putar, Kila menarik nafas dalam sembari mendorong pintu kamarnya. Kila tersenyum lega, kamarnya masih utuh. Dengan dipan kecil ukuran sembilan puluh kali seratus dua puluh sentimeter. Itu adalah dipan milik Kemala atau Karin, dulu sekali.... Kila lupa tepatnya milik siapa. Tapi seingat Kila, itu adalah dipan saat sepupunya masih bersekolah di SD.

Badan Kila yang cukup tinggi, tak sebanding dengan dipan yang ia pakai. Alhasil.... ia harus menekuk kakiknya tiap tidur agar tidak melewati sisi dipan.

“Taruh saja kopernya disini, biar aku beresi nanti... “ KIla menunjuk ke pojok ruangan, tepat di sisi pintu. Kila tersenyum tipis melihat ekspresi pria di depannya itu. Ia sepertinya kaget dengan ruangan yang ia sebut sebagai ‘kamar’ ini.

“Terima kasih banyak.” ucap Kila, ia mengambil alih kopernya, kemudian ia berjalan keluar diikuti pegawai Kama itu. Belum sempat Kila berbalik badan, ia terkejut karena di pelototi oleh sepupunya. Kemala.

Tatapan matanya menunjukan kekesalan yang entah apa pemicunya.

“Mama!!!”

Kila bukan lagi dikejutkan oleh teriakan Kemala, tapi siapa yang ia panggi. Bibi Kila segera muncul dari pintu belakang. Sama seperti Kemala, keterkejutan adalah ekspresi awal Bibi Kila saat melihat Kila kembali.

“Kamu?!” Bibi KIla berjalan mendekatinya sembari menunjuk wajah Kila, “Kenapa kamu kembali ke sini.” ucapnya dengan tidak senang.

“Iya, kenapa kamu balik ke sini lagi. Mau mencuri ya!” bentak Kemala.

Kila tak tau harus menjawab apa dengan cecaran pertanyaan yang sangat memojokan dirinya ini.

Tapi, untung.... saja. Pegawai Kama dengan sigap memasang badan.

Melihat sosok asing di samping Kila yang seakan menjadi bodyguard Kila, sontak nyali Kemala dan Bibi Kila itu langsung ciut.

“Kama yang meminta Kila untuk kembali tinggal disini.” jelasnya dengan singkat dan padat. Bahkan hanya dengan menyertakan nama Kama di kalimat singkatnya, Kemala dan ibunya itu tak lagi memberontak. Mereka kompak membisu. Bahkan mata Kemala yang semula memelototi Kila, kini tertunduk takluk.

“Kalau begitu, silahkan duduk. Biar saya siapkan minum.” Bibi Kila langsung merubah sikapnya. Berubah menjadi tuan rumah yang ramah tak seperti kesan pertama yang ia berikan tadi.

“Tidak usah... “ tolak anak buah Kama itu dengan cepat. “Saya hanya di tugaskan untuk mengantar Kila, selanjutnya Kama yang akan datang menemui Pak Zainal untuk berbicara empat mata.” tuturnya.

Bibi KIla mengangguk paham tanpa berani bertanya hal - hal yang lain.

“Kalau begitu, saya pamit. Akan saya sampaikan sambutan manis di rumah ini.... “ ucapnya penuh sindiran.

Kila tersenyum tipis, terlihat jelas kalau wajah Kemala sudah memerah karena marah dengan sindiran barusan. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa melawan.

Setelah anak buah Kama benar - benar pergi, KIla hendak masuk ke kamarnya untuk membereskan barang - barangnya. Memindahkan pakaianya dari koper ke nakas kecil.

Belum juga Kila masuk, Kemala sudah menghadangnya. Tangan Kemala mencengkeram erat tangan Kila yang tengah memegang handle pintu.

“Aku tidak tau, apa yang akan di bicarakan oleh Tuan tanah Itu ke ayahku. Semoga kamu tidak berbicara macam - macam tentang keluarga ini.”

Dengan halus, Kila melepaskan cengkeraman tangan Kemala.

“AKu juga tidak tertarik untuk menceritakan kebobrokan keluarga ini.”

Dengan cepat Kila masuk dan menutup pintu, terdengar suara dobrakan kecil dari luar. Kemala hendak menyelusup masuk tapi Kila sudah mengunci pintu dari dalam.

Kila bersandar pada pintu, ia menarik nafas panjang. Sulit sekali berpikir tenang di situasi seperti ini.

“Awas ya Kila!!! Kalau kamu terbukti berbicara yang aneh - aneh pada Kama dan membuat Ayahku kena masalah!” teriak Kemala penuh ancaman. Kila tak menghiraukan ancaman Kemala, toh faktanya. Ia bahkan tidak berbicara banyak pada Kama.

“Sebenarnya, siapa Kama sebenarnya.... “

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya rembulan menerobos tiap dedaunan di sepanjang jalan. Tak pernah terbayang di benak Kila kalau ia akan duduk di bonceng oleh Kama.“Jam berapa sekarang?” tanya Kila, ia ingin sekali cepat pulang. Meski ini adalah pengalaman pertamanya di tengah - tengah hutan dengan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan, tapi Kila tidak ingin mengambil resiko di amuk oleh Bibi Aini. “Masih punya banyak waktu untuk pulang, tunggu sebentar. Ada yang harus aku pastikan.” Kama menjawab dengan santai. Kila berdecak kesal, apa yang sebenarnya di tunggu oleh Kama? Sejak tadi ia hanya duduk sembari memandangi pepohonan, sesekali sorot matanya yang tajam seperti menembus kegelapan, masuk ke dalam hutan sa

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan pekerjaanya seperti biasa... Hari ini cukup ramai, mungkin karena cuaca yang cukup bersahabat. Cerah dan angin semilir membuat orang - orang betah jalan - jalan di luar. Apalagi duduk di tepi pantai menunggu petang. Menunggu senja, momen pergantian hari, orang bilang senja adalah sepuluh detik yang menakjubkan. Wujud kuasa Tuhan yang bisa mengubah bilah bilah cahaya keemasan, keindahan yang dikemas dalam waktu singkat di dunia yang fana ini. Golden hour. Orang luar menyebutnya. Warna jingga keemasan, merona, merekah di belahan bumi yang siap menyambut malam. Dan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, warna jingga itu menghilang. Berganti biru magis yang menggelap seiring waktu.Setiap ha

  • Tawanan Tuan Kama   7

    Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal. Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran

  • Tawanan Tuan Kama   6

    Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelum

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status