Share

2

Penulis: Elios
last update Tanggal publikasi: 2025-12-07 22:18:13

Kila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.

“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak bisa menahan gejolak emosi yang membuat dadanya sesak.

Kepala Kila tertunduk. Ia menangis sejadi jadinya. Rasa sakit di hatinya, tidak bisa tertahankan. Bahkan rasa sakit di pangkal pahanya masih terasa sakit sampai sekarang. Dan yang Kila tau, seorang Kama hanya meninggalkan luka di jiwa, dan tubuhnya. Kila menggertakan giginya, ia bersumpah. Dalam kebetulan manapun, ia tak ingin bertemu dengan laki - laki itu. Kama.

***

***

Kila duduk di tepi ranjang, ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menempati ruangan sebesar ini. Ruangan yang disediakan untuknya, begitu luas. Bahkan terlalu luas kalau hanya untuk di tinggali oleh Kila.

Kila melihat sekeliling kamar, benar - benar sudah di siapkan.

“Apa dia mempersiapkan semua ini ? “ gumam Kila, sedikit takjub. Pernikahan mereka bahkan bisa di bilang mendadak. Ah bahkan itu kurang tepat. Pernikahan mereka bahkan sangat cepat, pernikahan kilat. Kila beranjak dari kasur, ia mendekati lemari berwarna putih, di sampingnya terdapat meja rias.

Kembali, Kila di kejutkan dengan isi lemari, bahkan meja rias yang sudah lengkap dengan segala pernak perniknya.

“Apa Kama yang mempersiapkan semua ini? Sungguh?”

Kila memegang pipinya, ia merona sejenak.

Apa diam - diam Kama memperhatikan Kila? Bahkan sebelum mereka menikah?

Kila tersipu malu dengan imajinasinya sendiri. Perlahan, kila membuka lemari, disana banyak sekali pakaian - pakain yang bahkan belum pernah ia miliki sebelumnya.

Kila mengambil salah satu pakaian di dalam lemari, sebuah atasan lengan panjang berwarna cream yang terlihat sangat cantik dengan tali di sampingnya. Kila memegang pakaian itu, tanpa perlu konfimasi. Kila tau kalau itu adalah baju yang mahal.

Ini baju yang mahal, ujar Kila. Kila kembali melihat lihat isi di dalam lemari. Terbilang lengkap karena jenis pakaian tersedia di sana. Celana, rok, atasan berlengan panjang bahkan yang berlengan pendek. Formal ataupun nonformal.

Kila tak bisa bernafas saat melihat sebuah pakain seksi untuk pasangan suami istri. Pakaian yang terlihat kurang bahan itu terkesan menunjukan lekuk tubuh dan memberi kesan garang bila di pakai.

Kila tidak bisa membayangkan bila tubuhnya terekspos jelas dengan pakaian seperti ini, refleks Kila menutupi dadanya. Bahkan ini tidak cukup untuk menutupi dada, ujar Kila di dalam hati. Entah kenapa ada rasa cemas yang menyelimuti Kila.

Kila menggelengkan kepalanya kuat, tidak - tidak. Mereka suami istri sekarang, apapun yang akan di lakukan Kama malam ini, entah dengan seisi pakaian di lemari ini. Khususnya baju haram itu, Kila tidak bisa menolaknya.

Namun di sisi lain, pikiran waras Kila menyeruak.

Aku tidak mencintai Kama, bahkan pernikahan kamu saja bukan atas dasar cinta. Berarti, apabila Kama mendapatkan penolakan dariku? Itu bukan sebuah masalah bukan?

Krekkk.

Suara pintu yang di buka, mengejutkan Kila. Dan seseorang yang baru saja melenggang masuk ke kamarnya, memberikan efek kejutan yang berkali kali lipat dari serangan jantung itu sendiri.

Itu Kama. Dengan wajah yang terlihat lelah, entah apa yang baru saja laki - laki itu lakukan.

Yang jelas, setelah pernikahan tadi pagi. Kama tanpa pamit langsung pergi lagi. Setelah Kila masuk ke rumah ini, yah sampai ia masuk ke kamar ini. Baru saat ini KIla bertemu Kama lagi.

Kama tanpa berkomentar apapun, hanya melewati Kila sembari melihat apa yang sedang di pegang gadis itu. Tanpa sadar Kama menyeringai, dan itu adalah sinyal kuat yang menyadarkan Kila.

Kama melihat Kila tengah memegang pakaian haram itu.

Refleks Kila melempar pakaian itu ke dalam lemari dan menutup pintu lemari dengan sangat keras.

Kama pasti mendengar suara debuman pintu itu, tapi ia tak berkomentar apapun. Kama justru melangkah pelan menuju kamar mandi, memutar engsel pintu dan masuk. Setelahnya, hampir tiga puluh menit, Kama nampaknya betah sekali di dalam kamar mandi. Kila yang pontang - panting, entah harus bereaksi apa ketika Kama selesai mandi. Ia pasti tidur di sini bukan? Di kamar ini?

Seranjang denganku? Gumam Kila, “Tuhan... aku takut.”

Dan momen yang di antisipasi Kila. Datang juga, Kama keluar dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di pinggangnya. Tubuh yang masih basah itu, melenggang pelan. Kila meneguk ludah dengan gugup. Sangat gugup. Seumur hidupnya, ini kali pertamanya berada di ruangan tertutup dengan laki - laki dewasa, bahkan melihat laki - laki dewasa setengah telanjang. Ini tidak terbayangkan sebelumnya!!!

“Tuhan, aku harus apa?” gumam Kila lirih.

Kama sudah sangat dekat dengan Kila, tapi laki - laki itu nampak acuh. Ia malah sibuk menggosok gosok rambut basahnya.

Kila bisa melihat airnya menyiprat karena terkena sorot lampu. Dan Ya Tuhan! Demi apapun, bayangan tubuh kama yang setengan telanjang itu terlihat sangat.... kekar. Ini adalah tubuh impian para lelaki bahkan impian semua perempuan! Sungguh!

“Kenapa kamu melamun?”

Pertanyaaan yang terlontar dari mulut kama menarik KIla dari lamunanya .

“TI- tidak.” elak Kila.

Kama berjalan mendekati lemari dan membuka pintu lemari lebar - lebar.

“Ish! Apa yang dia lakukan di sana!” hardik Kila dengan suara pelan karena takut.

Kama menyusuri isi lemari itu. Entah kenapa, mengingat potongan adegan saat Kama memasuki kamar, membuat pipi KIla kemabali merona. Ia malu! Malu sekalii!!

“Ah... aku lupa, belum menyiapkan pakaian di kamar ini.... “ ujar Kama dengan nada sedikit kesal.

“Mau aku ambilkan?” tawar Kila, berusaha memecahkan keheningan di antara mereka.

Kama langsung berbalik badan. Ini respon yang sangat baik bukan? Pikir Kila.

Tapi gerakan tangan Kama yang menyilangkan tanganya di depan dada, malah membuat Kila ingin menarik kembali kata - katanya.

Entah kenapa, Kama terlihat sangat..... berbahaya.

Seringai di bibir Kama membulatkan pikiran Kila, kalau Kama memang sangat berbahaya. Apalagi ekspresi entah apa itu di wajah Kama.

“Apa lebih baik, aku seperti ini saja sepanjang malam?” tawar Kama, tentu saja memberikan efek sesak nafas untuk Kila sejenak.

“Ap-pa?” tanyan Kila.

“Yah... seperti ini,” jawab Kama memperjelas maksudnya, ia menunjuk tubuhnya sendiri, “Setengah telanjang seperti ini tidak membuatmu keberatan bukan.” ucap Kama dengan entengnya.

Aku keberatan! Sangat keberatan!!! sayangnya, Kila tidak bisa menyerukan protesnya. Kama sudah berjalan mendekatinya.

Kegugupan KIla sudah sampai puncaknya, Kila ingin menarik diri, tapi ini tidak mungkin! Lari? Itu konyo, mau lari kemana lagi. Ini kamarnya, ah ralat. Kamar Kama juga.

Kama sendiri berjalan santai, baginya melihat ekspresi Kila yang sekarang adalah sebuah kepuasan.

“Ayo.” ucap Kama, Kila bahkan tidak menyadari kapan tangan Kama mengurungnya seperti ini.

“Aku tidak menerima penolakan.” bisik Kama di telinga kiri KIla. Jantung Kila berdegup kencang, tapi ia tak bisa berkata apa - apa.

“Ini akan jadi malam yang panjang, anak manis... “ bisik Kama penuh makna.

****

Akan ada hari yang terasa berat, sampai kamu tidak ingin bangun di hari itu. Kamu hanya ingin terpejam sampai hari buruk itu terlewati begitu saja.

Sama halnya seperti kalian, Kila juga merasakan hal seperti itu. Ia ingin membungkus hari buruk, membuangnya begitu saja. Jadi Kila tidak perlu repot - repot untuk melewati hari sialan, seperti hari ini.

Kila memejamkan matanya, rapat - rapat. Ia berusaha mengabaikan fakta kalau sorot matahari sudah memasuki kamarnya. Bahkan suara kokok ayam jantan, sudah berlalu semenjak setengah jam yang lalu.

Kila hanya tidak ingin bangun hari ini, ia ingin terpejam sampai esok hari. Atau kalau bisa, sampai hari buruk di hidupnya terlewati begitu saja. Namun di tengah usaha keras KIla untuk tetap menutup mata dan pura - pura terlelap. Gedoran pintu kamar Kila, sepertinya tidak bisa di abaikan.

Makin ke sini, suara gedorannya makin kencang dan Kila yakin, hari buruk ini.... baru saja di mulai. Dan satu - satunya pilihan untuk Kila,ia harus melewatinya. Tanpa terkecuali.

“Kila!!! Bangun jangan pura - pura tidur!” teriak Karin dengan keras.

Kila menutup telinganya, ia mengganti posisi tidurnya.

“Kila!! Bangun! Siapkan sarapan atau aku dobrak pintu kamar ini!” ancam Karin dengan sungguh - sungguh.

Kila tau, sepupu menyebalkannya ini tidak pernah main - main dengan yang namanya ancaman. Kila sudah membuktikannya sendiri. Karin pernah hampir menyelakainya, karena ia kesal. Kila tidak memasak makanan pesanan Karin. Karena hari itu Kila tidak mendapatkan uang belanja yang cukup, Kila tidak bisa mengabulkan permintaan Karin. Karin bilang ia ingin makan sop daging, tapi uang belanja kala itu hanya cukup untuk membeli ikan di pasar. Alhasil, Karin kesal dan hampir menyiramkan air panas ke wajah KIla. Untung saja, siraman Karin itu meleset dan Paman Zainal buru - buru melerai Karin yang sedang naik pitam.

“IYaa!!! Sebentar.” KIla berteriak keras, sembari loncar dari tempat tidurnya.

KIla berhenti di depan pintu, ia melepas ikat rambutnya dan sedikit mengacak - acak rambutnya. Hingga terlihat berantakan.

Kila membuka pintu sembari menyipitkan mata, untuk memberi kesan kalau kelopak matanya baru terbuka setelah terpejam semalaman. Tentu saja Karin menyambut kemunculan Kila dengan raut tidak senang.

”Kamu harusnya tau kalau jadwal sarapan di rumah ini tidak boleh ter-lam-bat!” ucap Karin dengan ketus, kini tanganya tersilang di depan dada, menunjukan sikap dominan dan arogan yang terpancar sempurna. Kila bahkan sudah bisa mencium sifat arogan Karin semenjak ia berusia lima tahun!

Kila menguap lebar, akting yang mumpuni untuk meyakinkan Karin kalau hari ini, ia lalai.

“Maaf.... “ ucap Kila sembari menguap dan menutup muluntya, “Aku sangat lelah.... “ kini Kila meregangkan tanganya, melemaskan sendi sendi ditubuhnya. Kali ini Kila sungguhan, ia memang merasa pegal di sekujur tubuhnya. Ranjangya sangat kecil. Ukuran anak - anak.

Karin menatap Kila kesal, meski begitu. Akting Kila ternyata mempan, karena Karin sangat percaya. Bola mata Karin mengamati rambut Kila yang berantakan dengan kesal sembari berdecak sebal, “Yasudah! Cepat buatkan sarapan!” perintah Karin sambil memutar badan dan berlalu.

Kila tersenyum tipis, ia puas dengan aktingnya hari ini. Setidaknya satu tantangan di hari buruk ini, sudah ia lewati. Mission complete!

Kila menutup pintu kamarnya, ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

****

****

Bergelut di dapur bukan lagi hal yang sulit untuk Kila, ia sudah melakukan ini semenjak usia tujuh tahun. Jadi tidak heran kalau Kila sangat mahir memasak di usianya yang sekarang. Sekarang, demi menyenangkan Tuan Puteri rumah ini, Kila akan membuatkan menu kesukaan Tuan Puteri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Tuan Kama   22 ( Bab sedikit berbahaya )

    *** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor

  • Tawanan Tuan Kama   21

    *** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu

  • Tawanan Tuan Kama   20

    *** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga

  • Tawanan Tuan Kama   19

    Kama memacu motornya, melewati hutan dan akhirnya sampai di pondok kayu. Di sana ia sudah melihat Raga dan juga Rafa yang tengah sibuk menyiapkan perapian. Melihat kedatangan Kama, mereka berdua pun melambakan tangan. Kama berhenti dan memarkirkan motornya di samping pondok kayu. Langit terlihat cerah. Garis cakrawala pasti akan terlihat sangat indah jika dilihat dari atas tebing di tepi sana. "Bagaimana? Menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Rafa yang tengah sibuk menyusun kayu bakar yang Raga dapatkan dari hutan. Kama duduk di samping Rafa, sembari memperhatikan Raga yang tengah membuang sisik ikan. "Yah.... Beberapa hal menarik, tapi sedikit yang aku dapatkan." Jelas Kama. Raga yang sibuk membuang insang ikan, kini mulai menguping pembicaraan Rafa dan Kama. "Yah setidaknya... Bepergian hari ini tidak sia - sia. Kita mendapatkan makan malam enak." Raga menunjuk ikan yang ukuranya sama panjangnya dengan lengannya, lebih dari cukup untuk mereka bertiga. Rafa berhasil menyala

  • Tawanan Tuan Kama   18

    Bibi Aini memang orang yang sangat perhitungan masalah uang, tidak dengan siapapun dan tidak akan pandang bulu, bahkan kepada Paman Zainal sekalipun. Bahkah tak jarang, BIbi Aini sering mengoel masalah pengeluaran dan pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak jarang Paman Zainal sudah menambah uang belanja, tapi BIbi Aini sering mengeluh kekurangan uang, yang bahkan ia jarang sekali berbelanja kepasar. Tapi untunglah, Paman Zainal mengerti betul sifat istrinya satu ini. Bibi Aini gila emas, kesanalah semua uangnya dihabiskan. Para tetangga pun sudah hapal dengan tabiat Bibi Aini ini. Bibi Aini sering sekali memamerkan kekayaanya, perhiassan barunya yang baru di beli Paman Zainal dari pulau sebrang, perhiasan keluaran terbaru dan masih banyak lagi. Kila sudah menerima uang pinjaman dari Bibi Aini, setelah kila hitung - hitung uangnya mungkin cukup untuk menjenguk adik Tari. Tinggal menunggu Kama untuk datang. Ia sudah berjanji untuk memberitahu kabar Tari. Sekarang tinggal menungg

  • Tawanan Tuan Kama   17

    "Aku antarkan kamu pulang, berpura - puralah tidak terjadi apa - apa." Kama memberitahu. Kila mengangguk, dan mereka menuju rumah Paman Zainal. Kila sedikit menjaga jarak antara dirinya dan Kama. Ini harus dilakukan. Dengan pelan Kila mundur perlahan. Kama bisa merasakan pergerakan Kila. "Kalau kamu bergerak sekali lagi, kamu akan mati." Kila menelan ludahnya, gugup. "Kita bisa mati kalau kamu terus mencoba menjauh. Aku bisa kehilangan keseimbangan dan kita terjatuh." Jelas Kama. Yah... Benar juga. Masuk akal memang, tapi ada rasa enggan dan takut saat berdekatan dengan Kama. Meski begitu, Kila harus menepis perasaanya sekarang ini. Ini bukan waktunya. Sepanjang jalan, terlihat asri dengan peponohan yang menjulang serta sinar matahari yang mulai menerobos dedaunan, kilau - kilau keemasan itu menakjubkan untuk dilihat. Tapi jalanan ini akan mengerikan ketika dilintasi di malam hari. *** Suara deru motor Kama terdengar hingga ruang tamu di kediaman Paman Zainal. Bibi Aini yang

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet d

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Ka

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya re

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan peker

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status