LOGINKila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.
“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak bisa menahan gejolak emosi yang membuat dadanya sesak. Kepala Kila tertunduk. Ia menangis sejadi jadinya. Rasa sakit di hatinya, tidak bisa tertahankan. Bahkan rasa sakit di pangkal pahanya masih terasa sakit sampai sekarang. Dan yang Kila tau, seorang Kama hanya meninggalkan luka di jiwa, dan tubuhnya. Kila menggertakan giginya, ia bersumpah. Dalam kebetulan manapun, ia tak ingin bertemu dengan laki - laki itu. Kama. *** *** Kila duduk di tepi ranjang, ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menempati ruangan sebesar ini. Ruangan yang disediakan untuknya, begitu luas. Bahkan terlalu luas kalau hanya untuk di tinggali oleh Kila. Kila melihat sekeliling kamar, benar - benar sudah di siapkan. “Apa dia mempersiapkan semua ini ? “ gumam Kila, sedikit takjub. Pernikahan mereka bahkan bisa di bilang mendadak. Ah bahkan itu kurang tepat. Pernikahan mereka bahkan sangat cepat, pernikahan kilat. Kila beranjak dari kasur, ia mendekati lemari berwarna putih, di sampingnya terdapat meja rias. Kembali, Kila di kejutkan dengan isi lemari, bahkan meja rias yang sudah lengkap dengan segala pernak perniknya. “Apa Kama yang mempersiapkan semua ini? Sungguh?” Kila memegang pipinya, ia merona sejenak. Apa diam - diam Kama memperhatikan Kila? Bahkan sebelum mereka menikah? Kila tersipu malu dengan imajinasinya sendiri. Perlahan, kila membuka lemari, disana banyak sekali pakaian - pakain yang bahkan belum pernah ia miliki sebelumnya. Kila mengambil salah satu pakaian di dalam lemari, sebuah atasan lengan panjang berwarna cream yang terlihat sangat cantik dengan tali di sampingnya. Kila memegang pakaian itu, tanpa perlu konfimasi. Kila tau kalau itu adalah baju yang mahal. Ini baju yang mahal, ujar Kila. Kila kembali melihat lihat isi di dalam lemari. Terbilang lengkap karena jenis pakaian tersedia di sana. Celana, rok, atasan berlengan panjang bahkan yang berlengan pendek. Formal ataupun nonformal. Kila tak bisa bernafas saat melihat sebuah pakain seksi untuk pasangan suami istri. Pakaian yang terlihat kurang bahan itu terkesan menunjukan lekuk tubuh dan memberi kesan garang bila di pakai. Kila tidak bisa membayangkan bila tubuhnya terekspos jelas dengan pakaian seperti ini, refleks Kila menutupi dadanya. Bahkan ini tidak cukup untuk menutupi dada, ujar Kila di dalam hati. Entah kenapa ada rasa cemas yang menyelimuti Kila. Kila menggelengkan kepalanya kuat, tidak - tidak. Mereka suami istri sekarang, apapun yang akan di lakukan Kama malam ini, entah dengan seisi pakaian di lemari ini. Khususnya baju haram itu, Kila tidak bisa menolaknya. Namun di sisi lain, pikiran waras Kila menyeruak. Aku tidak mencintai Kama, bahkan pernikahan kamu saja bukan atas dasar cinta. Berarti, apabila Kama mendapatkan penolakan dariku? Itu bukan sebuah masalah bukan? Krekkk. Suara pintu yang di buka, mengejutkan Kila. Dan seseorang yang baru saja melenggang masuk ke kamarnya, memberikan efek kejutan yang berkali kali lipat dari serangan jantung itu sendiri. Itu Kama. Dengan wajah yang terlihat lelah, entah apa yang baru saja laki - laki itu lakukan. Yang jelas, setelah pernikahan tadi pagi. Kama tanpa pamit langsung pergi lagi. Setelah Kila masuk ke rumah ini, yah sampai ia masuk ke kamar ini. Baru saat ini KIla bertemu Kama lagi. Kama tanpa berkomentar apapun, hanya melewati Kila sembari melihat apa yang sedang di pegang gadis itu. Tanpa sadar Kama menyeringai, dan itu adalah sinyal kuat yang menyadarkan Kila. Kama melihat Kila tengah memegang pakaian haram itu. Refleks Kila melempar pakaian itu ke dalam lemari dan menutup pintu lemari dengan sangat keras. Kama pasti mendengar suara debuman pintu itu, tapi ia tak berkomentar apapun. Kama justru melangkah pelan menuju kamar mandi, memutar engsel pintu dan masuk. Setelahnya, hampir tiga puluh menit, Kama nampaknya betah sekali di dalam kamar mandi. Kila yang pontang - panting, entah harus bereaksi apa ketika Kama selesai mandi. Ia pasti tidur di sini bukan? Di kamar ini? Seranjang denganku? Gumam Kila, “Tuhan... aku takut.” Dan momen yang di antisipasi Kila. Datang juga, Kama keluar dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di pinggangnya. Tubuh yang masih basah itu, melenggang pelan. Kila meneguk ludah dengan gugup. Sangat gugup. Seumur hidupnya, ini kali pertamanya berada di ruangan tertutup dengan laki - laki dewasa, bahkan melihat laki - laki dewasa setengah telanjang. Ini tidak terbayangkan sebelumnya!!! “Tuhan, aku harus apa?” gumam Kila lirih. Kama sudah sangat dekat dengan Kila, tapi laki - laki itu nampak acuh. Ia malah sibuk menggosok gosok rambut basahnya. Kila bisa melihat airnya menyiprat karena terkena sorot lampu. Dan Ya Tuhan! Demi apapun, bayangan tubuh kama yang setengan telanjang itu terlihat sangat.... kekar. Ini adalah tubuh impian para lelaki bahkan impian semua perempuan! Sungguh! “Kenapa kamu melamun?” Pertanyaaan yang terlontar dari mulut kama menarik KIla dari lamunanya . “TI- tidak.” elak Kila. Kama berjalan mendekati lemari dan membuka pintu lemari lebar - lebar. “Ish! Apa yang dia lakukan di sana!” hardik Kila dengan suara pelan karena takut. Kama menyusuri isi lemari itu. Entah kenapa, mengingat potongan adegan saat Kama memasuki kamar, membuat pipi KIla kemabali merona. Ia malu! Malu sekalii!! “Ah... aku lupa, belum menyiapkan pakaian di kamar ini.... “ ujar Kama dengan nada sedikit kesal. “Mau aku ambilkan?” tawar Kila, berusaha memecahkan keheningan di antara mereka. Kama langsung berbalik badan. Ini respon yang sangat baik bukan? Pikir Kila. Tapi gerakan tangan Kama yang menyilangkan tanganya di depan dada, malah membuat Kila ingin menarik kembali kata - katanya. Entah kenapa, Kama terlihat sangat..... berbahaya. Seringai di bibir Kama membulatkan pikiran Kila, kalau Kama memang sangat berbahaya. Apalagi ekspresi entah apa itu di wajah Kama. “Apa lebih baik, aku seperti ini saja sepanjang malam?” tawar Kama, tentu saja memberikan efek sesak nafas untuk Kila sejenak. “Ap-pa?” tanyan Kila. “Yah... seperti ini,” jawab Kama memperjelas maksudnya, ia menunjuk tubuhnya sendiri, “Setengah telanjang seperti ini tidak membuatmu keberatan bukan.” ucap Kama dengan entengnya. Aku keberatan! Sangat keberatan!!! sayangnya, Kila tidak bisa menyerukan protesnya. Kama sudah berjalan mendekatinya. Kegugupan KIla sudah sampai puncaknya, Kila ingin menarik diri, tapi ini tidak mungkin! Lari? Itu konyo, mau lari kemana lagi. Ini kamarnya, ah ralat. Kamar Kama juga. Kama sendiri berjalan santai, baginya melihat ekspresi Kila yang sekarang adalah sebuah kepuasan. “Ayo.” ucap Kama, Kila bahkan tidak menyadari kapan tangan Kama mengurungnya seperti ini. “Aku tidak menerima penolakan.” bisik Kama di telinga kiri KIla. Jantung Kila berdegup kencang, tapi ia tak bisa berkata apa - apa. “Ini akan jadi malam yang panjang, anak manis... “ bisik Kama penuh makna. **** Akan ada hari yang terasa berat, sampai kamu tidak ingin bangun di hari itu. Kamu hanya ingin terpejam sampai hari buruk itu terlewati begitu saja. Sama halnya seperti kalian, Kila juga merasakan hal seperti itu. Ia ingin membungkus hari buruk, membuangnya begitu saja. Jadi Kila tidak perlu repot - repot untuk melewati hari sialan, seperti hari ini. Kila memejamkan matanya, rapat - rapat. Ia berusaha mengabaikan fakta kalau sorot matahari sudah memasuki kamarnya. Bahkan suara kokok ayam jantan, sudah berlalu semenjak setengah jam yang lalu. Kila hanya tidak ingin bangun hari ini, ia ingin terpejam sampai esok hari. Atau kalau bisa, sampai hari buruk di hidupnya terlewati begitu saja. Namun di tengah usaha keras KIla untuk tetap menutup mata dan pura - pura terlelap. Gedoran pintu kamar Kila, sepertinya tidak bisa di abaikan. Makin ke sini, suara gedorannya makin kencang dan Kila yakin, hari buruk ini.... baru saja di mulai. Dan satu - satunya pilihan untuk Kila,ia harus melewatinya. Tanpa terkecuali. “Kila!!! Bangun jangan pura - pura tidur!” teriak Karin dengan keras. Kila menutup telinganya, ia mengganti posisi tidurnya. “Kila!! Bangun! Siapkan sarapan atau aku dobrak pintu kamar ini!” ancam Karin dengan sungguh - sungguh. Kila tau, sepupu menyebalkannya ini tidak pernah main - main dengan yang namanya ancaman. Kila sudah membuktikannya sendiri. Karin pernah hampir menyelakainya, karena ia kesal. Kila tidak memasak makanan pesanan Karin. Karena hari itu Kila tidak mendapatkan uang belanja yang cukup, Kila tidak bisa mengabulkan permintaan Karin. Karin bilang ia ingin makan sop daging, tapi uang belanja kala itu hanya cukup untuk membeli ikan di pasar. Alhasil, Karin kesal dan hampir menyiramkan air panas ke wajah KIla. Untung saja, siraman Karin itu meleset dan Paman Zainal buru - buru melerai Karin yang sedang naik pitam. “IYaa!!! Sebentar.” KIla berteriak keras, sembari loncar dari tempat tidurnya. KIla berhenti di depan pintu, ia melepas ikat rambutnya dan sedikit mengacak - acak rambutnya. Hingga terlihat berantakan. Kila membuka pintu sembari menyipitkan mata, untuk memberi kesan kalau kelopak matanya baru terbuka setelah terpejam semalaman. Tentu saja Karin menyambut kemunculan Kila dengan raut tidak senang. ”Kamu harusnya tau kalau jadwal sarapan di rumah ini tidak boleh ter-lam-bat!” ucap Karin dengan ketus, kini tanganya tersilang di depan dada, menunjukan sikap dominan dan arogan yang terpancar sempurna. Kila bahkan sudah bisa mencium sifat arogan Karin semenjak ia berusia lima tahun! Kila menguap lebar, akting yang mumpuni untuk meyakinkan Karin kalau hari ini, ia lalai. “Maaf.... “ ucap Kila sembari menguap dan menutup muluntya, “Aku sangat lelah.... “ kini Kila meregangkan tanganya, melemaskan sendi sendi ditubuhnya. Kali ini Kila sungguhan, ia memang merasa pegal di sekujur tubuhnya. Ranjangya sangat kecil. Ukuran anak - anak. Karin menatap Kila kesal, meski begitu. Akting Kila ternyata mempan, karena Karin sangat percaya. Bola mata Karin mengamati rambut Kila yang berantakan dengan kesal sembari berdecak sebal, “Yasudah! Cepat buatkan sarapan!” perintah Karin sambil memutar badan dan berlalu. Kila tersenyum tipis, ia puas dengan aktingnya hari ini. Setidaknya satu tantangan di hari buruk ini, sudah ia lewati. Mission complete! Kila menutup pintu kamarnya, ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. **** **** Bergelut di dapur bukan lagi hal yang sulit untuk Kila, ia sudah melakukan ini semenjak usia tujuh tahun. Jadi tidak heran kalau Kila sangat mahir memasak di usianya yang sekarang. Sekarang, demi menyenangkan Tuan Puteri rumah ini, Kila akan membuatkan menu kesukaan Tuan Puteri.“Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log
Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki
"Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya rembulan menerobos tiap dedaunan di sepanjang jalan. Tak pernah terbayang di benak Kila kalau ia akan duduk di bonceng oleh Kama.“Jam berapa sekarang?” tanya Kila, ia ingin sekali cepat pulang. Meski ini adalah pengalaman pertamanya di tengah - tengah hutan dengan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan, tapi Kila tidak ingin mengambil resiko di amuk oleh Bibi Aini. “Masih punya banyak waktu untuk pulang, tunggu sebentar. Ada yang harus aku pastikan.” Kama menjawab dengan santai. Kila berdecak kesal, apa yang sebenarnya di tunggu oleh Kama? Sejak tadi ia hanya duduk sembari memandangi pepohonan, sesekali sorot matanya yang tajam seperti menembus kegelapan, masuk ke dalam hutan sa
Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan pekerjaanya seperti biasa... Hari ini cukup ramai, mungkin karena cuaca yang cukup bersahabat. Cerah dan angin semilir membuat orang - orang betah jalan - jalan di luar. Apalagi duduk di tepi pantai menunggu petang. Menunggu senja, momen pergantian hari, orang bilang senja adalah sepuluh detik yang menakjubkan. Wujud kuasa Tuhan yang bisa mengubah bilah bilah cahaya keemasan, keindahan yang dikemas dalam waktu singkat di dunia yang fana ini. Golden hour. Orang luar menyebutnya. Warna jingga keemasan, merona, merekah di belahan bumi yang siap menyambut malam. Dan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, warna jingga itu menghilang. Berganti biru magis yang menggelap seiring waktu.Setiap ha
Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal. Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran
Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelum







