Share

Bab 42.

Author: Fafacho
last update publish date: 2026-03-06 15:00:05

Adyan.

Satu panggilan itu langsung memutus suasana hangat di antara mereka.

Adyan menoleh dengan wajah jelas tak senang. Tatapan yang tadi lembut saat menatap istrinya seketika mengeras—dingin, kaku, seolah tembok tebal berdiri di antara dirinya dan orang yang baru saja memanggilnya.

Nayla ikut menoleh. Alisnya sedikit berkerut, matanya menyapu sosok pria di depan mereka. Nalurinya langsung menangkap perubahan sikap suami

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 68.

    Esok harinya Nayla sudah sadar tapi bedanya kini ia berada di ruang yang beda dari sebelumnya. Melihat sekeliling, merasa ada yang aneh dengan tangannya seperti ada yang terikat. Sedikit mendongak tubuh melihat kebawah dimana tangannya sudah terikat. "apa? kenapa aku diikat begini. kenapa?" herannya bertanya-tanya. "tolong siapapun lepaskan aku, lepaskan" teriaknya memanggil seseorang. Satu menit, dua menit, tiga menit ia memanggil tak ada jawaban hingga pintu ruangannya kini sudah terbuka. Seorang perawat membawakan sarapan untuknya. "bu Nayla sudah bangun. mari sarapn dulu bu" ucap perawat itu dengan lembut. menaruh pelan piring sarapan Nayla di nakar. Lalu berjalan membuka ikatan yang ada di tangan Nayla.Nayla memperhatikannya dengan seksama, ada rasa heran dalam dirinya. Heran kenapa ia bisa berada di ruangan seperti isolasi dengan tangannya yang terikat."Sebenarnya ada apa denganku, kenapa aku di ikat seperti binatang

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 67.

    Nayla jatuh pingsan dalam dekapan sang suami, tentu Adyan panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Untung saja ia sigap menangkap sang istri, dengan cepat Adyan langsung mengangkat Nayla dan membaringkannya ke tempat tidur.Bertepatan dengan itu pintu ruangan terbuka, orang tua Nayla datang terburu-buru masuk. "Adyan, ada apa dengan Nayla?" tanya Ayah Nayla panik melihat putrinya yang terkulai lemas saat direbahan oleh menantunya itu.Adyan melihat sekilas kearah mertuanya, sambil membenarkan posisi sang istri "Nayla pingsan ya, dia..dia syok dengar kabar" jelas Adyan, menyelimuti Nayla mengusap lembut kepala istrinya. Lalu mengecup kening Nayla dengan sayang. Melihat sedih wajah pucat sang istri, seminggu tak sadarkan diri dan saat bangun harus menerima kabar pait soal anak mereka."kamu ngasih tau dia soal anak kalian?" Ibu Nayla membuka suara, saat tepat berdiri di sebelah ranjang Nayla. Tatapan tak senang melihat ke

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 66

    Nayla sudah di tangani oleh dokter, Adyan berjalan mondar-mandir tak tenang di depan ruang operasi. Yusp, Nayla terpaksa harus melahirkan saat ini, perempuan itu mengalami pendarahan yang cukup hebat dan mau tak mau harus melahirkan sebelum waktunya.Adyan benar-benar tak bisa tenang, sesekali ia duduk sesekali juga ia berdiri tangannya mengepal gemetar mengingat wajah pucat Nayla tadi. Begitu takut menerpa pikiran, takut kalau terjadi apa-apa dengan Nayla."yaallah selamatkan istri dan anak-anakku, jaga mereka tuhan" gumamnya penuh harap, ia benar-benar tak bisa tenang."Yaampun kenapa ini harus terjadi. kenapa saat ini!!" Adyan benar-benar panik, bingung menjadi satu dalam tumpukan rasa yang harus ia rasakan.Adyan berjalan dengan lemah duduk di kursi besi yang ada di situ, pandangannya tak tenang sesekali melihat kearah lampu yang ada di depan ruang operasi."nay, kamu harus bertahan sayang.""Kalau

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 65.

    Setelah ikut suaminya kerja Nayla memilih pulang, ia bosan sendiri di ruangan Adyan. Lebih baik ia tidur atau apa dirumah yang jelas tak merasa sumpek diruangan yang kecil. Tadi ia sempat bilang pada Adyan kalau ia pulang, suaminya tak mengijinkan. Meskipun tak di ijinkan Nayla tetap pulang, ia tak sabar harus menunggu kakinya terasa keram jika harus duduk terus.Hanya beberapa menit ia berjalan sudah sampai di depan rumah, belum ia berbelok ke halaman rumah dinas langkahnya berhenti saat sebuah motor berhenti di depannya, dan sapaan nama memanggil lembut masuk kedalam telinga."nay, apa kabar?' ucap seorang pria dengan pelan penuh rasa bersahabat."Yusuf," lirih Nayla sambil melihat sekitar takut ada yang melihat, apalagi takut kalau Adyan melihat, suaminya itu pasti akan marah diliputi cemburu buta."tenang nggak ada suamimu, dia lagi pergi sama Danyon." kata Yususf seolah tahu apa yang dikhawatirkan oleh Nayla.

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 64.

    Didalam kamar hanya ada keheningan, Bahkan Nayla tidur membelakangi Adyan meskipun Adyan beberpa kali mendekatkan diri. Tapi Nayla malah semakin bergeser memberi jarak, tentu Nayla sadar kalau Adyan semakin mendekati dirinya. Ia sendiri kini belum tidur, mata terasa susah untuk di buat terpejam. Semakin hari semakin ia tahan malah terasa lelah dan capek apalagi bayangan Adyan yang tak mengenakan baju memeluk erat Amel di tempat tidur itu terus mengusiknya.Disaat Nayla tengah larut dalam pikirinnya, tubuhnya seketiga menegang saat merasakan sebuah tangan yang akan masuk kedaSualam bajunya. Sedikit menunduk melihat tangan yang akan mulai masuk, mengerayangi buah dadanya. Dengan cepat Nayla menahan tangan kekar sang suami yang akan masuk kedalam baju, matanya terbuka melihat kearah Adyan yang seperti tertangkap basah."Kamu belum tidur sayang?" tanya Adyan menelan ludah."Mau apa mas?" tanya Nayla, perlahan bangkit sambil

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 63.

    Nayla masuk kedalam rumah dengan berat, seperti masuk kedalam sebuah gua penuh beban. Ia yang tadi riang keluar dari mobil Bela, kini wajahnya berubah saat masuk kedalam rumah. Wajah sendur terkesan dingin begitu nampak, apalagi rasa letih itu juga terasa.Dua hari ini Nayla rajin bertemu dengan Bela, untuk sekedar meluapkan beban agar tak ia simpan sendiri. Apalagi Anya juga sudah tak dirumah, sehingga hanya ia dan Adyan. Berdua dengan suaminya membuat ia merasa begitu sesak, seperti tak ada udara masuk dalam rongga nafas.Saat langkah kakinya berjalan masuk, menuju dapur setengah jalan ia di kagetkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka."Selamat pulang kerumah sayang," seru Adyan membuka pintu kamar, dengan tangannya yang membawa sebuah goodiebag. Adyan mendekat, merengkuh Nayla sembari mengecup kening.Dengan pasrah Nayla memejamkan mata, berusaha menikmati ciuman yang diberikan Adyan. Perlahan matanya te

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 27.

    Adyan yang sudah membayar saat berbalik dia melihat Lettu Faris tengah bicara dengan Nayla, melihat itu membuat Adyan penasaran sekaligus sedikit kaget. Dalam kepalanya bertanya-tanya kenapa Lettu Faris bicara dengan istrinya, apa yang tengah mereka bicarakan. Begitulah kira-kira yang dipikirkan

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 26.

    Nayla terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan lalu sedikit menoleh kesamping dimana Adyan tengah tidur lelap di sebelahnya. Ingatannya berputar pada sore tadi dimana mereka berhubungan intim tapi Adyan terlihat berbeda pria itu sedikit lembut dari biasanya bahkan terkesan tak memaksa

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 25.

    Nayla terlihat tak tenang matanya menyisir sekitar sesekali tangannya juga bergerak gelisah. Dia merasa tak tenang menunggu kedatangan pakdenya. Kira-kira ia harus bersikap seperti apa saat bertatap muka nanti, dua bulan lebih ia memblokir nomor pakdenya dan kini malah akan bertemu. Pertemuan yan

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 24.

    Nayla terus memperhatikan Adyan, ia merasa risau takut kalau suaminya marah dengan ceritanya tadi soal Yusuf.“kenapa melihatku seperti itu, kau nggak mau makan?” tanya Adyan saat mendapati Nayla yang memperhatikannya.Nayla langsung glagapan karena ketahua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status