Mag-log inSaat Renata masuk, Clara sudah duduk di depan meja Bagas dengan wajah yang ditekuk. Terdengar Isak tangis samar di sana. Renata terdiam sejenak melihat desain ruang terapi yang begitu elegan. Meja kerja Bagas dan ruang konseling dipisah oleh sekat yang berupa partisi seperti rak buku. Dari pintu masuk, ruang terapinya tidak terlihat karena terhalang oleh sekat pemisah. Renata tersenyum tipis, “Ruangan yang menarik,” gumamnya. Lalu ia segera menuju meja kerja Bagas yang terletak beberapa meter di depannya. Langkahnya tenang, menatap Bagas yang sedang duduk di hadapan Clara yang sedang menekuk wajahnya. Sementara Bagas, melihat Renata ikut masuk ke dalam membuatnya segera bangkit. Namun suara dingin Renata segera menghentikan gerakannya. “Tenang saja, Dokter,” katanya pelan. “Saya ke sini hanya untuk mengantar Bu Clara.” Renata berhenti tepat di belakang Clara yang sedang menunduk. Tangannya tera
Tepat jam tiga menjelang sore, Bagas akhirnya tiba di kliniknya. Klinik dengan nama Psych-Devine, yang akan menjadi istana baru baginya untuk mengikat para ratu-ratu yang berkuasa di kota.Di lobi, ia langsung disambut oleh Santi. “Selamat datang, Dok,” sapa wanita itu sedikit canggung namun berusaha sopan dan profesional.Bagas tersenyum tipis sambil mengangguk—gestur yang lagi-lagi membuat Santi meleleh dan semakin mengagumi sosok psikolog berbakat itu.Bagas merapat ke arah meja kerjanya. “Bagaimana, Santi. Semuanya berjalan normal bukan?”“Tentu saja, Dok. Semuanya berjalan normal. Seperti yang tertera di skedul, dr. Elina hanya bertugas sampai jam empat sore.”Bagas mengangguk-angguk pelan. “Belum ada pasien yang rujuk ke atas kan?”“Belum ada, Dok. Sejauh ini, para pasien tampak cukup puas dan lega dengan terapi yang di berikan dr. Elina.”“Baguslah. Dokter Elina memang berbakat,” kaga Bagas sambil melonggarkan dasinya.“Oh ya, Santi. Sebentar lagi, Madame Renata akan datang. Di
Sementara di sisi lain kota. Klinik Re:Vive terlihat tidak seperti biasanya. Setelah Bagas resign dari sana, klinik ini seolah kehilangan jiwanya.Lobi yang biasanya ada Suster Mayra kini tampak gambar dengan wajah baru yang berdiri di balik meja tersebut. Lantai dua yang dulu menjadi tempat ‘terapi’ Dokter Bagas, kini menjadi lebih sepi.Klinik yang dulunya spesial karena kehadiran Bagas kini tak ubah layaknya klinik psikologi biasa. Tidak ada yang spesial.Di ujung lobi lantai satu, ruangan wanita yang dulu sering menjadi tempat pelampiasan hasratnya bersama Bagas, kini juga juga terlihat hampa. Renata duduk mematung di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk membolak-balik berkas di atas meja, namun pikirannya tidak di sana.“Hmm!” Ia menghela napas berat. “Mungkin klinik ini harus beralih fungsi,” gumamnya.Ia merebahkan punggungnya di sandaran kursi. “Tanpa Bagas, klinik ini kehilangan pesonanya.”Renata sedikit menyesal karena melepaskan Bagas dari sini. Namun mengingat janji Bagas
Setelah malam peresmian yang melelahkan, keesokan paginya adalah ujian pertama bagi fungsi klinik ini. Sinar matahari pagi menyinari lobi lantai satu yang kini sudah tampak sangat profesional. Santi sudah duduk di balik meja resepsionis dengan seragam barunya, sementara Mirna mulai melakukan tugasnya di pantry. Di ruang praktik satu, dr. Elina baru saja tiba dan sangat bersemangat untuk menjalani kerja hari pertamanya di klinik ini. Bagaimana tidak, berkat nama dr. Bagas yang kembali dipulihkan di rumah sakit, dan juga jabatan barunya—tentu saja banyak pasien yang memilih datang ke klinik pribadi dokter itu. Alasannya hanya untuk lebih eksklusif dan privat. Namun, bagi mereka yang menderita masalah mental biasa akan ditangani oleh dr. Elina. Bagas hanya menangani pasien-pasien spesial saja. Beberapa janji temu sudah tercatat di komputer Santi, mereka adalah pasien-pasien biasa yang akan ditangani oleh dr. Elina. Di lantai dua, Mayra sudah duduk di meja kerjanya. Matanya sedikit s
Dua sedan mewah berhenti di depan. Mayra menarik napas panjang, ia sudah tahu siapa pemilik dua mobil tersebut.Pintu mobil terbuka. Madame Renata turun dengan anggun. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan wanita matang yang mempesona. Di belakangnya, Helena turun dengan gaya yang lebih santai namun elegan, mengenakan setelan blazer yang memperlihatkan kelasnya sebagai psikolog yang mampu mengimbangi intelektual Bagas.Mereka berdua masuk ke lobi. Aroma parfum mawar yang berat dari Renata segera bertabrakan dengan aroma musk yang tajam dari Helena, menciptakan atmosfer yang menyesakkan di ruangan yang tadinya tenang.“Apa acaranya sudah selesai?” tanya Renata dengan senyum penuh arti.“Sudah, Madame,” jawab Bagas sambil menyibak sedikit jasnya.“Ah, jadi kami telat ya?”Bagas tersenyum, ia tahu Renata sedang memancing.“Tentu saja tidak, Madame. Kalian berdua tidak telat. Acara tadi hanya diperuntukkan untuk tamu-tamu biasa,” u
Dua hari berlalu dengan kesibukan yang luar biasa. Mayra menjalankan tugasnya dengan sempurna; ia mengawasi Santi dalam mengatur sistem janji temu, memastikan dr. Elina memiliki semua instrumen tes yang dibutuhkan, dan mengarahkan Mirna untuk menjaga kebersihan lobi agar tetap mengkilap. Di lantai dua, Mayra juga mulai terbiasa dengan meja kerja barunya yang elegan, tempat di mana ia merasa seperti seorang ratu kecil yang menjaga pintu masuk ke dunia Bagas.Sesuai instruksi Bagas, acara peresmian sore itu dibuat sangat terbatas dan eksklusif.Pukul lima sore, lobi lantai satu sudah disulap menjadi ruang resepsi yang mewah. Aroma bunga lili putih dan melati menyatu dengan wangi parfum-parfum kelas atas. Beberapa kolega dokter dari rumah sakit Bagas sudah hadir, berbincang mengenai prospek klinik baru ini. Santi dan Mirna tampak sibuk melayani tamu dengan minuman, sementara dr. Elina berbincang santai dengan beberapa tamu sejawat.“Selamat Dokter Bagas, saya ikut senang dengan peresmian







