LOGINRasa panas mulai merambat di dada Wulan, terasa membakar kulit di balik kaos putih yang ia kenakan. Air kopi tersebut tumpah tepat di dadanya sehingga membakar sehingga membakar buah dadanya yang penuh.
"Nah, sepertinya kamu memang pandai memijat, Wulan!" puji sang bos sambil menengadahkan muka hingga benar-benar menatap Wulan.Pujian tersebut mengingatkan Wulan kepada suaminya. Dulu, ketika keluarga mereka masih baik-baik saja, ia selalu rutin memberi pijatan kepada suaminya tersebut. Ia masih ingat benar jika pijatannya membuat suaminya kecanduan. Sebab, jika ada waktu senggang suaminya selalu meminta untuk dipijat.Baginya, Pak Agus merupakan pria ketiga yang telah menerima pijatannya. Sementara ayahnya merupakan pria pertama yang ia pijat. Kepandaianny
Kenangan makan malam di lantai dua bersama Pak Agus terus terngiang di kepala Wulan saat menatap tempat itu dari bawah. Perasaannya menjadi campur aduk, antara senang karena mendapat kesempatan untuk berbincang hangat dengan sang bos dan merasa bersalah karena telah lancang duduk di tempat yang semestinya untuk Bu Nana.Malam tadi, sepulang dari tempat tersebut, Wulan berulang kali memikirkan tentang kejadian tersebut. Ia berusaha keras agar dirinya tak merasa bersalah dengan menganggap semua itu hanyalah cara dia untuk menjalankan tugas yang dibebankan oleh sang bos."Sini, Wulan!" panggil Sari dari depan pintu ruangannya.Setelah mendengar panggilan sahabat karibnya, Wulan bergegas mendatangi tempat tersebut. Ia melangkahkan kaki sambil melirik ke kanan dan ke kiri, bukan takut siapa pun, melainkan ia menganggap jika panggilan tersebut tidak biasa. Hal itu karena Sari tak nampak seperti biasanya yang selalu memanggilnya dengan suara lantang, kali ini ia memanggilnya dengan suara yan
"Kawanmu itu lumayan jadi wakil mandor. Nggak buas seperti Indah," bisik Asih ketika membantu Wulan untuk bersih-bersih."Tapi, katanya cuman sementara, Mbak," sahut Wulan sembari menyapu lantai."Ya ndak papa lah, buat selingan, biar gak kemakan binatang buas itu terus," ucap Asih pelan. Keduanya pun tertawa cekikikan sambil menutup mulut mereka.Setelah rutinitas bersih-bersih itu us
Saat Sari bersenang-senang dengan sang bos, Wulan tengah merana karena kesepian di dalam kamarnya. Santoso yang dulu menemaninya melalui pesan-pensan singkat yang menyejukkan jiwa, kini tak pernah lagi berkirim pesan dengan dirinya.Suatu hari, karena merasa sangat rindu kepada pria tersebut, Wulan pernah mengirim pesan; sekadar untuk bertanya kabar. Pada mulanya Santoso menanggapi pesan tersebut dengan biasa. Namun semakin lama, pesan-pesannya terasa garing, tak ada sedikit pun gairah. Malah, Santoso langsung undur diri ketika mereka ba
Riuh rendah para pembeli menelusup melaui celah-celah sempit menuju ke lantai dua Toko Kelontong Agustina. Dari situ, Sari dapat menduga jika pengunjung hari ini begitu padat.Sari sudah paham benar bagaimana para pembeli akan berbelanja gila-gilaan di Toko Kelontong Agustina. Pada tanggal-tanggal muda dan akhir pekan seperti ini, orang-orang memang berbondong-bondong untuk berbelanja. Karena sudah paham benar, maka setiap akhir bulan ia sela
"Ada apa ya, Pak?" tanya Wulan sambil buru-buru melepaskan pegangan tangan sang bos.Meskipun ia berusaha keras untuk melepaskan genggaman tangan sang bos, namun pria itu sepertinya enggan untuk melepaskannya."Pak!" ronta Wulan dengan raut wajah yang ketakutan. "Lepaskan tangan saya, Pak!""Eh⸺maaf!" sahut Pak Agus sembari buru-buru mele







