ログインMasalah? Abimana terkekeh sendiri, moodnya sangat baik hari itu mengingat bagaimana dirinya semalam bersama Raniya berulang kali saling melepaskan penat dengan berbagi pelu yang tak terperi. Raniya: Aku kerja ya hari ini. Pesan itu langsung Abimana baca meskipun Raniya lama sekali membalas barisan pesannya sejak pagi. Abimana: Nanti dijemput? Ah, dia seperti anak muda baru mengenal cinta saja, hatinya dipenuhi bunga-bunga sampai malu sendiri. Raniya: Boleh. Dan senyumnya semakin lebar saja sekarang, mungkin nanti salah tingkah ketika berhadapan dengan istrinya itu. Semalam mereka begitu lepas, di atas tubuh perempuan yang bersuara menginginkannya itu ia tak ragu untuk melepaskan desah dalam, erangan panjang dan pujian-pujian penuh gairah yang mungkin memalukan sekali jika diucapkan sewaktu biasa. “Pak—” “Yang sore bisa dipercepat nggak, Dan?” Kedua alis Dani terangkat. “Bapak ada acara lain?” “Hem, percepat saja ya!” jawab Abimana sekali lagi tampak menakutkan, senyu
“Benar?” Raniya mengangguk, inginnya sudah berada di ubun-ubun, alih-alih Abimana yang tak bisa mengendalikan diri, justru Raniya yang kelabakan sekarang. Hanya dimulai dari sebuah ciuman, tetapi membakar. “Aku bakal hati-hati,” kata Abimana mulai memposisikan dirinya berada di antara kedua kaki Raniya yang terbuka lebar. Panjang dan tegangnya membuat Raniya terperanjat, baru saja menempel sebentar dengan gesekan kecil, tubuhnya menggelinjang. Tetapi, juga tak sabar untuk segera penuh oleh milik pria itu. Tenggorokannya tercekat, ini kedua kalinya dan pertama kali usai menikah mereka mengulang kejadian malam itu ketika Raniya mabuk tanpa ingat apa pun, sementara di malam selepas pernikahan, kebas akibat gesekan juga cukup mengerikan jika diingat. Namun, bagaimana Abimana menyentuh dan mengalihkan perhatiannya, pria itu berhasil membuat diri Raniya menerima benda asing yang mulai masuk perlahan di bawah sana. “Ehm!” Raniya mencengkeram lengan Abimana, kuat sekali sampai membeka
“Harus banget dicobain di depan kamu?” Raniya malu-malu, terlebih ia hanya memakai pakaian tipis supaya lebih mudah berganti-ganti. Abimana mengangguk, setelah tadi ia harus menahan diri di toko pakaian, sekarang atas ide dadakannya dengan Raniya yang menggoda. “Cepet-cepet ya, kan banyak!” kata perempuan itu yang lagi-lagi hanya diangguki oleh Abimana. “Mulai dari yang mana dulu?” Ragu ia memilih. “Setelan rok itu, aku mau liat panjangnya seberapa, menutup lututmu atau nggak!” jawab Abimana tak sempat tadi memeriksa karena kehadiran Sefiana. “Kalau nggak nutup kenapa?” “Jangan!” Abimana menggelengkan kepalanya, ia tak mau Raniya mengubah apa pun dari kenyamanan perempuan itu. “Coba dulu!” “Tapi, uangnya—” “Aku kaya, Raniya,” sahut Abimana lantas perempuan itu mendecih mendengarnya, kesombongan yang tak bisa disanggah. “Suamimu kaya raya,” tambahnya lagi. Perempuan itu mendecih dengan senyumnya sebelum satu per satu pakaian dicoba tanpa harus berlari ke ruang ganti, di depa
Mata Raniya tak berhenti melotot sejak keterangan Abimana tadi, bahkan ia berjalan awas di samping pria itu sambil melihat sekita. “Nyari siapa?” Abimana menarik lengan Raniya agar lebih dekat dengannya. “Siapa tau ketemu sama temen deketnya itu,” jawab Raniya melengos lagi. Cemburu? Boleh Abimana artikan begitu? Ia simpan saja praduganya pada Raniya itu, Abimana lebih memilih untuk mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Raniya daripada terkatung-katung sambil mengapit tas kerjanya. Sesekali perempuan itu berjarak, kembali Abimana rengkuh lebih dekat sambil menyimpan senyum. “Mau beli apa?” “Kenapa? Buru-buru mau ketemuan lagi?” Abimana melebarkan matanya. “Heh, nggak ada yang mau ketemuan, itu hanya soal kerjasama kegiatan sosial usaha saja. Sini!” Ia rengkuh lebih dekat lagi. “Mau jalan aja atau beli sesuatu?” “Mau liat-liat blouse buat kerja,” jawab si perempuan melenggang. “Warnanya udah biasa banget, mau cari yang baru,” katanya. Abimana mengangguk. “Dicoba nggak n
“Jadi, apa rencana Bapak selanjutnya?” Dani cukup memikirkan persoalan atasannya itu, satu tahun itu tidak lama dan mereka harus mempersiapkan banyak hal untuk menangani imbasnya. “Bu Sena sudah mulai membahas soal penerus dan tentu saja dari anda, Pak,” ungkapnya. Abimana terpejam mata, kepalanya kembali berdenyut hebat seperti pagi itu. “Saya sudah dengar soal itu,” ucap Abimana sembari mengangguk. Pagi itu, tante Sena menghubunginya dan membahas soal keturunan yang sudah sangat dinantikan, terlebih Abimana tak mempunyai orang tua lagi dan tentu saja darah dagingnya sangat dinantikan keluarga besar sebagai penerus utama sekaligus pengobat rindu pada mereka yang telah pergi lebih dulu. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi untuk sekarang, terlebih dengan Raniya yang memasang tembok tinggi dan pernikahan mereka yang sebatas kontrak. “Nona Raniya tau soal ini?” Dani menghembuskan nafas lega melihat Abimana menggelengkan kepalanya. “Tapi, Pak … pertanyaan seperti itu tidak akan
Abimana menggigit bibir dalamnya, baru saja berdamai dan dekat, ia mulai lagi membuat masalah. “Biar nggak kaku-kaku amat, emang nggak bisa kayak istri-istri yang gimana karena ini sementara dan aku nggak mau main sandiwara selain di depan keluarga. Kita …—” Raniya menghela nafasnya. “—kayak temen baik aja, gimana menurut, Om?” Kedua alis Abimana terangkat, agak aneh mendengar status pertemanan dengan dirinya yang 12 tahun lebih tua dari Raniya. “Ya, emang umur Om udah tua … tapi, berteman nggak harus seumuran, kan? Kalau sama yang lebih tua harus hubungan hati gitu?” Raniya mencebikkan bibirnya. Melihat itu, Abimana mengulum senyum. Rasanya, apa saja bisa ia berikan pada Raniya meskipun ia kesakitan karena tak akan berbalas jika berani Abimana ungkapkan. Raniya harus tahu jika dirinya sama seperti perempuan itu agar hubungan mereka membaik. “Setuju,” katanya. “Setuju apa? Umur? Hubungan hati?” “Kita berteman,” terang Abimana sedikit membenarkan posisi bantalnya. “Teman bai







