Beranda / Romansa / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 33. Malu-Malu Mau

Share

Bab 33. Malu-Malu Mau

Penulis: Moonlight
last update Tanggal publikasi: 2026-05-05 20:42:19

Masalah?

Abimana terkekeh sendiri, moodnya sangat baik hari itu mengingat bagaimana dirinya semalam bersama Raniya berulang kali saling melepaskan penat dengan berbagi pelu yang tak terperi.

Raniya: Aku kerja ya hari ini.

Pesan itu langsung Abimana baca meskipun Raniya lama sekali membalas barisan pesannya sejak pagi.

Abimana: Nanti dijemput?

Ah, dia seperti anak muda baru mengenal cinta saja, hatinya dipenuhi bunga-bunga sampai malu sendiri.

Raniya: Boleh.

Dan senyumnya semakin le
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 69. Raditya?

    Segala hal dalam hidup Raniya berubah seketika selepas bayi perempuan itu hadir ke dunia, rumah yang biasanya hanya ada suaranya dan Abimana saja, itu pun akan sunyi ketika Abimana pergi bekerja. Sekarang, mulai membuka mata sampai petang, Raniya dengan kehebohannya suka sekali menggoda putrinya itu, membuatnya menangis karena gemas dan bagaimana suara Raniya sendiri terus berceloteh mengajak putrinya bercanda meskipun hanya dia saja yang heboh. “Aku masih takut pegang, Mas.” “Coba aku liat, boleh?” Abimana tak terganggu sedikit pun dengan kondisi Raniya, bahkan dia turut membantu membersihkan pembalut istrinya itu. Raniya mengangguk ragu, tetapi kemudian membuka kakinya lebar selagi tidak mengeluarkan darah sehingga Abimana bisa memeriksanya sebentar. Abimana mendesus mengatami bekas di sana, bukan masalah melebar atau tidak karena itu elastis yang akan kembali ke bentuk semula, tetapi membayangkan yang sekecil itu, dengan bagian kulit tipis bisa mengeluarkan sebesar putri mer

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 68. Putri Kecil

    Raniya langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga dengan Abimana berada di sampingnya, menggenggam tangan Raniya yang terasa basah dan tegang. Beberapa kali perempuan itu mengeluh kesakitan, sekian kali juga Abimana merasa bersalah sekali karena Raniya tidak mungkin merasakan itu jika bukan atas dirinya. “Sayang, sabar ya,” katanya. Raniya mengangguk. “Mas Abi, aku sabar loh!” balasnya protes, sebab sejak tadi dia sudah meredam keluhnya. Namun, si calon ayah yang sedang cemas campur aduk itu tidak bisa tenang, pikirannya ke mana-mana. Bahkan, daripada Raniya lebih keras pikiran Abimana sampai sekujur tubuhnya sakit semua dan tidak bisa berpikir jernih. Sesampainya di rumah sakit, ketenangan yang biasanya selalu unggul dalam diri Abimana hilang entah ke mana. Mulai dari memanggil petugas sampai menunggu Raniya diperiksa, Abimana mondar-mandir untuk memastikan Raniya mendapatkan pelayanannya yang cepat. “Tante, Mas Abi jangan boleh muter-muter gitu!” kata Raniya di tengah le

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 67. Menjelang Persalinan

    Terlepas dari semua masalah yang ada, perang batin dengan harapan bersama orang tua, Raniya berusaha untuk tetap fokus pada kandungannya yang sebentar lagi menemui titik akhir. Dia dan bayinya akan segera bertemu, beberapa rutinitas persiapan untuk kelancaran persalinannya mulai intens Raniya lakukan. Tak lupa saran dari para orang tua di keluarga suaminya, dia lakukan semampunya dan sesuai arahan. “Seorang ibu itu katanya masih butuh ibu loh, Mas Abi. Nggak kebayang ya dulu atau sekarang mereka yang jauh dari orang tua atau mungkin udah nggak ada ibu, gimana mereka lewatin hari-harinya. Nggak semua bisa dekat dengan keluarga besar dan aku masih sangat beruntung mempunyai suami dengan keluarga besar yang rukun,” katanya yang tengah bersandar pada dada Abimana, pria itu bertelanjang dada. “Tiap kali aku down, aku selalu inget kalau masih banyak yang lebih dan aku punya, walaupun nggak sempurna dan mungkin dianggap nggak cukup, tapi itu masih untung ya, kan?” Abimana mengangguk, mere

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 66. Maaf Ya

    Ngilu menjalar ke seluruh permukaan perut itu, ditambah efek dari ucapan Diniati yang kembali menghadirkan luka lama Raniya, sakitnya lebih tajam sampai mengeluh pun suaranya tidak keluar. “Raniya,” ucap Abimana mengepalkan tangannya, dia datang terlambat meskipun tak lewat dari rencananya. Perempuan itu diam dengan satu tangan menyentuh perut besarnya, ngilu di sana sudah mereda, tetapi ucapan dan sikap Diniati masih membekas, pun membangkitkan insecure yang mati-matian dilawan. “Mas, Mas Abi ganti baju, terus makan ya!” katanya tak membahas yang tadi. “Iya, setelah kamu peluk aku!” kata Abimana mencoba memahami, saat ini Raniya sedang tidak ingin banyak ditanya, maka dia tunjukkan kepatuhan sebagai bentuk penghargaan pada perempuan itu. Raniya lantas bergerak maju, semenjak perutnya membesar memang cukup sulit menempel pada suaminya, posisi menyamping begini dirasa lebih aman dan nyaman. Terdengar helaan berat di sana, Abimana terpejam singkat, berupaya untuk tak bertany

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 65. Tamu Tak Diharapkan

    Calon bayi perempuan itu memang menyita perhatian, setelah menikah dengan Raniya ada beberapa waktu yang Abimana ringkas dan pangkas agar pekerjaan tak membuat kebersamaan mereka terganggu. Sekarang, Abimana hendak meringkas kembali agendanya sehingga kelak selepas persalinan dirinya mempunyai waktu yang luang sekali untuk bersama Raniya dan putri kecil mereka. “Waduh, lama-lama ini penuh mejanya sama foto dedek!” celetuk Dani terperangah, banyak salinan foto USG disimpan di bawah kaca meja. “Sudah dapat namanya, Pak?” Abimana terkekeh, selalu bersemangat sekali meskipun jenuh diserang banyak pekerjaan, ketika tentang calon putrinya disebut, ketegangan itu hilang, berganti dengan senyum hangat khas seorang bapak sekali. “Ada beberapa, masih dipertimbangkan Raniya. Kemarin yang terakhir ini, dia senyum loh, Dan. Cantik sekali!” jawabnya menunjukkan foto USG terakhir. Kening Dani mengernyit, dia yang masih awam sekali soal per-bayian tentu tidak terlalu paham senyum cantik yang di

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 64. Ada Aku

    Menahan diri cukup lama demi menjaga kondisi istrinya sekaligus tak ingin Raniya yang tengah menikmati malasnya di masa kehamilan awal. Seperti itu, pahamnya Abimana dan pengertiannya pada Raniya. “Mas!” lenguh Raniya melepaskan pagutan bibirnya. “Hm, apa?” Abimana mendorong pelan, sebisa mungkin tak menyakiti. Namun, gerakan seperti itu malah membuat Raniya gila dan tersiksa. Rasanya ditarik ulur, dibuat tinggi kemudian terhempas begitu saja, mengikis ketenangannya dengan suara-suara yang tak bisa ditahan sama sekali. Di bawah tubuh Abimana yang mengkilap basah nan menggoda, Raniya terkagum pasrah bagai tawanan yang siap melakukan apa saja sekaligus memberontak. “Maas!” Raniya mengalungkan kedua tangannya ke leher Abimana, menatap lekat penuh harap agar segera diselesaikan. “Apa?” Abimana menciumi leher dan telinga Raniya, masih berada di atas istrinya dengan ayunan yang sedikit dipercepat. “Sayang, hm? Apa?” Raniya meringik, dilema antara mau berhenti dan tidak. Otakny

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 49. Restu

    Tidak mempunyai pengalaman dekat dengan seorang ibu, justru sebaliknya. Tantangan Raniya untuk bisa meluluhkan dan mengambil percaya di hati tante Sena tak serta merta mudah. Akan tetapi, Raniya tidak ingin menyerah lagi demi hubungannya bersama Abimana yang tak melepaskannya begitu saja, pria itu

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 48. Mengejar Restu

    “Nggak ada yang tidur sekamar, Te,” ujar Abimana langsung mendapatkan lirikan tajam dari tante Anggun. Wanita itu menoleh pada Raniya yang mendapatkan banyak pelukan tadi, sampai sekarang mereka masih meyakini perceraian itu terjadi karena Abimana selingkuh dan tidak mau Raniya mengalami hal itu

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 45. Kali Ini, Tulus!

    Hanya untuk melihat seberapa serius Raniya menginginkan kebersamaan mereka yang bukan sekadar atas desakan lain kemudian kembali berubah di lain waktu. “Pak Dani!” Raniya menepuk lengan belakang sekretaris pribadi Abimana itu, pulang kerja dia langsung ke kantor Abimana selagi pria itu belum pulan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 43. Mendatangi Abimana

    Bolehkah ia mengudara untuk mendekati Abimana sekarang? Raniya terpejam mata. “Aku nggak pernah bayangin bakal gini,” katanya jujur. “Emang nyebelin sih, tapi kamu udah mau jujur dan nggak bohongin diri kamu lagi aja udah sangat bagus. Tinggal konsisten!” Gia mengerucutkan bibirnya sambil menunj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status