Se connecterAku mengira hukuman Alexandro akan sekejam sebelumnya. Mungkin aku akan disuruh berdiri di halaman dalam keadaan dingin seperti malam itu dan disiram air es lagi. Mungkin tanganku akan diborgol dan aku akan disiksa dengan lilin, cambuk, atau benda-benda lain yang hanya dia yang tahu. Aku sudah siap. Aku sudah memejamkan mata, menunggu amarahnya meledak.Tapi tidak.Alexandro hanya menunjuk ke sofa panjang di sudut ruangan."Tidur di sana."Aku berkedip. "Apa?""Tidur di sofa malam ini."Aku berjalan ke sofa dan duduk, melipat kakiku, meraih selimut tipis yang Via letakkan di sandaran sofa. Aku menutupi kakiku yang dingin, tapi tubuhku tetap terasa dingin.Alexandro sudah masuk ke kamar tidur. Lampu ruang tamu hanya menyisakan satu lampu meja kecil di sudut yang menyala. Aku duduk melamun, menatap ujung selimut yang aku putar-putar dengan jariku.Pikiranku melayang ke Nathan.Kata-katanya masih bergema."Kamu sama menjijikkannya dengan Elena."Aku menyeka air mataku yang mulai jatuh. A
Via dan aku pergi ke salon. Bukan salon biasa, tapi salon yang sering dikunjungi istri-istri sosialita yang biasanya aku hindari karena harganya yang selangit. Tapi Via bersikeras.Dia berkata, "Kamu sudah jarang bersenang-senang lagi. Sekali ini saja, manjakan dirimu."Aku memilih gaun panjang berwarna biru dongker, sederhana tapi elegan. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu tertutup. Via memilih gaun hitam dengan belahan sampai paha, terlalu seksi untuk seorang pengawal pribadi, tapi dia berkata, "Aku juga ingin bersenang-senang."Kami merias wajah. Riasan ringan, rambut ditata sedikit bergelombang."Kamu terlihat cantik," kata Via."Apakah kita sudah siap?""Siap."Di dalam mobil, aku mengirim pesan ke Alexandro. "Sayang, aku ada tugas kelompok di rumah teman dan akan pulang larut."Alexandro membalas hanya dengan satu kata: "Oke."Aku merasa lega tapi juga sedikit bersalah.Pesta ulang tahun Nathan diadakan di restoran mewah di kawasan elit. Lampu taman berkelap-kelip, meja panjan
Keesokan harinya, aku menerima kabar dari rumah sakit. Kondisi Gianna kritis. Pendarahan internalnya cukup parah, dan dia masih belum sadarkan diri sejak tadi malam.Aku ingin segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya, tetapi Alexandro melarangku. Katanya, kondisiku sendiri masih belum stabil. Tekanan darahku masih naik turun. Luka di kepalaku masih perlu perawatan. Aku hanya bisa mendoakan Gianna dari kejauhan."Gianna akan baik-baik saja. Aku sudah menjamin perawatan terbaik untuknya. Dokter terbaik, rumah sakit terbaik, apa pun yang dia butuhkan, akan dia dapatkan.""Tetapi jika dia... jika dia...""Dia tidak akan mati," kata Alexandro.Aku memeluknya. "Terima kasih, Ale.""Jangan berterima kasih. Itu tugas suamimu."Sore harinya, seorang wanita datang ke rumah. Rambut hitam pendek, wajah tegas, tubuh berotot, senyum tipis. Valeria, atau yang lebih suka dipanggil Via. Sepupu Alexandro, wanita yang pernah aku temui di ruang bawah tanah yang penuh dengan senjata itu."Halo, Lulu
Darah, aku melihat darah di ujung jariku. Warna merah segar, hangat, mengalir dari pelipis kananku ke pipi, ke dagu, menetes ke baju putih yang aku pakai. Aku mendengar suara-suara teriakan, langkah kaki, suara klakson mobil di kejauhan tapi semuanya terdengar seperti dari balik air."Madam! Madam!" Suara Gianna. Di luar, para pengawal yang biasanya mengikuti dari jarak aman, sudah turun dari mobil mereka. Aku melihat bayangan-bayangan hitam berlarian ke arah kami. Beberapa orang dari mobil lain juga berhenti, turun, mencoba membantu. Seorang pria paruh baya membuka pintu mobil di sisiku."Nona, kau bisa keluar? Nona, kau mendengar saya?"Aku mengangguk pelan.Gianna sudah di luar. Aku melihatnya dari kaca spion yang retak. Wajahnya pucat, ada darah di lengan bajunya, entah darah siapa. Dia berlari ke arahku, mendorong pria yang mencoba membantuku, dan meraih tanganku."Madam, ikut saya. Cepat.""Gianna, kau...""Aku tidak apa-apa. Madam yang penting selamat."Dia menarikku keluar da
Aku berjalan ke kampus dengan perasaan was-was yang membuatku terus menoleh ke belakang setiap beberapa langkah dan yang membuat jantungku berdebar lebih cepat setiap kali ada orang asing mendekat. Aku duduk di bangku kuliah, tapi pikiranku tidak fokus. Mia berbicara sesuatu di sampingku, tapi aku tidak mendengar. Dosen menjelaskan teori manajemen, tapi aku tidak mengerti. Yang aku pikirkan hanyalah satu hal yaitu foto ayahku.Setelah kuliah selesai, aku tidak pulang. Aku minta Gianna mengantarku ke rumah bibiku. Bibi membuka pintu. Aku terkejut, dia sangat kurus, pipinya cekung, matanya sayu, bajunya longgar di badan yang tinggal tulang. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. "Lucia?""Bibi, aku mau ambil foto ayahku yang di tembok kamar belakang."Bibi terdiam lalu dia menangis.Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bibi tidak pernah menangis di depanku. Bibi selalu marah, selalu membentak, selalu menghina rapi tidak pernah menangis."Lucia, aku belum makan tiga hari. Pamanm
"Ingin apa?" tanyanya lagi. Suaranya rendah, berat, seperti orang yang sengaja memperlambat ritme untuk membuatku semakin gila.Aku menggigit bibirku. Lidah api dari lilin kecil itu masih menyala di tangannya, siap meneteskan cairan merah panas ke tubuhku kapan saja. Aku sudah basah, bukan hanya dari keringat. Tapi dari cairan yang keluar dari dalam tubuhku, membasahi paha, membasahi sprei, membasahi semua yang aku sentuh."Aku... ahh... aku ingin kontolmu, Ale," bisikku. Suaraku pecah, tidak jelas, seperti orang yang kehilangan akal. "Aku ingin kau masuk ke dalam aku. Sekarang."Dia tersenyum. Senyum predator yang tahu bahwa mangsanya sudah tidak bisa lari. Dia mematikan lilin, meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. Tangannya yang bebas sekarang meraba pahaku, naik perlahan, menyentuh bibir vaginaku yang basah."Kau basah sekali," katanya."Karena kau... ahh...""Sst. Jangan bicara."Dua jarinya masuk. Satu. Dua. Jari telunjuk dan jari tengah. Tidak terlalu lebar, tapi cuku
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil
Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman
Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur







