Share

Bab 142

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-07-13 20:34:23

Aku terus mengulumnya.

Lidahku bergerak di sepanjang barangnya yang keras dan panas, menjilat setiap inci, menikmati tekstur kulitnya yang halus namun tegang. Aku bisa merasakan denyut nadinya di lidahku, detak jantungnya yang cepat, napasnya yang semakin berat di atas kepalaku.

"Ahh..."

Desahan pertama keluar dari mulutnya. Pelan dan hampir tidak terdengar tapi aku mendengarnya dan desahan itu membuatku semakin bersemangat.

Alexandro tidak bisa diam. Tangannya menarik rambutku, kadang keras, k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 220

    Darah, aku melihat darah di ujung jariku. Warna merah segar, hangat, mengalir dari pelipis kananku ke pipi, ke dagu, menetes ke baju putih yang aku pakai. Aku mendengar suara-suara teriakan, langkah kaki, suara klakson mobil di kejauhan tapi semuanya terdengar seperti dari balik air."Madam! Madam!" Suara Gianna. Di luar, para pengawal yang biasanya mengikuti dari jarak aman, sudah turun dari mobil mereka. Aku melihat bayangan-bayangan hitam berlarian ke arah kami. Beberapa orang dari mobil lain juga berhenti, turun, mencoba membantu. Seorang pria paruh baya membuka pintu mobil di sisiku."Nona, kau bisa keluar? Nona, kau mendengar saya?"Aku mengangguk pelan.Gianna sudah di luar. Aku melihatnya dari kaca spion yang retak. Wajahnya pucat, ada darah di lengan bajunya, entah darah siapa. Dia berlari ke arahku, mendorong pria yang mencoba membantuku, dan meraih tanganku."Madam, ikut saya. Cepat.""Gianna, kau...""Aku tidak apa-apa. Madam yang penting selamat."Dia menarikku keluar da

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 219

    Aku berjalan ke kampus dengan perasaan was-was yang membuatku terus menoleh ke belakang setiap beberapa langkah dan yang membuat jantungku berdebar lebih cepat setiap kali ada orang asing mendekat. Aku duduk di bangku kuliah, tapi pikiranku tidak fokus. Mia berbicara sesuatu di sampingku, tapi aku tidak mendengar. Dosen menjelaskan teori manajemen, tapi aku tidak mengerti. Yang aku pikirkan hanyalah satu hal yaitu foto ayahku.Setelah kuliah selesai, aku tidak pulang. Aku minta Gianna mengantarku ke rumah bibiku. Bibi membuka pintu. Aku terkejut, dia sangat kurus, pipinya cekung, matanya sayu, bajunya longgar di badan yang tinggal tulang. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. "Lucia?""Bibi, aku mau ambil foto ayahku yang di tembok kamar belakang."Bibi terdiam lalu dia menangis.Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bibi tidak pernah menangis di depanku. Bibi selalu marah, selalu membentak, selalu menghina rapi tidak pernah menangis."Lucia, aku belum makan tiga hari. Pamanm

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 218

    "Ingin apa?" tanyanya lagi. Suaranya rendah, berat, seperti orang yang sengaja memperlambat ritme untuk membuatku semakin gila.Aku menggigit bibirku. Lidah api dari lilin kecil itu masih menyala di tangannya, siap meneteskan cairan merah panas ke tubuhku kapan saja. Aku sudah basah, bukan hanya dari keringat. Tapi dari cairan yang keluar dari dalam tubuhku, membasahi paha, membasahi sprei, membasahi semua yang aku sentuh."Aku... ahh... aku ingin kontolmu, Ale," bisikku. Suaraku pecah, tidak jelas, seperti orang yang kehilangan akal. "Aku ingin kau masuk ke dalam aku. Sekarang."Dia tersenyum. Senyum predator yang tahu bahwa mangsanya sudah tidak bisa lari. Dia mematikan lilin, meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. Tangannya yang bebas sekarang meraba pahaku, naik perlahan, menyentuh bibir vaginaku yang basah."Kau basah sekali," katanya."Karena kau... ahh...""Sst. Jangan bicara."Dua jarinya masuk. Satu. Dua. Jari telunjuk dan jari tengah. Tidak terlalu lebar, tapi cuku

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 217

    Aku bergerak lebih cepat. Rambutku terbang ke belakang, jatuh lagi, terbang lagi. Aku mendengar suara tubuh kami bertabrakan dan basah, intens, memalukan sekaligus menggairahkan."Ahh... ahh... Ale..." desahku tidak bisa aku tahan. Setiap kali pantatku menghantam pangkal pahanya, rasa kenikmatan itu menjalar dari perutku ke seluruh tubuhku. "S-sialan... dalam sekali..."Tangannya meremas pinggangku, membantuku naik turun, mengatur ritme yang dia mau. Jempolnya menekan perut bagian bawahku, tepat di tempat di mana aku bisa merasakan kontolnya bergerak masuk dan keluar dari dalam tubuhku."Kau basah sekali," katanya. Suaranya serak, berat, seperti orang yang kehausan."Karena kau... ahh... karena kau sudah lima hari... tidak menyentuhku...""Aku kangen.""Buktikan."Dia tertawa. Lalu dia membalikkan tubuhku. Sekarang dia di atas, aku di bawah. Tangannya meraih kedua pergelangan tanganku, menahannya di atas kepalaku. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa terbaring telentang, telanjang,

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 216

    Dokter akhirnya mengizinkan Alexandro pulang. Setelah lima hari di rumah sakit, setelah infus dicabut, setelah monitor jantung dilepas, setelah serangkaian pemeriksaan yang melelahkan, dia diperbolehkan kembali ke rumah. Aku lega tapi juga waspada karena aku tahu, begitu dia pulang, dia akan kembali ke pekerjaannya dan aku tidak bisa terus menerus melarangnya."Aku akan mengawasimu," kataku di dalam mobil, dalam perjalanan pulang."Kau bukan perawatku.""Aku istrimu.""Kau keras kepala.""Aku belajar dari suamiku."Aku bersandar di bahu Alexandro. Lelaki itu masih sedikit pucat, tapi matanya sudah kembali tajam. Tidak lagi sayu seperti saat pertama kali dia terbaring di rumah sakit."Hubby," panggilku."Apa.""Apa kau akan istirahat? Betul-betul istirahat?""Dokter sudah memberiku daftar larangan. Tidak boleh kerja lembur. Tidak boleh stres. Tidak boleh begadang. Tidak boleh merokok. Tidak boleh minum alkohol.""Itu bagus.""Tapi dia tidak melarangku untuk melakukan aktivitas fisik r

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 215

    Aku menatap nama itu. Matteo Bianchi, nama yang sama dengan nama ayahku tapi masih ada keraguan di hatiku masih ada sedikit harapan bahwa ada Matteo Bianchi lain di dunia ini yang bukan ayahku."Banyak orang di Italia yang bernama Matteo dan bisa saja ini orang lain.""Kami sudah menyelidiki selama berbulan-bulan. Jejaknya mengarah ke orang yang sama. Orang yang menikah dengan Isabella dan orang yang menjadi ayah kandungmu.""Tapi tidak ada foto! Kau tunjukkan bukti fotonya! Foto orang yang memasang harga di kepalaku! Jika dia benar-benar ayahku, mana fotonya?!"Alexandro terdiam. Dia menutup laptop. Layar menjadi hitam."Dia tidak pernah keluar dari sarangnya, tidak ada foto. Tidak ada jejak digital. Tidak ada yang pernah melihat wajahnya dalam dua puluh tahun terakhir bahkan anak buahnya tidak tahu persis seperti apa rupanya.""Jadi kalian tidak punya bukti?""Kami punya bukti, tapi bukan foto. Rekaman percakapan, dokumen transaksi. Jejak uang yang mengarah ke namanya.""Aku tidak m

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 4

    Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 3

    Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 2

    POV Lucia."Apa ini?!"Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dan bibiku sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, matanya langsung tertuju pada gaun itu. Di atas meja, gaun berwarna pastel itu tergeletak rusak. Pinggirannya menghitam, ada lubang kecil di bagian dada,

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 1

    Carlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status