เข้าสู่ระบบAlexandro duduk di kantornya dengan laptop terbuka di depannya. Layar menampilkan wajah-wajah eksekutif dari berbagai negara: Singapura, Jepang, Jerman, dan Amerika.Sebuah pertemuan penting tentang perluasan bisnis properti ke pasar Eropa. Biasanya, dia akan fokus seratus persen. Tapi hari ini, pikirannya terbagi. Karena di kamar tidur, Lucia terbaring lemah setelah muntah pagi itu."Tuan De Luca, boleh kita lanjut ke agenda berikutnya?" suara pria terdengar dari layar.Alexandro mengerjapkan mata. "Ya. Lanjutkan."Dia mencoba fokus. Grafik. Angka. Proyeksi keuntungan. Risiko pasar. Semuanya biasanya dia kuasai dengan mudah. Tapi hari ini, angka-angka itu tampak kabur di depan matanya. Karena di telinganya, suara Lucia muntah masih terngiang. Di pikirannya, masih ada kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan."Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya seorang wanita dari Jepang."Aku baik-baik saja. Lanjutkan."Rapat berlangsung hampir dua jam. Alexandro sesekali menjawab, sesekali membe
Keesokan harinya, sangat pagi. Lucia terbangun dengan perasaan aneh di perutnya. Bukan mual biasa, tapi sesuatu yang begitu kuat, begitu mendesak, seperti sesuatu yang naik dari perut ke tenggorokan yang tidak bisa ditahan.Dia turun dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi, dan berlutut di depan toilet. Dia muntah bukan hanya sekali, tapi berulang kali, sampai perutnya terasa kosong dan mulutnya terasa pahit. Air mata mengalir di wajahnya, bukan karena sedih, tapi karena refleks tubuh yang tidak bisa dia kendalikan.Alexandro terbangun mendengar suara itu. Dia duduk di sofa dekat jendela, terkejut. Matanya mencari Lucia di tempat tidur, tapi dia tidak ada di sana. Suara muntah dari kamar mandi membuatnya segera berdiri dan berjalan cepat ke arah sana."Lulu, kamu baik-baik saja?""A-Ale... jangan mendekat.""Apa?""Baumu... aku merasa mual..."Alexandro berhenti di ambang pintu. Dia mencium lengannya sendiri. Tidak ada bau. Dia sudah mandi sebelum tidur, menggunakan sabun tanpa pewa
Sudut Pandang PenulisAlexandro mengerjapkan mata. Dia mengangkat lengannya sendiri, mencium ketiaknya, lalu mencium punggung tangannya. Tidak ada bau. Dia baru saja mandi sebelum meninggalkan kantor. Sabunnya masih melekat di kulitnya. Bahkan wewangiannya masih samar terasa, aroma kayu dan tembakau yang sering dikatakan Lucia bisa menenangkannya."Aku tidak bau," katanya."Kamu bau!" Lucia menutup hidungnya dengan ujung bajunya. Wajahnya pucat. Dadanya naik turun dengan cepat, seolah menahan sesuatu yang naik dari perutnya. "Pergi, Ale! Jangan mendekat!"Alexandro mundur. "Tapi aku baru saja mandi...""Tidak peduli! Aku mau muntah!"Alexandro mundur lagi. Dua langkah. Tiga langkah. Kini dia berdiri di dekat pintu, menatap istrinya dengan ekspresi bingung. Dia tidak mengerti. Lucia tidak pernah mengeluh tentang baunya sebelumnya. Bahkan dulu, saat dia pulang larut malam dengan bau keringat dan asap rokok, Lucia tetap memeluknya. Tapi sekarang, dengan tubuh yang masih harum karena sabu
Lucia menangis. Bukan tangisan yang pelan dan tertahan, tapi tangisan tersedu-sedu yang keluar dari dalam dadanya. Dia berlari keluar dari kantor, menyusuri lorong, masuk ke kamar tidur, dan membanting pintu. Suara tangisnya masih terdengar samar dari balik pintu kayu mahoni yang tebal.Alexandro berdiri di kantor, kuas masih di tangannya, palet cat masih di meja samping. Lukisan wanita berbaju merah itu masih setengah jadi. Wajah Lucia di atas kanvas masih samar, tapi postur tubuhnya sudah jelas. Tubuh yang dulu sangat dibencinya. Tubuh yang dulu membuatnya merasa malu. Tubuh yang dulu dianggapnya sebagai sumber segala penghinaan.Alexandro meletakkan kuas. Dia menghela napas. Dia tahu Lucia akan marah. Dia tahu Lucia akan malu. Tapi dia tidak pernah menduga istrinya akan bereaksi sekeras ini. Dia meninggalkan kantor, berjalan menuruni tangga, melewati ruang tamu, dan berhenti di depan pintu kamar tidur.Dia mengetuk pelan."Lulu."Tidak ada jawaban. Hanya suara tangisan yang masih t
Setelah Elena dibawa ke kamar tamu, suasana di rumah besar itu perlahan kembali tenang. Isabella kembali ke ruang baca, meskipun pikirannya masih kacau. Lucia pamit pada Alexandro dan naik ke kamar untuk istirahat. Alexandro sendiri tidak langsung mengikuti istrinya. Ia berjalan ke ruang kerjanya di lantai dua.Ruangan itu sunyi. Lampu-lampu belum dinyalakan. Hanya cahaya senja dari jendela kaca besar yang menerangi ruangan dengan warna jingga kemerahan. Alexandro berjalan ke sudut ruangan, ke tempat di mana sebuah kanvas besar tertutup kain putih berdiri. Ia membuka kain penutup itu perlahan.Di dalam kanvas itu, terlihat lukisan seorang wanita berbaju merah. Belum selesai. Wajahnya masih samar, hanya garis-garis kasar yang membentuk tulang pipi, dagu, dan bibir tapi dari postur tubuhnya yang digambarkan dengan lekuk-lekuk berisi, sudah jelas siapa wanita itu.Lucia dalam versi terakhir sebelum dia mulai menurunkan berat badan. Dengan pipi tembem, lengan bergelambir, perut yang membu
Author's Pov.Alexandro pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Hari ini ia memutuskan untuk meninggalkan kantor sebelum matahari tenggelam, sesuatu yang jarang ia lakukan.Ia ingin memeluk istrinya dan merasakan kembali kebahagiaan yang sempat ia rasakan beberapa minggu terakhir tapi begitu ia memasuki ruang keluarga, ia hanya disambut oleh Davina yang sedang merapikan vas bunga di meja."Selamat sore, Tuan. Nyonya Lucia belum pulang. Dia masih di kampus.""Bukankah aku sudah menyuruhnya mengambil cuti?""Nyonya Lucia bilang sebentar lagi akan ada ujian akhir semester pertama, Tuan. Beliau tidak ingin ketinggalan."Alexandro terdiam. Ia berjalan ke sofa, duduk, dan melepas suitnya. Davina segera mengambil jas itu dan menggantungnya di belakang kursi. "Aku akan siapkan teh untuk Tuan.""Tidak. Aku hanya ingin istirahat.""Baik, Tuan."Sekitar satu jam kemudian, suara mobil terdengar. Alexandro membuka matanya. Ia mendengar suara pintu terbuka, suara langkah kaki, dan suara tawa. Bu
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil
Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman
Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur






