LOGINBeni membuka matanya. Tatapannya berubah. Tidak lagi ada kebodohan atau kegembiraan naif. Ada ketajaman dan fokus seorang profesional.Dia berdiri. "Saya akan coba menerbangkan pesawat ini."Suara Beni tenang, namun bergema di kabin yang hening karena syok.Chika, yang sejak tadi sibuk merekam video untuk status media sosialnya meski tangannya gemetar, langsung tertawa histeris. "Hah? Kamu? Si Penjaga Kos? Jangan bercanda deh! Kamu bahkan nggak tahu cara pakai sabuk pengaman dengan benar tadi! Apa kamu mau bunuh kami?"Penumpang lain mulai bergumam ragu. "Benar juga, dia cuma staf biasa...""Gila nih orang..."Marlena, meski takut, melihat sesuatu yang berbeda di mata Beni. Dia berdiri, menghadap para penumpang. "Dengarkan! Kita tidak punya pilihan! Tidak ada pilot lain di sini! Jika Beni bilang dia bisa, percayalah padanya! Lebih baik mencoba daripada menunggu ajal menjemput!"Seorang pria tua di barisan belakang, yang sebelumnya diam saja, mengangkat tangan. "Biarkan dia coba. Saya
Marlena berdiri di depan jendela kantornya, menatap jadwal penerbangan di ponselnya. Hari ini dia harus ke Singapura untuk meninjau kantor cabang di negara itu. Perjalanan bisnis singkat, dua hari, tapi tetap saja dia merasa tidak aman. Terlalu banyak percobaan pembunuhan akhir-akhir ini. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa aman adalah Beni."Beni, kamu ikut aku ke Singapura," kata Marlena.Beni yang sedang duduk di sofa ruang kerja, mengunyah keripik kentang, langsung menoleh. "Singapura? Yang di luar negeri itu?""Iya. Yang di luar negeri kan?"Mata Beni langsung berbinar seperti lampu stadion. "Saya belum pernah ke luar negeri, Nona. Selama ini saya cuma lihat Singapura di televisi. Yang ada patung singanya itu kan? Saya kira itu patung kucing raksasa.""Itu Merlion, Beni. Patung setengah ikan setengah singa.""Ikan singa? Wah, aneh. Tapi saya suka. Saya harus foto di sana. Terus saya pamer ke Alfons dan Tari. Mereka pasti iri."Marlena tersenyum tipis. "Jangan norak
Beni menutup buku laporan, meregangkan bahu, lalu mengangguk pada Tari. “Sudah. Nanti aku kirim ke paman besok pagi. Saya istirahat dulu.”Dia berdiri, berjalan ke kamarnya di ujung lorong lantai satu, dan membuka pintu pelan. Lampu kamar redup. Marlena sudah berbaring di ranjang sempitnya, membelakangi pintu, napas dibuat teratur seolah sudah tertidur. Selimut hanya menutupi pinggang ke bawah. Blusnya sedikit tersingkap.Beni menutup pintu. Dia berdiri sejenak, menatap punggung wanita itu, lalu tersenyum kecil. "Sudah tidur?"Tidak ada jawaban. Marlena tetap memejamkan mata.Beni melepas sepatu, naik ke ranjang dengan hati-hati agar pegas tidak terlalu berisik. Kasur kos itu memang kecil. Tubuhnya hampir menempel pada Marlena begitu dia berbaring di sampingnya. Dia menunduk, mencium bahu Marlena pelan, lalu menarik blus itu lebih turun.Bibirnya mendarat di lekuk dada Marlena. Ciuman pertama masih lembut. Yang kedua lebih basah. Dia membuka kancing blus satu per satu, menyingkirkan
Beni berdiri di depan cermin kamar apartemen sambil merapikan kemejanya. Hari ini dia punya tekad bulat. Dia harus pulang ke kos. Sudah terlalu lama dia meninggalkan Tari dan Alfons mengurus semuanya. Meskipun mereka bisa diandalkan, Beni tetap merasa punya tanggung jawab besar kepada pamannya."Nona, saya harus pulang ke kos. Hari ini waktunya audit bulanan. Saya harus kirim laporan keuangan ke paman," kata Beni.Marlena yang sedang duduk di sofa sambil membaca dokumen langsung menoleh. "Audit? Kamu? Tapi kamu kan harus terus mengawalku.""Sejak punya tanggung jawab, Nona. Saya harus pulang. Paman saya pelaut, tapi dia rajin cek laporan. Kalau telat, bisa-bisa dia pulang bawa cangkul buat garuk kepala saya.""Jangan pulang dulu. Aku masih butuh kamu di sini. Ini soal keselamatanku, siapa yang jaga aku kalau kamu pergi?""Ada pengawal lain, Nona. Badan mereka besar-besar. Keren. Saya malah lebih cocok jaga meja kasir."Marlena meletakkan dokumennya. Dia menatap Beni dengan serius. "Ak
Setelah selesai mandi dan berdandan, mereka berangkat bersama. Sopir sudah menunggu di lobi apartemen. Beni membukakan pintu untuk Marlena, lalu duduk di kursi depan.Mobil melaju masuk tol. Jalanan pagi itu cukup ramai. Beni menatap spion samping. Dari belakang, sebuah mobil besar melaju kencang. Terlalu kencang. Dan arahnya tepat ke mobil mereka."Nona, pegang erat," kata Beni tiba-tiba."Kenapa?""Mobil di belakang mau nyundul kita."Sopir menoleh. "Mereka mau tabrak kita, Ben?""Belok kanan sekarang."Sopir langsung memutar stir. Mobil menghindar. Mobil besar itu meleset dan menabrak pembatas jalan. Bunyi berdentum keras."Satu gagal," kata Beni.Tapi dari sisi kiri, dua mobil lain muncul. Mereka mengejar, berusaha menghimpit."Sopir, berhenti di bahu jalan. Biar saya yang ambil alih.""Tapi Ben...""Cepat!"Sopir menepi. Beni keluar, bertukar posisi. Dia menggenggam liontin di lehernya. "Kakek Piyama, saya tukar poin. Kemampuan balap tingkat satu. Sekarang."Liontin itu bergetar.
Ketika Beni naik, Marlena mengangkat pinggang. Ketika Beni turun, Marlena menerima.Kasur hampir tidak berderit. Yang terdengar hanya napas, bunyi basah yang lembut, dan kecupan yang berulang. Beni menopang tubuh dengan siku agar tidak menekan Marlena terlalu berat. Dada mereka saling bergesekan. Payudara Marlena menempel di kulit Beni, hangat, naik-turun mengikuti irama yang sama.Marlena membuka mata. Beni juga. Mereka saling menatap di sela ciuman. Tidak ada kata yang panjang. Hanya pandangan yang mengatakan bahwa malam ini tidak perlu diburu. Beni mengusap rambut Marlena dari pelipis ke belakang telinga, lalu mencium sudut bibirnya, lalu kembali ke tengah.Gerakan di bawah tetap dalam, tetap lambat. Batang kejantanan keluar sampai tengah, masuk sampai ujung. Kadang Beni menahan di titik terdalam, memutar pinggul sangat pelan, membuat Marlena mengerang ke dalam mulutnya. Kadang Marlena yang menahan pinggang Beni, meminta dia diam di dalam beberapa detik lebih lama.“Saya suka ketik
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







