공유

Kesepakatan?

작가: Nafelluve
last update 게시일: 2026-08-12 10:56:37

Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi cukup untuk membuat pikirannya semakin penuh. Ia membaca ulang tulisan tersebut beberapa kali, berharap ada sesuatu yang terlewat atau setidaknya petunjuk mengenai siapa pengirimnya.

Hana menekan tombol panggil. Sambungan bahkan tidak sempat berdering lama sebelum terputus. Ia mencoba sekali lagi dengan hasil yang sama.

“Siapa sebenarnya yang mengirim ini?”

Jarinya berhenti di atas layar. Setelah beberapa detik, Hana akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia tidak punya tenaga untuk mengurusi sesuatu yang belum jelas, sementara keadaan ayahnya jauh lebih mendesak.

Ia kembali ke ruang intensif. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu, seorang perawat keluar dari dalam ruangan. Perempuan itu sempat terkejut melihat Hana berdiri di sana.

“Nona Hana, kebetulan saya sedang mencari Anda.”

“Ada apa, Sus?”

“Dokter Rendi meminta saya menyampaikan bahwa kondisi ayah Anda masih sama. Belum ada perubahan yang mengkhawatirkan sejak pemeriksaan terakhir.”

Hana mengembuskan napas lega meskipun hanya sedikit. “Baik. Terima kasih.”

Ia hendak masuk, tetapi perawat itu kembali memanggilnya. “Oh, satu lagi. Tadi ada petugas administrasi yang mencari Anda.”

Hana mengernyit. “Untuk apa?”

“Saya kurang tahu. Katanya ada urusan mengenai biaya tindakan medis.”

Jantung Hana seketika berdegup lebih cepat. “Biaya?”

“Iya. Mungkin sebaiknya Anda langsung ke bagian administrasi.”

Hana mengangguk. Ia menoleh sebentar ke balik kaca, memastikan ayahnya masih berada dalam kondisi yang sama sebelum akhirnya berjalan menuju bagian administrasi.

Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali kepada perkataan Reinald. Hana sempat mengira pria itu hanya mengatakan sesuatu untuk membuatnya berhenti bertanya.

Namun melihat petugas administrasi mencarinya sekarang, kemungkinan itu terasa semakin kecil.

Begitu sampai, seorang perempuan yang duduk di balik meja langsung berdiri. “Nona Hana?”

“Iya.”

“Silakan duduk sebentar.”

Hana tidak segera duduk. “Ada apa dengan biaya ayah saya?”

Perempuan itu mengambil sebuah map dari samping mejanya. “Kami baru saja menerima konfirmasi pembayaran untuk tindakan operasi Bapak Surya Pratama.”

“Pembayaran?”

“Iya. Pihak yang melakukan pembayaran sudah menyelesaikan administrasi awal dan meminta rumah sakit segera mempersiapkan jadwal operasi.”

Untuk beberapa saat, Hana hanya menatap perempuan tersebut. “Siapa yang membayarnya?”

“Dari pihak yang menghubungi kami, namanya Reinald Wijaya.”

Hana seketika teringat pertemuan mereka tadi. Pria itu memang menanyakan biaya operasi ayahnya. Namun Hana sudah jelas mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Bahkan ia meminta Reinald tidak ikut campur. Ternyata pria itu sama sekali tidak mendengarkannya.

“Maaf, tapi saya tidak pernah memberikan persetujuan.”

Petugas administrasi tampak serba salah. “Saya memahami itu, Nona. Namun pembayaran sudah masuk dan rumah sakit tidak bisa menolaknya begitu saja. Kami hanya perlu memastikan apakah Anda bersedia melanjutkan proses administrasinya.”

Hana menarik napas panjang. “Berapa jumlah yang dibayarkan?"

Perempuan itu menyebutkan nominalnya. Jumlah tersebut bukan sekadar uang muka. Reinald membayar hampir seluruh biaya yang selama ini membuatnya tidak bisa tidur.

Dadanya terasa sesak. Seharusnya ia lega dan bersyukur karena masalah yang sejak kemarin menghantuinya akhirnya memiliki jalan keluar. Namun, yang muncul justru rasa tidak nyaman.

“Apakah ada syarat tertentu?”

“Setahu saya tidak ada. Pihak Tuan Reinald hanya meminta agar operasi dilakukan sesegera mungkin setelah dokter menyatakan kondisi pasien memungkinkan.”

Hana memejamkan mata. Setidaknya tidak ada perjanjian aneh atau tuntutan yang harus ia penuhi. Namun tetap saja, ia tidak bisa menerima uang sebanyak itu begitu saja.

“Saya ingin mengembalikannya.”

Petugas administrasi tersebut tampak terkejut. “Nona Hana?”

“Saya akan bicara langsung dengan dia.”

Hana mengambil kembali tasnya dan berbalik meninggalkan meja administrasi. Langkahnya semakin cepat ketika keluar dari ruangan.

Ia langsung mencari nomor yang diberikan Armand semalam. Jarinya baru saja menekan tombol panggil ketika seseorang berdiri di hadapannya.

“Nona Hana?”

Hana mengangkat wajah. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan berdiri beberapa langkah di depannya. Penampilannya sederhana tetapi rapi. Ia mengenakan kemeja putih dengan jas gelap tanpa dasi. Di tangannya terdapat sebuah map tipis.

“Siapa Anda?”

“Saya Dimas. Asisten Tuan Reinald.”

Hana menatapnya curiga. “Anda yang diminta datang?”

Dimas mengangguk. “Saya diminta menemui Anda pagi ini.”

“Kalau begitu, tolong sampaikan kepada Tuan Reinald bahwa saya tidak menerima pembayaran itu.”

Dimas tampak tidak terkejut. “Saya sudah menduga Anda akan mengatakan hal tersebut.”

“Lalu kenapa tetap dibayar?”

“Karena Tuan Reinald tahu Anda akan menolaknya kalau dia meminta izin terlebih dahulu.”

Hana terdiam. Ada rasa kesal yang perlahan naik ke kepalanya. “Dia tidak bisa mengambil keputusan sepihak untuk hidup saya.”

“Saya setuju.” Jawaban tersebut justru membuat Hana bingung.

Dimas membuka map yang dibawanya. “Itulah alasan saya datang. Tuan Reinald tidak meminta Anda berterima kasih. Dia juga tidak menganggap pembayaran itu sebagai hutang yang harus Anda bayar kembali.”

“Lalu apa maunya?”

“Dia ingin Anda membaca ini terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.” Sebuah dokumen disodorkan kepadanya.

Hana tidak langsung mengambilnya. “Apa ini?”

“Kesepakatan.”

Kening Hana berkerut. “Kesepakatan tentang apa?”

Dimas menatapnya sebentar sebelum menjawab dengan tenang. “Berkaitan dengan kejadian di Apartemen Arunika.”

Hana akhirnya mengambil dokumen tersebut. Ia membuka halaman pertama dan membaca beberapa baris dengan cepat.

Isinya tidak panjang. Ada penjelasan mengenai kejadian malam itu, kondisi Reinald yang kehilangan sebagian ingatan, serta kesediaan pihak Wijaya untuk menanggung seluruh biaya pengobatan Surya.

Hana membalik halaman berikutnya. Ada satu bagian yang membuat matanya berhenti. “Ini apa?”

Dimas tidak perlu melihat bagian yang dimaksud. “Tuan Reinald meminta Anda untuk tidak menceritakan kejadian malam itu kepada siapa pun, termasuk media atau pihak luar yang tidak berkepentingan.”

Hana mengangkat wajah. “Saya memang tidak punya niat menceritakannya.”

“Bukan hanya itu.” Dimas menunjuk bagian bawah halaman.

Hana membaca kalimat berikutnya dengan perlahan. Semakin jauh matanya bergerak, semakin kaku ekspresinya. Ada klausul mengenai hubungan mereka selama beberapa waktu ke depan.

Hana menelan ludah. “Kenapa nama saya harus dicantumkan sebagai pihak yang berkaitan dengan Reinald?”

“Karena sejak malam itu, Anda sudah masuk ke dalam persoalan yang melibatkan keluarga Wijaya.”

“Dan apa hubungannya dengan biaya operasi ayah saya?” Dimas terdiam sebentar. Pertanyaan itu akhirnya dijawab dengan nada yang jauh lebih serius.

“Kalau Anda ingin biaya operasi tetap ditanggung oleh Tuan Reinald, ada satu hal yang harus Anda lakukan.”

Hana menatapnya tajam. “Apa?”

Dimas mengeluarkan satu lembar dokumen lain dari map tersebut. “Mulai hari ini, Anda harus bersedia menjadi tunangan Tuan Reinald Wijaya di hadapan keluarga dan publik.”

Hana membeku. Tangannya yang memegang dokumen perlahan turun. “Maaf?”

“Tuan Reinald tidak ingin hubungan Anda dengannya disalahartikan setelah kejadian di apartemen. Dan ada alasan lain yang menurutnya jauh lebih penting.” Dimas menyerahkan lembar terakhir itu kepada Hana.

Di bagian bawah halaman terdapat nama Reinald Wijaya. Hana belum sempat membaca seluruh isinya ketika matanya menangkap satu kalimat yang membuat napasnya tercekat.

‘Pertunangan itu harus diumumkan sebelum operasi ayahnya dilakukan.’

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Kesepakatan?

    Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi cukup untuk membuat pikirannya semakin penuh. Ia membaca ulang tulisan tersebut beberapa kali, berharap ada sesuatu yang terlewat atau setidaknya petunjuk mengenai siapa pengirimnya.Hana menekan tombol panggil. Sambungan bahkan tidak sempat berdering lama sebelum terputus. Ia mencoba sekali lagi dengan hasil yang sama.“Siapa sebenarnya yang mengirim ini?”Jarinya berhenti di atas layar. Setelah beberapa detik, Hana akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia tidak punya tenaga untuk mengurusi sesuatu yang belum jelas, sementara keadaan ayahnya jauh lebih mendesak.Ia kembali ke ruang intensif. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu, seorang perawat keluar dari dalam ruangan. Perempuan itu sempat terkejut melihat Hana berdiri di sana.“Nona Hana, kebetulan saya sedang mencari Anda.”“Ada apa, Sus?”“Dokter Rendi meminta saya menyampaikan bahwa kondisi ayah Anda masih sama. Belum ada perubahan yang mengkhawatirkan sejak pemeriksaan

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Bertemu Lagi

    Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.Reinald akan datang menemuinya.Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunj

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Orang Suruhan Reinald

    Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Pria Di Dalam Mobil

    Hana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya."Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona.""Siapa orangnya?""Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya."Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.Apak

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Siapa Orang Itu?

    Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi. “Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih. Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong. “Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah. Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasb

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Salah Kamar?

    Ting! Suara notifikasi ponsel membuat Hana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram ketika tangannya meraba-raba permukaan meja di samping ranjang.Bianca: Hana, kamu ini ke mana? Kok malah menghilang?Hana mengernyit. Pesan berikutnya berhasil masuk.Bianca: Laki-laki tua itu semalam mendatangiku dan semuanya jadi kacau. Aku kira kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Kalau seperti ini, aku batal kasih uang itu ke kamu.Mata Hana langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangun. Gerakannya membuat selimut yang menutupi tubuhnya bergeser. Hana membeku ketika menyadari satu hal yang baru saja luput dari pikirannya. Ia belum mengenakan pakaian.“Ya Tuhan...”Hana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat ke samping. Seorang pria masih terbaring di sana.Hana menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya bergerak membuka percakapan dengan Bianca.Hana: Bi, tapi aku benar-benar masuk ke kamar yang kamu bilang. Aku bah

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status