تسجيل الدخول
"Ada apa ini, Bu?"
Aku menghentikan langkah begitu memasuki ruang keluarga.
Beberapa pria dan wanita bersetelan jas hitam duduk mengelilingi meja yang biasa digunakan Ayah menerima tamu bisnis. Sebagian mengetik di laptop, sebagian lagi memeriksa dokumen.
Vivian Laurent menoleh kepadaku sambil mengaduk teh di cangkirnya.
Sepuluh tahun lalu, Ayah membawanya ke rumah ini sebagai istri kedua. Sejak saat itu, ia dan putrinya, Sophia, tinggal bersama kami.
"Ah, kau sudah datang rupanya," katanya santai.
"Ada apa ini?"
"Pembacaan wasiat."
Aku mengernyit.
"Wasiat? Ayah bahkan belum genap tujuh hari meninggal."
"Lalu?"
"Apa tidak terlalu cepat membahas warisan?"
Vivian mengangkat bahu.
"Yang telah meninggal sudah tenang. Kita yang masih hidup harus memikirkan masa depan."
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku sendiri bahkan belum sanggup menerima kenyataan bahwa Ayah telah pergi.
"Menurut Ibu ini pantas?"
Vivian tersenyum tipis.
"Jangan berlebihan, Evelyn."
Belum sempat aku membalas, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Tuan Adrian Moreau, pengacara keluarga Laurent, memasuki ruangan sambil membawa sebuah amplop cokelat.
"Maaf atas keterlambatan saya, Nyonya."
"Tidak apa-apa."
Ia melihat kami bergantian.
"Kalau semua anggota keluarga sudah hadir, kita bisa segera memulai."
"Tentu," jawab Vivian cepat.
Aku duduk di samping Sophia.
Sejak tadi ia bahkan tidak mengangkat kepala dari ponselnya.
"Kau tidak bekerja hari ini?" tanyaku.
"Cuti."
"Hmm."
Hubungan kami berubah sejak aku mengetahui perselingkuhannya dengan Nathaniel.
Saat aku sibuk menjaga Ayah di rumah sakit, mereka justru menjalin hubungan di belakangku.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?" tanyaku.
Sophia akhirnya menoleh.
"Baik. Nathaniel bahkan berniat melamarku."
Aku mengangguk.
"Baguslah."
Ia terus menatapku, mungkin berharap aku marah atau sedih.
Sayangnya, aku sudah terlalu lelah untuk mempertahankan laki-laki yang jelas tidak memilihku.
Suara Tuan Adrian memecah keheningan.
"Pembacaan wasiat Almarhum Tuan William Laurent akan segera dimulai."
Ia mengangkat amplop di tangannya.
"Dokumen ini selama ini disimpan di brankas pribadi beliau di Bank Swiss."
Pandangannya beralih kepada Vivian.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Nyonya Vivian Laurent karena telah menemukan kata sandi brankas tersebut sehingga surat ini akhirnya dapat dibuka."
Ia menyobek segel amplop.
Ruangan berubah sunyi.
Entah kenapa, senyum Vivian membuat perasaanku tidak enak.
"Aneh..." gumamku pelan.
Tuan Adrian mulai membaca.
"Kepada istri tercinta dan putri cantikku..."
Aku mendengarkan setiap katanya.
Lalu satu per satu isi wasiat mulai dibacakan.
Seluruh perusahaan keluarga diwariskan kepada Vivian.
Rumah utama keluarga diberikan kepada Sophia.
Seluruh rekening di Bank Swiss dan Amerika juga diwariskan kepada Sophia.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Ini tidak mungkin.
"Ini pasti salah..." bisikku.
Aku hampir tidak lagi mendengar suara Tuan Adrian.
Denging memenuhi telingaku.
Saat kembali sadar, kulihat Vivian sudah menerima dokumen yang harus ditandatangani.
"TIDAK!"
Semua orang menoleh.
"Tidak mungkin!" teriakku. "Ayah tidak mungkin melakukan ini!"
Aku merebut surat wasiat itu dari tangan Tuan Adrian.
Tanganku gemetar saat membaca setiap kalimat.
Tulisan itu memang milik Ayah.
Tapi...
Kenapa namaku tidak ada?
"Nona Evelyn," ucap Tuan Adrian pelan. "Kami sudah memastikan keaslian dokumen ini. Tidak ada kesalahan."
Aku tidak mendengarnya lagi. Lebih tepatnya tidak bisa mendengarnya.
Mataku hanya melihat dua nama.
Vivian Laurent.
Sophia Laurent.
Namaku tidak ada.
Seolah aku bukanlah putri William Laurent.
Aku mengepalkan surat itu hingga kusut.
Saat menoleh, kulihat Sophia menutup tawanya dengan telapak tangan.
"KAU!"
Aku menunjuknya.
"Kau tahu soal ini, kan?"
Belum sempat Sophia menjawab—
PLAK!
Tamparan Vivian mendarat di pipiku.
Aku memegang pipi yang terasa panas.
"Ibu... menamparku?"
Vivian menatapku tajam.
"Jangan membuat keributan yang tidak semestinya."
Aku tertawa pelan.
Tawa yang bahkan terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.
"Aku mengerti sekarang."
"Apa?"
"Bahwa ternyata selama ini aku hanyalah orang asing di rumahku sendiri. Rumah yang dibeli oleh kedua orangtuaku."
"Itu sudah jadi keputusan ayahmu," ucap Vivian.
"Tidak."
Aku menggeleng. "Itu tidak mungkin."
Ayah mungkin pernah marah padaku.
Ayah mungkin pernah kecewa.
Tapi beliau tidak mungkin menghapusku dari hidupnya.
Tidak mungkin. Ini pasti kesalahan.
"Kau harus belajar menerima kenyataan, Evelyn."
Aku menatap Vivian sepersekian detik.
Lalu mengangguk.
"Baik."
Untuk sesaat wajahnya tampak lega.
Namun aku melanjutkan,
"Kalau memang rumah ini bukan lagi milikku... aku akan pergi."
Senyum Sophia langsung menghilang.
"Kau serius?" tanya Vivian.
Aku tidak menjawab.
Aku berbalik dan menaiki tangga.
"Evelyn!" teriak Vivian.
Setiap anak tangga terasa semakin berat.
Begitu sampai di kamar, aku menjatuhkan diri di tepi ranjang dan menatap kosong ke arah jendela.
Rumah ini terasa asing.
Padahal aku tumbuh di sini.
Setiap sudutnya menyimpan kenangan tentang Ayah, tetapi entah sejak kapan tempat yang dulu terasa paling aman kini justru membuatku ingin pergi sejauh mungkin.
Aku memejamkan mata.
Wajah Ayah muncul dalam benakku.
Lalu wajah Nathaniel.
Disusul tawa Sophia yang masih terngiang di telingaku.
Dadaku kembali sesak.
Dalam waktu singkat, hidupku berubah berantakan.
Aku kehilangan Ayah.
Kehilangan tunangan.
Dan hari ini, aku kehilangan rumah yang selama ini kuanggap milikku.
Saat mengangkat kepala, pandanganku menangkap sebuah amplop merah yang tergeletak di atas meja rias.
Aku mengernyit.
Seingatku, tadi pagi benda itu belum ada.
Perlahan aku bangkit dan mengambilnya.
Sebuah undangan.
Aku membuka amplop itu.
Aku membuka isinya dan mendapati namaku tercetak rapi di sana.
Undangan untuk tampil sebagai seorang celloist dalam sebuah acara eksklusif yang akan diselenggarakan di Italia.
Biasanya aku akan mempertimbangkannya berkali-kali sebelum memberikan jawaban.
Namun kali ini, yang kurasakan justru berbeda.
Italia.
Mendengar nama Negara itu seperti akan cocok untuk melepas semua kepenatan ini.
Jauh dari Vivian.
Jauh dari Sophia.
Dan, jauh dari Nathaniel.
Tanpa sadar jemariku menggenggam undangan itu lebih erat.
Mungkin ini hanya sebuah pekerjaan. Sebuah perjalanan singkat yang tidak berarti apa-apa.
Atau mungkin... ini adalah kesempatan untuk meninggalkan semua hal yang selama ini menahanku.
Pandanganku berhenti pada nama penyelenggara yang tercetak di bagian bawah surat.
Bellucci Foundation.
Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Namun entah mengapa, ada sesuatu yang mengusik diriku dan membuatku bertanya haruskah aku menerima undangan ini?
Aku tidak tahu sejak kapan malam itu berubah menjadi begitu menyenangkan.Awalnya aku hanya berdiri di dekat meja bersama beberapa tamu, berusaha mengikuti percakapan yang sebagian besar tidak kupahami.Namun setelah beberapa saat, aku mulai menikmatinya.Musik yang dimainkan begitu indah.Lampu-lampu di ruangan itu membuat semuanya terlihat seperti adegan dari film.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...aku merasa benar-benar bebas."May I?"Aku menoleh.Seorang pria berdiri di hadapanku sambil mengulurkan tangannya.Aku sempat melihat ke arah Mattheo.Ia masih sibuk berbicara dengan beberapa pria di sisi lain ruangan.Aku kembali menatap pria di hadapanku."Untuk berdansa?"Ia mengangguk.Aku tersenyum."Baiklah."Tanganku menyambut uluran tangannya.Kami berjalan menuju lantai dansa.Aku tidak tahu siapa dia.Dan jujur saja, aku ti
Malam itu London terlihat berbeda.Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil yang kami tumpangi, sementara gedung tempat acara berlangsung sudah terlihat dari kejauhan. Barisan mobil mewah memenuhi area depan gedung. Para tamu datang silih berganti, sebagian besar ditemani pengawal, asisten, atau pasangan mereka.Aku mengenali beberapa wajah.Pebisnis.Investor.Pemilik galeri.Orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam dunia seni dan pendidikan.Malam ini bukan sekadar acara peringatan.Bagi kami, ini adalah kesempatan.Kesempatan untuk membuka pintu yang selama ini tertutup bagi Akademi Bellucci.Aku menoleh ke samping.Evelyn sedang melihat ke luar jendela.Sejak tadi ia terlihat tenang.Terlalu tenang.Aku tahu dia sebenarnya gugup.Tangannya beberapa kali merapikan bagian gaunnya meskipun tidak ada yang salah."Berhenti."Ia menoleh."Apa?""Jan
Sejak kejadian di pesawat itu, ada satu masalah yang tidak bisa kuabaikan.Aku tidak bisa berhenti memikirkan Evelyn.Bukan hanya tentang bagaimana ia terjatuh ke pangkuanku.Bukan pula tentang wajahnya yang memerah setelah menyadari posisi kami.Melainkan tentang bagaimana tubuhku bereaksi saat itu.Aku sudah mengenal banyak perempuan sepanjang hidupku.Aku tahu bagaimana mengendalikan diri.Aku tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh.Namun Evelyn...Ia berbeda.Dan sejak kejadian itu, pikiranku menjadi kacau.Aku bahkan masih bisa mengingat jelas bagaimana tubuhnya menabrakku ketika pesawat mengalami turbulensi.Bagaimana ia panik.Bagaimana ia menyebut namaku dengan suara gagap.D
Akhirnya...Kami sampai di London.Begitu roda pesawat menyentuh landasan, aku spontan menoleh ke luar jendela.Langit London terlihat sedikit kelabu.Berbeda dengan Italia.Namun entah kenapa, aku sangat senang."Yeay....London."Mattheo yang duduk di sebelahku menoleh."Aku sudah lama tidak ke sini.""Kapan terakhir kali?"Aku berpikir sebentar."Beberapa tahun lalu.""Lalu?"Aku menunjuk ke luar jendela."Aku selalu menyukai kota ini."Mattheo hanya mengangguk.Pesawat perlahan bergerak menuju area parkir pribadi.Aku memperhatikan segala sesuatu dari balik jendela seperti seorang anak kecil yang baru pertama kali bepergian.Beberapa kendaraan hitam sudah menunggu.Begitu pesawat berhenti sempurna, para staf mulai bersiap.Aku melepas sabuk pengaman."Sudah?"Mattheo mengangguk.Aku berdiri.Namun sebelum keluar, aku tiba-tiba teringat sesuatu."Mattheo.""Hmm?""Terima kasih."Ia menatapku."Untuk apa?""Mengajakku."Ia diam sebentar.Kemudian menjawab singkat."Sama-sama."Aku te
Aku masih duduk di pangkuannya.Dan Mattheo masih memegang pinggangku.Entah kenapa tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.Pesawat kembali berguncang pelan.Namun kali ini aku tidak lagi memikirkan turbulensi.Aku justru terlalu sadar dengan jarak kami yang begitu dekat.Mattheo menatapku.Tatapannya berbeda.Lebih dalam.Lebih sulit kubaca.Kemudian wajahnya perlahan mendekat.Aku langsung menahan napas.Jantungku seperti ingin keluar dari dada."Mattheo...""Hmm?"Wajahnya semakin dekat.Aku menelan ludah."K-kau mmau ap-apaa..."Entah kenapa suaraku justru terdengar seperti orang gagap.Sudut bibirnya sedikit terangkat."Apa?""Kau..."Aku tidak sanggup melanjutkan kalimat.Jarak kami hanya tinggal beberapa sentimeter.Aku bahkan bisa merasakan hangat napasnya.Matanya turun sebentar ke bibirku.Dan refleks...aku menutup mata.Ya Tuhan.Apa yang sedang kulakukan?Kenapa aku menutup mata?Apa aku benar-benar berharap ia menciumku?Aku bahkan tidak sempat menemukan jawabannya.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.Sejujurnya, aku masih belum terbiasa dengan kenyataan bahwa aku akan pergi ke London bersama Mattheo.Semuanya terasa terlalu mendadak.Kemarin kami baru saja kembali bertemu setelah dua bulan.Dan sekarang...Aku sudah berdiri di parkiran.Dan menatap sekeliling.Tidak ada gedung bandara.Tidak ada antrean penumpang.Tidak ada suara pengumuman keberangkatan.Bahkan tidak ada satu pun pesawat komersial yang terlihat.Aku menoleh kepada Mattheo yang berjalan beberapa langkah di depanku."Tunggu."Ia berhenti.Aku menghampirinya."Di mana bandaranya?"Mattheo menatapku."Bandara?""Iya."Ia mengangkat salah satu alisnya."Kau mengira kita akan naik pesawat komersial?"Aku mengerutkan kening."Memangnya tidak?""Kenapa harus?"Aku terdiam."Karena... biasanya orang pergi ke London







