LOGINPekerjaan kali ini benar-benar menyita seluruh tenaganya. Raka harus benar-benar merayu beberapa kolega agar mereka setuju dan menandatangani proyek yang bernilai ratusan juta itu. Namun, urung ia istirahat sejenak sudah disambut beberapa nasehat oleh ibunya, Widya. Wanita paruh baya itu selalu saja mempertanyakan kapan akan memiliki anak. “Siapa yang akan menjadi penerus kamu jika kamu belum punya anak dari Adhisti, Raka,” omel Widya saat Raka baru saja mendudukkan dirinya di atas sofa.Raka melepas kancing kemejanya yang paling atas. Hari ini terasa mencekik, ditambah kancing yang paling tinggi itu rasanya sulit untuk bernapas. Raka merenggangkan dasi yang terpasang di sana.Pria itu menghela napas sejenak. Niatnya untuk istirahat buyar sudah. Raka yang selalu menjadi anak penurut dan berbakti kepada ibunya, harus meladeni omelan sang ibu. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Widya dalam keadaan marah.“Bu, dulu waktu sama Kirana menikah dua tahun disuruh jangan punya anak. Seka
Gio mengernyitkan dahinya, menatap dua wanita terindah dalam hidupnya. “Lo … kenapa mata pada bengkak semua?” tanya Gio menyadari jika mata sang ibu dan Kirana sembab.Dua wanita yang ada di sana pun hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Gio. Pria itu malah mengerutkan dahinya. “Kok hanya senyum.” Dengan penuh rasa khawatir Gio memegang tangan sang ibu.“Ada apa?” tanya Gio sekali lagi membutuhkan jawaban dari sang ibu.Heni melepaskan tangan Gio dari genggamannya. Wanita paruh baya itu membawa tangannya untuk mengusap pipi sang sang anak. “Gio, ibu enggak nangis. Ibu senang kamu pulang bawa calon mantu ibu.” Bukan hanya Gio, tetapi Kirana juga tersipu saat Heni mengatakan jika ia calon mantu. Siapa yang menyangka jika ia akan diterima di rumah ini dengan hangat. Ia juga tidak menyangka jika status yang ia sandang tidak membuat Heni menentang hubungannya dan sang anak.‘Gio sudah cerita.’Jadi, sebenarnya Gio sudah menceritakan banyak hal pada ibunya? Termasuk statusnya sebagai
“Gio itu tidak pernah terbuka pada orang lain.” Heni menjeda kalimatnya sejenak. “Ia lebih memilih menutup diri.”Mendengar apa yang disampaikan oleh Heni membuat Kirana mengernyitkan dahi. Memang selama Iki Gio tidak pernah menceritakan apapun. Entah soal kerja atau kehidupan pribadinya. Namun, apa alasan Gio menutup diri?“Apa sejak sama kamu, Gio banyak bicara?” Kirana menganggukkan kepalanya, memang akhir-akhir ini Gio lebih banyak bicara sari pada saat awal mereka bertemu. Heni menyunggingkan senyum yang terpatri di bibirnya. Meski bibir itu tersenyum, tetapi ada kesedihan yang samar tersimpan di sana."Itu berarti dia sudah benar-benar nyaman sama kamu." Kirana melirik ke arah dapur. Dari ruang tamu, ia bisa melihat punggung Gio yang sedang berdiri membelakangi mereka. Pria itu tampak sibuk menuangkan air panas ke dalam cangkir. Suara dentingan sendok sesekali terdengar.Sebenarnya ada apa dengan pria yang beberapa waktu terakhir ini dekat dengannya? Mengapa tidak pernah sekal
Kirana menatap bangunan yang berdiri megah di hadapannya. Pagar tinggi berwarna hitam terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas yang tertata rapi dengan hamparan rumput hijau dan deretan tanaman hias yang terawat.Rumah bergaya modern itu tampak begitu mewah.Dinding-dinding berwarna netral berpadu dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari sore. Dari luar saja, Kirana sudah bisa membayangkan betapa luasnya rumah tersebut.Tanpa sadar, jemarinya saling bertaut.Perasaan gugup yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan kembali muncul.Kirana mengatupkan bibirnya, sekali lagi, ia sangat berbeda jauh dari Gio maupun Raka. Selalu saja perasaan Dejavu itu muncul tatkala ia awalnya yakin akan sesuatu.Dulu, ia dihina habis-habisan oleh keluarga Raka karena ia seorang yatim piatu dan hanya seorang wanita rendahan yang bekerja di kantor Raka. Sekarang perasaan itu kembali muncul dengan sendirinya. Bagaimana jika kejadian itu terulang kembali? Dihina dan diacuhkan. Namun, kali i
Jantung Kirana berdegup tidak karuan, sebuah tangan besar menangkup wajahnya dengan lembut. Tatapan Gio penuh damba pada Kirana. Perasaannya masih sama, masih sama seperti dulu. Cinta yang ditawarkan Gio pada Kirana tidak akan pernah pudar. Selamanya akan seperti itu. "Dengar, aku mencintaimu, aku tidak akan pernah berubah untuk lain hal." Gio selalu punya cara untuk membuat Kirana tersipu. Meski hanya sebuah kata, tetapi mampu meluluhlantakkan hati wanita itu. "Karena aku yakin sekarang perasaanmu padaku, maka aku akan membawamu pada orang tuaku." Ibu jari Gio mengusap pelan pipi Kirana yang telah memerah. Kirana menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahu mengapa perasaannya pada Gio bisa tumbuh begitu besar. Sedari awal, Gio memang ada untuknya. Di saat mantan suaminya sibuk dengan segala hal yang menjadi alasannya, Gio menawarkan kenyamanan yang membuat ia terlena hingga sekarang. "Tapi, jika orang tuamu tidak suka padaku bagaimana?" takut Kirana. Kirana sangat sadar di
Kirana disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menanti. Wanita itu sesekali masih menyempatkan hobinya menulis. Bahkan novel yang ia garap selalu meledak di pasaran. Meski begitu, Kirana tidak bisa fokus hanya dengan menulis saja. Terkadang ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, tetapi ia tidak bisa meninggalkan hobinya untuk menulis novel.Jemari wanita itu lincah mengetik di atas papan keyboard. Sedangkan wanita itu tidak tahu jika sedari tadi sepasang mata sedang menatap ke arahnya. “Masih belum selesai?” tahya Gio yang menanti Raka menyelesaikan satu naskah lagi.“Sedikit lagi.” Tanpa menoleh Kirana menjawab pertanyaan dari Gio.Saat ini mereka berada di sebuah kafe yang tidak jauh dari ruang Kirana. Sebenarnya sebelum Gio datang Kirana sudah sampai di kafe lebih dulu. Wanita itu ingin merampungkan satu naskah lagi sebelum ia menyisipkan kata tamat di akhir.Kirana yang sedang fokus pada tulisannya itu pun melirik ke arah Gio. Pria itu menyodorkan makanan di depan mul







