เข้าสู่ระบบSore ini, cuaca masih sangat cerah dan panas. Sinar matahari pun menyengat begitu kuat membuat Marissa dan Fanny yang baru sampai di Kota A merasa kepanasan. "Kita naik taksi dari sini saja, ya! Tidak usah makan dulu! Nanti di kafe pun kita akan makan lagi!" ucap Fanny sambil berdiri di pinggir jalan. Mereka akan pergi ke Cafe Mara—tepat yang sudah dijanjikan. "Bagaimana dengan penampilanku? Apa ini terlihat sangat aneh?" Marissa yang sebelumnya memiliki kulit putih dan bersih, kini sudah berubah menjadi sawo matang. Pakaiannya pun sudah diganti dengan pakaian sederhana yang sedikit kebesaran. Kalau dilihat dari jauh, Marissa terlihat sangat jelek dan hitam. Namun kalau dilihat dari dekat, masih jelas tata letak bibir, hidung dan mata indah yang sempurna. Fanny sengaja membeli pakaian jelek dan krim kulit yang sangat bagus dan tahan air hanya untuk menutupi penampilan cantik Marissa. Ia harus mengubah penampilan Marissa agar orang tidak bisa mengenalinya. "Sa! Aku memang sen
Di kamar berukuran 3 x 3 meter persegi, Fanny masuk dan menghampiri Marissa yang ada di atas tempat tidur. Wanita itu sedang duduk sambil memegang kedua lututnya di depan dengan pandangan mata terus melihat ke arah luar jendela. Ekspresi wajahnya begitu mengerikan, layaknya seorang wanita yang sedang stres. "Sa!" sapa Fanny, sedikit takut. Ia takut teman baiknya itu akan mengamuk karena dirinya masuk ke kamarnya tanpa permisi. "Ini aku! Fanny!" Dia memperkenalkan diri sambil berjalan menghampiri sahabatnya. Ia khawatir Marissa tidak mengenalinya lagi. Fanny sudah tau tentang Mario yang dibawa pergi oleh Danendra ke Kota A, juga tahu siapa orang yang menyimpan Mario bayi di depan pintu rumah sewaan Marissa sampai sahabatnya itu merawat dan membesarkan bayi itu layaknya anak sendiri. Semua itu sudah Merina ceritakan pada Fanny tanpa ada yang terlewat. Pantas saja, Marissa hampir gila karena anak yang sudah dirawat dan dibesarkan dengan susah payah dan dengan pengorbanan yang b
"Sa! Masalah itu, kita bicarakan nanti di rumah, ya! Sekarang, ayo kita pulang! Ibu obati lukamu, ya?" Merina membujuknya, berharap putrinya mau pulang dan tidak lagi membuat onar di jalan. "Aku bilang, tidak, ya, tidak, Bu!" Marissa menghempaskan tangan ibunya. Ia kembali melihat ke arah Danendra tanpa mempedulikan kakinya yang sakit dan berdarah. "Aku akan tetap berada di sini sampai mantan bosku ini mengembalikan Mario kepadaku!" ucap Marissa dengan banyak penekanan. Apalagi saat mengatakan kata "Mantan Bos", Marissa mengatakannya dengan sangat tegas. Itu juga yang membuat kening di wajah tampan Danendra tiba-tiba mengerut. "Besok kami akan melakukan tes DNA pada anak itu! Silahkan kau tunggu di sini sampai hasilnya keluar! Kalau hasilnya sudah keluar dan anak itu bukanlah darah dagingku, maka Fandy akan segera mengantar anak itu kemari! Tapi, kalau DNA kami sangat cocok... silahkan kau menunggu dan berdiri di sini sampai kakimu lelah, karena sampai kapanpun anak itu tidak a
"Tuan, apa kita pergi sekarang?" tanya seseorang yang ada di depan roda kemudi. Dia belum mengendarai mobilnya, karena orang yang di tuannya belum memberinya perintah. "Tidak! Tunggu sebentar!" jawab Danendra yang duduk di kursi belakang. Ia masih enggan untuk pergi sebelum Marissa melihatnya ada di dalam mobil. Mulut berbicara pada seseorang yang ada di depannya, tapi pandangan matanya terfokus pada wanita yang ada di luar. "Fandy! Apa Diego dan yang lainnya sudah pergi?" Tadi, Danendra sudah berbicara pada Mario dan sudah membujuknya untuk tidak menangis. Malam ini, anak itu akan dibawa ke rumah Danendra karena besok mereka akan melakukan tes DNA. Walau awalnya Mario menolak, tapi setelah Merina ikut membujuknya dan berjanji akan mengajak Marissa menyusulnya ke Kota A, barulah dia tidak menangis lagi. Mario bersedia mengikuti orang-orang itu asalkan Danendra menjemput Marissa sekarang. "Sudah, Tuan! Mereka sudah berangkat," jawab Fandy dengan yakin. Mobil yang Mario tu
"Seperti yang saya katakan tadi, ini memang terdengar sedikit aneh! Tapi itulah yang terjadi! Mario memang anak saya!" 'Wawwww ... ini sungguh luar biasa!' Para tetangga sangat terkejut dengan kehadiran Danendra yang gagah dan tampan itu. Apalagi ketika mendengar penjelasannya tentang putra Marissa yang katanya adalah anaknya. Mereka jadi berubah pikiran dan mulai menebak sesuatu. Dulu, Marissa bukannya hamil tanpa suami, lalu membesarkan bayinya sendiri tanpa tahu siapa ayahnya, seperti yang selalu mereka tuduhkan ketika Marissa membawa seorang bayi ke rumahnya. Tapi ternyata, ayah dari bayi itu masih ada dan bukan pria sembarangan. Ayah dari bayi Marissa itu seorang pria yang sangat hebat dan tampan. Dan sekarang, setelah lima tahun berlalu, pria yang merupakan ayah Mario datang ke rumah Merina untuk bertanggung jawab. Ini sangat bagus untuk Mario dan juga Marissa. Memikirkan tentang hal itu, para tetangga menjadi kagum pada Marissa. "Mer, pria yang menghamili Marissa it
Karena ibunya sudah berkata demikian, dengan terpaksa Mario mengikuti Merina pulang ke rumah. Ia duduk di dalam taksi tanpa berbicara, hanya memandang ke arah luar jendela dengan sedikit melamun. Melihat tingkah anak itu, Merina pun berkata dengan sedikit kesal, "Kenapa sedih? Jangan seperti ini terus! Walau masih kecil, kau jangan manja terus pada ibumu! Jangan susahkan ibumu dengan hal-hal yang tidak penting! Sekarang kau pulang itu pun denganku. Bukannya disuruh pulang sendiri! Kenapa harus sedih?" Mario mendengarnya. Ia menoleh sebentar ke arah neneknya, lalu kembali lagi melihat ke samping jendela. Ia tidak menjawab apapun perkataan Merina. "Lihatlah ibumu! Dia melakukan semua ini demi kita, demi perekonomian keluarga kita, juga demi mainan yang selalu ingin kau beli! Harusnya kau bersyukur, ibumu mau memperjuangkanmu sampai detik ini!" 'Lihatlah anak-anak yang lain di luaran sana, berkeliaran di jalanan, tidak ada yang memungut!' Ucapan itu hanya bisa dilanjutkan di dala







