LOGIN"Ah, tidak! Ke-kepalaku tidak sakit," jawab Marissa dengan segera. Walau benar kepalanya masih sakit, tapi ia tidak akan mengatakannya pada Danendra. "Bangunlah! Aku sudah buatkan air rebusan jahe untuk meredakan pusingmu," ucap Danendra sambil berdiri di depan wanita itu. Mau tidak mau, Marissa pun segera bangun. "Eh ... pakaianku?" Marissa pun terdiam. Ia melihat tubuhnya tidak lagi memakai pakaian semalam berupa atasan tangan panjang dan celana jeans berwarna hitam. Sekarang, yang Marissa kenakan ialah kemeja tipis milik Danendra yang kebesaran di tubuh rampingnya. Tanpa mempedulikan apa yang Marissa perhatikan, Danendra pun mengambil krim khusus dari dokter yang ada di dalam nakas, lalu mengajak Marissa keluar. "Ayo! Aku akan mengobatimu," Danendra keluar dari kamarnya tanpa melihat tubuh seksi wanita yang hanya mengenakan kemeja tanpa apa pun itu. "Ah, ya!" Marissa mengerti. Ia mengikuti Danendra ke luar kamar tanpa membahas siapa orang yang telah mengganti pakaiannya. D
Tiba di tempat parkir apartemen, Danendra sudah menghentikan mobilnya. Ia pun sudah membuka sabuk pengamannya dan turun. Di pintu samping, Danendra terdiam sambil membuka pintu, ia menatap Marissa yang masih tertidur pulas di dalam mobil. Mau tidak mau, Danendra harus menggendongnya naik ke atas. "Kau ini kenapa? Apa kau mencoba menghindariku?" tanya Danendra sambil menggendong Marissa, berjalan masuk ke dalam lift. "Kau berbohong agar bisa segera pulang, setelah pulang, bukannya istirahat tapi malah pergi ke tempat hiburan!" "Apa karena Michael tidur di tempatku? Jadi kau stres, hem?" Danendra terus berbicara sendiri. Ia mempertanyakan semua hal yang terjadi pada orang yang sedang tidur. Walau sudah pasti tidak akan ada jawaban, tapi Danendra tetap berbicara. DING! Lift sudah sampai di lantai atas. Danendra pun bergegas keluar dan menghampiri pintu apartemennya. Malam ini, Danendra membawa Marissa ke apartemennya karena putranya juga ada di sana. Mungkin perasaan Marissa ak
Benar saja, beberapa detik setelah Beni mengakhiri teleponnya, tiba-tiba ada panggilan masuk lain yang tidak ada namanya. Marissa sudah tahu itu siapa. Ia pun segera menerima telepon itu. Tanpa ditanya oleh orang yang ada di seberang telepon, Marissa pun langsung menjelaskan. "Masalah Pak Beni, itu sungguh hanya salah paham! Aku tidak diberi tugas olehnya, tidak pula oleh orang lain. Semua itu tidak ada! Jadi Pak Jimy, sebaiknya Anda tidak lagi mempermasalahkan hal ini, apalagi sampai memecat Pak Beni!" jelas Marissa tanpa jeda. Ia tidak membiarkan orang yang ada di seberang telepon menyela ucapannya. "Lalu, kenapa tadi kau bilang pada Bos Besar kalau kau ada tugas yang harus dikerjakan di rumah? Bahkan, tugas itu harus sudah selesai besok pagi! Apa kau tahu, itu sama saja dengan kau mengadukan kami!" balas Jimy pada Marissa. Suara di belakang Marissa memang sangat berisik, tapi pria itu masih bisa mengerti dengan ucapannya. "Bos besar?" Marissa pun mulai mengingat-ingat. Tadi
Waktu memang sudah tidak siang lagi. Di jam 11 malam Marissa berjalan sendiri di trotoar jalan dengan memakai sepatu boots dan jaket hitam. Ia mencari tempat makan yang buka 24 jam. Tid! Dari belakangnya, tiba-tiba sebuah taksi berjalan lambat mengikuti Marissa. "Eh, taksi!" Marissa pun menoleh ke belakang. Ia segera menghentikan taksi itu, lalu masuk ke dalam mobil. Setelah itu, ia pergi dari sana. "Mau diantar ke mana, Nona?" tanya sang sopir karena Marissa tidak kunjung mengatakannya. "Euh ... ke ...." Ke mana? Marissa sendiri pun bingung harus mencari tempat makan yang buka 24 jam itu ke mana. "Jalan saja, Pak! Nanti berhenti kalau ada tempat makan yang masih buka!" ucap Marissa dengan singkat. Kalau harus menentukan tempat tujuannya, Marissa masih bingung. Ia tidak tahu, dirinya mau makan apa dan di rumah makan yang mana. "Baik, Nona!" Sopir itu pun mengerti. Ia segera mengangguk dan mengendarai mobilnya menyusuri jalan di Kota A. Entah sudah berapa tempat makan yang me
Marissa hanya terdiam. Ia tidak menyangkal ucapan Zain karena itu memang benar. "Kenapa sekarang kau pandai berbohong? Tidak jarang kau pun menghindariku! Apa karena pria itu?" tanya Zain dengan nada yang cukup keras. Mengendarai mobilnya pun dengan kecepatan tinggi membuat Marissa syok dan juga takut. "Ah ... aku .... Kemarin Danen memang mengajakku pergi, tapi itu karena anak-anak! Dia mau mengajak kami makan bersama! Bukan karena hal lain!" jawab Marissa sambil menahan ketakutannya. Pria di sampingnya masih terlihat marah dan juga kesal dengan jawaban Marissa. "Hah ... makan bersama? Sejak kapan kalian menjadi keluarga yang harmonis? Apa setelah kembali ke negara ini, kau berpaling lagi padanya? Lupa untuk rencanamu membuat mereka semua menderita secara mental?" Kalau membuat mereka menderita secara materil, itu pasti tidak akan bisa. Yang mungkin bisa Marissa lakukan hanya membuat Danendra dan ibunya menderita secara mental karena mereka telah menelantarkan anak laki-laki pe
Di dunia ini Marissa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayahnya sudah lama meninggal, dan ibunya meninggal saat Marissa sedang hamil. Sedangkan anggota keluarganya yang lain, ia benar-benar tidak tahu. Dari kecil Marissa sudah hidup bertiga dengan ayah dan ibunya tanpa saudara. Ia pun tidak tahu keluarga ayah dan ibunya ada di mana dan seperti apa. Yang Marissa tahu, dulu keluarga ayahnya—keluarga berada—tidak menyukai Merina yang hanya gadis biasa. Ayah Marissamembawa Merina pergi ke Kota B dan memulai hidup dari nol hingga cukup mapan sebelum akhirnya meninggal karena sebuah kecelakaan. Itulah yang membuat Marissa sedikit trauma dengan orang tua yang tidak merestui hubungan anaknya. Bukan hanya si menantu yang akan hidup menderita, tapi juga anak-anaknya. "Maaf, Tante! Aku sudah tidak punya keluarga! Ayah dan ibu sudah meninggal, kalau Paman dan Tante, atau Kakek dan Nenek, aku tidak punya! Sekarang ini aku hanya hidup berdua bersama Michael! Hehe!" Marissa tersenyum penuh deng
"Mama! Apa benar Mama sakit karena memikirkan aku? Aku baik-baik saja di sini bersama bos Mama!" Yang Mario tahu hanya itu. Pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu adalah bos ibunya di kantor. Mereka pernah bertemu sebelumnya dan mereka pernah menginap di apartemennya. Itulah yang membuat M
"Eh, Pak Danen! Apa yang Anda lakukan? Anda tidak boleh ke kamar pelayan!" Marissa sangat gugup dengan kedatangan pria itu ke kamarnya. Namun sepertinya, pria itu tidak mendengar. Marissa segera melangkah terus ke belakang karena Danendra terus maju ke arahnya. "Tidak baik kalau sampai Tuan d
Di kamar berukuran 3 x 3 meter persegi, Fanny masuk dan menghampiri Marissa yang ada di atas tempat tidur. Wanita itu sedang duduk sambil memegang kedua lututnya di depan dengan pandangan mata terus melihat ke arah luar jendela. Ekspresi wajahnya begitu mengerikan, layaknya seorang wanita yang seda
Pukul tujuh malam, Marissa sudah tiba di rumah keluarga Adipraja yang berada di pusat Kota A. Tepatnya di kawasan elit yang tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Wilman membawa Marissa masuk ke dalam rumah yang sangat megah dan besar, lalu menyuruhnya untuk memperkenalkan diri. Di depan Tuan







