LOGINMendengar Widi memanggilnya dengan panggilan Bibi, Nima pun segera menegur. "Jaga bicaramu! Kau harus membedakan, di mana rumah dan di mana tempat kerja!" Nima memperingatkan, "Di luar kau boleh memanggilku dengan panggilan Bibi, karena aku memang bibimu! Tapi, kalau sedang beradada di tempat kerja, kau harus memanggilku dengan panggilan yang sama dengan yang lain!" "Apa kau mengerti?" bentak Nima lagi di depan semua orang. Tentu saja itu membuat Widi sangat malu dan juga marah. "Iya, maaf, Bu Kepala! Aku salah!" Widi pun menunduk. Merasa malu sudah ditegur oleh tantenya di depan pelayan yang lain. "Baiklah! Kalian semua bubar! Bekerja yang benar kalau tidak ingin dipecat!" ancam Nima dengan tegas. Para pelayan pun segera bubar, termasuk Widi dan para pelayan yang tadi bergosip. Sebagai kepala pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah itu, Nima diberi kewenangan untuk mengatur semua hal yang bersangkutan dengan pekerjaan para pelayan. Ia bebas memilih siapa saj
Pukul dua dini hari, Fanny membawa kopernya keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu dengan sedih. Pasalnya, Fqnny dan yang lainnya sangat mencemaskan Marissa karena wanita itu masih tidak bisa dihubungi, juga karena wanita itu tidak ada di manapun. Mereka sudah mencari Marissa ke beberapa tempat, tapi tidak ada. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa pulang kalau tidak dengan Marissa! Mana dia lagi sakit! Bagaimana kalau dia tidur di jalan, terus diculik orang? Aku tidak akan tenang kalau Marissa belum ditemukan!" Fanny sangat sedih. Ia benar-benar merasa bersalah pada sabahatnya itu. Kalau bukan karena dirinya yang pelupa sampai tidak memberikan kunci kamarnya pada Marissa, mungkin sahabatnya tidak akan menghilang seperti ini. Mendengar kata "Diculik" yang diucapkan oleh Fanny, Darius jadi teringat sesuatu.
"Ayo kita berkencan!" Ajakan itu terus terngiang di telinga Marissa. Danendra memberinya waktu tiga hari untuk menjawab hal itu. Keuntungan jika berkencan dengan pria itu, Marissa sangat menginginkannya. Bisa bersama dengan Mario dan bisa menjadi ibu tiri untuknya, tentu saja Marissa sangat ingin. Tapi, Marissa pun ragu dengan hal itu. Bagaimana bisa pria tampan dan kaya seperti Danendra mengajak wanita sederhana seperti Marissa untuk berkencan? Ada banyak wanita yang lebih cantik dan seksi dari Marissa dan rela menjadi kekasihnya. Tidak perlu Marissa untuk menjadi selingkuhannya. Jika Marissa menerima hubungan itu, apa dirinya akan dicap sebagai PELAKOR? Marissa tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Kepalanya terasa sakit dan pusing. Malam ini, Marissa berbaring di atas tempat tidur Danendra sambil memakai selimut yang cukup tebal. Ia masih menggigil kedinginan dengan s
"Siapa yang mencarimu? Aku kemari karena di sini kamarku!" balas Danendra sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia masih memasang wajah serius dengan nada suara yang cukup ketus. Tadinya, Danendra ingin mencari wanita itu dan menenangkannya atas masalahnya dengan Ambar. Tapi sekarang, setelah melihat Marissa bersama dengan pria itu, perasaan Danendra menjadi sangat tidak enak. Danendra tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri setelah melihat pria itu. Bukan karena Marissa bersama dengannya, tapi karena hal lain di masa lalu. "Kamar Anda?" Marissa menjadi bingung. Sejak kapan dirinya satu lantai dengan Danendra. Bukankah semua kamar di hotel itu sudah penuh? Danendra pun mengangguk. Ia berjalan menuju pintu kamarnya yang tepat berada di samping pintu kamar Marissa. Lalu Danendra mengeluarkan kunci dan membukanya.
Karena seharian ini mereka terus bersama, Darius menjadi lebih dekat dengan Fanny, Marissa dan juga Ray. Mereka bisa berteman baik karena Darius orang yang sangat menyenangkan. Malam ini, mereka berencana untuk pergi ke tempat hiburan terkenal di Malio. Tempat hiburan itu sangat ramai setiap malamnya. Di hari libur seperti ini, akan ada DJ ternama yang akan bermain. Selesai mandi dan mengganti pakaian, mereka semua bersiap untuk berangkat ke tempat hiburan tersebut. Di halaman gedung hotel, mereka berdiri sambil menunggu Darius mengambil mobilnya. Entah kenapa, saat ini Marissa merasakan seluruh tubuhnya menggigil kedinginan walau sudah memakai celana jeans hitam panjang dan jaket. Kakinya pun sudah memakai heels boots semata kaki. Tapi, tetap saja ia kedinginan. Beberapa menit kemudian, Darius datang sambil mengendarai mobilnya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan mereka. "Ayo, masuk!" Darius meminta mereka semua untuk naik. Ia melihat Marissa yang sedikit aneh deng
Di dalam taksi, Danendra terdiam sambil memegang ponselnya dengan cemas. Beberapa kali menghubungi Marissa, tapi wanita itu tidak kunjung menjawabnya. Danendra bisa mengerti dengan perasaan wanita itu setelah mendengar semua ucapan ibunya tentang Mario. Danendra pun tidak bisa membela Marissa di depan orang tuanya karena itu akan semakin memperkeruh keadaan. Dalam kebingungannya, Danendra mendapati ponselnya berdering. Ia melihat nama Sandi di layar ponsel. Dengan cepat ia menekan tombol hijau lalu menyapa. "Ya! Apa katanya?" tanya Danendra tanpa basa-basi. " Ray ada di Malio," jawab Sandi dengan singkat. Ia tidak bisa mengorek informasi lain karena Ray sudah menutup teleponnya. "Malio? Apa bersama Fanny???" tanya Danendra. Tadi Danendra meminta Sandi untuk mencari tahu keberadaan Ray. Firasatnya mengatakan kalau Marissa dan Fanny datang ke kota itu bersama Ray. Di mana ada Fanny dan Marissa, di sana pasti ada Ray. "Entahlah! Ray langsung menutup teleponnya setelah say







