Mag-log inHanya karena ponselnya Sylvia tidak bisa dihubungi, hal tersebut membuat Edgar berasumsi bahwa Sylvia sedang bersama client yang jauh lebih tampan darinya. Dengan terburu-buru, Edgar pun pergi dari kantor. Selang 45 menit kemudian, Edgar akhirnya sampai di butik milik maminya Sylvia.Setelah turun dari mobilnya, Edgar bergegas masuk kedalam butik. Namun, ketika berada didalam butik, Edgar hanya melihat Elis yang merupakan asisten pribadi Sylvia, yang sedang berbincang dengan salah satu client. "Mmm ... Elis! Apa Sylvia ada di dalam?" tanya Edgar.Elis pun menoleh. "Tidak ada, pak. Hari ini Bu Sylvia tidak datang ke butik.""Kamu gak membohongi saya, kan?" "Sama sekali tidak, pak. Jika pak Edgar tidak percaya dengan ucapan saya. Silahkan periksa sendiri diruangan pimpinan." Elis berucap seraya menunjuk ke arah salah satu ruangan yang biasa dipakai oleh Elis, ketika sedang bertugas di butik.Dengan langkah cepat, Edgar pun pergi ke ruangan yang dimaksud oleh Elis. Namun, ia dibuat her
Setelah mendapatkan saran dari Andre, Edgar langsung menghubungi pengacara nya untuk membuat kan surat pembatalan pernikahan. Sementara itu disisi lain, Larissa yang sudah mengetahui bahwa putrinya sudah berada di rumahnya, ia pun pergi ke kamar Sylvia. Sesampainya didepan kamar Sylvia, Larissa terlebih dahulu mengetuk pintu, sebelum ia masuk kedalam.Tok! Tok! "Sayang, ini mami. Mami boleh masuk ke dalam?" tanya Larissa."Boleh, mami. Masuk aja. Pintunya gak dikunci," ucap Sylvia dari dalam kamar.Mendengar ucapan putrinya, Larissa langsung membuka pintu kamar Sylvia. Saat melihat Sylvia sedang duduk di meja kerjanya, Larissa pun bergegas menghampiri Sylvia. "Kamu lagi ngapain, sayang?""Biasa, mi. Aku lagi ngelanjutin desain yang kemarin belum selesai," ucap Sylvia.Larissa pun menghela nafasnya. "Huft! Kalau begitu, mami gak bisa minta tolong sama kamu dong."Mendengar ucapan maminya, Sylvia langsung berhenti mendesain dan menoleh ke samping. "Minta tolong apa ya, Mi?""Mmm ... Be
Disisi lain, Edgar yang sudah sampai di kantor, ia langsung bersiap untuk rapat pagi ini. Meskipun ruangan kerjanya terlihat tampak sepi tanpa adanya kehadiran Sylvia, Edgar harus semangat dan bersikap professional. Pagi itu, untuk mengalihkan pikirannya, Edgar menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaannya. Mulai dari rapat dengan para kepala divisi kantor, hingga rapat dengan 2 klien pun ia lakukan.Siang harinya.Setelah lelah dengan setumpuk kegiatan pada pagi hari, Edgar akhirnya bisa duduk santai di ruangannya. Namun, baru sejenak ia beristirahat, Andre justru masuk ke ruangannya."Ahh!! Akhirnya aku bisa istirahat juga." Edgar berucap sambil melonggarkan dasinya.Ceklek! "Lagi nyantai kayaknya nih." Andre berucap sambil melangkah masuk kedalam ruangan Edgar."Lo mau ngapain sih kesini? Ganggu gue aja," tanya Edgar."Ngapain ya? Mmm... Gak ada. Gue lagi gabut plus boring aja. Makanya gue main kesini," ucap Andre.Ketika Andre melirik ke arah sofa tempat biasa Sylvia duduk, ia pu
Keesokan harinya. Setelah selesai sarapan, Sylvia langsung pergi ke kamar untuk mengambil koper dan juga tas nya. Melihat istrinya akan pergi, Edgar pun bergegas menyusul istrinya. Sesampainya di kamar, Edgar langsung mengambil koper dan tas milik istrinya untuk ia bawa ke mobil."Udah gak usah, biar aku aja yang bawa koper dan tasnya. Kamu lebih baik berangkat ke kantor aja." Sylvia berucap saat mencoba merebut kopernya."Aku aja yang bawain barang-barang kamu. Ini tuh berat, nanti kamu kecapean kalau bawa koper dan tas seberat ini," sahut Edgar.Sylvia hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar ucapan suaminya. Kemudian Edgar pun keluar dari kamarnya dengan membawa tas dan juga koper milik istrinya. Sedangkan Sylvia sendiri hanya mengekori Edgar dari belakang. Setelah berada di halaman depan, Edgar langsung membuka bagasi mobil nya. Kemudian ia pun memasukkan koper dan tas milik istrinya kedalam bagasi."Ayo kita berangkat," ucap Edgar setelah menutup bagasi mobilnya."Kamu seriu
Sylvia hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan suaminya mengenai Oma Beatrice. Kemudian Sylvia pun beranjak dari tempat tidur, untuk pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Edgar yang merasa mengantuk, ia pun memilih untuk tidur sejenak. Beberapa menit kemudian, Sylvia yang sudah selesai mandi, ia langsung keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah handuk. Melihat suaminya tertidur pulas, Sylvia langsung bergegas menghampiri suaminya."Edgar! Bangun Edgar!" Sylvia berucap sambil mengguncangkan tubuh suaminya.Bukannya bangun, Edgar justru memiringkan tubuhnya sambil memeluk guling yang ada disampingnya. "5 menit lagi, sayang. Aku masih ngantuk.""Baiklah, aku kasih waktu sampai aku selesai pakai baju. Kalau aku udah selesai pakai baju, tapi kamu belum bangun juga, aku siram nanti," ucap Sylvia."Hhmm." Edgar berdeham dengan mata tertutup.Sylvia pun membiarkan suaminya tertidur, sampai dirinya selesai memakai pakaian. Selang 10 menit kemudian, Sylv
Setelah selesai makan malam, Edgar dan Sylvia langsung pergi ke kamar Sylvia untuk beristirahat dikamar. Saat berada dikamar, Edgar yang merasa sedih karena keputusan yang dibuat oleh Oma Beatrice, ia pun hanya bisa duduk dipinggir tempat tidur dengan raut wajah yang cemberut. Melihat ekspresi suaminya, Sylvia langsung duduk disamping suaminya."Kenapa sih, dari tadi kok cemberut terus?" tanya Sylvia.Edgar pun menghembuskan nafasnya. "Hhmph... Aku lagi bingung sayang.""Bingung kenapa?" tanya Sylvia."Bingung lah, masa iya sih cuma karena dokumen pernikahan, kita harus pisah rumah selama 3 bulan ke depan. Tiga hari aja aku udah stres, apalagi 3 bulan. Bisa gila yang ada," ucap Edgar.Sylvia pun tersenyum saat mendengar ucapan suaminya. Lalu, Sylvia meraih tangan suaminya. "Sabar, pernikahan kita kan udah berjalan 3 bulan, tinggal tunggu 3 bulan lagi aja, supaya kita bisa mengajukan surat pembatalan surat pernikahan atas nama aku dan Edward."Edgar pun menatap wajah istrinya. "3 bulan
Satu jam kemudian.Setelah berada di kantor, Edgar langsung langsung mengeluarkan surat pernyataan mengenai pemecatan Frans. Hanya berselang setengah jam setelah Edgar mengesahkan surat tersebut, ponsel Edgar tiba-tiba saja berbunyi. Edgar pun mengambil ponselnya.Kriinngg..."Ibu." Edgar berucap saat
Tak lama kemudian Edgar pun membawa Sylvia keluar dari ruang UGD. Kemudian Edgar pun pergi sebentar ke loket administrasi untuk membayar perawatan Sylvia. "Kamu tunggu disini sebentar ya, aku mau urus administrasi nya dulu," ucap Edgar.Sylvia langsung menganggukkan kepalanya. "Iya." Selagi menunggu
Sesampainya dirumah sakit, Edgar langsung turun dari mobil. Lalu, ia pun mengeluarkan Sylvia dari dalam mobil. Sambil menggendong Sylvia, ia pun membawa Sylvia ke ruang UGD."Dokter! Suster! Tolong selamatkan istri saya," teriak Edgar.Tak lama seorang dokter pun datang menghampiri Edgar. "Istrinya ke
"Kenapa om? Om terkejut melihat keberadaan ku disini? Sama om, aku juga terkejut mendengar semua ucapan om. Kenapa om segitu teganya sama Edward? Memangnya salah Edward apa, om?" cecar Edgar.Frans langsung memegang pundak Edgar. "Kamu salah paham Edgar, semua yang kamu dengar gak seperti apa yang ka







