เข้าสู่ระบบAurora menoleh ke sumber suara. 'Sejak kapan dia masuk?'
Di sanalah berdiri seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berkarisma, mengenakan setelan jas necis berwarna navy dengan kemeja putih yang tersemat rapi. Wajahnya tenang tapi sorot matanya tajam. "Kamu pasti, Aurora?" tanyanya memastikan. Aurora mengangguk samar. Ia terlihat kecewa dengan kedatangan pria itu. Pupus sudah harapannya. "Saya Rasya," ucap Rasya, tanpa ditanya. Lalu, ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Aurora. Rasya memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah pelayan itu pergi, ia kembali menatap Aurora. Sorot mata Aurora mendadak berubah dingin, ia ingin menyudahi semua ini secepatnya. "Sangat tidak disiplin ya. Kesan pertama sudah tidak baik. Kalau bukan karena menghargai pertemanan orang tua kita, aku nggak akan mau nunggu selama ini," ucap Aurora tenang, begitu santai dan tidak formal. Rasya tersenyum tipis. "Oke, saya minta maaf sudah membuatmu menunggu." Aurora menghela napas. "Aku tidak suka basa-basi, dan akan langsung bicara terus terang saja." Rasya mengangkat alis, menunggu. "Kamu pasti tahu betul, kita di sini bukan hanya sekedar untuk makan malam. Aku tidak setuju dengan perjodohan ini," ucap Aurora tegas. "Aku pikir kita sudah sama-sama dewasa, dan bisa menolak tanpa drama. Jadi, aku minta kamu juga ikut menolak. Dengan begitu, kita berdua bebas." Suasana mendadak hening. Rasya bersandar santai, menatap Aurora cukup lama, membuat gadis itu sedikit risih. "Kalau kamu diam saja, aku anggap kamu setuju dengan ucapanku," ucap Aurora penuh penekanan. Rasya tersenyum miring. "Relax Aurora.. Jadi, kamu repot-repot datang dengan niat menolak, bahkan sebelum mengenalku. Luar biasa." Aurora menegakkan punggungnya. "Aku jujur dari awal. Itu lebih baik, daripada pura-pura iya dengan hati menolak. Aku tidak yakin dengan pernikahan yang dipaksakan." Rasya mengetuk meja pelan dengan jarinya, matanya masih terkunci pada Aurora. "Kalau aku menolak, itu artinya aku setuju dengan anggapanmu... bahwa aku tidak cukup pantas untukmu. Apa itu maksudmu?" Aurora membalas pandangan dengan tak percaya. 'Apa yang sedang dia bicarakan? apa dia membicarakan soal harga dirinya?' Aurora berusaha tenang, ia tidak ingin ada pertengkaran di sini. "Kamu serius? Ini soal pilihan hidupku, bukan tentang kamu atau harga dirimu." "Bagiku, justru ini soal harga diri," balas Rasya datar. "Kamu datang dengan niat menolak, dan berharap aku ikut menolak. Seolah-olah aku ini tidak layak dihargai dan bisa kamu singkirkan begitu saja. Kalau memang itu tujuanmu, kenapa repot-repot datang ke sini? Seharusnya kamu batalkan saja sejak awal." Aurora tercekat, bukan itu maksudnya. Ia ingin membalas, tapi lidahnya kelu. Tidak sesederhana itu pikirnya, ia tidak mau mematahkan harapan Bundanya, dan membuatnya sedih. Ini tidak semudah yang ia pikirkan. Selama ini, semua yang dikenalkan Bundanya selalu ciut saat Aurora mendominasi percakapan mereka. Tapi kali ini berbeda. Aurora memperhatikan Rasya lekat. Pria yang baru ditemuinya malam ini, sudah berhasil membuat hatinya tak nyaman.Rasya melipat tangannya, kali ini ia berucap lebih santai.
"Kalau kamu ingin menolak, silakan. Tapi aku tidak akan. Mulai detik ini, aku akan melanjutkan perjodohan kita. Anggap saja... ini hadiah untuk penolakanmu." Aurora terdiam. Dadanya berdebar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena sadar ia telah menyentil ego seorang pria.Makan malam itu selesai dalam keheningan yang tegang.
Aurora melangkah keluar restoran dengan langkah cepat, heels-nya beradu dengan lantai marmer hingga menimbulkan suara yang terdengar sedikit nyaring. Udara malam menyambutnya, dingin tapi cukup menenangkan setelah percakapan panas barusan. Ia merapatkan clutch di pelukannya. Begitu masuk ke mobilnya, Aurora membanting pintu agak keras. Tangannya refleks menyalakan mesin, tapi ia tidak langsung melajukan mobil. Ia duduk diam, menunduk, lalu menghela napas panjang. "Apa-apaan sih orang itu," gumamnya kesal. Matanya beralih memandang ke arah setir."Harga diri? Dia pikir ini cuma soal harga diri?"
Tangannya beralih menggenggam erat setir mobil, mencoba melampiaskan rasa kesalnya. Bayangan wajah Rasya, tatapan tajamnya, dan nada suara yang dingin masih jelas terngiang. Alih-alih lega karena sudah menyampaikan penolakan, hatinya justru semakin berat. Ia bersandar ke kursi, menutup mata sejenak. "Kenapa rasanya aku malah jadi terjebak?" bisiknya. Ponselnya bergetar di dalam clutch, ia membukanya. Sebuah pesan dari Martha masuk. 'Sayang, gimana pertemuannya? Semoga menyenangkan ya.' Aurora membaca pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali tanpa membalas. Tenggorokannya tercekat. Bagaimana ia bisa bilang pada Bundanya kalau pertemuan itu malah membuatnya semakin tidak nyaman? Ia mulai menyamankan posisi duduk, lalu melajukan mobilnya ke jalan raya. Aurora menggertakkan giginya pelan. "Baiklah, kalau memang ini soal harga diri bagimu... kita lihat bagaimana ini akan berakhir." Lampu jalan berkelebatan di kaca depan mobilnya.Sementara Aurora terus melaju dengan pikiran campur aduk, di sisi lain, Rasya masih duduk di meja restoran.
Segelas espresso di depannya tak tersentuh sama sekali. Pandangannya menatap bayangan lampu yang berkilat di permukaan meja.
Aurora sudah pergi, meninggalkan jejak tatapan tajam dan kata-kata penolakannya. Bukannya marah besar, Rasya justru merasa terusik, dan tertantang. "Aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Aku minta kamu ikut menolak." Kalimat itu berputar di kepalanya. Rasya menegakkan tubuhnya, menautkan jari-jari tangan di depan dada. Baginya, penolakan itu bukan sekedar ucapan biasa. Ada nada enteng dalam suara Aurora, seolah dirinya bisa diputuskan tanpa dipertimbangkan. "Menolak, tanpa mau berkenalan lebih dulu. Itu sama saja meremehkan," gumamnya pelan. Sebenarnya, sebelum malam ini, ia juga tidak terlalu peduli dengan rencana Mamanya. Pertemuan ini baginya hanya formalitas, sekedar memenuhi permintaan orang tua. Tapi begitu Aurora datang dengan penolakan terang-terangan, semuanya berubah. Harga dirinya tersentil. Rasya menarik napas panjang, ia akhirnya menyesap kopinya yang sudah lama dingin. Matanya menatap ke luar jendela restoran, di mana lampu kota berpendar keemasan. "Kalo kamu pikir aku akan mundur hanya karena kamu menolak, Aurora... kamu salah besar." Ia tersenyum tipis, senyum yang menyimpan tekad. "Mulai malam ini, justru aku akan pastikan perjodohan ini akan terus berlanjut. Mungkin bukan karena cinta, tapi karena aku tertarik sejauh mana kamu bisa menolak."Beberapa jam setelah pertemuan pertama yang kacau antara Rasya dan Aurora...
Martha bersandar di sofa ruang tamu, menghela napas panjang dan berat. Perbincangan singkat mereka saat Aurora baru saja pulang masih terbayang jelas. Wajah putrinya memancarkan penolakan yang sopan namun tegas saat Martha bertanya soal Rasya. Sekarang, bagian yang paling tidak menyenangkan. Ia harus memberi tahu Miranda, sahabatnya yang begitu bersemangat. Dengan perasaan tidak enak hati, ia mencari satu nama di kontak ponselnya dan menekan tombol panggil. "Miranda? Ini aku, Martha," sapanya saat panggilan tersambung. "Apa kamu ada waktu besok pagi? Aku ingin membicarakan soal anak-anak kita."Aiden duduk di kursi tingginya, belepotan saus barbeque."Enak, Dad! Dagingnya empuk!" puji Aiden sok tahu."Jelas dong. Resep rahasia Daddy," sahut Rasya bangga.Sementara itu, Altair dan Lyra sudah tertidur pulas di dalam kamar karena kelelahan bermain seharian.Aurora melangkah mendekat membawa nampan berisi es kelapa muda. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu berdiri di samping Rasya yang sedang mengolesi jagung."Anak-anak kembar sudah tidur?" tanya Rasya setengah berbisik."Sudah tepar. Baterainya habis total," jawab Aurora terkekeh.Kini tinggal mereka berdua, ditemani Aiden yang kini tengah sibuk mengunyah jagung bakar. Suasana menjadi jauh lebih romantis dan tenang.Rasya meletakkan kuas bumbunya. Pria itu menoleh, lalu menarik pinggang Aurora mendekat dalam satu gerakan halus. Cahaya api unggun memantul di wajah mereka, menciptakan siluet keemasan yang hangat."Sejak Papa Dar
Aetherland Private Island - 3 Tahun Kemudian Langit di atas Aetherland bersih tanpa awan, menyatu dengan laut turquoise yang jernih. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma garam yang familier. Di hamparan pasir putih itu, terdengar suara tawa yang nyaring. "Daddy! KEJAR AIDEN! WLEEE!" Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, Rhaiden Aetherion Pradana—Aiden—berlari kencang dengan kaki-kaki kecilnya yang lincah. Dia mengenakan celana renang bermotif hiu dan kacamata hitam yang kebesaran. Di belakangnya, Rasya berlari mengejar. Sang CEO tidak lagi mengenakan jas mahal. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek kargo, memamerkan tubuh atletisnya yang kini sedikit lebih tan karena sengatan matahari. "Awas ya kalau ketangkap! Daddy gelitikin sampai nyerah!" seru Rasya sambil tertawa. Hap! "Kena kamu, Jagoan Kecil!" seru Rasya sambil mengangkat tubuh Aiden tinggi-tinggi, lalu memutarnya. Aiden tertawa terbahak-bahak. "Ampuuun, Dad! Ampuuun!" Saat Aiden tertawa le
Angin malam berembus lembut, membawa serta aroma khas kota Paris yang berpadu dengan udara segar dari Sungai Seine. Di atas perairan yang tenang itu, sebuah yacht pribadi mewah berwarna putih gading meluncur membelah arus, meninggalkan riak air yang memantulkan gemerlap lampu kota. Rasya benar-benar menepati janjinya. Di sisa waktu mereka sebelum kembali ke realita Jakarta, pria itu memastikan dunia hanya berputar untuk Aurora. Ia menyewa seluruh kapal pesiar tersebut secara eksklusif, meninggalkan Raka dan para bodyguard di dek bawah agar tak ada satu pun yang menginterupsi waktu mereka. Di dek atas yang terbuka, sebuah meja bundar telah ditata begitu elegan. Taplak meja berbahan linen putih bersih, hiasan bunga lily yang mekar sempurna, dan pendar cahaya keemasan dari lilin-lilin tinggi menciptakan suasana romantis yang pekat. Aurora berdiri di dekat pagar pembatas kapal, menatap takjub pada mahakarya arsitektur kota Paris yang melintas di depan matanya. Lampu-lampu jalanan kuno y
Pagi itu, suasana di kamar utama terasa seperti ruang rawat VVIP. Setelah dua minggu bed rest total yang terasa seperti seumur hidup, hari penentuan itu akhirnya tiba. Dokter Emily bersama asisten dokter dan satu perawat, datang untuk melakukan evaluasi akhir. Ini adalah kunjungan ketiga sang dokter ke kediaman sementara mereka untuk memeriksa bekas luka operasi Aurora dan memantau perkembangan janin. Di atas ranjang, Aurora berbaring dengan gaun tidur sutra yang tersingkap di bagian perut. Di sisi kirinya, Rasya berdiri tegak bak komandan militer, sementara di sofa tak jauh dari ranjang, Bunda Martha dan Mama Miranda duduk mengawasi jalannya pemeriksaan. "Bagaimana, Dok?" tanya Rasya, terlihat tak sabaran. "Luar biasa, Monsieur," ucap Dokter Emily sambil tersenyum puas menatap layar monitor USG portabelnya. "Detak jantung petarung kecil sangat kuat dan stabil. Lukanya juga mengering dengan sempurna tanpa ada tanda infeksi sejak kunjungan terakhir saya. Ibu dan janin benar-benar
Tawa rendah mengalun dari bibir Rasya melihat istrinya yang tampak kebingungan bagai detektif yang kehilangan jejak. Rasya menarik lengan Aurora dengan lembut, memaksa istrinya kembali berbaring di pelukannya. "Itu adalah fakta yang dipelintir, Baby," jawab Rasya santai, jemarinya mengusap lembut lengan Aurora. "Yang tewas dalam kecelakaan itu memang ayahnya Dio, tapi perempuan yang tewas bersamanya bukanlah ibu kandung Dio. Itu adalah ibu tirinya yang tak lain adalah mantan istri Ferdi yang berselingkuh itu. Mereka kecelakaan hanya satu bulan setelah menikah." Aurora mengerjap, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. " Lalu... ibu kandung Dio ada di mana sekarang?" "Di sebuah shelter perawatan mental," ungkap Rasya tenang, seolah sedang menceritakan kisah dongeng yang tragis. "Pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak iparnya sendiri membuat adik Ferdi itu kehilangan kewarasannya. Dan tebak siapa yang selama bertahun-tahun ini diam-d
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi klik dari kuncinya terdengar, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Alih-alih melangkah menuju ranjang untuk beristirahat seperti yang diperintahkan para ibu, Aurora justru langsung memutar tubuhnya menghadap Rasya. Tanpa permisi, kedua tangan mungilnya terulur, menangkup rahang tegas suaminya. "Mas, coba aku lihat," gumam Aurora cepat, matanya bergerak waspada meneliti setiap inci wajah Rasya. Rasya hanya diam tak berkutik. Ia membiarkan istrinya memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak berhenti di situ, tangan Aurora turun ke kerah jas navy Rasya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia menyingkap jas mahal itu hingga terongok begitu saja di lantai. Ia meraba dada, bahu, hingga turun ke sepanjang lengan suaminya. Matanya memindai dengan saksama kemeja putih Rasya, mencari apakah ada bercak darah, lebam, robekan, atau tanda-tanda kekerasan fisik apa pun yang mungk
Aurora mengangguk. Ia berjalan mengelilingi Jaquel perlahan, mengamati postur tubuhnya yang tinggi tegap namun kurus kering khas model grunge. "Jalan," perintah Aurora tiba-tiba. Jaquel mengangkat alis sebelah. Ia menatap Aurora tak percaya. "Excuse me?" dengusnya kasar. "Saya bilang jalan," ula
Suasana di Private Lounge itu hening dan dingin, kontras dengan gemuruh di kepala Rasya. Hanya terdengar denting sendok teh yang beradu dengan piring kecil dan suara ketikan agresif di laptop.Rasya duduk di sofa kulit hitam, berkas-berkas logistik berserakan di meja marmer di hadapannya. Raka be
Rumah itu masih tenang. Terlalu tenang untuk ukuran jam sepuluh pagi.Di kamar utama, gundukan selimut di tengah ranjang bergerak-gerak. Rasya dan Aurora masih bergunggung di sana, menikmati kemalasan hari Minggu setelah... aktivitas pagi mereka yang intens di meja makan tadi.
Ekspresi santai Rasya sedikit berubah. Ia berdeham canggung, tampak berpikir sejenak. "Mmm.. kalo itu nggak usah dibahas ya. Aku nggak mau ada aura dingin di sini.""Kenapa? Aku bukan tipe pencemburu tanpa alasan," tantang Aurora lembut."Kamu yakin?"Aurora mengangguk







