Share

6. Dihukum

Penulis: Yu.Az.
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 17:20:46

Pelayan itu terus membenturkan kepalanya ke lantai dengan keras, hingga darah mulai menetes dari dahinya. "Ampuni saya, Tuan. Saya menyesal!"

“Cukup!” seru Tuan Dirgantara, tapi pelayan itu tetap berlutut, tubuhnya gemetar memohon ampunan.

Dengan tangan berlumur darah dari dahinya, pelayan itu merangkak ke arah Kanaya dan berusaha memegang ujung roknya. “Nona Kanaya, tolong saya ... saya tidak sengaja ... saya hanya—” suaranya tersendat, matanya memohon tapi ada sesuatu di matanya.

Kanaya menatap pelayan itu dengan wajah tidak percaya. Suaranya terdengar kecewa. “Kenapa kamu melakukan ini? Apa kamu tidak tahu kalau Kak Elena bisa dihukum karena perbuatan yang tidak dia lakukan?”

Pelayan itu masih memohon, tubuhnya bersujud di lantai, “Nona tapi bukankah Nona kemarin—”

“Cukup!” potong Kanaya cepat, matanya membulat dan pandangannya langsung beralih ke ayahnya, Adipati Dirgantara. “Ayah,” kata Kanaya, suaranya memelas, “pelayan ini memang bersalah. Tapi bisakah hukumannya diringankan? Aku tahu dia hanya terbawa emosi. Mungkin dia marah karena mengira Kak Elena akan melukaiku. Tolong, Ayah, ringankan hukumannya.”

Elena yang berdiri di belakang mereka hanya menatap pemandangan itu dengan senyum tipis.

Tuan Dirgantara terdiam, menatap wajah lembut putrinya yang penuh air mata, hatinya yang keras perlahan luluh. Sebagai seorang ayah, dia sulit menolak permohonan Kanaya.

Melihat itu, Rangga segera ikut bicara, “Ayah, ini pertama kalinya Kanaya meminta sesuatu saat datang ke kediaman ini. Aku rasa tidak ada salahnya menuruti permintaannya.”

Ringga pun mengangguk menimpali, “Benar, Ayah. Lagipula pelayan itu sudah mengaku dan menyesal.”

Suasana jadi seolah berpihak pada Kanaya. Semua terlihat mendukung gadis itu. Tapi tawa kecil tiba-tiba terdengar.

Semua kepala menoleh ke arah Elena.

Rangga menatap tajam. “Apa yang kau tertawakan, Elena?”

Elena menggeleng pelan, masih dengan tawa mecil di wajahnya. “Aku hanya merasa lucu,” katanya datar. “Beberapa menit yang lalu, kalian semua begitu semangat ingin menghukumku bahkan tanpa bukti. Tapi sekarang, ketika pelakunya sudah jelas, kalian justru memohon agar hukumannya diringankan hanya karena yang memintanya Kanaya.”

Rangga membuka mulut, tapi Elena lebih dulu melanjutkan. “Bagaimana kalau yang bersalah itu aku? Apa kalian juga akan memohon agar hukumanku diringankan?” tanyanya tersenyum sinis.

Tak ada jawaban, semua orang terdiam, tak berani menatap Elena.

Elena tersenyum kecil lagi, kali ini suaranya penuh pilu, “Ternyata posisiku di rumah ini bahkan lebih rendah dari seorang pelayan. Setidaknya dia masih diperlakukan seperti manusia.”

Kata-kata itu menampar keras wajah mereka masing-masing.

Tuan Dirgantara memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Saat menatap Elena lagi, ada gurat marah dan juga rasa bersalah di matanya. “Cukup, Elena. Kau sudah bicara terlalu jauh.”

“Terlalu jauh?” Elena mengulang dengan nada datar. “Tidak, Tuan Adipati. Saya hanya bicara sesuai kenyataan.”

Tuan Dirgantara menoleh ke arah Kanaya, nada suaranya lebih lembut. “Maafkan Ayah, Kanaya. Tapi kau tahu ini bukan hanya tentang belas kasihan. Nama baik keluarga akan dipertanyakan kalau kita tidak memberi hukuman.”

Kanaya hanya menunduk, air matanya jatuh pelan, namun ia tidak berkata apa-apa.

Akhirnya, suara tegas sang Adipati menggema di ruangan. “Pengawal!”

Dua orang prajurit segera menunduk hormat menunggu perintah.

“Bawa pelayan ini ke penjara bawah tanah. Cambuk seratus kali, tanpa ampun.”

Pelayan itu menjerit keras, “Tuan! Nona Kanaya! Tolong saya! Ampuni saya!”

Tapi prajurit tak bergeming, mereka menyeretnya keluar tanpa belas kasihan.

Tangisan dan teriakan pelayan itu perlahan menjauh. Kini semua orang terdiam, masih tidak percay.

Elena menatap ke arah pintu, lalu berkata, “Akhirnya, keadilan bisa ditegakkan juga.”

Elena menunduk hormat. “Kalau begitu, saya pamit. Saya harus bereskan barang-barang saya di paviliun Selatan.”

Tanpa menunggu izin, Elena berbalik dan melangkah keluar, diikuti oleh Cani yang bergegas mengejarnya.

Begitu keluar dari paviliun, Cani menarik napas lega. “Syukurlah, Nona, Anda tidak dihukum. Tapi, sejak kapan Anda memasang batu spiritual itu?”

Elena menatap lurus ke depan, bibirnya melengkung samar. “Sudah. Tidak perlu dipikirkan, Cani.”

Cani menatap bingung. “Tapi Nona bagaimana Anda bisa tahu akan ada yang mencoba menjebak?”

Elena hanya menoleh lalu tersenyum tipis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 184

    “M–maaf, Adipati?” Mina memastikan dirinya tidak salah dengar. “Adipati ingin membeli hanfu?”“Bukan,” jawab Adipati Dirgantara singkat. “Aku ingin membeli toko ini.”Suasana toko mendadak sunyi.Detak jantung Mina terasa jelas di telinganya. Namun ia tetap berusaha tenang. “Yang Mulia, toko ini tidak dijual.”Adipati Dirgantara mengangkat alisnya tipis. “Semua benda memiliki harga.”Mina tersenyum sopan, meski jemarinya sedikit mengencang di balik lengan bajunya. “Mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagi aaya, toko ini bukan sekadar tempat berdagang.”Ia menatap Adipati Dirgantara tanpa menantang, namun juga tanpa gentar. “Ini hasil kerja keras. Tempat banyak orang menggantungkan hidup.”Salah satu pengawal melangkah maju setengah langkah. “Nyonya, berhati-hatilah dengan ucapanmu.”Adipati Dirgantara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawal itu mundur. Tatapannya kembali pada Mina.“Kau berani menolakku?” tanyanya datar.“Bukan menolak Yang Mulia,” jawab Mina lembut namun te

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 183

    Kamar Kanaya terasa sunyi meski lampu kristal di langit-langit menyala terang. Tirai sutra tergerai rapi, namun udara di dalam ruangan itu terasa berat. Kanaya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, menatap lantai seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya, padahal pikirannya sedang kacau.Bayangan toko yang hangus terus terlintas di benaknya. Rak-rak yang dulu tertata indah, kain-kain mahal yang menjadi kebanggaannya, semuanya lenyap dalam satu malam. Wajahnya terlihat muram, bibirnya terkatup rapat tanpa suara.Pintu kamar terbuka perlahan.Adipati Dirgantara masuk lebih dulu, diikuti oleh nyonya Andini. Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu, menatap putri mereka yang terlihat begitu rapuh. Nyonya Andini menggenggam tangan suaminya pelan, seolah meminta kekuatan.Kanaya tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang, tapi ia memilih diam.Adipati Dirgantara menghela napas, lalu melangkah mendekat. Nyonya Andini ikut duduk di sisi lain ranjang, mendekati Kanaya d

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 182

    Prang!Suara pecahan memekakkan telinga di kediaman kosong itu. Vas porselen melayang dan menghantam dinding, pecah berkeping-keping sebelum serpihannya berhamburan ke lantai marmer. Kanaya berdiri dengan dada naik turun, napasnya kasar, matanya merah oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.“Dasar tidak becus!” teriaknya. “Aku menyuruhmu membakar toko Elena, bukan tokoku sendiri!”Pria yang berdiri di hadapannya bertubuh kurus dengan sorot mata licik mundur setengah langkah, namun bibirnya justru melengkung tipis. “Aku sudah melakukan pekerjaanku,” katanya santai. “Semalam aku membakar toko itu.”“Bohong!” Kanaya menuding dengan tangan gemetar. “Kau menipuku, kau bahkan membakar tokoku. Kau sengaja—”“Aku tidak tahu kenapa yang terbakar justru milikmu,” potong pria itu, suaranya datar. “Api tidak pernah bertanya siapa pemiliknya.”Pria itu sebenarnya juga heran, ia mengingat semalam jika ia sudah membakar toko Mina. Tapi kenapa tiba-tiba toko Cahaya yang terbakar.Kanaya t

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 181

    Kerumunan mendadak senyap.Beberapa bangsawan saling pandang, wajah mereka menegang. Para rakyat menahan napas, seolah takut sedikit saja suara akan memicu ledakan emosi. Udara di sekitar puing-puing toko cahaya terasa berat, menekan dada siapa pun yang berdiri di sana.Mina tersentak dan tanpa sadar melangkah maju. “Nona Kanaya—”Namun Elena mengangkat tangannya pelan, menghentikannya. Tatapannya kini lurus tertuju pada Kanaya, tenang, dingin, tanpa riak emosi berlebih.Kanaya menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar, namun ia sengaja mempertahankan kelembutan yang rapuh. “Selama ini, toko cahaya kami baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Tidak pernah terjadi kebakaran.” Ia menoleh sebentar ke arah puing-puing hitam yang masih berasap tipis, lalu kembali menatap Elena. “Tapi anehnya … setelah kakak memiliki toko sendiri, justru tokoku yang habis dilalap api.”Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.“Maksudnya apa itu .…” “Seperti menuduh tapi tidak menuduh …” “Ah,

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 180

    Kanaya langsung menggeleng saat Rangga dan Ringga kembali meraih lengannya.“Tidak,” katanya cepat, suaranya masih gemetar tapi tegas. “Aku tidak mau ke kamar.”Rangga terkejut. “Kanaya, kau baru saja syok. Lebih baik—”Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, namun ada tekad keras di sana. “Ayah … Kanaya ingin ikut.”Adipati Dirgantara mengernyit. “Ikut ke mana?”“Ke tokoku,” jawab Kanaya pelan. “Kanaya ingin melihatnya sendiri.”Nyonya Andini langsung menggeleng cemas. “Nak, itu bukan pemandangan yang baik untukmu. Ibu takut—”“Justru karena itu,” potong Kanaya lirih. “Kalau Kanaya tidak melihatnya sendiri, Kanaya tidak akan tenang.”Adipati Dirgantara terdiam. Ia menatap putrinya lama, menimbang. Wajah Kanaya pucat, jelas masih terguncang, namun sorot matanya menunjukkan ia tidak akan mundur.“Kanaya,” kata sang adipati akhirnya, suaranya berat. “Ayah tidak ingin kau semakin terluka.”Kanaya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. “

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 179

    Kanaya menggeleng keras, napasnya tersengal.“Tidak … tidak!” suaranya bergetar hebat. “Itu tidak mungkin. Kenapa … kenapa tokoku bisa terbakar?”Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga. Kakinya melemas, pandangannya kosong, seolah kata-kata barusan hanyalah mimpi buruk yang terlalu nyata. Rangga dan Ringga langsung berdiri dari kursi mereka hampir bersamaan.“Kanaya!” Ringga lebih dulu menghampiri, tangannya sigap menahan lengan sang adik.Rangga menyusul dari sisi lain, meraih bahu Kanaya agar gadis itu tidak jatuh. “Tenang. Tarik napas dulu.”Ringga segera mengambil segelas air di atas meja dan menyodorkannya. “Minum ini. Pelan-pelan.”Kanaya menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Bibirnya menyentuh air, tapi ia hanya meneguk sedikit sebelum kembali terdiam. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi satu kalimat yang terus berulang.Toko Cahaya adalah tokonya sendiri. Bagaimana hal itu bisa terbakar?Nyonya Andini menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca, seolah di benak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status