Share

Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis
Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis
Author: Sora

Bab 1

Author: Sora
Gelombang panas dan asap membuatku terbatuk-batuk hingga paru-paruku terasa tersiksa. Rasa nyeri di perut menyeretku paksa kembali dari ingatan yang bergejolak ke kenyataan. Aku tidak menekan jalur prioritas yang bisa langsung tersambung ke ponsel Justin.

Sebaliknya, dengan sisa tenagaku, aku meremas hingga hancur chip komunikasi darurat di dalam antingku. Sinyal itu terkirim paksa, langsung terhubung ke saluran komunikasi pribadi ayahku.

Tim penyelamat untuk Mikha datang lebih cepat dari yang kubayangkan.

Dari kejauhan, aku melihat sosok yang sangat kukenal melangkah mendekat, dikelilingi sekelompok bawahan berbaju hitam. Justin langsung mengunci lokasi sudut tempat Mikha terjebak, lalu membawa orang orangnya berlari ke sana.

Dia memakaikan rompi antiledakan untuk Mikha dengan hati-hati, lalu mengangkatnya keluar dari bawah lempengan batu yang berguncang.

Setelah memastikan Mikha ditempatkan dengan aman di atas tandu, barulah aku meminta tolong kepada anggota keluarga yang masih membersihkan lokasi di sekitar dengan suara serakku.

Tidak ada jawaban.

Hanya beberapa tatapan dingin yang menyapu ke arahku dengan penuh ejekan.

"Istri Bos lagi main sandiwara apaan, sih? Justin sudah pergi menyelamatkan Nona Mikha. Mau teriak sampai tenggorokanmu pecah juga nggak ada gunanya."

"Siapa yang nggak tahu kamu selalu menargetkan Nona Mikha? Semua orang juga tahu gimana gudang senjata ini meledak."

"Sebaiknya kamu berdoa Nona Mikha baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu, Justin orang pertama yang nggak akan melepaskanmu."

Rasa nyeri di bawah perutku semakin lama semakin hebat. Cairan hangat mengalir di sepanjang pahaku dan membasahi rokku. Aku mencoba menggerakkan tubuh, ingin menjauh sedikit dari area runtuhan ini.

Detik berikutnya, sebongkah batu jatuh dari atas kepalaku dan menghantam keras perutku yang sedang hamil. Aku menyemburkan darah dan pandanganku menghitam berulang kali.

"Anakku ...." Suaraku hampir tak terdengar saat berteriak, "Tolong ... selamatkan anakku ...."

Penasihat yang paling dekat denganku akhirnya mendengar suaraku dan menunduk menatapku. Dia tidak membantuku bangun, hanya mengangkat kaki dan menendangku ringan.

"Nyonya, aktingmu benar benar meyakinkan. Aku hampir saja percaya."

"Sampai menyiksa diri begini demi merebut perhatian, memangnya sepadan, ya?"

Anggota mafia ini memang selalu pandai membaca situasi dan melihat siapa yang sedang berkuasa. Sikap mereka adalah sikap sang pemimpin.

Aku meringkuk di atas tanah. Kehilangan darah dan rasa sakit yang hebat sedikit demi sedikit merenggut kesadaranku. Semua orang yang datang untuk menyelamatkan hanya mengelilingi Mikha.

Ada yang memberinya obat, ada yang membersihkan lukanya. Tidak ada satu pun yang peduli apakah aku hidup atau mati.

Dalam kesadaranku yang samar, aku mendengar seseorang berseru kaget. "Kenapa di bawah tubuh Nyonya ada banyak sekali darah? Jangan-jangan, benaran terjadi sesuatu?"

"Apa yang bisa terjadi? Paling juga dia lagi cari perhatian Justin, supaya dia datang melihatnya."

"Sudahlah, kasih tahu Justin saja, biar dia berhenti pura-pura."

Tak lama kemudian, aku mencium aroma parfum maskulin yang sangat kukenal mendekat. Sebuah tangan menepuk pipiku dengan keras seperti tamparan.

"Yulie, bangun. Jangan pura pura lagi, aku sudah datang."

Itu suara Justin. Dia tertawa pelan, tak terdengar emosi apa pun.

"Waktu meledakkan gudang senjata bukannya kamu hebat sekali? Sekarang kenapa terbaring di sini dengan pura-pura menyedihkan."

Aku ingin membela diri, ingin meminta tolong, tapi tenggorokanku hanya bisa mengeluarkan suara napas serak. Perutku terasa sakit seolah tubuhku akan terkoyak hidup-hidup.

Dengan sisa tenaga terakhir, ujung jariku mengait ujung celana panjangnya. Dia terdiam sesaat, tatapannya menyapu wajahku yang pucat pasi.

Sekilas ada keraguan yang sangat cepat melintas di matanya, tapi segera digantikan rasa tidak sabar. Dia mengulurkan tangan dan menekan perutku yang hamil, memastikan anak itu masih ada di dalam.

"Kemampuan aktingmu meningkat. Sayangnya, Mikha sudah bilang padaku, kamulah yang menyalakan api itu sendiri lalu bersembunyi. Sekarang mau sandiwara untuk siapa lagi ini?"

Setelah berkata demikian, dia melepaskan diri tanpa ragu dan berjalan menuju area aman tempat Mikha berada.

Di belakangnya, akhirnya ada bawahan yang pernah melihat proses persalinan menyadari ada yang tidak beres, suaranya dipenuhi ketakutan yang nyata. "Pak Justin! Nyonya kehilangan darah terlalu banyak! Apa jangan-jangan ahli waris akan ...."

Langkah Justin bahkan tidak berhenti. Suaranya yang santai terbawa angin kembali.

"Kenapa harus panik? Pantas saja Mikha bilang cairan penanda merah bahan bakar di gudang hilang, ternyata Yulie mencurinya untuk pura-pura dijadikan darah."

"Anak di usia kehamilan tua nggak semudah itu gugur. Dia suka berakting, biarkan saja dia berakting sampai puas."

Rasa sakit dan keputusasaan akhirnya menelan sisa kesadaranku sepenuhnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 9

    Mikha diseret dengan kasar oleh anak buah Keluarga Gumar.Katanya, dalam amarah yang meluap, Justin secara pribadi memerintahkan untuk menghukum perempuan yang telah menghancurkan segala miliknya itu. Kedua tangannya ditebas, lalu dia dilemparkan ke kawasan prostitusi.Justin mulai mencoba menghubungiku secara gila-gilaan. Bukan lagi ancaman dan perintah seperti sebelumnya, melainkan berubah menjadi permohonan yang rendah diri, terus-menerus meminta damai dan bertobat.Aku tidak pernah membalas. Semua pesan atau panggilan darinya ditolak atau dibereskan oleh orang-orang yang diatur Paman Rudy.Sampai hari itu, di depan jendela kaca besar di ujung koridor, Paman Rudy berdiri di belakangku, melapor dengan suara rendah."Nona, baru saja dikonfirmasi, Justin sudah meninggal. Dia menembak dirinya sendiri di ruang kerja rumah lama Keluarga Gumar. Di sampingnya ada sepucuk surat untuk Nona."Aku terdiam memandang pemandangan kota yang gemerlap di luar jendela. Lama sekali, baru aku menjawab p

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 8

    Rasa takut dan nyeri yang luar biasa membuat Mikha benar-benar kehilangan kendali. Dia hanya bisa menggeleng dan menjerit."Bukan aku! Itu palsu! Semua karena Yulie! Perempuan jalang itu yang mencelakaiku!"Dalam pergumulannya, karena emosi Justin terlalu meledak-ledak dan gerakannya terlalu kasar, map dokumen hitam yang sejak tadi dia genggam terlepas begitu saja, lalu terlempar dan jatuh di lantai marmer yang mengilap.Segel lilinnya retak akibat benturan, setumpuk dokumen di dalamnya meluncur keluar dan berserakan di lantai. Beberapa lembar kertas tepat melayang ke dekat kaki Justin.Secara refleks, dia menunduk. Lembar paling atas adalah salinan surat keterangan diagnosis resmi rumah sakit dan catatan operasi.[ Nama pasien: Yulie. ][ Hasil diagnosis: Pada trimester akhir kehamilan mengalami benturan benda tumpul yang keras yang menyebabkan solusio plasenta, pendarahan hebat dalam rahim, janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan setelah dilahirkan. ][ Nama operasi: Operasi se

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 7

    Pada hari pernikahan, penjagaan di dalam dan luar vila sangat ketat. Mobil-mobil mewah berderet. Para tamu terhormat berdatangan memenuhi tempat.Para wartawan media diizinkan mengambil gambar di area tertentu. Kilatan lampu kamera menyala silih berganti, menangkap sosok setiap tokoh ternama yang hadir.Tepat saat upacara pertunangan hampir dimulai, seorang pelayan yang mengenakan seragam muncul sambil membawa sebuah paket."Pak Justin, Bu Mikha." Pelayan itu sedikit membungkuk. Suaranya jelas saat berkata, "Ini adalah hadiah pernikahan yang Bu Yulie perintahkan untuk diserahkan sebelum upacara dimulai."Nama "Yulie" bagaikan batu yang dilempar ke permukaan danau yang tenang, sontak menimbulkan riuh rendah di antara orang-orang di sekitar.Wajah Justin langsung menjadi muram. Tatapannya menatap tajam kotak hadiah itu.Senyuman di wajah Mikha juga sempat membeku sesaat, tetapi dia segera menyesuaikan diri. Tangan yang menggandeng lengan Justin mengencang sedikit, bahkan membawa sedikit

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 6

    Setelah kembali ke rumah Keluarga Sutrisno, kritik dari luar tidak berhenti begitu saja.Label seperti "perempuan gila", "wanita beracun", "mantan istri kejam" melekat kuat padaku.Di ruang kerja ayahku."Ini yang kamu minta."Asisten kepercayaan ayahku, Paman Rudy, yang melihatku tumbuh dewasa, berdiri di samping sambil menambahkan dengan suara rendah, "Nona, cadangan sistem keamanan internal Keluarga Gumar, terutama rekaman inti CCTV beberapa hari sebelum dan sesudah ledakan, sudah kami pulihkan sebisanya."Soal ledakan itu, aku tidak pernah berniat membiarkannya berlalu. Di kehidupan ini maupun sebelumnya, nyawa anakku, nyawaku, setiap utang harus dibayar Justin dan Mikha."Terima kasih, Paman." Aku menyimpan berkas-berkas itu dengan hati-hati.Ayahku mengangkat cangkir teh, menyesapnya. Pandangannya tetap tertuju padaku. "Anakku, selanjutnya apa rencanamu?"Aku mengangkat kepala, menatap balik ayahku."Ayah." Suaraku tenang tetapi tegas, dengan tekad kuat. "Aku ingin menjatuhkan Ke

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 5

    Tamparannya begitu keras hingga Mikha tak sempat bereaksi. Dia langsung terhuyung mundur beberapa langkah, menutup wajahnya sambil membelalakkan mata tak percaya.Aku mengibaskan pergelangan tanganku yang sedikit mati rasa, lalu menatapnya dengan dingin."Tadi aku menahan diri karena surat perjanjian cerai belum ada di tanganku. Sekarang ...." Aku mengangkat salinan perjanjian yang menjadi milikku. "Pernikahan sudah berakhir. Kenapa aku masih harus menahan lalat sepertimu yang berdengung di telingaku?""Yulie! Kamu berani menamparku?" Mikha berteriak nyaring. Air matanya langsung mengalir. Dia menatap Justin dengan wajah penuh tangisan."Justin! Lihat dia!" Justin pun tersadar dari keterkejutannya. Wajahnya pucat karena marah. Dia lalu maju satu langkah."Yulie! Mikha ini sudah kuanggap adik, gimana bisa kamu menamparnya?" Saat itu juga, dari arah pintu terdengar derap langkah yang stabil tetapi cepat.Beberapa mobil hitam berhenti di pinggir alun-alun kantor keluarga. Pintu mobil terb

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 4

    Aku terbaring di pelukannya. Bau darah memenuhi rongga mulutku.Justin menatap tajam perutku yang datar. Suaranya bergetar tanpa dia sadari. "Anaknya mana? Anak kita mana?"Aku menarik sudut bibirku. Suaraku sangat pelan. "Anak kita? Justin, dia sudah lama tiada, tepat pada hari ledakan gudang senjata itu."Pupil matanya menyempit tajam. Nadanya tergesa-gesa saat memotong ucapanku, "Jangan mengada-ada! Yulie, sampai kapan kamu mau bersikap nggak masuk akal begini?""Cuma karena waktu itu aku mengabaikanmu, kamu sampai semarah ini, lalu diam-diam melahirkan anak itu dan menyembunyikannya? Katakan padaku, kamu sembunyikan di mana? Apa kamu kirim ke panti asuhan?"Sambil berbicara, dia bahkan ingin mengulurkan tangan untuk menyentuh perutku. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menepis tangannya, lalu mencibir."Aku sudah bilang, anaknya mati. Kamu bicara sepanjang itu, jangan-jangan kamu nggak ingin cerai?""Mana mungkin!" Seperti kucing yang ekornya terinjak, dia langsung meninggikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status