Share

Bab 2 Musibah Arka

Author: Aira Tsuraya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-14 15:18:18

“Hah?” Airin terkejut setengah mati melihat reaksi suaminya.

Seharusnya pria di depannya ini senang dan menyambutnya dengan antusias. Bukankah itu yang diinginkan setiap orang yang berpasangan?

“Eng … maksudku kenapa kamu hamil secepat ini? Kamu tidak minum pil?”

Airin terdiam. Wajahnya beku. Bibirnya terkatup rapat, tapi hatinya perlahan hancur.

“Bukan maksudku menolak kehamilanmu, Rin. Hanya saja, aku belum siap.”

Airin menelan ludah. “Belum siap? Kita sudah nikah dua tahun loh, Mas. Lagian secara financial, kita sudah siap. Ya … meskipun masih tinggal serumah dengan Ibu.”

“Nah itu masalahnya. Aku mau beli rumah dulu baru punya anak. Masa nebeng sama Ibu mulu.”

Tama bicara dengan enteng seolah ia tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan sudah menyakiti hati istrinya.

Memang sejak mereka menikah, Airin tinggal bersama mertuanya. Rumah yang dulu ditempati Tama dan Rani, diberikan ke Rani sebagai harta gono gini.

Airin hanya diam menundukkan kepala. Meremas tangannya, sambil sesekali menggigit bibirnya.

Padahal saat awal nikah dulu, Tama tidak seperti ini. Ia baik, lembut dan selalu bersikap manis.

Namun, kenapa semua berubah?

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan terdengar di pintu, tak lama sekretaris Tama muncul.

“Pak, sudah ditunggu di ruang meeting.”

Tama mengangguk. Kemudian ia melirik Airin. “Nanti kita bicarakan di rumah. Aku mau meeting.”

Tanpa menunggu jawaban Airin, Tama segera bangkit dan berlalu pergi begitu saja dari hadapannya.

Airin hanya diam. Ia mengedarkan pandangannya, menatap setiap sudut di ruang kerja Tama. Seolah berharap salah satu pengisi ruangan itu bisa menghibur kesedihannya.

“Untuk apa juga aku di sini? Lebih baik aku pulang.”

Airin berjalan lesu keluar ruangan. Langkahnya gontai dan terasa berat, tidak seperti saat berangkat tadi.

Baru saja Airin turun dari taxi yang membawanya pulang, suara gelak tawa sudah terdengar dari luar.

Airin berjalan perlahan memasuki halaman. Tidak biasanya rumah mertuanya seramai itu. Apalagi di halamannya, ada sebuah mobil tak dikenal terparkir dengan rapi.

“Akh … pintar sekali cucu Nenek. Sering-sering ya main ke sini,” suara Bu Kedasih terdengar sampai keluar rumah.

“Cucu?” gumam Airin dengan kening berkerut.

“Eh, Airin. Sudah datang?”

Lagi-lagi suara ramah itu menyapa Airin lebih dulu. Airin mendongak dan melihat Rani berdiri di depannya.

Airin menelan ludah. Jadi setelah menemui Tama di kantornya, Rani berkunjung ke rumah Bu Kedasih, mantan mertuanya.

“Rin, kamu kenal Rani, kan?” Suara Bu Kedasih menyeruak dari dalam rumah.

Airin tersenyum sambil menganguk. “Iya, Bu. Saya sudah ketemu, kok.”

“Loh, di mana?”

“Tadi Airin bertemu saya di kantor Mas Tama, Bu,” Rani yang menyahut.

“Jadi Tama sudah tahu kalau kamu balik lagi ke kota ini?”

“Iya, Bu. Apalagi ada beberapa kerja sama dengan perusahaan Mas Tama.”

“Wah! Kamu makin hebat saja, Ran.”

Airin hanya diam. Rasanya obrolan ini sama sekali tidak penting baginya. Dua wanita itu sibuk membicarakan kesibukan mereka dan yang pasti seluruh pujian ditujukan untuk Rani.

Pelan-pelan Airin bangkit hendak masuk ke dalam rumah. Namun, …

“Rin, buatin minum buat Rani, ya! Tadi Bi Ina sedang keluar.”

Airin menghentikan langkahnya dan mengangguk. “Iya, Bu.”

Airin berjalan masuk dapur. Tak masalah meski ia harus membuatkan minum untuk mereka asal bisa terlepas dari obrolan basa-basi yang menyiksa itu.

Airin sedang membuat minuman di dapur dan Arka tiba-tiba masuk tanpa disadarinya.

“Aaarggh!!”

Airin menoleh dan terkejut setengah mati saat melihat Arka, putra Rani dan Tama, sedang menangis.

“Kamu kenapa, Sayang?” Airin mendekat.

Ia baru tahu jika tangan Arka terkena air panas. Sepertinya Arka tidak sengaja menekan tombol dispenser untuk air panas dan terkena tangannya.

“Panas, Tante. Panas … sakit … .”

Arka menangis. Airin panik, ia kebingungan menenangkannya.

“Arka!”

Rani langsung berlari, menghampiri Arka, lalu berkata ke Airin, “Rin, kamu nggak apa-apa? Arka memang suka main sendiri. Aku yang kurang mengawasi.”

Airin hanya diam, sementara Bu Kedasih melihatnya dengan tegang.

“Tangan Arka, Ma. Tangan Arka … panas … .”

“Ya Tuhan, ia kena air panas. Kok bisa?”

Kini Bu Kedasih melihat Airin.

Airin kebingungan dan beberapa kali menggelengkan kepala. “Saya … saya tidak tahu, Bu. Tadi ---”

“Bu, saya langsung bawa ke rumah sakit saja,” potong Rani.

Ia langsung menggendong Arka dan membawanya ke rumah sakit. Bu Kedasih mengangguk mengikutinya.

Sementara Airin hanya berdiri diam dengan wajah semakin bingung.

Malam harinya …

Tama pulang lebih malam dari biasanya. Airin dengar jika Tama mengunjungi Arka di rumah sakit dari Bu Kedasih.

Airin memaklumi posisi Tama. Bagaimanapun, ia masih ayah kandung Arka dan itu hal yang wajar.

Ceklek!

Pintu kamar terbuka, Tama masuk dengan wajah lelah. Dasinya terlipat rapi di saku, jasnya tersampir di tangan. Ia berjalan pelan dan duduk di sofa.

Tama menyandarkan kepala di bahu sofa sambil memijit keningnya.

Airin menyambutnya. Takut-takut ia duduk di samping Tama.

“Gimana dengan Arka, Mas?” Suara Airin lirih dan hampir tak terdengar. Seakan ada ketakutan yang sangat untuk mengajukan pertanyaan itu.

Tama menoleh. Tatapannya dingin seperti hendak membunuh seseorang. “Dia sudah lebih baik. Untung saja jari kirinya yang terkena air panas.”

Airin mengangguk, menelan ludah beberapa kali.

“Kenapa hal itu sampai terjadi?” Tama menatap Airin semakin tajam. “Kamu sengaja membalas ucapanku tadi siang ke Arka.”

Mata Airin terbelalak dengan kepala yang menggeleng. “Enggak, Mas. Aku ---”

“Dia masih kecil, Rin. Jangan disangkut pautkan dengan masalah kita.”

“Aku tidak begitu. Aku---”

“Kamu ingin punya anak, sedangkan aku belum. Kamu marah dan melampiaskannya ke Arka. Tega banget kamu, Rin,” kata Tama tanpa membiarkan Airin menjelaskan.

Airin menarik napas panjang dan menggelengkan kepala. “Bukan begitu ceritanya, Mas. Aku sama sekali tidak tahu ada Arka di dapur,” ujar Airin dengan suara bergetar. Hatinya sungguh sakit atas tuduhan itu. “Aku sibuk membuat minuman tadi. Sebelumnya Arka main di ruang tamu bersama Ibu dan Mbak Rani tadi.”

“Oh … jadi kamu mau melemparkan kecerobohanmu ke orang lain.”

Airin membeku. Matanya beradu dengan mata suaminya. Ini perdebatan pertama mereka setelah menikah dua tahun.

Hening.

Hingga tiba-tiba Tama bersuara kembali.

“Baik. Aku sudah putuskan,” ucap Tama, “gugurkan kandunganmu!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
mampuslah kau airin. berkaca dari masalalu mu yg selalu dicampakkan dan dikhianati pasanganmu, maka pantas saja si tama g menginginkan anak darimu. menikah koq asal ada laki2 yg mau saja.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ternyata Suamiku Masih Milik Mantan Istrinya   Bab 210 Terbongkar Sudah

    “Jadi, pada akhirnya kamu mau mempercayai ucapanku, Tama?” tanya Jaka.Tama hanya diam beberapa saat.“Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”Jaka tersenyum miring. Ia terdiam sejenak, tampak sedang mengetuk-ngetukkan jemari tangannya di atas meja seolah sedang menunggu sesuatu. Tama menanti dengan gelisah.“Arka tidak pernah sakit leukimia, Tama,” ucap Jaka kemudian.Tama terbelalak kaget.“Ia hanya pernah didiagnosis sakit demam berdarah saat itu.”Tama terdiam, tapi tatapannya menunjukkan ketidakpercayaan.“Aku sudah bertemu dengan Dokter Putra, dokter yang pertama kali menangani Arka. Beliau menjelaskan semuanya.”“Bahkan saat dilakukan tes darah, sama sekali tidak ada indikasi penyakit kelainan darah. Arka hanya mengalami penurunan trombosit karena penyakit demam berdarah.”Tama kembali tercengang. Padahal menurut cerita Rani, Arka dalam kondisi yang sedang tidak baik dan butuh penanganan lebih lanjut.“Lalu kenapa dokter meminta Rani berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk

  • Ternyata Suamiku Masih Milik Mantan Istrinya   Bab 209 Pertemuan Tama dan Jaka

    “Apa-apaan ini, Ran? Kau sendiri yang—”“Diam! Jangan mendekat!” teriak Rani, mundur sambil menutupi lukanya.Petugas yang berjaga segera bergerak ke arah mereka.“Bukan aku! Dia melukai dirinya sendiri!” Jaka berteriak ketika petugas bergerak ke arahnya.Rani terus menangis sambil memegangi pergelangan tangannya.“Dia mengancamku sejak tadi!”Petugas segera memisahkan mereka. Salah seorang mengambil silet dari tangan Jaka, sementara yang lain memanggil bantuan medis untuk Rani.Jaka meronta, berusaha menjelaskan bahwa ia tidak melakukan apa pun.Namun, sebelum dibawa kembali, ia mendengar Rani berbisik lirih ketika petugas melewatinya.“Kau seharusnya tidak pernah menikah denganku, Jaka.”Jaka menatapnya dengan wajah pucat. Permainan Rani ternyata jauh lebih kejam daripada yang pernah ia bayangkan.**Drrrt.Ponsel Tama bergetar. Ia melihat ada nama Bastian di sana. Tama berjalan keluar dari ruang NICU. Ia tidak mau membuat Kirana terganggu.“Ada apa, Bas?” Tama memulai panggilannya.

  • Ternyata Suamiku Masih Milik Mantan Istrinya   Bab 208 Jebakan Berdarah

    “Bas, kita jadi ketemu Jaka jam berapa?” tanya Tama dalam panggilannya.Usai menerima telepon Rani, ia melakukan panggilan ke Bastian.“Nanti sore saja. Sepanjang pagi dan siang ini, aku sibuk.”“Ya sudah kalau begitu.”“Hei, tunggu dulu. Kamu baik-baik saja, kan?”Tama tersenyum mendengar kekhawatiran Bastian. Hubungannya dengan Bastian memang lebih dari seorang rekan kerja. Mereka sudah bersahabat sejak kuliah.“Iya, aku baik. Kamu gak usah khawatir begitu.”“Syukurlah kalau begitu. Apa rencanamu hari ini?”“Entahlah, aku masih belum bisa fokus untuk kerja. Aku tadi sudah telepon Nadia, minta dia menghandlenya.”“Terserah kamu, Tama. Aku yakin kamu bisa melalui semua ini nantinya.”Tama mengangguk. “Iya, terima kasih, Bas.”Panggilan sudah berakhir. Tama terdiam sambil menatap ponselnya. Ia menggulirkan ponselnya perlahan dan ada nama Airin tertera di sana.Tama menghela napas panjang sambil menggeleng pelan.“Tidak. Aku tidak akan mengganggunya lagi.”Sementara itu, Airin sudah bera

  • Ternyata Suamiku Masih Milik Mantan Istrinya   Bab 207 Janji yang Tak Lagi Berarti

    Airin hanya diam mendengar suara Rani. Ia yakin wanita di seberang sana pasti sedang tersenyum lebar.“Maaf, Mbak. Kirana nangis, aku sudahi dulu.”Tanpa menunggu jawaban Rani, Airin langsung mengakhiri panggilannya. Ia langsung terdiam, menyimpan ponselnya di dada.Entah mengapa ada sakit yang menusuk-nusuk di dalam sana.Airin terdiam, menatap layar ponselnya yang sudah gelap.Selama ini, ia selalu berusaha melihat sisi baik Rani. Ia bahkan berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu tidak bermaksud menyakitinya.Namun, percakapan barusan membuatnya mempertanyakan semuanya.Apakah selama ini hanya dirinya yang berusaha memahami orang lain, sementara perasaannya sendiri tidak pernah dipedulikan?Airin menghela napas panjang.“Sudahlah. Aku tidak perlu memikirkan mereka lagi.”Ia melirik ke arah Kirana yang kembali menangis, lalu segera menghampiri putrinya.Setidaknya,

  • Ternyata Suamiku Masih Milik Mantan Istrinya   Bab 206 Senyum di Balik Perceraian

    “Ma, ada acara apa hari ini?” tanya Arka sore itu.Rani tersenyum sambil sibuk mengatur makanan di meja.“Gak ada acara apa-apa, Sayang. Hanya makan malam bersama saja.”Arka mengernyitkan alis.“Makan malam bersama siapa, Ma?”Rani menghentikan aktivitasnya, tersenyum menatap Arka dengan lembut.“Tentu saja kamu, Mama dan Papa.”Arka terdiam sejenak kemudian bertanya lagi.“Apa Bunda tidak ikut, Ma?”Rani tampak terkejut saat Arka tiba-tiba bertanya tentang Airin. Tidak bisa ia pungkiri putranya memang begitu dekat dengannya. Hingga merasa punya ikatan tersendiri dengannya.“Tidak, Sayang. Hanya kita bertiga.”“Kenapa begitu? Bukankah biasanya Papa selalu mengajak Bunda belakangan ini, Ma.”Rani menarik napas panjang. Dadanya naik turun, tatapannya yang lembut berubah tajam dan terlihat kesal.“Bunda tidak ikut. Dia sibuk.”“Oh … apa karena mengurus adik Kirana. Kasihan sekali Bunda.”Rani tidak menjawab. Setidaknya ia sedikit lega melihat Arka tidak bertanya lagi.“Bagaimana kalau k

  • Ternyata Suamiku Masih Milik Mantan Istrinya   Bab 205 Semoga Kamu Bahagia

    Drrt.Ponsel Tama bergetar di saku bajunya. Tama melihat nama Rani terpampang di layar. Bastian menoleh ke arahnya.“Siapa?” tanyanya.Tama menelan ludah sebelum menjawab. “Rani.”Bastian berdecak.“Jadi, kamu masih berhubungan dengannya. Bukannya tempo hari nomornya sudah kamu hapus.”Tama menghela napas.“Aku berhubungan dengannya hanya karena Arka. Itu saja.”Bastian mengangguk. Tama meliriknya sekilas.“Aku jawab dulu.”Bastian tidak bereaksi, malah memalingkan pandangannya ke depan kembali.“Iya, Ran. Ada apa?”“Mas, kamu dimana? Aku ke kantormu, katanya kamu keluar.”Tama terdiam sejenak. Ia memang tidak bilang ke Nadia jika berniat menghadiri sidang perceraiannya bersama Bastian. Ia hanya bilang jika sedang menemui klien.“Aku sedang ketemu klien.”“Oh … aku pikir k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status