LOGIN“Dihyas?” Suara Reya terdengar ragu dari balik ponselnya.Namun bukannya jawaban yang langsung ia dapatkan, suara napas Dihyas justru terdengar tidak beraturan dari seberang.“Ahh… ahh…” Desahn Dihyas semakin nyaring.Reya spontan mengernyit. Alisnya bertaut, sementara tangannya yang memegang ponsel perlahan menjauh dari telinga.“Dihyas?” panggilnya lagi. “Kau kenapa?” Panggil Reya dengan sedikit bingung.“Ahh… pelan-pelan…Mghhhh” suara Dihyas kembali terdengar lirih dan terbata-bata.Reya langsung membeku, matanya melebar dan jelas ia mengenali suara itu, ia pun perlahan menutup matanya.“Ya ampun…” Lirih Reya menarik napas panjang sambil sambil memijat pelipis.Dari seberang terdengar suara Dihyas lagi.“Ada apa, Reya…?” Tanya Dihyas dengan suara semakin kacau.Lalu beberapa detik kemudian....“Ahh… jangan jilat di situ, aku sudah tidak tahan…Mghhh, yahhh.." Desahan Dihyas semakin membuat Reya merinding dan langsung membuka mata lebar-lebar.“Dihyas!” Suara Reya meninggi.Hening se
“ASTAGAAA…” Batin Reya sambil memejamkan mata dan menekan pelipisnya.Namun sebelum sesuatu kembali ke luar dari bibirnya, suara jentikan jari Vivian terdengar nyaring di ruangan luas itu...“Sekarang,” kata Vivian tenang.“Sekarang apa?” Lirih Reya bingung bukan main...Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar dari berbagai sudut rumah, Reya segera menoleh cepat...Dua pengawal berpakaian hitam masuk lebih dahulu, diikuti beberapa orang yang membawa dokumen resmi. Salah seorang membawa perlengkapan administrasi dan buku pencatatan pernikahan.Mata Reya langsung melebar...“Sebentar…” Reya menunjuk rombongan itu dengan tangan gemetar, “Ini semua untuk apa?” Mata Reya berkedip cepat.Vivian tersenyum seolah semuanya adalah hal paling biasa di dunia keluarga berkuasa seperti mereka.“Urusan pernikahan kalian.” Jawab Vivian santai.“HAH?!” Reya spontan mundur satu langkah.“Nyonya, tunggu! Aku pikir sebaiknya tidak terburu-buru begini!” Lanjut Reya berkeringat dingin.Darius
“APA-APAAN INI…” Batin Reya.Wanita itu membeku, otaknya masih memproses yang terjadi…Namun Bella yang sudah seperti disambar petir langsung memekik tak terima.“Apa?” Pekik Bella dengan gaya manjanya.Vivian menoleh dengan marah, dan Bella langsung maju satu langkah dengan wajah penuh kemarahan.“Tante, ini pasti tipu muslihat perempuan sialan ini!” Jelas Bella dengan angkuh.Felix langsung mengerutkan kening.“Bella.” Panggil Felix memperingatkan.Namun Bella seolah sudah kehilangan kendali.“Tante jangan tertipu dengan wajah polosnya!” bentaknya sambil menunjuk Reya dengan kasar. “Perempuan seperti dia pasti sudah merencanakan semuanya! Dia datang ke sini, berpura-pura baik, lalu membuat Tante dan Om menerima dia begitu saja!”Reya hanya menatap Bella tanpa berkedip, di hatinya hanya sekedar membatin entah apa salahnya pada Bella sampai seperti ini.Berbeda dengan Reya, Vivian perlahan mengubah posisi tubuhnya dan menarik Reya lebih rapat padanya, lalu ia menatap Bella dengan sanga
“FELIX!” Darius langsung bergerak dan menendang kaki putranya dari samping hingga Felix meringis kuat sampai-sampai terdorong dari sisi Reya.“Ayah!” Protes Felix dengan kesal.“Jangan kurang ajar kepada ibumu!” Darius menatap putranya dengan wajah murka, meskipun sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.Felix mengusap kakinya sambil mendengus, “Apa-apaan ini!”Sementara itu, Reya masih menatap kartu hitam di tangannya. Untuk sesaat, hatinya benar-benar bergetar karena jumlah kekayaan seperti itu dapat mengubah hidup seseorang dalam sekejap bahkan ia bisa menjadi dokter spesialis dengan mudah, melakukan riset tanpa memikirkan biaya dan bisa mendirikan rumah sakit sendiri untuk membantu lebih banyak orang.Tanpa Reya sadari, Bella memperhatikan perubahan ekspresi Reya dan senyumnya melebar, sambil tetap berusaha akrab dengan Vivian.“Dasar murahan.” Sindir Bella dengan sinis.Detik itu juga, saat semua orang dengan pikiran masing-masing, Reya malah perlahan mencengkram kartu
“JAWAB!”Bentakan Vivian kembali mengguncang ruang utama.Tatapan wanita itu tidak bergeser sedikit pun dari wajah Reya yang sejak tadi hanya diam, sementara suasana di dalam rumah keluarga Wicaksono terasa semakin berat.Reya sendiri masih menggenggam tangan Felix. Jemari pria itu hangat, kuat, dan sejak tadi meremas lembut telapak tangan Reya agar tetap tenang dan merasa tidak sendirian.Namun perlahan...Reya melepaskan genggaman itu yang membuat Felix langsung menoleh.“Reya?” Suara Felix terdengar rendah dan penuh kekhawatiran.Reya tidak menjawab. Ia malah menarik napas panjang, merapikan helaian rambut yang jatuh di sisi wajah Felix dengan gerakan provokasi, lalu mengangkat dagu dan menatap Vivian lurus-lurus.Tidak ada lagi ketakutan di mata Reya, bahkan ketika Vivian mengancam ingin membunuhnya, Reya malah tidak berkedip sama sekali...Vivian sendiri sampai menyipitkan mata memperhatikan garis wajah Reya saat menarik napas...“Tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi dari sebu
“A-A-AKUUU....” Reya masih tergagap. Jemarinya semakin kuat meremas ujung roknya, sementara wajahnya menegang di bawah tatapan tajam Vivian.Vivian kehilangan kesabarannya.“JAWAB AKU, REYA!” Bentakan Vivian menggema di seluruh ruang utama.Reya seketika tersentak. Bahkan Bella yang berdiri di dekat dapur sempat terdiam sesaat.Vivian lalu melangkah maju dengan sorot mata seorang kepala keluarga yang tidak terbiasa dibantah.“SEJAK KAPAN KAU DI SINI?!”Reya membuka mulut, tetapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan.“Saya...”Namun sebelum Reya sempat menyelesaikan kalimatnya, Bella kembali memotong.“Dia sudah lama numpang di sini, Tante.” Bella menyandarkan tubuhnya pada meja sambil menyilangkan tangan di depan dada.“Bahkan sejak datang ke rumah ini, hidup Felix semakin kacau sampai pembatalan pertunangan dan aset menurun.”Reya langsung menoleh tajam menyadari wanita ular itu sangat licik.“Bella!” Lirik Reya tajam.Tapi Bella hanya tersenyum dengan ekspresi angkuhnya.“Apa aku
“Siapa yang harus ku obati?” tanya Reya datar.Ia lalu melihat seorang pria yang berdiri membelakang di sebuah ruangan. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan otot padat. Kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan mata gelapnya tajam seperti binatang pemangsa.“Felix?” gumamnya memb
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit
Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme







