LOGINMartin mengusap wajahnya, masih menyisakan tawa kecil."Ya Tuhan, Leli. Selama ini, sebenarnya apa yang kau pikirkan?"Deon mengangkat kedua tangannya."Entahlah, Pi. Mungkin Mami terlalu sibuk menikmati kisah cinta rahasianya sampai lupa mencari tahu apakah tokoh pria dalam kisah itu benar-benar tersedia."Martin kembali tertawa. Namun seperti wajahnya lebih terlihat jijik dan juga geli "Deon!""Apa, Pi? Aku tidak mengarang cerita. Aku hanya menyampaikan fakta.""Kau benar-benar tidak bisa serius sebentar saja.""Aku bisa serius, Pi." Deon mengangguk mantap. "Misalnya, aku serius menyarankan agar Papi tidak mengeluarkan uang untuk menyelamatkan mereka."Tawa Martin perlahan mereda.Dia menatap putranya, lalu mengangguk pelan."Tentu saja aku tidak akan melakukannya."Deon mengamati wajah ayahnya."Papi tidak merasa kasihan kepada Mami?"Martin terdiam cukup lama sebelum menjawab."Dulu, aku selalu merasa harus melindunginya. Apa pun kesalahannya, aku berusaha mencari alasan untuk me
Pagi itu, Martin duduk di dalam ruang kunjungan tahanan dengan wajah yang jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Meski berada di balik jeruji besi, dia tidak lagi menunjukkan kegelisahan seperti ketika pertama kali mengetahui perselingkuhan Leli dan kenyataan bahwa Cynthia bukan anak kandungnya. Luka itu masih ada. Pengkhianatan selama puluhan tahun bukan sesuatu yang bisa dilupakan hanya dalam beberapa hari. Namun, perlahan-lahan, Martin mulai menerima kenyataan bahwa hidupnya telah dibangun di atas kebohongan orang-orang yang paling dipercayainya. Pagi ini, Deon datang mengunjunginya. Begitu melihat putranya memasuki ruangan, Martin langsung mengangkat wajah. "Bagaimana keadaan perusahaan?" Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya. Deon menarik kursi di hadapan ayahnya, lalu meletakkan beberapa dokumen yang dibawanya di atas meja. "Tenang, Pi. Perusahaan masih berjalan dengan baik. Para direktur sudah mengatur pembagian tugas selama Papi tidak berada
"Baru bangun tidur, sekarang sudah bersemangat lagi.""Tentu saja! Kita akan segera sampai di Indonesia!"Liora kembali memandang ke luar jendela. Kali ini, hamparan awan yang terlihat tidak lagi cukup untuk membuatnya puas. Dia ingin segera melihat daratan, menginjakkan kaki di tanah airnya, dan menghirup udara hangat yang selama ini dirindukannya.Tak lama kemudian, suara awak pesawat terdengar mengumumkan bahwa mereka akan segera melakukan pendaratan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Liora langsung menggenggam tangan Xavier."Sayang, kita benar-benar sudah sampai!"Xavier tersenyum."Sebentar lagi."Pesawat mulai menurunkan ketinggiannya. Dari balik jendela, Liora melihat hamparan daratan yang semakin jelas. Dia bahkan berusaha mengenali pemandangan di bawah sana, meskipun dari ketinggian semuanya terlihat berbeda.Begitu roda pesawat menyentuh landasan, Liora hampir bersorak kegirangan.Akhirnya!Dia kembali ke Indonesia!Setelah pesawat berhenti dengan sempurna, Xavier mem
Pesawat pribadi keluarga Dominic melesat membelah langit, meninggalkan Prancis yang perlahan semakin jauh di belakang mereka.Di dalam kabin yang tenang, Liora duduk bersandar sambil memandangi awan putih di balik jendela. Wajahnya tampak ceria sejak mereka lepas landas. Sesekali, dia menggerakkan jemarinya di atas layar ponsel, memeriksa kembali foto-foto selama bulan madu mereka.Xavier yang duduk di sampingnya melirik layar itu."Masih belum bosan melihat foto-foto kita?"Liora menggeleng cepat."Tidak! Lihat ini, Sayang. Foto waktu kita berjalan di depan bangunan tua itu bagus sekali. Yang ini juga bagus. Oh, yang ini..."Dia terus menunjukkan foto demi foto, seolah-olah baru menyadari betapa banyak kenangan yang telah mereka kumpulkan selama berada di Prancis.Xavier mendengarkan dengan sabar. Sesekali, dia menanggapi komentar istrinya, meskipun beberapa foto yang ditunjukkan Liora sudah dilihatnya berkali-kali.Baginya, melihat istrinya bahagia jauh lebih menyenangkan daripada m
"Jadi, kamu tidak mau datang ke Prancis lagi?""Bukan begitu!" Liora buru-buru menggeleng. "Aku mau datang lagi, tetapi jangan saat musim dingin. Ternyata musim salju tidak seindah di film-film."Dia menggosok kedua lengannya, seolah-olah kembali merasakan dinginnya udara di luar."Di film, orang-orang bisa berjalan di tengah salju sambil tersenyum cantik. Ada yang bermain salju, membuat manusia salju, bahkan berciuman dengan romantis. Sementara aku? Baru keluar sebentar saja sudah ingin cepat-cepat masuk ke dalam ruangan!"Xavier tertawa lepas."Jadi, kamu tidak merasa romantis saat berada di tengah salju?""Romantis dari mana? Aku sibuk menahan dingin!" Liora memprotes. "Kalau hidungku sampai membeku, apa kamu masih bisa mengatakan aku cantik?"Xavier mendekat, lalu mencubit pelan pipinya."Kamu tetap cantik."Liora langsung tersenyum."Benarkah?""Tentu saja. Hidungmu membeku pun kamu tetap istriku."Senyum Liora seketika menghilang."Xavier!"Pria itu tertawa sambil merangkul ping
Pria itu membalas pelukannya tanpa berkata apa-apa lagi.Beberapa menit kemudian, suasana kembali ceria. Liora memeriksa daftar barang bawaan, memastikan tidak ada oleh-oleh yang tertinggal."Baiklah! Kita pulang besok!"Xavier mengangkat alis. "Besok? Kenapa tidak lusa saja? Kita bisa menikmati satu hari lagi di sini.""Karena semuanya sudah dikemas!" Liora menunjuk koper besar di depan mereka. "Oleh-oleh juga sudah siap. Kalau kita tinggal lebih lama, aku harus membongkar koper lagi. Merepotkan sekali."Xavier tertawa kecil. "Jadi, alasanmu pulang adalah karena tidak mau membongkar koper?""Bukan hanya itu!"Liora menghitung dengan jari."Aku rindu Bibi Nina. Aku juga rindu Kak Leon, Kak Deon, dan Papi. Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka."Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan mata berbinar, "Aku juga sudah membelikan oleh-oleh untuk semuanya. Aku ingin segera memberikannya!"Xavier tersenyum melihat antusiasme istrinya."Baiklah. Kita pulang besok.""Benarkah?""Ya.
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k
"Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan







